Seni Bersabar ala Zen Korea

                                                                           static.guim.co.uk

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Kesabaran adalah dasar dari semua keutamaan. Artinya, jika orang sabar, maka ia bisa bertindak tepat di dalam semua keadaan. Ia tidak gampang marah. Ia juga tidak gampang berbohong, hanya untuk memenuhi kepentingan diri maupun kelompoknya sendiri.

Orang yang sabar mampu mengenali semua gejolak emosi maupun pikiran yang ada di dalam dirinya. Ia pun tidak terpancing oleh semua itu, melainkan tetap berada di dalam kesadaran penuh atas dorongan pikiran maupun emosi yang ada. Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa kesabaran adalah kunci dari kebijaksanaan. Jika orang melatih kesabarannya, maka ia dengan mudah bisa mengembangkan keutamaan-keutamaan lainnya, seperti kejujuran, sikap rendah hati, rajin dan sebagainya. Lanjutkan membaca Seni Bersabar ala Zen Korea

Iklan

Melampaui “Manusia”

reason
wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa saya menulis kata “manusia” dengan tanda kutip? Ini untuk menerangkan, bahwa “manusia” sebagai sebuah realitas tidaklah pernah ada. Ia dianggap ada sebagai bagian dari kesepakatan sosial untuk keperluan hidup sehari-hari, seperti misalnya berkomunikasi. Namun, sebagai sebuah kenyataan yang utuh dan kokoh, ia tidak pernah ada. Ia adalah ilusi, yakni seolah ada, namun sebenarnya tak ada.

“Manusia”

Di balik kata “manusia”, ada sebuah tradisi pemikiran yang telah berkembang lama, terutama di Eropa dan Timur Tengah. Manusia dilihat sebagai mahluk yang istimewa, lebih daripada mahluk hidup lainnya, sehingga punya hak untuk menguasai bumi. Tentu saja, yang merumuskan pandangan tersebut juga “manusia”. Ada konflik kepentingan di dalamnya yang harus terus ditanggapi secara kritis.[1]   Lanjutkan membaca Melampaui “Manusia”

Jantung Hati Zen

ladybug-796481_960_720
pixabay.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Disarikan dari uraian Hyon Gak Sunim, Mirror of Zen dan Seung Sahn Sunim, The Compass of Zen

“…Baik dan Buruk tidak memiliki inti pada dirinya sendiri… Suci dan Tidak Suci adalah kata-kata kosong…Sebelum semuanya, yang ada hanya ketenangan dan cahaya… Musim hujan datang, air jatuh dari langit dengan sendirinya…”

Zen adalah menyadari, siapa diri kita sebenarnya. Siapa saya? Atau, apa saya? Zen bukanlah agama, teologi, atau sekumpulan dogma yang harus dipercaya buta. Zen juga bukan filsafat. Zen adalah sebuah jalan kuno untuk menyadari jati diri kita yang sebenarnya, sebelum semua konsep dan pikiran muncul. Dengan kesadaran itu, kita bisa hidup dengan jernih dari saat ke saat, dan membantu semua mahluk. Inilah jantung hati Zen.

Lanjutkan membaca Jantung Hati Zen

Jalan Hidup Zen

Getting-Started-on-Zen-Meditation
freshprintmagazine.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen Jerman, Praktisi Zen di Tradisi Rinzai Jepang dan Son Korea, Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya.

Jalan hidup Zen adalah jalan hidup untuk sungguh menyadari, siapa diri kita sebenarnya. Nama kita bisa diubah. Semua identitas sosial kita juga bisa berubah. Tubuh akan hancur. Jika semua itu dilepas, lalu apa yang tersisa? Itulah jati diri alamiah kita sebagai mahluk semesta.

Jati diri alamiah kita hanya bisa disadari, jika kita hidup disini dan saat ini. Kita menjalani hidup kita saat demi saat dengan kesadaran penuh. Tidak ada kecemasan akan masa lalu ataupun masa depan. Tidak ada multitasking. Yang ada hanyalah, apa yang sedang kita lakukan saat ini? Lakukan sepenuh hati! Lanjutkan membaca Jalan Hidup Zen

Aku Berpikir, Maka Aku… Menderita

mind_tripOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Sejak kecil, kita diajar untuk menjadi pintar. Kita diajar untuk melatih pikiran kita, sehingga menjadi pintar. Dengan kepintaran tersebut, kita dianggap bisa hidup dengan baik di kemudian hari. Kita juga bisa menolong orang lain dengan kepintaran yang kita punya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dengan pikiran, manusia menciptakan filsafat. Dari filsafat kemudian berkembanglah beragam cabang ilmu pengetahuan, seperti kita kenal sekarang ini. Dari situ lahirlah teknologi yang kita gunakan sehari-hari. Lanjutkan membaca Aku Berpikir, Maka Aku… Menderita

Menggoyang Akal, Menggapai Intuisi

cover_issue_2_en_USKajian Kritis atas Metode Koan dan Zazen di dalam Tradisi Zen
Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di dalam Jurnal Ledalero Vol 14, No 2 Tahun 2015

Jurnal Ledalero merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh STFK Ledalero, memiliki ISSN 1412-5420

Jurnal Ledalero diakreditasi DIKTI dengan No.SK DIRJEN DIKTI KEMENDIKNAS No.66b/DIKTI/KEP/2011,

Dengan Ruang Lingkup tulisan ilmiah tentang Teologi,filsafat, ilmu-ilmu sosial, dan kebudayaan.

Terbit dua kali setahun : Januari -Juni / Juli – Desember

ISSN (cetak) : 1412-5420

Silahkan dilihat di link berikut: http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/20 

Password: Ledalero

Atau download disini: Menggoyang akal, Menggapai Intuisi

 

Mengapa Kita “Tidak Perlu” Belajar Filsafat?

1687-1
creativeglossary.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sepulang ke tanah air, saya mencoba memikirkan ulang, apa peran filsafat bagi perkembangan kehidupan manusia sekarang ini. Memasuki kota Jakarta, suasana rumit sudah mulai terasa. Begitu banyak orang sibuk dengan beragam aktivitas, mulai dari berjualan rokok sampai dengan sekedar duduk menunggu untuk menjemput keluarga tercinta. Kerumitan ini berbuah kemacetan lalu lintas, terutama ketika orang pergi dan pulang dari tempat kerja.

Apa peran filsafat untuk mereka? Itu pertanyaan kecil saya. Apa yang bisa saya sumbangkan melalui filsafat yang saya pelajari di tanah asing dengan harga darah dan air mata? Atau mungkin, pendekatannya bisa sedikit dibalik, mengapa orang-orang ini, dan saya, “tidak perlu” belajar filsafat? Lanjutkan membaca Mengapa Kita “Tidak Perlu” Belajar Filsafat?