Belajar untuk Menderita

WebSyters | Suffering in silence, Art, Fictional charactersOleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi juara. Kita diminta untuk melakukan yang terbaik di segala hal. Sistem sekolah mendukung hal itu. Sistem ekonomi kapitalisme Indonesia juga sejalan dengan itu.

Namun, kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Kita tidak pernah diajarkan untuk menderita. Padahal, di dalam hidup, orang tak selalu bisa menang dan senang. Derita dan kekalahan kerap datang berkunjung, tanpa diundang. Lanjutkan membaca Belajar untuk Menderita

Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Madrid surrealism show offers escape from pandemic reality | Spain | The  GuardianOleh Reza A.A Wattimena

Hampir 20 tahun, saya mendalami filsafat secara sistematik. Dalam kaitannya dengan teologi dan agama, ada perdebatan-perdebatan abadi yang muncul dalam wacana filsafat. Saya berpendapat, bahwa perdebatan-perdebatan itu hampa. Semua itu muncul dari kesalahpahaman yang berakar pada agama-agama Timur Tengah.

Ada enam isu yang terus muncul. Pertama adalah isu tentang kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, juga antara iman dan ilmu. Agama dianggap berpijak pada kepercayaan murni. Sementara, ilmu berpijak pada akal budi murni. Hubungan keduanya rumit, seringkali penuh kekerasan, dan tak akan bisa terdamaikan sepenuhnya. Lanjutkan membaca Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Salvador Dali - Surreal - 101 Art GalleryOleh Reza A.A Wattimena

Sebagai sebuah jalan hidup yang lahir ribuan tahun silam, apakah Zen masih cocok untuk jaman sekarang? Inilah jaman penuh krisis yang datang bergantian. Orang hidup dalam kebingungan. Perubahan datang begitu cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian dan kecemasan besar bagi hidup banyak orang.

Zen lahir dari India, kemudian menyebar ke Cina, Jepang, Korea, Eropa, Amerika Utara dan seluruh dunia. Tak ada yang sungguh tahu, kapan Zen lahir. Ada yang merunutnya kembali ke Siddharta Gautama 2600 tahun silam. Namun, sejauh saya teliti, jauh sebelum Gautama lahir, Zen sudah berkembang subur di India. Lanjutkan membaca Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

HendarOleh Hendar Putranto, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia

Dalam gerak cepat pertumbuhan kota dan mobilitas akseleratif yang mewarnai dinamikanya, acapkali warga kota terengah-engah untuk mengimbangi. Saat motor dan mobil berhenti di perempatan lampu merah, atau di jalur antrian pom bensin, atau sekadar menunggu kedatangan moda transportasi publik, warga kota tetap menyibukkan dirinya dengan gawai sekadar meng-update berita, atau postingan viral di medsos mereka. Sebagian sosok urban mengambil peran sebagai commuter, yang terus meruangwaktu bolak-balik, tidak jarang dalam seruak sesak kemacetan di jalan tol (sebuah ironi!), manakala yang lainnya terjepit himpitan tubuh-tubuh keringatan di gerbong KRL Commuter Line atau TransJakarta. Serba semrawut, sumpek bertumpuk, dan riuh centang-perenang bukan pemandangan luar biasa di tengah dan pinggiran kota. Sesekali, selinap pikir dan selirih peluh tentang Ada dan Makna lamat-lamat menyapa: untuk apa ini semua? Senyampang tikungan kesadaran ini, Reza datang menawarkan suaka bernama Urban Zen. Ini bukan Fatamorgana, juga bukan Panacea, tapi “tawaran kejernihan untuk manusia modern.” Lanjutkan membaca Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

Dharma sebelum Drama

Blue Dharma Fine Art: The Evolution of Bill Bowers' "Convergence" - The  Laurel of AshevilleOleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang mau hidup bebas drama? Tentu saja, kita semua. Bagi pecinta drama Korea, pola drama-drama kehidupan sudah terpahami. Intinya sederhana, yakni ada kejadian yang tak sesuai dengan kehendak kita.

Cuaca tiba-tiba berubah. Hujan deras mengguyur, ketika sedang asyik bersepeda. Atau, tiba-tiba sakit, padahal sudah makan dan tidur cukup. Banyak hal diluar kendali kita. Lanjutkan membaca Dharma sebelum Drama

Revolusi Moral ala Zen

What is Surrealism in art and cinema? | Clipchamp GlossaryOleh Reza A.A Wattimena

Saya diundang menjadi pembicara di Webinar pada Agustus 2021 lalu. Rekan pembicara saya adalah seorang guru besar dari salah satu universitas negeri di Bandung. Ia doyan sekali berbicara soal moral. Baginya, peserta didik itu harus bermoral, yakni patuh pada orang tua, rajin beribadah, patuh pada agama dan tidak boleh berpakaian bebas.

