Apakah Tuhan hanyalah hasil kerja otak manusia, atau justru kondisi yang memungkinkan otak itu berpikir? Yuval Noah Harari adalah suara paling lantang dari sisi pertama pertanyaan itu. Dalam _Sapiens_ , ia menempatkan kemunculan agama dalam Revolusi Kognitif sekitar 70.000 tahun lalu, ketika manusia memperoleh kapasitas bahasa dan imajinasi untuk membentuk realitas yang melampaui pengalaman empiris, seraya menegaskan bahwa “legends, myths, gods and religions appeared for the first time with the Cognitive Revolution” (Harari, 2014, p. 24). Tuhan, dalam kerangka ini, hadir sebagai produk kemampuan manusia membayangkan dan meyakini yang tak terlihat.
Pandangan ini menemukan resonansi dalam pendekatan kognitif terhadap bahasa, sebagaimana ditegaskan oleh Steven Pinker bahwa bahasa bukan sekadar konstruksi budaya, melainkan “a distinct piece of the biological makeup of our brains” yang berkembang secara spontan dalam diri manusia (Pinker, 1995, p. 18). Kapasitas membentuk narasi tentang realitas yang tak hadir berakar pada struktur biologis manusia itu sendiri. Pertanyaannya pun bergeser: jika bahasa adalah perangkat biologis dan agama lahir bersamanya, apakah Tuhan sekadar hasil dari proses itu, atau justru kondisi yang memungkinkannya? Lanjutkan membaca Tuhan sebelum Bahasa




















