Tawuran, Kerakusan Ontologis dan Republik yang Belum Merdeka

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada sesuatu yang sakit di Jakarta, dan tawuran adalah salah satu gejalanya yang paling telanjang. Anak-anak membawa celurit, saling menantang melalui media sosial, membentuk kelompok, lalu mencari lawan yang sesungguhnya sering kali tidak mereka kenal secara pribadi. Kita biasa menyebut semua ini sebagai kenakalan remaja, lalu menyerahkan masalah kepada polisi, sekolah dan orang tua. Cara berpikir semacam itu terlalu dangkal, karena kekerasan anak muda sesungguhnya tumbuh dari struktur sosial dan struktur kesadaran yang mencekik.

Teori Kerakusan Ontologis

Tawuran harus dibaca sebagai gejala dari apa yang saya sebut Teori Kerakusan Ontologis. Kerakusan ontologis bukan pertama-tama kerakusan terhadap uang, makanan ataupun benda, melainkan kerakusan untuk membuat diri terasa lebih nyata melalui sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia merasa dirinya kurang, kosong dan rapuh, lalu berusaha menambal kekosongan tersebut dengan identitas, kekuasaan, harta, agama, kelompok dan pengakuan sosial. Karena kekosongan itu tidak pernah sungguh disentuh pada akarnya, proses penambalan pun tidak pernah selesai. Lanjutkan membaca Tawuran, Kerakusan Ontologis dan Republik yang Belum Merdeka

Buku Terbaru: Hidup dan Ketidakpastian

Versi ebook dan fisik bisa hubungi Admin Rumah Filsafat: +6287819981999

Buku ini ditulis, setelah saya mengalami sakit pinggang. Hari itu adalah awal Agustus 2026. Udara segar. Cuaca cerah. Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Bangun tidur, ada rasa menusuk di punggung bawah, sekitar pinggang. Saya tidak bisa berdiri. Bergerak pun sulit. Saya langsung berbaring, melihat telepon seluler, dan mencari jalan keluar di internet tentang cara mengurangi rasa sakit di punggung bawah. Tak lama kemudian, saya menyerah, dan mengontak tukang urut dekat rumah untuk membantu.

Ini adalah kejadian yang sungguh tak terduga. Saya amat memperhatikan gejala tubuh saya. Sedikit rasa sakit, saya langsung mencari jalan untuk mengobatinya. Kali ini, saya sungguh kecolongan. Dari peristiwa yang tak terduga ini, buku kecil ini pun lahir. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Hidup dan Ketidakpastian

Mempertimbangkan Pemikiran Fransisco Budi Hardiman

Oleh Reza A.A Wattimena

Dia yang menggiring saya masuk ke dalam dunia pemikiran. Namanya adalah Fransisco Budi Hardiman, atau F. Budi Hardiman. Murid-muridnya mengenal beliau sebagai Pak Frangky. Sekitar bulan Juli 2002, dia membuka mata saya untuk menyelami pemikiran para filsuf Pra-Sokratik. Saya tertegun, dan tergoda masuk ke dalam dunia yang menakjubkan tersebut.

Kini, Agustus 2026, ia menjadi teman berpikir. Kita kerap bertukar pesan untuk berdiskusi. Begitu banyak tema yang bisa dikupas bersama. Begitu ada waktu dan kesempatan, kita berjumpa langsung. Keterbukaan berpikir dan sikap rendah hatinya sungguh menyentuh batin saya. Sampai saat ini, ia adalah teladan saya di dalam berfilsafat.

Lanjutkan membaca Mempertimbangkan Pemikiran Fransisco Budi Hardiman

Buku (Segera Terbit): Hidup dan Ketidakpastian

Tantra untuk Emosi Membara

Oleh Reza A.A Wattimena

Di tengah kemacetan jalan sempit Jakarta, mobil itu berhenti. Ia parkir di pinggir jalan, supaya bisa membeli sesuatu. Alhasil, jalanan langsung macet total. Si pengendara, tentu saja, tak peduli.