Dalam hati saya, itu bukan moral. Itu perbudakan. Itu penjajahan. Itu penindasan. Saya menawarkan wacana tandingan. Kita tidak butuh moral dangkal semacam itu. Yang kita butuhkan adalah pemikiran kritis, kreatif dan keberanian menantang pola pikir lama yang sudah membusuk. Lanjutkan membaca Revolusi Moral ala Zen

Kebijaksanaan dari Kekosongan

Sunyata (Enso) Painting by Kurtis Brand | Saatchi ArtOleh Reza A.A Wattimena

Kekosongan adalah tujuan tertinggi di dalam spiritualitas. Sejatinya, ia bukanlah obyek. Tak ada yang perlu dituju. Tak ada yang perlu diraih.

Kekosongan berarti keterbukaan terhadap segala yang ada. Tidak ada perkecualian. Saat demi saat, batin terbuka pada semua. Tidak ada dualisme baik-buruk, benar-salah, surga-neraka dan sebagainya. Yang ada hanya kosong.. terbuka… Lanjutkan membaca Kebijaksanaan dari Kekosongan

Menjadi Merdeka

Freedom Oil Painting By Abed Alem | absolutearts.comOleh Reza A.A Wattimena

Tentunya, kita ingin hidup yang otentik. Kita tidak ingin berpura-pura dalam hidup. Kita tidak ingin jatuh ke dalam kemunafikan. Tak ada orang yang ingin hidup dalam kepalsuan terus menerus.

Kita juga tak ingin hidup dengan rasa takut. Kita tidak ingin terus mengingkari nurani dan akal sehat yang kita punya. Untuk jangka pendek, kita mungkin rela ditindas. Namun, untuk jangka panjang, hasrat untuk merdeka akan menghujam keluar. Lanjutkan membaca Menjadi Merdeka

Sekilas Buku Urban Zen: Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Reza A.A Wattimena kali ini menyuguhkan bukunya yang terbaru berjudul Urban Zen. Buku ini akan memberi tawaran kejernihan bagi manusia modern. Ditulis dengan ringkas dan padat, langsung ke inti pokok masalah. Bagaimanakah selengkapnya? Selamat menyimak diskusi bersama penulisnya.

Menjadi Sejati

Shockingly Surreal Self-Portraits (10 photos)Oleh Reza A.A Wattimena

Ini bukan saran motivator. Ini bukan stiker bemper motor. Ini ajakan untuk menjadi asli dan sejati. Tak lebih dan tak kurang.

Jaman Tipuan

Kita hidup di jaman penuh tipuan. Politisi mengumbar janji palsu. Mereka janji memberikan kesejahteraan dan keadilan. Namun, justru mereka yang mencuri dan menindas rakyat. Lanjutkan membaca Menjadi Sejati

Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah

Surrealism. God's Eye, Moon And Clouds. Suit And Branches Of A Tree. Stock  Photo, Picture And Royalty Free Image. Image 116653852.Oleh Reza A.A Wattimena

Sejatinya, tujuan kita hidup adalah untuk mengalami Tuhan. Karena dengan ini, kita menemukan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan semacam ini tidak berubah-ubah. Ia tidak terganggu oleh perubahan keadaan dunia.

Sadar atau tidak, kita merindukan Tuhan. Tuhan itu seperti rumah sejati kita. Kita betah, ketika memasukinya. Kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Lanjutkan membaca Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah

Zen untuk Derita Karena Bahasa

Surrealism | What is it, characteristics, origin, history, types, topics,  representativesOleh Reza A.A Wattimena

Orang lain berbuat sesuatu. Ia memaki. Ia menghina. Bisa juga, ia mencuri, sehingga membuat saya terluka.

Ia menantang. Ia memprovokasi. Ia memancing amarah. Ia memicu emosi yang bergejolak. Lanjutkan membaca Zen untuk Derita Karena Bahasa

Lebih dari Sekedar Agama

980 Surreal Zen Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan, apakah Mas Reza seorang Buddhis? Apakah Zen yang mas dalami adalah sebuah agama? Saya sendiri lahir dari tradisi Gereja Katolik Roma yang kaya dengan tradisi dan filsafat yang sarat rasionalitas. Kini, saya menjadi seorang praktisi Zen di dalam keseharian.

Apakah ajaran Buddha, terutama Zen, adalah sebuah agama? Jawaban saya sederhana, Zen, dan ajaran Buddha secara umum, itu lebih dari sekedar agama. Agama adalah institusi yang berpijak pada kepercayaan tertentu. Ia mengikat (religare) manusia dengan seperangkat aturan yang baku. Tujuan agama adalah menciptakan keteraturan (A-Gama: tanpa kekacauan) di dalam hidup bersama.   Lanjutkan membaca Lebih dari Sekedar Agama

Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

May be an image of text that says "KARANIYA SEGERA TERBIT Silakan Pesan. KARANIEA SINOPSIS Urban Zen PERIODE OKTOBER TAWARAN KEJERNIHAN UNTUK MANUSIA MODERN Karena batin kita rumit, maka hubungan kita dengan orang lain pun juga menjadi rumit. Keluarga terpecah. Orangtua tak lagi berbicara dengan anaknya. Rumah tangga pecah dan menyisakan trauma serta derita untuk semua anggotanya. REZA A.A WATTIMENA Pencerahan berarti orang menyadari siapa diri mereka yang sebenarnya. YAYASAN KARANIYA NMID :ID2020057206662 70.000 55.000 REKENING: BCA Yayasan Karaniya 335-3032-069 PESAN SEKARANG BEBAS ONGKIR KE SELURUH INDONESIA. Pesan: WA: 081-315-315-699 www.karaniya.com penerbitkaraniya penerbitkaraniya 081-315-315-699"

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Inilah inti utama dari semua jalan spiritual di dunia ini. Zen juga adalah jalan hidup meditatif. Ia adalah sekumpulan metode dan pemahaman untuk melepaskan orang dari cengkeraman penderitaan kehidupan.

Penderitaan muncul karena orang mengira bahwa pikiran dan emosinya adalah kebenaran. Ia dipenjara oleh pikiran dan emosinya sendiri. Penderitaan yang muncul lalu menjadi sangat berat. Tak jarang orang terjebak di dalam berbagai penyakit mental, bahkan melakukan bunuh diri. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Menjilat Madu di atas Pisau Tajam

The Passion of Creation — Octavio Ocampo (1943-) “Kiss of the Sea”...Oleh Reza A.A Wattimena

Makanan enak itu membuat kenyang. Ratusan rasa menari di lidah. Nikmatnya sesaat. Harganya mahal, yakni uang banyak keluar, dan rasa berat di seluruh tubuh, akibat kenyang yang berlebihan.

Berpesta bersama teman tentu menyenangkan. Apalagi, jika kita berpesta semalam suntuk dengan ditemani makanan enak, maupun alkohol. Namun, di pagi hari, ada harga yang harus dibayar. Sakit kepala dan perut mual biasanya akan datang berkunjung. Lanjutkan membaca Menjilat Madu di atas Pisau Tajam

Mengembalikan Dharma ke Nusantara

Dharma Painting by EM MODESTO | Saatchi ArtOleh Reza A.A Wattimena

Sekitar 1000 tahun yang lalu, Indonesia adalah rumah ilmu. Beragam orang dari berbagai bangsa datang dan belajar di sini. Tentu saja, waktu itu, belum ada Indonesia. Pada masa itu, Indonesia adalah kumpulan beberapa kerajaan yang memiliki pengaruh politik, budaya maupun ekonomi yang luas.

Bisa dibilang, pada masa itu, Nusantara kita, Indonesia, adalah negara Dharma. Hukum-hukum alam yang abadi diuraikan dengan jelas, dan diterapkan di dalam kehidupan. Manusia mencapai pencerahan moral, spiritual dan intelektual yang mengagumkan. Nusantara kita menjadi magnet bagi para pencari kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Mengembalikan Dharma ke Nusantara

Menjadi Anjing, atau Singa?

hybrid lion surrealism Image by ZuleimaOleh Reza A.A Wattimena

PPKM tidak selesai-selesai. September 2021, kebijakan yang menyiksa itu masih berlanjut. Rakyat tersiksa dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Sementara, para wakil rakyat di DPR dan para pemimpin politik hidup nyaman di rumah dinas mereka, dengan gaji pasti setiap bulan dari uang rakyat.

Itu kiranya yang menyiksa pikiran seorang kawan (dan saya juga). Di tengah hampanya kegiatan, pikirannya merantau ke masa lalu. Ia teringat perceraiannya yang berdarah-darah. Itu sudah terjadi belasan tahun lalu, namun terasa baru seperti kemarin terjadi. Lanjutkan membaca Menjadi Anjing, atau Singa?

Melukis Cover Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

May be an image of one or more people and text that says "KARANIYA CIPTA KREASI VISUAL Kami Penerbit Karaniya membutuhkan daya kreatifmu yang unik untuk sampul buku. JUDUL :URBAN ZEN SUB JUDUL: TAWARAN KEJERNIHAN UNTUK MANUSIA MODERN PENULIS :REZA A.A WATTIMENA SINOPSIS: Pencerahan berarti orang menyadari siapa diri mereka yang sebenarnya. Diri yang asli itu terletak sebelum pikiran dan emosi muncul. la terletak sebelum nama dan kata diucapkan. Jati diri manusia yang asli itu jernih dan kosong, seperti ruang yang penuh dengan kemungkinan. KIRIM: Email: karaniya@cbn.net.id Batas akhir: 16 September 2021 WA Karaniya (Hadi): 081-315-315-699 www.karaniya.com f penerbitkaraniya penerbitkaraniya 0813-1531-5699"

Cipta Kreasi Visual

Kami @penerbitkaraniya membutuhkan daya kreatifmu yang unik untuk sampul buku @rezaantonius!

Buku : Urban Zen

Sub Judul : Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Penulis : Reza A.A Wattimena

Sinopsis:

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Inilah inti utama dari semua jalan spiritual di dunia ini. Zen juga adalah jalan hidup meditatif. Ia adalah sekumpulan metode dan pemahaman untuk melepaskan orang dari cengkeraman penderitaan kehidupan.

Penderitaan muncul karena orang mengira bahwa pikiran dan emosinya adalah kebenaran. Ia dipenjara oleh pikiran dan emosinya sendiri. Penderitaan yang muncul lalu menjadi sangat berat. Tak jarang orang terjebak di dalam berbagai penyakit mental, bahkan melakukan bunuh diri.

Zen mengajak orang untuk memahami inti dari pikiran dan emosi yang mereka punya. Keduanya adalah kosong, sementara, dan bersifat ilusif. Keduanya, yakni pikiran dan emosi, bukanlah kebenaran. Keduanya bukanlah kenyataan.

Jika kita bukanlah pikiran ataupun emosi kita, lalu siapa kita? Inilah pertanyaan terpenting di dalam hidup manusia. Zen mengajarkan bahwa diri kita yang asli berada sebelum semua pikiran dan emosi yang muncul. Namanya beragam, yakni kesadaran murni, jati diri sejati, hakikat Kebuddhaan, dan sebagainya. Namun, sesungguhnya ia berada sebelum nama, sebelum konsep.

Perhatikan Detail Ini:

Ukuran: (12.5 x 18.5 cm)

Format: CMYK (PSD)

Ada hadiah istimewa bagi yang beruntung.

Kirim materimu: karaniya@cbn.net.id

Batas akhir: 16 September 2021

WA Karaniya (Hadi): 081-315-315-699

Kriteria:

  1. Kirim desain buku sampul depan.
  2. Cantumkan akun Instagrammu/facebook.
  3. Setiap orang, maksimal mengirimkan tiga desain.
  4. Desain yang dikirim menjadi milik Karaniya dan Karaniya berhak merubah desain secara minor.
  5. Namamu akan dikukuhkan di dalam bukunya.

Kami tunggu karya terbaikmu!

Cermin, Cangkir, Langit dan Laut

Untold Tales of Surreal Sky Russia based artist... - TumbexOleh Reza A.A Wattimena

Diri kita yang sebenarnya itu selalu damai, dan selalu berada dalam sukacita. Namun, pikiran dan emosi menutupinya, sehingga kita menderita. Karena sudah terjadi bertahun-tahun, maka pikiran dan emosi itu semakin tebal. Ia semakin sulit untuk dilihat secara nyata sebagai ilusi yang datang dan pergi.

Di dalam tradisi kontemplatif-meditatif, ada banyak cara untuk menjelaskan hal ini. Salah satunya dengan menggunakan analogi. Pemahaman ini, bahwa diri kita yang asli itu selalu damai dan bersukacita, tidak datang dari keyakinan buta. Ia datang dari pengalaman yang bisa diuji langsung. Lanjutkan membaca Cermin, Cangkir, Langit dan Laut