Kanker itu Bernama Kesenjangan Global

fgl2
The Kiss- Read Opium

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Berapa gaji presiden direktur sebuah perusahaan swasta menengah di Jakarta? Bandingkan dengan gaji seseorang yang baru saja lulus kuliah.

Anda pasti akan menemukan jarak yang amat besar, apalagi jika anda bekerja di perusahaan multinasional dengan modal raksasa. Banyak orang tidak lagi mempertanyakan hal ini, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Indonesia.

Di tengah peliknya kompetisi ekonomi nasional, yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin justru semakin miskin. Terciptalah kesenjangan sosial yang amat besar antara si kaya dan si miskin.

Yang satu sibuk memikirkan mau nongkrong di mall mana nanti malam. Yang lain sibuk memikirkan mau makan apa nanti malam. Lanjutkan membaca Kanker itu Bernama Kesenjangan Global

Kedewasaan Beragama dan Perdamaian Dunia

surrealistic_room_by_mcrace
deviantart.net

Dari Hakekat Agama, Kesadaran Murni sampai dengan Perdamaian Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang

Tulisan untuk Buku “GKI di mata Sahabat”, KOMISI NETWORK & MISI

GEREJA KRISTEN INDONESIA, KLASIS BOJONEGORO,

Anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Tulisan ini merupakan pengembangan ide dari berbagai tulisan yang dimuat di http://www.rumahfilsafat.com.

Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.

Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.

Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.

Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya. Lanjutkan membaca Kedewasaan Beragama dan Perdamaian Dunia

Agama dan Perdamaian Dunia

img_8617_dark_resurrection_the_birth_of_the_antichrist
Kazuya Akimoto Art Museum

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang

Agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya.

Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.

Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat.

Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya. Lanjutkan membaca Agama dan Perdamaian Dunia

Politik di Abad Kegelapan

1934e23f0c7383386b1bf9cdcca4e886Oleh Reza A.A Wattimena

Tampaknya, kita hidup di abad kegelapan. Di dalam abad ini, kesempitan berpikir menjadi semangat jaman (Zeitgeist).

Beragam fenomena menggiring kita menuju abad ini, mulai dari perang tak berkesudahan di Timur Tengah, politik yang semakin semerawut di Indonesia, gunjang ganjing di Uni Eropa, dan terpilihnya para politikus fasistik di AS. Amerika selatan pun menyaksikan jatuhnya berbagai pemerintahan pro rakyat, dan bangkitnya pemerintahan sayap kanan yang tak peduli pada keadilan sosial.

Abad Kegelapan

Kata abad kegelapan (dark age) diambil dari upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi di Eropa, setelah kekaisaran Romawi Barat jatuh. Kemiskinan, kebodohan dan fanatisme berkembang biak, seperti anak kelinci.

Ada empat hal yang kiranya menjadi ciri dari abad kegelapan di awal abad 21 ini. Pertama, irasionalitas menjadi menu sehari-hari di dalam politik dunia. Lanjutkan membaca Politik di Abad Kegelapan

Manusia Kosmopolis

cosmic-birth-ian-macqueenPendidikan dan Pencarian yang “Asli”

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis. Lanjutkan membaca Manusia Kosmopolis

Belajarlah Sampai Ke Skandinavia

Kari-Lise Alexander Tutt'At@
Kari-Lise Alexander

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pepatah lama mengatakan, bahwa kita harus belajar sampai negeri Cina. Tentu, banyak sekali yang bisa dipelajari disana, mulai dari seni sampai dengan politik.

Namun, ada region yang jauh lebih menarik untuk dikaji sekarang ini. Prestasinya di tingkat nasional maupun internasional amat diperhitungkan di awal abad 21 ini.

Letaknya sedikit lebih jauh dari Cina, tepatnya di Eropa Utara. Mereka adalah negara-negara Skandinavia, yakni Norwegia, Finlandia, Swedia dan Denmark. Lanjutkan membaca Belajarlah Sampai Ke Skandinavia

Dunia yang Galau

3245448002b2cb6a848e6f3b9b360d54
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita, rupanya, hidup di dunia yang galau. Orang-orang di dalam dunia ini selalu dalam gerak cepat. Mereka merasakan kegalauan di hati mereka. Mereka selalu ingin mencapai sesuatu di luar diri mereka, dan selalu ingin mengubah, atau memperbaiki sesuatu. Apakah anda merasakan hal yang sama?

Ketidaktenangan dunia, die Unruhe der Welt, begitulah judul buku dari Ralf Konersmann, filsuf asal Jerman, pada 2015 lalu. Apakah rasa galau dan tidak tenang ini sesuatu yang secara alamiah ada di dalam diri manusia? Ataukah peradaban dan lingkungan sosial mengubah kita menjadi mahluk-mahluk yang galau, yang selalu merasa harus mengejar sesuatu di luar diri kita? Inilah yang menjadi pertanyaan dasar Konersmann. Lanjutkan membaca Dunia yang Galau