Menjadi Egois Sejati

Hans Bellmer

Oleh Reza A.A Wattimena

Orang egois kerap kali dibenci oleh lingkungannya. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Jika perlu, kepentingan orang lain pun dilanggar, supaya ia bisa memperoleh keuntungan. Semua ajaran moral dan filsafat, secara langsung maupun tidak, mengecam sikap egois.

Jika dilihat lebih dalam, semua orang pada dasarnya adalah mahluk egois. Mereka memikirkan kepentingan diri dan keluarganya terlebih dahulu, baru kepentingan orang lain. Ini terjadi, karena sikap egois merupakan unsur penting dari insting pelestarian diri (survival instinct). Tanpa insting ini, orang, bahkan spesies, akan lenyap ditelan hukum perubahan semesta. Lanjutkan membaca Menjadi Egois Sejati

Iklan

Generasi yang Menunduk

                                           Scott Kelby

Oleh Reza A.A Wattimena

Senangnya melihat keluarga bahagia berjalan bersama. Ayah, ibu dan kedua anaknya berjalan penuh keceriaan ke rumah makan tersebut. Wajah mereka cerah. Kebahagiaan tampak jelas terpancar dari wajah merea.

Ketika sampai di restoran, tiba-tiba mereka mulai mengeluarkan telepon pintar dari kantung celana maupun tas mereka. Seketika itu juga, mereka mulai sibuk sendiri-sendiri dengan alat tersebut. Suasana kebahagiaan pun hilang dalam sekejap mata. Yang tampak adalah empat orang yang sibuk dengan telepon pintar mereka masing-masing. Lanjutkan membaca Generasi yang Menunduk

Pendidikan Yang “Berhasil”

Experiments in Art Education

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang terkaget-kaget, ketika mendengar, bahwa radikalisme agama telah merasuki dunia pendidikan Indonesia. Tidak hanya itu, radikalisme sudah berbuah menjadi terorisme yang mengancam hidup banyak orang.

            Jika dipikirkan lebih dalam, sebenarnya tak ada yang perlu dikagetkan. Berkembangnya radikalisme di dunia pendidikan justru adalah tanda “keberhasilan” pendidikan nasional Indonesia.

            Mari kita cermati lebih dalam. Pertama, pola mengajar di berbagai institusi pendidikan Indonesia masihlah menggunakan pola kuno, yakni pola otoriter yang menuntut kepatuhan buta dari murid.

            Perbedaan pendapat dianggap sebagai simbol kekurangajaran. Pertanyaan kritis dianggap sebagai kesombongan. Kreativitas dianggap sebagai tanda sikap tak disiplin. Lanjutkan membaca Pendidikan Yang “Berhasil”

Belajar Menjadi Pemula

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

​Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita pasti sudah sadar, bahwa hidup penuh dengan tantangan. Niat baik dan usaha keras tidak menjadi jaminan, bahwa orang akan berhasil dalam hidup. Musuh yang iri siap menanti untuk menjegal. Kegagalan pun terjadi, walaupun tanpa sebab yang adil.

Namun, jalan keluar dari semua itu sebenarnya cukup sederhana. Kita hanya perlu memiliki pikiran seorang pemula (beginner’s mind). Kita melihat dunia,beserta segala keberhasilan maupun kegagalannya, dengan kaca mata seorang pemula. Inilah inti utama dari jalan hidup Zen. Lanjutkan membaca Belajar Menjadi Pemula

“Korupsi” atas Korupsi

UNDP in Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

“Korupsi adalah bumbu birokrasi,” begitu kata seorang teman yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Bavaria, Jerman. “Asalkan tak besar, korupsi itu variasi,” begitu lanjutnya.

Ungkapan ini secara jelas menggambarkan sulitnya menumpas korupsi sampai ke akarnya. Bahkan di negara seketat Jerman, korupsi tetap bercokol di jantung birokrasi pelayanan publik.

Memang, masalahnya bukannya melenyapkan korupsi, tetapi membuatnya terkontrol. Ini lalu masalah jumlah, bukan masalah keberadaan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Membaca berbagai berita soal korupsi membuat kita tercengang akan betapa mengakarnya korupsi di birokrasi pelayanan publik Indonesia. Lanjutkan membaca “Korupsi” atas Korupsi