Siang itu, pencerahan kecil menyala di batin saya. Ada ide kuno yang sudah lama tak disapa. Sekitar 12 tahun lalu, ketika saya menekuni filsafat di dalam keutuhannya, saya berjumpa dengan para pemikir Stoa yang hidup di masa Yunani Kuno. Satu hal yang langsung memberikan kelegaan kepada batin yang tercekik, yakni dikotomi kontrol.
Gautama, sudah lebih dari 2500 tahun lalu, mengingatkan, bahwa ciri pencerahan adalah kelegaan yang sempurna. Ini seperti orang yang menaruh ke tanah semua beban yang selama ini pikul. Seketika, hidup menjadi gampang dan lapang. Seketika, semua menjadi sederhana.
Di dalam tradisi Stoa, kelegaan muncul dari pemahaman tentang apa yang dapat kita kontrol, dan apa yang mesti kita lepas. Tindakan dan tafsiran kita terhadap keadaan berada sepenuhnya di tangan kita. Sisanya, termasuk keadaan politik ekonomi dunia, hampir sepenuhnya diluar pengaruh kita.
Pemahaman ini akan menghasilkan kelegaan tiada tara. Kita berhenti berharap, supaya orang lain berubah, dan bertindak sesuai harapan kita. Kita berhenti berharap, supaya keadaan sesuai keinginan kita. Sebaliknya, kita mulai menata cara berpikir dan tindakan kita dengan penuh kesadaran.
Pada titik terdalam, kita juga melihat, bahwa segala hal kosong. Segalanya tak punya inti yang pasti. Maka dari itu, segalanya mengalir, tanpa henti. Tak ada yang bisa digenggam, sekuat apapun kita mencengkram.
Seperti pasir, segalanya lolos, ketika kita merebutnya. Seperti angin, segalanya berlalu, ketika kita mengejarnya. Pada titik yang terdalam, diri kita pun kosong. Dalam keadaan ini, satu-satunya langkah yang bijak adalah melepas.
Ada kelegaan dari melepas. Melepas tidaklah memerlukan usaha. Kita cukup membiarkan semua sebagaimana adanya. Kita membiarkan semua terjadi di dalam kesempurnaannya.
Ini, sesungguhnya, adalah sebentuk kebijaksanaan. Orang paham, ada hal yang bisa ia kontrol. Ia pun mengontrolnya dengan seksama, tanpa jatuh ke dalam ekstrem tertentu. Ia juga paham, sebagian besar hal di dalam kenyataan berada di luar kontrolnya. Ia pun, secara alami, melepas, yakni membiarkan sebagaimana adanya.
Penting untuk memahami, bahwa ada dua jenis kenyataan. Yang pertama adalah kenyataan relatif. Ia adalah bentukan manusia, seperti hukum, ekonomi, politik, masyarakat, seni, budaya, pikiran, sains dan sebagainya. Ia dengan mudah berubah. Ia adalah bayangan, atau ekspresi, dari kenyataan yang lebih dalam, yakni kenyataan mutlak.
Kenyataan relatif mesti ditata dengan tepat. Akal budi dan kepekaan nurani adalah kunci utama disini. Jika tidak, kenyataan relatif bisa mengganggu hidup manusia. Begitu banyak penderitaan dan kematian tak perlu yang tercipta, jika kenyataan relatif diabaikan.
Kenyataan mutlak adalah kesadaran yang kosong dan tak terbatas. Hanya ini satu-satunya kenyataan yang bersifat mandiri. Ini juga merupakan jati diri sejati kita sebagai manusia. Menyentuh kesadaran yang kosong dan tak terbatas di dalam diri berarti menyentuh sang pencipta itu sendiri. Inilah esensi dari pencerahan sempurna.
Hasilnya adalah batin yang jernih. Semua hal dilihat sebagaimana adanya. Penilaian baik-buruk-benar-salah digunakan seperlunya, terutama untuk menata kenyataan relatif yang terus berubah. Buah dari kelegaan adalah kejernihan. Dari saat ke saat, orang bertindak tepat menanggapi berbagai keadaan yang tampil ke depannya.
Langit kelabu. Awan mendung. Pohon hijau. Angin bertiup. Air mengalir. Semua sudah sempurna sebagaimana adanya.

