Oleh Reza A.A Wattimena
Ada sesuatu yang sakit di Jakarta, dan tawuran adalah salah satu gejalanya yang paling telanjang. Anak-anak membawa celurit, saling menantang melalui media sosial, membentuk kelompok, lalu mencari lawan yang sesungguhnya sering kali tidak mereka kenal secara pribadi. Kita biasa menyebut semua ini sebagai kenakalan remaja, lalu menyerahkan masalah kepada polisi, sekolah dan orang tua. Cara berpikir semacam itu terlalu dangkal, karena kekerasan anak muda sesungguhnya tumbuh dari struktur sosial dan struktur kesadaran yang mencekik.
Teori Kerakusan Ontologis
Tawuran harus dibaca sebagai gejala dari apa yang saya sebut Teori Kerakusan Ontologis. Kerakusan ontologis bukan pertama-tama kerakusan terhadap uang, makanan ataupun benda, melainkan kerakusan untuk membuat diri terasa lebih nyata melalui sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia merasa dirinya kurang, kosong dan rapuh, lalu berusaha menambal kekosongan tersebut dengan identitas, kekuasaan, harta, agama, kelompok dan pengakuan sosial. Karena kekosongan itu tidak pernah sungguh disentuh pada akarnya, proses penambalan pun tidak pernah selesai. Lanjutkan membaca Tawuran, Kerakusan Ontologis dan Republik yang Belum Merdeka