Saya menyebutnya Nadya, karena nama asli nyaris tidak pernah penting dalam cerita seperti ini. Di Jakarta, orang bisa hidup bertahun-tahun dengan nama yang sedikit dibelokkan: nama di KTP, nama di Instagram, nama yang dipakai di meja karaoke, nama yang muncul di kuitansi hotel, nama yang disimpan seorang laki-laki di kontak ponselnya dengan emoji bunga atau inisial yang aman jika sewaktu-waktu istrinya membuka layar.
Saya melihatnya pertama kali bukan sebagai seseorang, melainkan sebagai pantulan. Sebuah video pendek lewat di TikTok, mungkin tidak sampai dua belas detik, direkam dari kursi penumpang mobil Eropa putih yang melaju di jalan tol malam hari. Kamera tidak pernah memperlihatkan wajah laki-laki di sebelahnya. Hanya setir, pergelangan tangan, ujung kemeja, arloji yang tampak mahal, dan cahaya lampu jalan yang masuk sebentar ke kaca jendela lalu hilang lagi, seperti kota sedang memotret dirinya sendiri dengan shutter yang terlalu cepat. Lanjutkan membaca Kurs Tengah Malam



















