Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Siapa disini yang ingin menjadi guru?”, begitulah pertanyaan Pasi Salhberg, pakar pendidikan asal Finlandia, ketika ia mengunjungi Amerika Serikat. (Anderson, 2011) Kelas itu berisi 15 orang. Sayangnya, hanya dua orang yang mengangkat tangan. Sisanya hanya terdiam membisu.

Di Finlandia, pertanyaan yang sama akan dijawab dengan amat antusias. Kurang lebih, 25 persen peserta didik di Finlandia memilih untuk menjadi guru. Memang, Finlandia kini menjadi negara acuan terkait dengan sistem dan paradigma pendidikan. Peserta didik disana memperoleh peringkat satu di dalam berbagai indikator internasional terkait dengan prestasi pendidikan. Lanjutkan membaca Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Iklan

Racun-Racun Pendidikan Kita

Void Mirror

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Pendidikan merupakan urusan bersama. Ia bukanlah hanya urusan para ahli ataupun praktisi pendidikan. Masyarakat sebagai keseluruhan, sebenarnya, merupakan sebuah institusi pendidikan. Pendidikan terjadi setiap saat di dalam kehidupan bersama, melampaui sekat-sekat ruang kelas.

Pendidikan tertinggi datang dari keteladanan hidup. Rumusan moral maupun ilmu pengetahuan akan menjadi percuma, tanpa keteladanan hidup yang nyata. Ketika keteladanan meredup, maka kemunafikan akan bertumbuh. Buih moral nan suci akan dibarengi dengan hasrat akan uang, kuasa dan kenikmatan seksual yang tak terbendung. Lanjutkan membaca Racun-Racun Pendidikan Kita

Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

dalam buku Menggagas Pendidikan untuk Indonesia, Kanisius, 2017

Bisa didapatkan di

Penerbit Kanisius

Jl. Cempaka 9, Deresan
Yogyakarta 55281
INDONESIA
Telp. (0274) 588783, (0274) 565996
Fax. (0274) 563349
E-mail: office@kanisiusmedia.com

Pendidikan Salah Kaprah

Igor Morski
                                 Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen HI, Universitas Presiden, Cikarang

Mereka naik motor berempat. Semuanya tidak menggunakan helm dan jaket. Saya yakin, mereka tidak memiliki surat-surat resmi kendaraan maupun ijin mengemudi. Jumlahnya ribuan di jalanan Jakarta, apalagi di akhir pekan.

Ini dibarengi dengan tidak adanya ketegasan dari para penegak hukum. Yang terjadi adalah pembiaran pelanggaran peraturan. Pembiaran terus menerus akan berubah menjadi tradisi yang sulit untuk diubah. Gejala ini tidak hanya ditemukan di kalangan para pelanggar lalu lintas, tetapi juga di kalangan para pencuri yang berkedok gelar pemimpin rakyat. Lanjutkan membaca Pendidikan Salah Kaprah

Manusia Kosmopolis

cosmic-birth-ian-macqueenPendidikan dan Pencarian yang “Asli”

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Banyak konflik di dunia ini disebabkan kelekatan kita pada identitas sosial kita. Kita merasa menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, entah ras, etnis, bangsa, negara ataupun agama.

Lalu, kita beranggapan, bahwa kelompok kita memiliki kebenaran tertinggi. Kelompok lain adalah kelompok sesat.

Kesalahan berpikir ini telah mengantarkan manusia pada konflik berdarah, pembunuhan massal, pembersihan etnis sampai dengan genosida. Ratusan juta orang terkapar berdarah sepanjang sejarah, akibat kesalahan berpikir semacam ini.

Bagaimana supaya kesalahan berpikir mendasar tentang dunia ini bisa diperbaiki? Saya ingin menawarkan ide tentang manusia kosmopolis. Lanjutkan membaca Manusia Kosmopolis

Jurnal Filsafat Terbaru: Pendidikan Filsafat untuk Anak?

Tulisan lama saya, ketika masih mengajar di Unika Widya Mandala Surabaya dulu: 

8e05d9d1c7a2fa5901c0a3a7d7af4ece
pinterest

PENDIDIKAN FILSAFAT UNTUK ANAK?

PENDASARAN, PENERAPAN DAN REFLEKSI KRITIS UNTUK KONTEKS INDONESIA
Reza A.A. Wattimena

Abstrak
Tulisan ini ingin memperlihatkan pentingnya pendidikan filsafat untuk anak di Indonesia. Filsafat disini dilihat sebagai pendidikan nilai sekaligus pendidikan hidup yang amat penting bagi perkembangan kepribadian manusia. Oleh karena itu, pendidikan filsafat harus diberikan sejak usia dini, yakni usia sekolah dasar. Namun, pola mengajar filsafat berbeda dengan pola mengajar ilmu-ilmu lainnya. Ia mengajak orang berpikir sendiri dan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan hidupnya. Namun, filsafat untuk anak tidak boleh membebani proses belajar anak. Ia juga harus mempertimbangkan konteks kultur lokal yang sebelumnya telah ada di Indonesia.

Lengkapnya bisa dilihat dan diunduh di: https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/12782/9147 

Tulisan lainnya bisa dilihat di 

https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/search/search?simpleQuery=wattimena&searchField=query

 

Dua Sayap Pendidikan

faiiint.com
faiiint.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Di berbagai negara, kita menemukan banyak pejabat politik yang terjebak korupsi. Mereka memiliki gelar pendidikan tinggi. Mereka juga memiliki nama baik di lingkungan sosialnya. Namun, latar belakang pendidikan tinggi, pengetahuan agama, serta nama baik sama sekali tidak menghalangi mereka untuk mencuri dan merugikan orang lain.

Kecenderungan yang sama juga sering kita temukan di kalangan pemuka agama. Mereka adalah orang-orang yang dianggap bijak, karena memiliki pengetahuan agama yang tinggi. Namun, kerap kali, mereka juga jatuh ke dalam sikap bejat yang sama. Korupsi, pemerkosaan, penipuan, serta beragam pelanggaran lainnya juga kerap mereka lakukan, karena kerakusan dan kekosongan batin yang mereka alami. Lanjutkan membaca Dua Sayap Pendidikan

Pendidikan dan Kemajuan Ekonomi

the_writing_on_the_wall_by_brenda_york_surrealism_and_fantasy__abstract__4db4c5cfd7582730c55ebaaf96cfd7e9
voiceseducation.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, Peneliti PhD di Munich, Jerman

Banyak orang mengira, bahwa tingkat pendidikan seseorang langsung terkait dengan perkembangan tingkat ekonominya. Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar kemungkinannya untuk menjadi kaya. Anggapan ini tersebar begitu luas dan tertanam begitu dalam di berbagai masyarakat di dunia. Anggapan ini juga menjadi dasar dari begitu banyak kebijakan pendidikan di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Penelitian Terbaru

Berbagai penelitian terbaru di Jerman dan Austria juga mendukung anggapan ini. Ludger Wössmann menulis artikel berdasarkan penelitiannya dengan judul Gute Bildung schafft wirtschaftlichen Wohlstand: Bildung aus bildungsökonomischer Perspektive (2012). Ia menegaskan, bahwa pendidikan yang tepat akan mendorong seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang bermutu untuk mengembangkan hidupnya. Namun, ia juga mengingatkan, bahwa pendidikan yang terpaku pada aspek ekonomi belaka justru akan mengurangi daya saing seseorang di pasar tenaga kerja. Lanjutkan membaca Pendidikan dan Kemajuan Ekonomi

Buku Baru: Matamatika, Taktik Menemukan Karakter dalam Matematika

Cover matamatikaOleh : Falentinus Nango, Fransiskus Slamet Harjaya, Reza A.A. Wattimena 

Buku MATAMATIKA ini mengulas tentang berbagai persoalan bahwa matematika memiliki nilai lebih daripada sekadar ilmu hitung-menghitung angka dan rumus-rumus. Persoalan matematika itu mengasyikkan jika dikerjakan dengan cara–cara yang cerdas, singkat, jelas, apalagi ditambah refleksi mendalam. Setiap bab mengulas taktik bagaimana matematika itu bisa diajarkan dan memberikan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dan dapat digunakan dalam kehidupan, serta melatih untuk berpikir logis, analitik, sistematis, dan kreatif. Misalnya saat membahas tentang persamaan matematika, siswa diajak untuk melihat dan menggali bahwa di situ ada nilai kesamaan, keadilan, kejujuran dan kesetaraan. Kemudian nilai itu dicoba untuk diperluas dalam kehidupan sehari-hari yang dialami siswa.

Contoh lain yaitu penggunaan tanda kurung ( ) yang memiliki peran sangat penting dalam bidang matematika, apalagi dalam persamaan-persamaan matematis. Hal tersebut seringkali dilupakan oleh banyak pihak karena dianggap tidak penting. Namun, ketika kita menggunakan tanda kurung pada suatu persamaan matematika, kita bisa mendapati jawaban yang berbeda dengan soal yang “sekilas” sama. Small but important. Hal-hal seperti itulah yang digali untuk bisa menanamkan nilai karakter pada siswa agar tidak menyepelekan perkara-perkara kecil yang sebenarnya punya peran yang sangat penting. Ada tiga hal yang difokuskan dalam proses refleksi dalam membaca buku ini, pertama dilihat dari ilmu matematikanya, kedua nilai–nilai apa yang didapat, dan ketiga apa yang dirasakan setelah membaca setiap bab. Dengan membaca buku ini, para guru, orang tua, peserta didik, pecinta dan “simpatisan” matematika bisa menemukan dan menanamkan nilai karakter melalui pembelajaran matematika. Selamat membaca, mencoba, dan merefleksikannya.

ISBN 978-979-21-4250-1

Silahkan hubungi penerbit Kanisius di link berikut untuk mendapatkan buku ini:

http://www.kanisiusmedia.com/product/detail/002018/Matamatika-Taktik-Menemukan-Karakter-dalam-Matematika

Pendidikan Filsafat untuk Anak?

philosophierenmitkindern.de
philosophierenmitkindern.de

Pendasaran, Penerapan dan Refleksi Kritis untuk Konteks Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Mungkinkah filsafat diajarkan untuk anak1 pada tingkat sekolah dasar? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan nada positif. Awalnya akan dijelaskan terlebih dahulu dasar teoritis dari program filsafat untuk anak yang telah dijalankan di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat (1). Lalu akan dijelaskan juga argumen filsafat sebagai pendidikan nilai untuk anak-anak (2). Untuk memperjelas argumen ini juga akan akan dipaparkan program filsafat untuk anak-anak yang telah diterapkan di beberapa negara bagian di Jerman (3). Setelah itu akan dipaparkan beberapa kemungkinan penerapan untuk konteks Indonesia (4). Beberapa catatan kritis atas program filsafat untuk anak juga akan diberikan (5). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (6). Saya mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Gregory,2 Höffling,3 Zeitler4 dan Brüning5 sebagai pendasaran teoritis sekaligus pemaparan penerapan program filsafat untuk anak di Jerman.

  1. Pendasaran Teoritis

Mengapa filsafat itu penting untuk anak-anak? Anak-anak, pada dasarnya, adalah filsuf alamiah.6 Artinya, mereka selalu menjadi seorang filsuf yang mempertanyakan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sudah jelas bagi orang dewasa. Seringkali, anak-anak menanyakan pertanyaan yang mengandung unsur politis, metafisis bahkan etis. Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pemahaman tentang sejarah, politik dan metafisika yang cukup dalam. Anak-anak sudah memiliki semacam intuisi filosofis yang sudah ada secara alamiah di dalam dirinya. Berbagai penelitian, seperti dikutip oleh Maughn Gregory, menyatakan, bahwa pemahaman dan gaya berpikir filsafat yang diberikan sejak usia dini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa (linguistik), kemampuan berhubungan dengan orang lain (sosial), kemampuan untuk berhadapan dengan kegagalan (psikologis), dan kemampuan untuk berpikir terbuka anak (ilmiah), sehingga ia bisa menerima pelajaran dari luar dengan lebih cepat dan mendalam. Dengan keempat kemampuan ini, anak pun bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya kepada orang lain dengan lancar. Di Jerman, program “anak-anak berfilsafat” (Kinder Philosophieren) sudah dimulai sejak dekade 1960-an. Metode yang digunakan sebenarnya cukup sederhana, yakni perumusan pertanyaan yang dibuat bersama-sama dengan anak (1), berdiskusi bersama anak, guna menjawab pertanyaan ini (2), melihat beberapa kemungkinan jawaban yang bersifat terbuka (3) dan mencoba menggali pertanyaan lebih jauh dari jawaban yang telah ada (4). Lanjutkan membaca Pendidikan Filsafat untuk Anak?