Oleh : A. Rahadian, Pengasuh Forum Teologi Jumatan -PAC Menteng.
Malam takbiran di Jakarta selalu punya dua wajah.
Yang pertama adalah yang kita lihat: lampu-lampu kota yang tidak pernah benar-benar padam, jalanan yang penuh mobil dengan bagasi berisi kardus oleh-oleh, dan notifikasi diskon yang datang seperti doa yang dipaksa masuk lewat layar. Orang-orang membeli—bukan hanya baju baru, tapi juga perasaan bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Yang kedua lebih sunyi, tapi lebih jujur: kecemasan yang tidak diucapkan.
Kecemasan bahwa setelah ini, mungkin ada sesuatu yang retak.
Di kalender gereja Anglikan, pengampunan bukan sekadar etika sosial. Ia sakramental—bukan karena ia ajaib, tapi karena ia menyingkap sesuatu yang lebih dalam: manusia adalah makhluk yang selalu hidup dari rahmat yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami. Lanjutkan membaca Lebaran di Kota yang Cemas: Tentang Memaafkan, Mudik, dan Hidup Tanpa Jaminan


















