Saya menyebutnya Nadya, karena nama asli nyaris tidak pernah penting dalam cerita seperti ini. Di Jakarta, orang bisa hidup bertahun-tahun dengan nama yang sedikit dibelokkan: nama di KTP, nama di Instagram, nama yang dipakai di meja karaoke, nama yang muncul di kuitansi hotel, nama yang disimpan seorang laki-laki di kontak ponselnya dengan emoji bunga atau inisial yang aman jika sewaktu-waktu istrinya membuka layar.
Saya melihatnya pertama kali bukan sebagai seseorang, melainkan sebagai pantulan. Sebuah video pendek lewat di TikTok, mungkin tidak sampai dua belas detik, direkam dari kursi penumpang mobil Eropa putih yang melaju di jalan tol malam hari. Kamera tidak pernah memperlihatkan wajah laki-laki di sebelahnya. Hanya setir, pergelangan tangan, ujung kemeja, arloji yang tampak mahal, dan cahaya lampu jalan yang masuk sebentar ke kaca jendela lalu hilang lagi, seperti kota sedang memotret dirinya sendiri dengan shutter yang terlalu cepat.
Di pangkuan Nadya ada tas kecil. Bukan tas yang besar, bukan tas yang tampak dibuat untuk membawa sesuatu. Tas semacam itu tidak diciptakan untuk fungsi. Ia diciptakan untuk memberi tahu orang lain bahwa pemiliknya sudah melewati batas tertentu, sudah berada di sisi lain dari kaca toko, sisi yang selama ini hanya dilihat orang sambil berjalan cepat menuju halte.
Caption-nya pendek.
Pelan-pelan naik kelas.
Saya hampir melewatinya, tetapi kolom komentar membuat saya berhenti.
“Capek jadi miskin.”
“Kerja kantoran gak akan bikin kaya.”
“Yang penting punya sponsor dulu.”
“Kalau cantik, Tuhan kasih jalur khusus.”
Tidak ada yang halus di sana. Tidak ada teori. Tidak ada bahasa akademik tentang mobilitas sosial, deindustrialisasi, ketimpangan, feminisasi kemiskinan, atau ekonomi tubuh. Tetapi mungkin justru karena itu komentar-komentar tersebut terasa lebih jujur daripada banyak konferensi pers. Sebab di ruang resmi, Indonesia masih dibicarakan dengan kata-kata yang licin: fundamental kuat, transformasi ekonomi, ketahanan nasional, hilirisasi, visi besar, Indonesia Emas, swasembada, kejayaan. Sementara di bawah sebuah video perempuan muda dalam mobil putih, orang-orang menulis kalimat yang lebih pendek, lebih kotor, dan lebih dekat dengan kehidupan: capek jadi miskin.
Di antara dua bahasa itulah kita sekarang tinggal.
Pada 4 Juni 2026, kurs JISDOR Bank Indonesia berada di Rp18.039 per dolar Amerika Serikat, setelah sehari sebelumnya berada di Rp17.931. Angka itu bisa tampak dingin jika dibaca dari layar statistik, tetapi angka tidak pernah benar-benar dingin. Ia hanya memakai pakaian yang rapi. Begitu masuk ke dapur, ia berubah menjadi harga beras, ongkos sekolah, bahan baku impor, cicilan, obat orang tua, tiket pesawat, susu anak, dan rencana kecil yang ditunda tanpa pernah diumumkan sebagai kegagalan.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup di level 5.941,07, jatuh lebih dari empat persen dalam sehari, dengan sejumlah indeks sektoral terseret turun. Orang-orang pasar menyebutnya koreksi, tekanan jual, risk-off, sentimen negatif. Bahasa pasar selalu punya cara membuat kepanikan terdengar seperti cuaca buruk: tidak menyenangkan, tetapi seolah-olah alamiah. Padahal di balik layar hijau-merah itu ada sesuatu yang lebih sosial daripada teknikal: kepercayaan yang mulai longgar di engselnya.
Lalu di atas semua itu, ada negara yang terus berbicara dalam nada perayaan.
