Hampir lima dekade berselang antara keduanya, namun Mochtar Lubis dan Carl Sagan mengamati gejala yang sama dari dua benua berbeda. Dalam pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki, Lubis (1977) menempatkan takhayul sebagai salah satu sifat yang melekat pada manusia Indonesia, sesuatu yang tetap hidup hingga masa kini: benda-benda disembah, dukun ramai dikunjungi, dan dunia gaib terus hadir sebagai tontonan sehari-hari. Dari Amerika Serikat, Sagan (1995, 17) sampai pada kesimpulan serupa. Takhayul bertahan karena ia menjawab kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, ingin percaya bahwa nasib bisa dikendalikan. Lubis mencatat gejalanya, sementara Sagan menjelaskan mengapa gejala itu bisa bertahan begitu lama. Dibaca bersama, keduanya memberi gambaran yang lebih lengkap tentang mengapa takhayul begitu sulit ditinggalkan.
Di Indonesia, gambaran itu terasa sangat konkret. Pada 2021, sebuah kampung di Depok diguncang kabar babi ngepet yang disebarkan seorang figur religius demi ketenaran, dan warga yang iri terhadap tetangganya ikut memperkuat kepercayaan itu hingga viral (Marini, 2021). Takhayul pun hadir dalam wujud yang jauh lebih tenang. Memotong mie dianggap memotong usia; gula yang tersisa di dasar teh dibaca sebagai tanda ada yang diam-diam jatuh cinta (Utomo, 2018). Kepercayaan seperti ini melintas batas budaya, dari tradisi Tionghoa hingga kebiasaan di Inggris modern. Di sinilah kesimpulan Lubis dan Sagan menjadi menantang: jika takhayul berakar pada kebutuhan yang menunggu jawaban, solusi yang efektif harus menyentuh akar kebutuhan itu secara langsung. Lanjutkan membaca Takhayul: Ketika Sains dan Filsafat Keilahian Membaca Manusia yang Sama



















