
Oleh A. Rahadian, Pengasuh Forum Teologi Jumatan
Sabtu sore di sebuah mal Jakarta, di lantai yang selalu dingin seperti ruang tunggu masa depan. Di depan etalase kaca, satu jam tangan menyala pelan—bukan karena ia bercahaya, tapi karena manusia di sekelilingnya memancarkan sejenis keyakinan. Seorang sales berjas hitam bicara dengan nada doa: “Ini investment, Pak. Bisa turun-naik, tapi prestige-nya nggak turun.”
Di belakangnya, poster besar menampilkan wajah pria dan wanita yang terlalu tenang untuk kota ini: mereka tidak berkeringat, tidak dikejar tenggat, tidak dikejar cicilan. Mereka hanya menatap lurus—seolah waktu bukan yang mengejar mereka, melainkan mereka yang memegang waktu. Lanjutkan membaca Jimat Modern: Rolex, True Religion, Balenciaga, dan kita yang tak pernah berhenti mengukur


















