Krisis Kewarasan Global

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang”, Peneliti di Bidang Filsafat Politik dan Pengembangan Organisasi

Beberapa minggu belakangan, beberapa belahan dunia diguncang beberapa peristiwa besar. Spanyol masih berkabung, karena serangan teroris di beberapa kotanya. Jumlah korban masih terus bertambah. Rasa takut masih tersebar luas tidak hanya di Spanyol, tetapi juga di berbagai negara Eropa.

Timur Tengah juga masih menjadi kawasan yang penuh dengan konflik. Konflik Israel dan Palestina meruncing beberapa minggu belakangan. Tindak balas dendam memperbesar skala konflik, dan menimbulkan lebih banyak korban. Perang saudara di Suriah, yang meliputi ketegangan regional sekaligus global antara Rusia dan Amerika Serikat,  juga masih jauh dari berakhir. Lanjutkan membaca Krisis Kewarasan Global

Kepemimpinan Primitif di Abad 21

                              Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di abad 21. Segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat kita nikmati bersama. Ilmu-ilmu sosial tentang tata kelola negara dan organisasi pun sudah berkembang begitu pesat. Organisasi yang menerapkannya berkembang menjadi perusahaan multinasional yang memiliki aset milyaran dollar AS.

Abad 21 juga dipandang sebagai masa keterbukaan dan kesalingterkaitan antar bangsa. Segala bentuk diskriminasi yang diwariskan oleh tradisi, baik itu diskriminasi ras maupun gender, kini dipertanyakan ulang. Demokrasi menjadi sistem pemerintahan yang digemari di seluruh dunia. Bahkan, wacana terkait terciptanya pemerintahan demokratis global juga terus berkembang. Lanjutkan membaca Kepemimpinan Primitif di Abad 21

Seni Bersabar ala Zen Korea

                                                                           static.guim.co.uk

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Kesabaran adalah dasar dari semua keutamaan. Artinya, jika orang sabar, maka ia bisa bertindak tepat di dalam semua keadaan. Ia tidak gampang marah. Ia juga tidak gampang berbohong, hanya untuk memenuhi kepentingan diri maupun kelompoknya sendiri.

Orang yang sabar mampu mengenali semua gejolak emosi maupun pikiran yang ada di dalam dirinya. Ia pun tidak terpancing oleh semua itu, melainkan tetap berada di dalam kesadaran penuh atas dorongan pikiran maupun emosi yang ada. Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa kesabaran adalah kunci dari kebijaksanaan. Jika orang melatih kesabarannya, maka ia dengan mudah bisa mengembangkan keutamaan-keutamaan lainnya, seperti kejujuran, sikap rendah hati, rajin dan sebagainya. Lanjutkan membaca Seni Bersabar ala Zen Korea

Hamburg-Konferensi Tingkat Tinggi G20: Refleksi Setelahnya

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Seorang teman mengirim email. Dia warga negara Jerman yang tinggal di Hamburg. Dia ikut serta di dalam demo menentang konferensi tingkat tinggi negara-negara G20 di Hamburg pada 7-8 Juli 2017 lalu. Kemudian, ia ditahan polisi, dan sampai 6 Agustus 2017 kemarin, ia belum dibebaskan. Dia meminta saya menyebarkan pesannya soal ketidakadilan global yang disebabkan oleh negara-negara G20 tersebut.

Forum G20

G20 adalah forum dari kerja sama internasional, terutama pada bidang ekonomi dan finansial. Pada 2017 ini, negara-negara G20 memiliki 4/5 produksi bruto global, dan menguasai ¾ perdagangan global. Negara-negara G20 juga adalah rumah dari 2/3 manusia di dunia. Pada 2017 ini, Konferensi Tingkat Tinggi G20 akan diadakan di Hamburg pada 7-8 Juli 2017. Lanjutkan membaca Hamburg-Konferensi Tingkat Tinggi G20: Refleksi Setelahnya

Gelar Akademik dan Tanggung Jawab Politik

c.tribune.com.pk

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Kita hidup di masyarakat yang banjir gelar akademik. Gelar-gelar akademik, seperti S.H. (Sarjana Hukum), M.M (Magister Manajemen) dan Dr. (Doktor), dipertontonkan di berbagai acara, mulai dari pemilihan legislatif, pilkada sampai dengan undangan perkawinan. Gelar akademik menjadi semacam lambang kebangsawanan. Penggunanya dianggap lebih cerdas dibanding dengan orang-orang yang tanpa gelar.

Gejala ini juga terjadi di Jerman. Pemikir asal Muenchen, Julian Nida-Rümelin, bahkan menulis buku dengan judul Der Akademisierungswahn (delusi akademik) pada 2014 lalu. Di dalam buku itu, ia berpendapat, bahwa masyarakat Jerman dilanda kegilaan akademik. Semua orang ingin masuk universitas dan mendapat gelar akademik, walaupun mereka, sesungguhnya, memiliki bakat di bidang lain, selain bidang akademik.   Lanjutkan membaca Gelar Akademik dan Tanggung Jawab Politik

Keadilan untuk Semua? Sebuah Tantangan

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Naskah pemancing diskusi untuk Acara Diskusi dan Peluncuran Buku “Keadilan untuk Semua?” pada Rabu 26 Juli 2017 pukul 9.15 di Universitas Presiden, Cikarang, Indonesia

Mencari dan mempertahankan keadaan yang adil, itulah salah satu tantangan abadi di dalam kehidupan manusia. Plato sendiri, salah satu filsuf terbesar di dalam sejarah Filsafat Barat, juga menegaskan, bahwa keadilan merupakan keutamaan terpenting yang bisa dimiliki manusia. Kehidupan pribadi dan kehidupan bersama bisa berjalan lancar, jika ditata dengan adil. Sejahat apapun orang, namun jika ia bisa bersikap adil, maka kejahatannya akan menjadi relatif di hadapan sikap adilnya tersebut.

Sebagai sebuah keutamaan yang penting, keadilan juga memiliki beragam makna. Arti dari keadilan juga menentukan, bagaimana keutamaan tersebut dibentuk dan dikembangkan di dalam diri manusia. Pemahaman tentang keadilan juga berubah seturut dengan perubahan kehidupan manusia. Salah satu pertanyaan terpenting di sini adalah, apakah ada yang disebut sebagai konsep keadilan universal, ataukah keadilan amat tergantung dari pemahaman masing-masing orang dan kelompok yang memiliki latar belakang sosialnya masing-masing? Lanjutkan membaca Keadilan untuk Semua? Sebuah Tantangan

Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan

The Labyrinth Institute

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Menjadi ekstrimis di abad 21 adalah sebuah godaan besar. Orang berpikir hitam putih tentang banyak hal, sesuai dengan versi mereka. Tidak ada usaha untuk berpikir kritis untuk mempertanyakan anggapan-anggapan di dalam diri. Menjadi ekstrimis itu mudah, karena memang orang tak perlu banyak berpikir.

Menjadi radikal di abad 21 juga gampang. Kata radikal, sejatinya, menggambarkan usaha untuk mencari akar (radix) dari pemahaman tertentu. Namun, di abad 21, kata itu menggambarkan orang-orang yang justru tak pernah sampai ke akar pemahamannya, sehingga jatuh pada kedangkalan berpikir. Lanjutkan membaca Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan