Hidup yang Paripurna

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang ingin hidupnya penuh. Ini berarti, ia ingin bahagia bersama orang-orang yang dicintainya. Ia juga ingin hidup berkecukupan. Bisa dibilang, hidup yang penuh dan utuh adalah tujuan tertinggi yang bisa dicapai seseorang.

Namun, hidup yang penuh tidak terjadi begitu saja. Jaman kita penuh dengan hal-hal yang membuat hidup menjadi sempit dan rumit. Penderitaan mencengkram siapapun, tak peduli kaya atau miskin, sehat atau sakit dan cakap ataupun buruk rupa. Hidup yang penuh harus dibentuk secara cermat. Lanjutkan membaca Hidup yang Paripurna

Iklan

Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno

Franz Magnis-Suseno,

Rohaniwan; Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Kompas, 12 Maret 2019

Istilah ”golput”, singkatan dari golongan putih, menurut Wikipedia, diciptakan tahun 1971 oleh Imam Waluyo bagi mereka yang tak mau memilih. Dipakai istilah ”putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta pemilu kalau tak menyetujui pembatasan pembentukan partai-partai oleh pemerintah Orde Baru.

Jadi, golput artinya sama dengan menolak untuk memberikan suara. Setiap kali ada pemilu, kemungkinan golput, diperdebatkan. Memang, UU pemilu kita, seperti halnya di mayoritas demokrasi di dunia, tak mewajibkan warga negara harus memilih. Masalahnya: bagaimana penolakan warga negara untuk ikut pemilu harus dinilai? Lanjutkan membaca Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno