Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Publikasi Terbaru: Apakah Kita Bebas?

Just freedom by Helena Georgiou on 500px | Freedom pictures, Surreal art,  Art picturesRefleksi terhadap Penelitian-penelitian Neurosains

Tentang Otak dan Kebebasan

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management Juli 2021, VOlume 54

Tulisan ini hendak memahami kebebasan manusia dari sudut pandang neurosains dan filsafat. Beberapa pendekatan di dalam neurosains tentang kebebasan akan dijabarkan. Lalu, beberapa refleksi filosofis atas tema itu akan diberikan. Kebebasan, pada titik ini, dipahami sebagai kompleksitas yang melahirkan ketidakpastian dari tindakan manusia. Kebebasan dipandang sebagai ketaktertebakan dari tindakan manusia sebagai hasil dari kompleksitas sistem saraf dan otaknya. Tulisan ini mengacu pada kerangka penelitian yang dikembangkan oleh David Eagleman dan penelitian-penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh penulis (Reza A.A Wattimena).

Artikel Lengkap di Jurnal Reza, Otak dan Kebebasan

Publikasi Terbaru: Otak dan Kenyataan, Kajian Filsafat dan Neurosains

Reality in a dream – Ronald Kurniawan | Art, Weird art, Artwork

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management, April 2021, Volume 53

Otak merupakan salah satu organ terpenting di dalam tubuh manusia. Ia mengatur berbagai informasi yang diterima dari panca indera melalui jaringan saraf. Ia menyimpan ingatan, sekaligus melakukan koordinasi semua fungsi indera. Ia terkait erat dengan identitas pribadi seseorang. Bahkan, seperti akan diurai di dalam tulisan ini, otak menciptakan kenyataan sebagaimana dipahami oleh manusia.

Kenyataan pun tidak sejelas yang kita kira. Setiap orang, dan bahkan setiap mahluk, memiliki bentuk kenyataannya sendiri. Ini amat tergantung dari panca indera dan struktur otak yang mereka punya. Sampai sekarang, kenyataan pada dirinya sendiri masih menjadi pertanyaan ilmiah yang belum terjawab. Immanuel Kant, pemikir Jerman, sudah menyatakan dengan tegas, bahwa manusia tak akan bisa mengetahui kenyataan pada dirinya sendiri.

Versi lengkap klik disini Jurnal Reza, Otak dan Kenyataan

Gambar dari Julieta Mantovani

Publikasi Terbaru: Otak dan Identitas, Kajian Filsafat dan Neurosains

Making Heads Turn -
Photographs Courtesy EMnXW

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di

The Ary Suta Center Series on Strategic Management

Januari 2021 Volume 52

Tubuh manusia adalah benda yang kompleks. Ia memiliki berbagai sistem yang saling terkait satu sama lain. Namun, ada satu organ yang memiliki peran istimewa. Organ itu adalah otak. Perannya amat penting, yakni melakukan koordinasi fungsi dengan seluruh sistem lainnya di dalam tubuh, sekaligus sebagai gudang ingatan.

            Karena terkait dengan ingatan, otak juga membentuk identitas, atau jati diri, manusia. Ego adalah ciptaan dari ingatan. Tanpa ingatan, tubuh manusia, sekaligus identitas, mengalir tanpa henti di sungai perubahan. Ingatan yang membuat manusia menjadi seorang pribadi. Bagaimana memahami kaitan antara otak, ingatan dan identitas pada diri manusia ini?

Versi lengkap klik disini Jurnal Reza, Otak dan Identitas

Sekelumit Cerita Tentang Otak

25 Stunning Surreal Illustrations and Creative Photo Manipulation ...
Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Memahami kesadaran manusia, itulah yang mendorong saya masuk ke gerbang pintu penelitian tentang otak. Kesadaran tak bisa dilepaskan dari diri. Jati diri yang menentukan identitas manusia dalam hidupnya. Jati diri pula yang menentukan pola pembuatan keputusan, sekaligus perilakunya sehari-hari.

Panpsikisme, Jati Diri dan Otak

Dunia juga terkesima dengan panpsikisme. Inilah pandangan yang menyatakan dengan lugas, bahwa alam tak sepenuhnya materi. Yang material selalu berdampingan dengan yang spiritual. Ini mencakup seluruh alam semesta. Lanjutkan membaca Sekelumit Cerita Tentang Otak

Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Jake Baddeley

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Saya sedang membaca buku. Tiba-tiba, saya teringat, bahwa saya belum membayar tagihan listrik. Saya pun mengambil telepon seluler untuk mentransfer uang. Ternyata, banyak pesan di media sosial yang saya punya. Akhirnya, saya hanyut di dalam media sosial tersebut.

Ketika melihat sebuah foto di media sosial, saya teringat sebuah kejadian di masa lalu. Di dalam kejadian itu, saya bersama mantan kekasih saya. Kini, kami sudah berpisah. Saya pun bertanya-tanya tentang kabarnya.

Tiba-tiba, terdengar suara tukang nasi goreng lewat. Perut tiba-tiba terasa lapar, padahal saya sudah makan. Konsep nasi goreng kini memenuhi pikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya kan sedang diet?!

Apakah anda pernah mengalami hal tersebut? Pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa jarak dan tanpa sadar. Satu hal belum selesai, hal lain sudah berdatangan. Tenang saja, anda tak sendiri. Saya, dan milyaran orang lainnya, juga sering mengalaminya. Lanjutkan membaca Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Otak, Neuroplastisitas dan Hidup Kita

pic.pilpix.com
pic.pilpix.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Doktoral di Munich, Jerman 

Kita hidup di dunia yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Ketika keinginan dan harapan kita rontok di depan mata, kita mengalami krisis hidup. Ketika krisis berulang kali terjadi, kita pun lalu merasa putus asa. Kita mengira, bahwa hidup ini tidak bermakna, dan tidak layak untuk dijalani.

Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, hidup adalah kemungkinan tanpa batas. Orang bisa melakukan apapun, selama ia memiliki komitmen untuk bekerja dan berpikir, guna mewujudkan harapan serta keinginannya. Salah satu kemampuan penting untuk mencapai cara berpikir ini sudah selalu terletak di otak kita sendiri. Rasa putus asa dan patah arang sebenarnya tidak perlu terjadi. Lanjutkan membaca Otak, Neuroplastisitas dan Hidup Kita

Mempersoalkan Status Neurosains

http://www.neurosci.ucla.edu
Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Manusia adalah entitas yang rumit dan paradoksal. Ia terdiri dari begitu banyak aspek, mulai dari biologis, spiritual, sosial, sampai dengan estetik. Namun, ia tetap mampu bergerak melampaui semua itu, dan bersikap bebas, baik terhadap dirinya maupun terhadap alam.

Di satu sisi, seperti dinyatakan oleh Barry Smith, manusia adalah bagian dari alam semesta. (Smith, 2012) Ia memiliki otak, tulang, daging, dan darah yang merupakan unsur-unsur biologisnya. Di sisi lain, ia memiliki kesadaran, yakni ia sadar akan dirinya sendiri, mampu mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri, dan kemudian berkarya.

Pertanyaan yang, menurut saya, cukup penting disini adalah, bagaimana hubungan antara unsur-unsur biologis di dalam tubuh manusia di satu sisi, dan kesadarannya sebagai manusia di sisi lain? Dengan kesadaran, demikian kata Smith, manusia mampu berpikir dan merasa. Ia mampu menghadirkan pengalaman subyektif di dalam dirinya, seperti pengalaman akan suara, akan rasa, akan cuaca, yang kesemuanya itu merupakan gambaran dari dunia yang ada di sekitarnya. (Smith, 2012)

Kesadaran Manusia

Pemikiran tentang kesadaran merentang jauh ke abad 17 di Prancis, tepatnya di dalam pemikiran Rene Descartes. Baginya, setiap manusia terdiri dari dua aspek, yakni aspek fisik material, dan aspek spiritual. Aspek kedua inilah yang mengandung pikiran dan jiwa, di mana proses-proses berpikir manusia terjadi. Lanjutkan membaca Mempersoalkan Status Neurosains

Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita

http://thebeautifulbrain.com
http://thebeautifulbrain.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Apakah kita ini bebas? Apakah kebebasan kita hanya sekedar ilusi? Para filsuf telah lama berdebat soal ini. Penelitian terbaru di bidang neurosains (neuroscience) membuktikan, seperti diyakini oleh beberapa ilmuwan besar abad ini, bahwa kehendak bebas adalah suatu ilusi. (Nahmias, Is Neuroscience the Death of Free Will?, 2011)

Duduk Permasalahan

Pada 2002 lalu seperti dikutip oleh Nahmias, Daniel Wegner, seorang psikolog, menyatakan begini, “Seolah bahwa kita ini adalah agen. Tampaknya kita menyebabkan hal-hal yang kita lakukan… namun cukup menyadarkan kita dan amatlah akurat untuk menyebut ini semua sebagai ilusi.” Di tempat lain seorang ahli neurosains terkemuka, Patrick Haggard, menyatakan, “Kita jelas tidak memiliki kehendak bebas. Tidak dalam arti yang kita pikir.” Di bidang yang sama, Sam Harris bilang begini, “Tampaknya anda memang adalah seorang agen yang bertindak sesuai dengan kehendak bebas anda. Masalahnya adalah bahwa sudut pandang ini tidak dapat berjalan bareng tentang apa yang kami ketahui soal otak manusia.” Lanjutkan membaca Otak, Pikiran, dan Kebebasan Kita