Prabowo berbicara tentang Indonesia besar, tentang masa depan, tentang kejayaan, tentang program-program raksasa yang terdengar seperti maket pembangunan dalam ruang berpendingin udara. Salah satunya Makan Bergizi Gratis, program yang secara moral seharusnya hampir mustahil ditolak: anak-anak harus makan, tubuh kecil harus tumbuh, gizi tidak boleh menjadi hak istimewa kelas menengah atas. Tetapi di Indonesia, bahkan sesuatu yang paling lembut sekalipun bisa terdengar mengerikan begitu melewati lorong pengadaan. Reuters melaporkan penangkapan mantan kepala badan yang mengurusi program tersebut dan dua mantan pejabat dalam dugaan korupsi. Program itu, menurut Reuters, memiliki anggaran setidaknya US$15 miliar untuk menyediakan makan gratis bagi 83 juta anak dan ibu hamil. Pada kurs sekitar Rp18.000, angka itu berarti kira-kira Rp270 triliun bergerak di sekitar janji tentang makan siang anak-anak.
Di negara yang sehat, makan siang anak adalah bentuk paling sederhana dari kasih publik.
Di negara yang mulai membusuk, makan siang anak bisa berubah menjadi peta aliran uang.
Mungkin di situlah Nadya menjadi penting, justru karena ia tidak penting. Ia bukan pejabat, bukan ekonom, bukan menteri, bukan analis pasar, bukan ketua umum partai, bukan kepala badan, bukan pemilik proyek. Ia hanya perempuan muda dalam mobil putih, dengan tas kecil di pangkuannya, musik viral di belakang video, dan ribuan orang yang menatapnya dari kamar kos, dari commuter line, dari meja kerja murah, dari ponsel retak, dari kehidupan yang setiap bulan harus dinegosiasikan ulang.
Kata orang, perempuan seperti Nadya adalah ani-ani. Kata itu dilempar dengan mudah, seolah-olah begitu sebuah nama diberikan, realitas selesai dijelaskan. Tetapi nama kadang-kadang justru menutup mata. Kita menyebutnya ani-ani supaya tidak perlu menyebut hal-hal lain: gaji yang tidak cukup, rumah yang tidak terbeli, kerja formal yang makin rapuh, laki-laki berkuasa yang membeli diam, pejabat yang punya terlalu banyak uang untuk dijelaskan, proyek yang terlalu besar untuk diawasi, dan masyarakat yang diam-diam mulai percaya bahwa pintu samping lebih masuk akal daripada pintu depan.
Nadya bukan skandal. Ia suasana.
Ia seperti lampu neon di depan hotel yang menyala setengah mati ketika hujan baru berhenti. Ia seperti kaca mobil gelap yang memantulkan wajah kita sendiri ketika kita mengira sedang mengintip hidup orang lain. Ia seperti struk belanja kecil yang ditemukan di saku jas seseorang: tidak menjelaskan seluruh kejahatan, tetapi cukup untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak ingin dicatat di buku besar.
Saya membayangkan orang yang melihat video itu bukan sebagai hakim moral, melainkan sebagai saksi yang letih. Seorang pegawai muda di Tebet yang gajinya tidak kecil, tetapi juga tidak pernah cukup besar untuk membuat masa depan terasa jinak. Seorang staf hukum di Sudirman yang bisa membeli kopi mahal sesekali, tetapi tidak berani membuka simulasi KPR terlalu lama karena angka-angkanya terasa seperti penghinaan personal. Seorang perempuan di Tangerang yang sudah bekerja lima tahun, punya laptop, punya skincare, punya bahasa Inggris yang cukup baik, tetapi masih tinggal di kamar kos dengan jendela menghadap tembok tetangga. Mereka melihat Nadya bukan hanya sebagai perempuan dalam mobil; mereka melihat kemungkinan buruk yang terlalu menggoda: mungkin ada jalan lain, mungkin hidup memang tidak dimenangkan oleh yang rajin, mungkin orang tua mereka telah mewariskan peta dari negara yang sudah tidak ada.
LPS mencatat per April 2026, rekening dengan saldo sampai Rp100 juta mencakup 98,89 persen dari total rekening bank umum. Ini data rekening, bukan data orang, dan orang bisa punya lebih dari satu rekening. Tetapi sebagai gambar sosial, ia tetap tajam: sebagian besar rekening di republik ini bukan tempat menyimpan kekayaan, melainkan dermaga kecil tempat uang singgah sebentar sebelum berangkat lagi ke listrik, kos, cicilan, sekolah, makan, rumah sakit, transportasi, dan utang yang dipelihara seperti hewan rumahan karena terlalu akrab untuk dibunuh.
Di atas dermaga kecil itulah negara membangun kapal-kapal retorika.
Indonesia Emas.
Kedaulatan pangan.
Pertumbuhan delapan persen.
Hilirisasi.
Kebangkitan nasional.
Makan bergizi.
Kejayaan.
Kata-kata itu besar, mengilap, dan berbaris rapi seperti kendaraan dinas pada upacara. Tetapi rakyat mengalami negara bukan dari kata-kata itu. Rakyat mengalami negara dari nasi yang makin mahal, kontrak kerja yang diperpanjang tiga bulan sekali, rumah sakit yang meminta deposit, sekolah yang setiap tahun menemukan nama baru untuk pungutan lama, dan rupiah yang nilainya turun seperti lift tua di gedung pemerintah: pelan, berisik, dan membuat semua orang di dalamnya pura-pura tenang.
Sementara itu, dunia di luar sana tidak memberi latar yang ramah. Ukraina belum selesai. Timur Tengah terus menyala. Laut Cina Selatan selalu tampak seperti korek api di ruangan penuh bensin. Amerika, Cina, Rusia, Iran, Israel, NATO—semua nama itu mungkin terdengar seperti urusan geopolitik yang jauh, tetapi dalam ekonomi yang saling terkait, tidak ada perang yang benar-benar jauh. Ia selalu menemukan jalan pulang melalui harga, suplai, bunga utang, dan rasa takut.
Lalu kita kembali kepada Nadya.
Sebab setiap krisis besar selalu punya benda kecil yang membuatnya terlihat. Krisis 1998 punya foto toko yang ditutup papan, antrean minyak, wajah orang tua yang membawa uang dalam plastik. Krisis hari ini mungkin punya gambar lain: layar ponsel, dashboard mobil putih, perempuan muda yang wajahnya separuh tertutup filter, komentar orang-orang yang menulis “capek miskin” sambil tertawa kecil agar tidak terdengar menangis.
Kita bisa mengutuk Nadya, tentu saja. Masyarakat ini sangat terlatih mengutuk perempuan. Kita punya stok kata yang melimpah untuk tubuh perempuan yang dianggap terlalu dekat dengan uang laki-laki: murahan, pelakor, simpanan, ani-ani, perusak, perempuan malam, perempuan proyek. Tetapi untuk laki-laki yang membelinya, menyembunyikannya, memindahkan uang kepadanya, menaruh aset di sekitarnya, memakainya sebagai brankas emosional sekaligus brankas finansial, bahasa kita tiba-tiba menjadi sopan. Ia “tokoh publik”. Ia “pengusaha”. Ia “profesional”. Ia “pejabat yang sedang diterpa isu”. Ia “akan menempuh jalur hukum”.
Moralitas kita, seperti banyak hal lain di republik ini, mengenal kelas.
Ia keras kepada yang bisa dipermalukan.
Ia lembut kepada yang bisa membalas.
Maka tulisan ini bukan tentang Nadya. Nadya hanya lewat sebentar, seperti lampu mobil di kaca toko yang sudah tutup. Yang lebih penting adalah udara di sekitar lampu itu: udara kota yang semakin mahal, udara politik yang semakin penuh pidato, udara ekonomi yang semakin tipis oksigennya, udara dunia yang berbau mesiu, dan udara rumah-rumah kecil tempat orang mulai menghitung ulang apakah hidup lurus masih punya rute yang dapat dipercaya.
Pertanyaan itu tidak muncul sebagai slogan. Ia muncul saat seseorang menutup laptop pukul sebelas malam dan menyadari bahwa lemburnya tidak akan mengubah apa pun selain lingkaran hitam di bawah mata. Ia muncul saat seseorang melihat slip gaji lalu membuka harga rumah dan menutupnya kembali sebelum sempat marah. Ia muncul saat seseorang membaca berita program makan anak yang bernilai ratusan triliun lalu melihat foto pejabat tersangka. Ia muncul saat seseorang melihat dolar Rp18.000, IHSG jatuh, perang merapat lewat harga minyak, dan presiden tetap berbicara tentang kejayaan seolah-olah kata-kata bisa menjadi cadangan devisa.
Di titik itu, yang runtuh bukan hanya angka.
Yang runtuh adalah kesopanan batin yang selama ini membuat orang menerima antrean.
Dulu orang mau antre karena percaya ada loket di ujung sana. Sekarang, semakin banyak orang mulai curiga bahwa loket itu sudah lama ditutup, tetapi pengeras suara masih meminta mereka berdiri rapi.
Maka sebagian orang mencari pintu samping.
Sebagian mencari orang dalam.
Sebagian mencari pinjol.
Sebagian mencari judi.
Sebagian mencari partai.
Sebagian mencari agama yang bisa dijadikan tangga.
Sebagian mencari laki-laki dengan mobil putih.
Bukan karena mereka semua jahat. Bukan juga karena mereka semua korban suci. Hidup tidak sesederhana itu. Tetapi dalam masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan pada jalan resmi, jalan belakang tidak lagi terasa seperti penyimpangan. Ia mulai terasa seperti pengetahuan praktis.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada skandal mana pun.
Sebab bangsa tidak habis hanya karena kursnya menyentuh Rp18.000. Bangsa tidak habis hanya karena indeks sahamnya jatuh ke lima ribuan. Bangsa tidak habis hanya karena program ratusan triliun tergelincir ke dalam dugaan korupsi. Bangsa mulai habis ketika warganya belajar, pelan-pelan dan tanpa seminar, bahwa kejujuran adalah strategi yang buruk, kerja keras adalah bentuk keluguan, dan masa depan harus direbut diam-diam sebelum orang lain yang lebih dekat dengan kuasa mengambilnya lebih dulu.
Saya membayangkan Nadya malam itu turun dari mobil di lobi apartemen yang terlalu terang. Satpam membuka pintu kaca. Lantai marmer memantulkan tumit sepatunya. Di luar, seseorang di motor aplikasi menunggu pesanan makanan sambil memeriksa peta. Di televisi lobi, running text bergerak cepat: rupiah melemah, indeks terkoreksi, pejabat diperiksa, pasar menunggu sinyal, presiden optimistis.
Nadya mungkin tidak membaca running text itu.
Mungkin ia lebih tahu isinya daripada kita.
Karena ada orang-orang yang tidak perlu membaca berita untuk mengetahui bahwa negeri ini sedang sakit. Mereka cukup melihat siapa yang punya kunci, siapa yang menunggu di luar, siapa yang boleh naik lift, siapa yang harus mengantar makanan sampai gerbang, dan siapa yang bisa menulis pelan-pelan naik kelas dari kursi penumpang mobil yang tidak terdaftar atas namanya.
Di situlah Indonesia hari ini terlihat paling jelas.
Bukan di podium.
Bukan di grafik.
Bukan di baliho.
Melainkan di lobi apartemen tengah malam, ketika cahaya marmer terlalu putih, rupiah terlalu lemah, negara terlalu banyak bicara, dunia terlalu dekat dengan perang, dan seseorang yang masih muda berjalan masuk sambil membawa tas kecil yang harganya mungkin lebih stabil daripada masa depan jutaan orang.
Catatan Sumber dan Verifikasi
Nadya adalah sosok naratif/fiktif. Data ekonomi dan peristiwa publik diverifikasi pada 5 Juni 2026.
- Bank Indonesia, data JISDOR 3–4 Juni 2026: Rp17.931 dan Rp18.039 per dolar AS. Sumber
- Katadata/Databoks, IHSG jatuh 4,11% ke level 5.941,07 pada penutupan 3 Juni 2026. Sumber
- LPS, Ringkasan Eksekutif Distribusi Simpanan Bank Umum April 2026: 98,89% rekening berada pada tier saldo sampai Rp100 juta. Sumber
- Reuters, penangkapan mantan Kepala BGN dan dua mantan pejabat terkait dugaan korupsi program makan gratis; program disebut beranggaran setidaknya US$15 miliar untuk 83 juta penerima. Sumber
- AP News, laporan tambahan tentang penangkapan pejabat BGN dan kritik terhadap biaya program serta kasus keracunan makanan pada anak sekolah. Sumber
====
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

