Keadaan Demokrasi Kita

79bf9763a9747df3da54b1ce79994397Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu wawancaranya dengan BBC, kantor berita nasional Inggris, pada 2020 lalu, Presiden Jokowi menyinggung soal demokrasi. Baginya, demokrasi adalah keterbukaan pada ketidaksetujuan. Banyak orang yang mengritik kebijakannya, terutama terkait dengan penegakan HAM, dan kelestarian lingkungan. Itu sah, dan merupakan bagian dari demokrasi, begitu kata Jokowi.

Jawaban ini salah total. Demokrasi bukan hanya soal memperbolehkan ketidaksetujuan, lalu mengabaikannya. Ini namanya pemerintahan tuli. Sebaliknya, demokrasi tidak boleh tuli. Kritik diberikan ruang, didengarkan lalu dipelajari, apakah isinya bisa dan harus diterapkan, atau tidak. Lanjutkan membaca Keadaan Demokrasi Kita

Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

12121212 (1)Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, saya berbicara tentang Zen di acara publik. Ini sudah beberapa tahun terjadi. Ada yang di luar jaringan (offline), ada yang di dalam jaringan (online). Seorang teman pun berkomentar.

“Mengapa kamu tidak pernah mengutip teks-teks klasik? Mengapa tidak mengacu pada ortodoksi, terutama ortodoksi Dharma di dalam ajaran Vedanta, Hindu dan Buddhis?” Tidak sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban saya pun selalu sama. Lanjutkan membaca Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

Kelas Filsafat Komunitas Salihara: Antropologi, Manusia dan Dunia Digital

271819574_10159789444677017_1152463787548639722_n

Revolusi digital mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan kita, baik secara positif maupun negatif, sehingga kita juga hidup di dalamnya. Kita beradaptasi, memanfaatkannya dan terkadang terjebak di dalamnya. Sebenarnya bagaimana filsafat menanggapi perubahan ini?

Tema besar Kelas Filsafat tahun ini adalah bagaimana melihat fenomena dunia digital yang kita alami hari ini dari sudut filsafat dengan mengacu pada bidang antropologi, etika dan epistemologi.

Pada putaran pertama, dalam empat pertemuan, Reza A.A Wattimena membahas bagaimana eksistensi pikiran manusia ketika berhadapan dengan “kemayaan realitas” dalam dunia digital. Bagaimana filsafat Zen sampai pemikiran Nietzsche dapat menanggapi fenomena dunia digital?

271742465_10159789445102017_646227978522981985_n

Antropologi: Manusia dan Dunia Digital

Pengampu: Reza A.A. Wattimena

Setiap Sabtu, 05, 12, 19, 26 Februari 2022, 13:00 WIB

Tiket: Rp 300.000 (promo) | Rp400.000 (normal)

Zoom Webinar

Tunggu apalagi? Yuk perluas wawasanmu dengan belajar filsafat! Daftar sekarang di tiket.salihara.org 

Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

0_1opthal5_465_801_int-1Oleh Reza A.A Wattimena

PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke 49 pada 10 Januari 2022 kemarin. Di dalam perayaan itu, Megawati Soekarno Putri, sebagai ketua umum, mengajukan beberapa kritik.

Salah satunya sungguh mengena di saya. Ia berkata, bahwa banyak Undang-undang di Indonesia tak sesuai dengan UUD. Secara langsung, ia menegur Puan Maharani, Ketua DPR RI, yang adalah putrinya sendiri. Lanjutkan membaca Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Penaklukkan itu membawa luka. Membuat orang merasa hina!

“Bu, mungkin ibu bisa membuatkan rumah bangunan untuk saya berteduh. Ibu punya uang untuk itu. Tapi, ‘rumah’ bagi jiwa saya, biarlah saya menemukannya sendiri.” Kalimat itu diungkapkan dengan suara berat, beradu dengan isak tangis, di antara perdebatan penuh lupaan emosi seorang anak perempuan dengan ibunya.

Itu bukan satu-satunya perdebatan yang melibatkan mereka berdua. Dan, setelahnya pun masih terjadi beberapa perdebatan. “Sebagai orang tua, ibu kan ingin anak-anaknya ‘mapan’. Punya pekerjaan yang baik. Rumah yang layak. Setiap bulan menerima gaji. Saat tua nanti dapat pensiun. Seperti keluarga-keluarga yang lain, setelah beberapa tahun bisa membeli mobil. Tidak usah yang terlalu bagus, tapi cukup layak dipandang. Tidak membuat malu. Apakah itu salah? Normalnya orang hidup di masyarakat kan begitu.” Lanjutkan membaca Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022

WhatsApp Image 2022-01-07 at 12.15.48Sebuah Bingkisan Istimewa dari Rumah Filsafat

Rumah Filsafat
Tshirt Pack Vol 1 2022

Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari lima belas tahun, kami memberikan sebuah bingkisan awal tahun.

Rumah Filsafat.com hadir di ruang digital sejak 2007. Kami menyajikan karya-karya yang membantu dunia lebih sadar dan bernalar sehat. Lanjutkan membaca Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022

P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

face-man-migraine-aura-against-rainbow-shards-oil-surrealism-165763079Oleh Reza A.A Wattimena

“Kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa diubah

Menerima hal-hal yang tak bisa diubah

Kebijaksanaan untuk membedakan keduanya”

Suasana tempat makan itu ramai. Di sana, seorang teman berkomentar tentang buku saya: Urban Zen. “Memang mengapa jika hidup itu menderita? Mengapa harus panik?”, begitu tanyanya.

Memang, hidup harus terus bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk direnungkan. Hidup memang tak harus selalu bahagia. Derita adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Lanjutkan membaca P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

9efaf190325473.Y3JvcCw4NDQsNjYwLDAsMTY5Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar jam 10 malam, bilangan Tanah Abang Jakarta, saya berjalan. Baru saja selesai berjumpa dengan seorang teman dari jauh. Saya kaget, karena ada sosok berjalan di kegelapan. Ia tidak menyerupai manusia.

Ternyata, ia adalah seorang perempuan. Tubuhnya ditutupi oleh kain dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia berjalan biasa, namun tampak menyeramkan, karena pakaian yang ia gunakan. Saya teringat film Sundel Bolong yang saya tonton sewaktu saya kecil. Lanjutkan membaca Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

Distraksi Sebagai Derita

600px-Joos_de_Momper_the_Younger,_Anthropomorphic_Landscape_c.1600-1635Oleh Reza A.A Wattimena

2022 sudah tiba. Sebenarnya, itu hanyalah angka. Ia tak sungguh punya makna. Namun, karena kebiasaan manusia selama ribuan tahun yang bersifat global, maka ia memiliki pola tetap yang bermakna.

Tahun-tahun sebelumnya tak mudah. Pandemik mengancam nyawa dan kesehatan batin banyak orang. Krisis ekonomi menggiring milyaran orang ke dalam jurang kemiskinan. Yang lebih parah, kecemasan akan masa depan yang tak pasti terus menghantui dunia. Lanjutkan membaca Distraksi Sebagai Derita

Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Suami isteri yang saya kenal dengan sangat baik itu berjuang untuk menyingkirkan segala bentuk penderitaan dari jalan hidup anaknya. Secara verbatim suami berkata kepada saya suatu pagi, ketika anaknya masih kelas 2 SD, “Cukup kami orangtuanya yang kerja keras banting tulang ke kebun. Biar kami saja yang kehujanan kepanasan. Anak-anakku tidak perlu. Pokoknya cukup belajar yang rajin. Kalau sekolahnya pintar, kelak dia akan jadi ‘orang’.”

Mereka bertani. Di samping rumah ada 3 ekor sapi yang harus dikasih makan. Ada ayam bangkok dan ayam kampung di kandang berbanjar. Pagi dan sore harus dikasih makan. Ada kolam ikan gurame dan nila—ikan-ikannya harus dikasih makan. Untuk menjaga kebun dari orang jahil, delapan ekor anjing dilepaskan. Semuanya mesti dikasih makan dua kali sehari. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

3685179-HSC00002-6

Oleh Johanes Supriyono, Antropolog

Suatu ketika, saya berjumpa seorang teman yang libido sekolahnya tinggi. Di ruang kerjanya ia setengah pamer tentang rencana sekolahnya. “Saya selesai S2 tepat waktu. Nilai saya A semua. Saya lulusan terbaik. Tesis saya sangat layak dibukukan. Kamu tertarik untuk membacanya? Ada banyak referensi yang saya rujuk untuk membahas topik penelitian saya.” Kemudian bla bla bla bla bla…. Sangat panjang. Aura bangga menguar dari mulut; mengiringi setiap kata.

“Saya sedang menyiapkan proposal penelitian S3 saya. Ke luar negeri,” katanya lagi. Lagi-lagi ia menggarisbawahi alasan bahwa ia sangat spesial dan penting untuk masuk ke pergaulan internasional. Ia merasa dirinya selayaknya menjadi bagian dari komunitas ilmuwan trans-nasional. Ia suka mengutip kalimat-kalimat dari buku yang ia pernah baca. Juga ia suka mengubah kalimatnya ke dalam bahasa Inggris yang terdengar sangat fasih. Sekurang-kurangnya di telinga saya. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

Musuh Terbesar Semua Agama

Stupidity is Dead! Long Live Stupidity! A Rant - South Florida FilmmakerOleh Reza A.A Wattimena

Sampai ke pelosok desa, agama telah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. Agamanya pun beragam. Namun, hampir tak ada tempat yang bebas dari agama di Indonesia. Inilah keadaan kita di awal abad 21 ini.

Salah satu sebabnya adalah karena gagalnya pemerintah memberi rasa aman pada warganya. Sebaliknya, pemerintah justru menjadi penindas terhadap warganya sendiri. Para pelayan rakyat justru mencuri uang rakyat, guna memperkaya diri. Para penegak hukum justru mendiamkan, dan bahkan kerap menjadi pelaku pelanggaran hukum itu sendiri. Lanjutkan membaca Musuh Terbesar Semua Agama

Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Taylor Swift's Video for "Style" Is Totally Dreamy | InStyleOleh Reza A.A Wattimena

Tak biasanya, saya mendengar lagu-lagu baru. Namun, ini perkecualian. Taylor Swift, salah satu musisi perempuan terbaik di dunia saat ini, merekam dan menyebarkan ulang salah satu lagu lamanya. Judulnya All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (From the Vault).

Lagu itu unik. Durasinya 10 menit. Ini sungguh tak biasa untuk musik jaman sekarang. Itu juga salah satunya yang membuat saya tertarik. Anda juga bisa melihatnya dengan gratis di Youtube, termasuk film pendek yang dibuat atasnya. Lanjutkan membaca Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Murka yang Bermakna

GoodTherapy | Recognizing and Addressing Anger Before It Becomes RageOleh Reza A.A Wattimena

Bolehkah orang murka atau marah? Bolehkan orang bersikap keras dalam keadaan-keadaan tertentu? Bolehkah makian keras dilontarkan antar manusia? Apakah murka itu sepenuhnya salah?

Murka itu terasa di dada. Napas sesak, dan jantung berdetak keras. Tekanan darah meninggi, dan menghasilkan dorongan keras ke kepala. Kata dan makian keras pun keluar dari mulut, dan kerap merusak telinga. Lanjutkan membaca Murka yang Bermakna

Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Jaundice. alex gross | Surrealism painting, Graphic design photo  manipulation, Pop surrealismOleh Reza A.A Wattimena

Kata pepatah, fitnah lebih jahat dari pembunuhan. Tampaknya, ungkapan itu memang benar. Jika dibunuh, orang kehilangan tubuhnya. Jika difitnah, tanpa tanggapan yang tepat, orang bisa kehilangan mata pencahariannya, harga dirinya dan bahkan juga hidupnya.

Saya sendiri sudah berulang kali difitnah. Karena iri atau salah paham, banyak kebohongan disebarkan tentang diri saya. Ada fitnah yang sungguh merusak, sampai mempengaruhi banyak sisi hidup saya. Namun, sebagian besar fitnah hanya gosip di belakang yang tak bermakna. Lanjutkan membaca Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

SSAE Online Exhibit: Hillsborough County 2021 - Salvador Dalí MuseumOleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda ingin hidup di negara yang bebas korupsi? Apakah anda ingin tinggal di negara bebas dari radikalisme agama yang merusak? Apakah anda ingin tinggal di negara yang pemerintah dan organisasi swastanya bekerja dengan sempurna? Saya iya.

Jalannya hanya satu, yakni benahi pendidikan. Jangan memilih menteri yang tak kompeten. Jangan memilih pejabat pendidikan atas dasar kompromi politik busuk. Indonesia terus melakukan dua hal ini, sehingga pendidikan kita sama sekali tidak bermutu. Lanjutkan membaca Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

Belajar untuk Menderita

WebSyters | Suffering in silence, Art, Fictional charactersOleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi juara. Kita diminta untuk melakukan yang terbaik di segala hal. Sistem sekolah mendukung hal itu. Sistem ekonomi kapitalisme Indonesia juga sejalan dengan itu.

Namun, kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Kita tidak pernah diajarkan untuk menderita. Padahal, di dalam hidup, orang tak selalu bisa menang dan senang. Derita dan kekalahan kerap datang berkunjung, tanpa diundang. Lanjutkan membaca Belajar untuk Menderita

Kritik atas Nalar Religius

I am not going to Mars - Surreal paintings - Gyuri Lohmuller - Paintings &  Prints, Religion, Philosophy, & Astrology, Other Religion & Philosophy -  ArtPalOleh Reza A.A Wattimena

Tiga buku Immanuel Kant membentuk wajah Filsafat Eropa Modern. Judulnya adalah Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Rasio Murni– 1781), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis– 1788) dan Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Kemampuan Mempertimbangkan – 1790). Sampai detik ini, banyak orang masih membaca buku-buku tersebut. Di dunia akademik, pandangan Kant di dalam buku-buku itu masih menjadi tema penelitian yang terus relevan.

Kata Kritik bukanlah berarti ketidaksetujuan. Di dalam ketiga buku itu, kata kritik berarti penyelidikan yang menyeluruh. Kant memang ingin memeriksa tiga kemampuan dasar dari pikiran manusia, yakni soal pengetahuan, moralitas dan estetika. Untuk Indonesia, pola kritik serupa kiranya diperlukan untuk hidup beragama. Lanjutkan membaca Kritik atas Nalar Religius

Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Garuda Indonesia | Fine Art Print | ghinan's artist shopOleh Reza A.A Wattimena

Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dari sudut pandang ini, Pancasila adalah kesepakatan yang mengikat jutaan orang yang hidup di ribuan pulau untuk hidup bersama dalam satu payung politik yang disebut sebagai Indonesia. Pancasila menampung keberagaman suku, ras, agama dan beragam turunan identitas sosial lainnya. Ia memang dirancang untuk menampung perbedaan, dan mengarahkan itu semua pada satu tujuan, yakni keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Bangsa yang Tersesat

Namun, karena beragam sebab, bangsa kita tersesat. Pancasila tetap dipegang, namun hanya sila pertama yang terus menjadi perhatian. Sila pertama ini bahkan digunakan untuk bersikap tidak adil terhadap keberagaman agama yang ada. Ketidakadilan terhadap kelompok agama minoritas, dan penindasan yang berkepanjangan terhadap hak-hak perempuan, seolah dibenarkan oleh sila pertama ini. Lanjutkan membaca Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah