“Banjir”

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apapun yang berlebihan, pasti tak akan mampu diolah, dan menjadi dangkal. Itulah kiranya yang melanda jaman kita. Hal-hal yang dangkal bertambah banyak, dan banjir. Sementara, hal-hal yang mendalam dan sejati justru semakin jarang. Di Indonesia, kita tak hanya mengalami banjir fisik, ketika hujan tiba, tetapi juga banjir kedangkalan.

Banjir

Sampai 2018 ini, sudah 7 miliar manusia hidup di dunia. Gaya hidup mereka boros dan merusak alam. Tak ada upaya yang jelas untuk mengatur jumlah populasi, sehingga terciptalah “banjir manusia”. Jika diteruskan, bumi ini tak akan mampu menampung manusia dengan gaya hidupnya yang merusak. Lanjutkan membaca “Banjir”

Iklan

Anti-Politik: Politik yang Tercabut

café babylon

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mengapa kita begitu sering menyaksikan kebodohan di bidang politik? Seorang tokoh partai tertentu mengeluarkan pernyataan bodoh, tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Seorang wakil rakyat mengeluarkan pernyataan yang jauh dari nalar sehat dan hati nurani yang jernih. Seorang calon gubernur bersikap kasar terhadap rakyat sipil, tanpa alasan yang bisa diterima dengan akal sehat.

Hal yang sama juga terjadi dalam soal pembuatan kebijakan. Seorang gubernur yang tunduk pada tekanan preman-preman berbaju agama yang dulu mendukungnya dalam pilkada. Seorang wakil gubernur yang terus saja mengeluarkan pernyataan-pernyataan bodoh, layaknya badut politik tanpa pendidikan. Ini semua seolah menjadi hiburan-hiburan yang tak mendidik, layaknya sinetron murahan di televisi swasta.

Baru-baru ini, kita juga menerima kabar, bahwa ada persekongkolan pengacara, dokter dan wakil rakyat untuk menipu rakyat dalam soal korupsi. Racun kebodohan politik kini juga menyebar ke profesi-profesi luhur yang seharusnya melayani kepentingan masyarakat luas. Jika tak ada upaya perbaikan, racun politik ini akan terus menyebar ke beragam unsur kehidupan bersama. Apa yang sebenarnya terjadi? Lanjutkan membaca Anti-Politik: Politik yang Tercabut

Tekno-Demokrasi, Mungkinkah?

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Tak sampai setahun Ahok meninggalkan kursi kepemimpinan ibu kota, semua seolah kembali seperti semula. Saya mengurus surat di kelurahan. Suasana begitu kacau. Puluhan orang berdiri, tanpa ada pelayanan dan pengaturan yang jelas. Kursi-kursi pegawai kelurahan tampak kosong, dan semua tampak bingung dengan pelayanan yang tak efektif dan efisien.

Semua ini dibarengi dengan tingkat korupsi, kolusi dan nepotisme yang amat dalam mencengkram birokrasi pemerintahan negeri ini. Mulai dari tender pengadaan barang, pembangunan serta perawatan infrastruktur, sampai dengan proyek E-KTP, semua dipenuhi dengan unsur kecurangan yang merugikan rakyat. Tak dapat disangkal, bahwa korupsi merupakan tantangan terbesar di Indonesia sekarang ini. Beragam program pembangunan menjadi kotor dan terancam gagal, sehingga rakyat terjebak di lingkaran kemiskinan yang akan melahirkan beragam masalah lainnya. Lanjutkan membaca Tekno-Demokrasi, Mungkinkah?

Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Marco Santos

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Semua orang ingin sehat. Mereka berdoa dan berharap, supaya Tuhan memberikan mereka kesehatan. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan pun juga ingin sehat. Beragam cara dilakukan, supaya kesehatan bisa terjaga, sampai kematian datang menjemput.

Namun, apa itu kesehatan? Kesehatan adalah keseimbangan. Manusia yang sehat adalah manusia yang seimbang. Jika semua unsur di dalam diri seimbang, mulai dari fisik, mental sampai dengan spiritual, maka kesehatan akan secara alami tercipta. Lanjutkan membaca Kesehatan: Sebuah Pemahaman Menyeluruh

Kebebasan dan Empati

Abed Alem

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita ingin menjadi manusia bebas. Kita ingin bisa membuat keputusan kita sendiri terkait dengan hidup yang kita jalani. Kita ingin bisa berpikir bebas. Kita ingin bisa bertindak bebas, seturut dengan pilihan yang kita buat.

Kita ingin bisa memilih hobi yang ingin kita tekuni. Kita ingin bisa memilih orang yang kita cintai. Kita juga ingin bisa memilih agama yang kita anut. Namun, kebebasan juga memiliki banyak tantangan. Lanjutkan membaca Kebebasan dan Empati