Pada saat itu, saya sedang mengendarai motor. Emosi saya pun mendidih. Dari mobil yang kurang ajar itu, keluar seorang ibu dengan pakaian religi tertentu. Munafik, ujar saya dalam hati. Agama hanya berhenti jadi tampilan, tanpa ada perubahan perilaku nyata. Khas Indonesia. Lanjutkan membaca Tantra untuk Emosi Membara

Indonesia dan Keberingasan Struktural

Oleh Reza A.A Wattimena

“Gua orang sini, mau apa lo?” begitu teriaknya. Ia memukul pintu mobil saya. Ini bermula dari kesalahpahaman kecil. Saya sendiri lupa, apa sebabnya. Yang teringat adalah hantaman pintu dan bentakan keras di telinga saya.

“Kita cari ring deh. Berantem sampe mati,” begitu kata pengendara motor yang melawan arah di Jakarta. Ia ditegur oleh pengguna sepeda yang jalurnya diambil. Entah mengapa, reaksinya begitu keras. Yang jelas, ada sesuatu yang menganggu hatinya. Orang bahagia tak akan pernah berniat menyakiti mahluk hidup. Lanjutkan membaca Indonesia dan Keberingasan Struktural

Marthinus Hukom: Ontologi Terorisme, Transformasi Kesadaran dan Jalan Sunyi Kekuasaan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kekuasaan hampir selalu dipahami sebagai panggung. Orang ingin menduduki jabatan supaya dilihat. Pangkat menjadi identitas. Seragam menjadi sumber rasa aman. Kedudukan menjadi alat untuk memperoleh penghormatan. Di balik semua itu, ego bekerja tanpa banyak suara. Ia ingin diakui. Ia ingin ditakuti. Ia ingin merasa penting.

Namun, kekuasaan juga dapat dipahami secara berbeda. Kekuasaan bisa menjadi jalan pengabdian. Ia menjadi kemampuan untuk melindungi kehidupan, mengurangi penderitaan dan menjaga ketertiban bersama. Pada titik ini, jabatan bukanlah kemewahan. Ia adalah beban. Pangkat bukanlah kehormatan pribadi. Ia adalah tanggung jawab sosial. Lanjutkan membaca Marthinus Hukom: Ontologi Terorisme, Transformasi Kesadaran dan Jalan Sunyi Kekuasaan

Kemerdekaan di Persimpangan Kesadaran

Oleh Reza A.A Wattimena

Menjelang 17 Agustus 2026, merah putih kembali memenuhi jalan, rumah dan ruang publik. Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak Proklamasi 1945. Upacara, lagu kebangsaan, pidato dan kisah kepahlawanan penting sebagai ingatan bersama. Namun, ingatan yang tidak diolah mudah membeku menjadi ritual: mengharukan sejenak, tetapi tidak mengubah kehidupan.

Pertanyaan yang lebih mendasar pun perlu diajukan: apakah Indonesia sungguh semakin merdeka? Kemerdekaan tidak cukup berarti bebas dari penjajahan asing. Ia harus berarti pembebasan dari ketakutan, kebodohan, kemiskinan, penghinaan, ketidakadilan dan kekuasaan yang tidak terkendali. Sebuah bangsa dapat berdaulat secara hukum, sementara warganya tetap menjadi tawanan keadaan. Di sinilah kemerdekaan bertemu dengan persoalan kesadaran. Lanjutkan membaca Kemerdekaan di Persimpangan Kesadaran

Rindu Menutup Hari

Oleh Reza A.A Wattimena

Setelah jam 11 malam, seluruh dunia berhenti. Orang melepas diri dari dunia elektronik. Ada yang terbaring beristirahat, setelah seharian bekerja. Ada yang terdiam membisu menikmati heningnya malam.

Jeda menjadi biasa. Keheningan menjadi sahabat yang setia menemani. Ada buku, dan mungkin musik, yang bisa mengisi sunyi. Di dalam rangkaian kata dan nada yang mempesona, orang menghidupi hening, menikmati mimpi dan mempersiapkan keesokan hari. Lanjutkan membaca Rindu Menutup Hari

Buku Terbaru: Pencerahan yang Liar

Membaca Mahamudra, Dzogchen, dan Jalan Pembebasan di Dalam Buku Wild Awakening karya Dzogchen Ponlop Rinpoche

Tulisan ini adalah sebuah berita gembira. Ia menawarkan jalan bagi kita semua untuk keluar dari penderitaan yang mencekik diri. Lalu, kita pun bisa menikmati hidup setiap detiknya disini dan saat ini. Ketika hati sudah gembira dan ringan, menolong mahluk lain pun menjadi amat mudah.

Buku ini juga lahir dari pengalaman pribadi. Setelah menempuh Zen, penderitaan hidup saya berkurang. Namun, ia tak lenyap sama sekali. Dalam soal hubungan dekat dengan manusia lain, banyak masalah dan penderitaan yang timbul.

Tradisi Vajrayana Tibet menyelamatkan saya. Lebih tepatnya, ada tiga tradisi yang saya dalami, yakni Tantra, Mahamudra dan Dzogchen. Saya mendalami dan menerapkan semua tradisi ini di dalam keseharian hidup saya. Dengan buku ini, saya ingin berbagi itu semua kepada anda.

Buku *Wild Awakening: The Heart of Mahamudra and Dzogchen* karya Dzogchen Ponlop Rinpoche menawarkan sebuah peta yang luas sekaligus tajam mengenai dua tradisi meditasi paling mendalam di dalam Buddhisme Tibet, yakni Mahamudra dan Dzogchen. Buku ini tidak berhenti pada penjelasan teoritis tentang hakikat batin (nature of mind), tetapi membawa pembaca menelusuri keseluruhan jalan latihan: mulai dari disiplin dasar, pengembangan perhatian dan kejernihan, pembongkaran ilusi ego, sampai pada pengenalan langsung terhadap kesadaran nondual (non-dual awareness).

Tulisan ini membaca *Wild Awakening* sebagai kritik terhadap cara hidup modern yang terpecah, tergesa-gesa, dan terus mengejar pemenuhan diri melalui objek-objek di luar dirinya. Di dalam perspektif Ponlop Rinpoche, masalah utama manusia bukanlah kurangnya pengalaman, kekayaan, pengetahuan, atau pengakuan sosial, melainkan ketidakmampuan mengenali hakikat batinnya (nature of mind) sendiri. Karena itu, pencerahan tidak berarti menjadi manusia lain, melainkan memahami dengan tepat apa yang sudah selalu ada.

Argumen utama tulisan ini adalah bahwa “Pencerahan yang Liar” merupakan pembebasan kesadaran dari penjara konsep, kebiasaan, ketakutan, dan identitas sempit, sehingga hidup dapat dijalani dengan kejernihan, kebebasan, tanggung jawab, dan welas-asih.

Tulisan ini saya rumuskan dalam dialog mendalam dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Acuan saya jelaskan di bagian daftar pustaka. Saya menghindari penggunaan catatan kaki, guna menghindari kesan kering dan akademik di dalam tulisan ini. Akhir kata, selamat membaca.

Reza A.A Wattimena,

Juli 2026, Jakarta

Buku bisa diperoleh dengan menghubungi admin Rumah Filsafat: +6287819981999

Harga Rp. 88.888

 

 

Keteladanan ala Bajingan

Oleh Reza A.A Wattimena

Boleh ga presiden ngomong bajingan? Begitu kata si gemoy fufufafa. Dengan gaya seperti preman (lihat tulisan saya sebelumnya: Politik Bang Jago, https://rumahfilsafat.com/2026/07/08/politik-bang-jago-indonesia-dari-ndasmu-nye-nye-nye-sampai-emang-gua-pikirin/ ), ia berpidato di depan umum. Kedunguannya sungguh amat terlihat, dan membuat seluruh dunia merasa muak.

Di tempat lain, pengacara busuk itu berkata di hadapan wartawan. Lu punya otak ga? Tidak ada rasa malu, ataupun sungkan. Yang ada juga hanya kedunguan dibalut jas mahal yang membuat rasa jijik. Lanjutkan membaca Keteladanan ala Bajingan

De’Clan: Dari Rumah Kopi ke Ruang Penyimpanan Uang

Tentang kafe, mafia hukum, dan kelas menengah yang kehabisan napas

Oleh A. Rahadian

Naskah untuk Rumah Filsafat, 19 Juli 2026

Pada Rabu, 8 Juli 2026, sejumlah polisi memasuki sebuah kafe di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan.

Mereka tidak datang untuk memesan kopi.

Tidak ada perdebatan mengenai apakah cappuccino harus diminum tanpa gula, apakah pecak ikan lebih cocok untuk makan siang, atau apakah meja di taman masih tersedia untuk rapat sore. Aparat datang membawa surat, kamera, sarung tangan, dan pengetahuan bahwa di kota ini sebuah pintu kadang menyembunyikan lebih banyak hal daripada yang tertulis pada papan nama.

Nama tempat itu De’Clan Signature. Lanjutkan membaca De’Clan: Dari Rumah Kopi ke Ruang Penyimpanan Uang

Anak Tangga Yang  Masih Terabaikan dalam Praktek Keagamaan Hindu Bali; Sebuah Opini Pribadi

Oleh Gede Agustapa, Seorang Yogi

Membaca tulisan pak Sugi Lanus di tatkala.co dengan judul “Hindu Bali Oleng Karena Tiga Pilar Suci Tak Seimbang?”  menginspirasi saya untuk segera mewujudkan ke dalam tulisan tentang apa yang sudah sejak lama saya amati dalam praktek keagamaan Hindu Bali. Saya menyebutnya “anak tangga yang masih terabaikan.”

Beliau menyoroti mengenai tiga pilar keagamaan Hindu Bali yaitu susila, upacara dan tattwa. Jika ketiganya tidak seimbang maka Hindu Bali akan oleng. Ketidakseimbangan itu biasanya terjadi karena dua hal yaitu over-ritual tanpa susila dan over-ritual tanpa tattwa. Lanjutkan membaca Anak Tangga Yang  Masih Terabaikan dalam Praktek Keagamaan Hindu Bali; Sebuah Opini Pribadi

Tantra sebagai Teknologi Mengganti Diri

Oleh Reza A.A Wattimena

Sesungguhnya, Reza itu tidak ada. Ia hanyalah nama di KTP. Ia hanyalah sebuah cerita juga terus berubah tentang sosok mahluk hidup yang punya sejarah dan harapan tertentu. Ia tidak mutlak.

Ia lahir dan sekolah di Jakarta. Ia sempat merantau di beberapa kota dan negara. Ia suka menulis. Cerita ini bisa dilanjutkan, sampai tak berhingga. Lanjutkan membaca Tantra sebagai Teknologi Mengganti Diri

Publikasi Ilmiah Terbaru: Menemukan Unsur Dasar Kenyataan, Refleksi tentang Teori Atom dan Alam Semesta

DIPUBLIKASIKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES FOR STRATEGIC MANAGEMENT Juli 2026 VOLUME 74

Karya Reza A.A Wattimena[1]

Abstrak

Tulisan ini merupakan sebuah sketsa singkat tentang atom, sekaligus refleksi filosofis atasnya. Tulisan ini menelusuri sejarah perkembangan teori atom yang dimulai dari masa Yunani Kuno, terutama di dalam pemikiran Demokritos. Selama ribuan tahun, atom dianggap sebagai unsur terkecil kenyataan. Ia dilihat sebagai pilar pembentuk kenyataan. Perkembangan sains modern menumbangkan pandangan tersebut, dan mencoba menggali lebih dalam sampai ke titik kekosongan yang memiliki kemungkinan tak terbatas. Kekosongan lebih dalam dari unsur-unsur pembentuk atom, seperti neutron, proton, elektron dan nukleus.

Kata-kata Kunci: Sains, Filsafat, Atom, Korpuskularisme, Kekosongan

[1] Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Transformasi Kesadaran, Teori Tipologi Agama, Teori Politik Progresif Inklusif dan Etika Natural Empiris. Teori terbarunya adalah Epistemologi Pembebasan.

Silahkan diunduh: Jurnal Reza, Atom

Buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited (Desain Baru)

Buku ini adalah kumpulan lima teori yang saya kembangkan. Ada lima teori, yakni Teori Transformasi Kesadaran, Teori Tipologi Agama, Teori Politik Progresif Inklusif, Etika Natural Empiris dan Epistemologi Pembebasan. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.

Jakarta, Juli 2026

Reza A.A Wattimena

Silahkan diunduh: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited 2

Jika terbantu dengan karya-karya dari Rumah Filsafat, donasi bisa disalurkan ke: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius

Enam Barometer Utama Spiritual: Cara Menguji Ajaran, Guru, Metode, Ritual, Latihan dan Progress

Oleh Gede Agustapa, Seorang Yogi

Di zaman ini, mudah kita temui orang mengaku memiliki jalan spiritual. Ada yang menawarkan pencerahan instan, pembukaan cakra, aktivasi energi, penyembuhan karma, bahkan klaim sebagai guru yang telah tercerahkan. Seorang pencari yang tulus sering kali tidak tahu harus menggunakan ukuran apa untuk membedakan jalan yang benar dari sekadar klaim yang menarik. Jika ukuran yang dipakai adalah karisma, jumlah pengikut, usia tradisi, kesaktian, atau pengalaman mistis maka kita mudah tertipu. Karena itu, saya mengusulkan enam barometer sederhana untuk menguji setiap ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan, sehingga kita, para pencari, dapat mengetahui dan memahami, apakah ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan tersebut menyesatkan, atau mengarah pada kebahagiaan, kebijaksanaan dan pembebasan.

Sebelum menetapkan cara menguji ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan, kita harus sepakat mengenai ajaran spiritual yang baik dan yang benar terlebih dahulu, dan mengapa disebut baik dan benar. Lanjutkan membaca Enam Barometer Utama Spiritual: Cara Menguji Ajaran, Guru, Metode, Ritual, Latihan dan Progress

Politik Bang Jago Indonesia: “Dari Ndasmu, Nye Nye Nye sampai Emang Gua Pikirin”

Oleh Reza A.A Wattimena

Tiba-tiba, pengendara motor itu dipukul dari belakang. Tentu saja, ia kaget. Jalanan sedang ramai. Si pemukul tampak sedang mabuk, dan sok jagoan di jalan raya bilangan Jakarta Selatan. Per 7 Juli 2026, polisi telah menangkap si pemukul tersebut.

Tak ada sebab yang jelas. Si pemukul hanya merasa sebagai jagoan. Ia merasa berhak berkendara tanpa helm, dan memukul pengendara lain. Ia bagaikan bang jago yang menguasai jalan raya. Lanjutkan membaca Politik Bang Jago Indonesia: “Dari Ndasmu, Nye Nye Nye sampai Emang Gua Pikirin”

Meretas Pikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Malam itu, serangan panik menikam dada saya. Rasanya seperti mengalami serangan jantung. Tragedi personal memicu serangan ini. Saya pun merasa tak berdaya.

Saya menggunakan segala ilmu yang telah saya pelajari. Dari tradisi filsafat Stoa dan Filsafat Jerman, saya mengambil beberapa ide untuk mengubah cara berpikir. Dari Zen dan Yoga, saya menerapkan laku fisik dan olah batin. Semuanya tak berdaya di hadapan rasa sakit di dada yang begitu menikam jiwa. Lanjutkan membaca Meretas Pikiran

3P: Pertolongan, Pegangan dan Pembebasan

Oleh Gede Agustapa, Seorang Yogi

Semua makhluk yang menderita, sesungguhnya, membutuhkan pertolongan, pegangan dan pembebasan. Walaupun demikian, prioritasnya berbeda, tergantung kondisi individu masing-masing.

Setiap orang, khususnya yang akan berlatih meditasi mau pun yang sedang berlatih, sebaiknya memahami 3P ini; “apakah saat ini saya membutuhkan pertolongan, pegangan atau kah pembebasan?”

Tidak semua orang siap untuk menerima ajaran yang berkaitan dengan pembebasan spiritual. Seringkali, orang membutuhkan pertolongan dan pegangan terlebih dahulu. Dengan memahami posisi kita di mana, maka kita dapat mengerjakan atau mengeksekusi ajaran, metode dan latihan secara presisi, efektif dan efisien, sehingga membuahkan hasil yang sesuai di setiap tahapan tanpa ada spiritual bypassing. Lanjutkan membaca 3P: Pertolongan, Pegangan dan Pembebasan