Kecerdasan Spiritual

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mendengar kata kecerdasan spiritual, orang langsung teringat dengan agama, beserta segala ritual maupun aturannya. Pandangan ini salah besar.

Kecerdasan spiritual tidak ada hubungannya dengan agama, termasuk dengan segala ritual maupun aturan-aturannya. Yang seringkali terjadi, jika tidak ditafsirkan secara bijak, agama justru bisa menghambat kecerdasan spiritual seseorang, terutama dengan ritual serta aturannya yang sudah ketinggalan jaman.

Kecerdasan Spiritual

Konsep kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) dirumuskan secara sistematis oleh Robert Emmons di dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and the Psychology of Ultimate Concern. Tulisan ini diterbitkan di dalam sebuah jurnal ilmliah yang bernama International Journal for the Psychology of Religion.

Konsep ini berkembang dari penelitian Howard Gardner tentang kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Ia menekankan, bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak jenis, dan masing-masing harus dilihat secara unik, walaupun saling terhubung satu sama lain. Lanjutkan membaca Kecerdasan Spiritual

Iklan

Hakuna Matata

Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap orang pasti ingin bahagia. Mereka ingin hidup mewah, ketika berusia muda, kaya raya, ketika berusia tua, dan masuk surga, ketika waktu kematian tiba. Paham tentang kebahagiaan pun beragam, mulai dari kebahagiaan material sampai dengan kebahagiaan spiritual. Agama dan budaya di berbagai tempat juga menawarkan beragam jalan menuju kebahagiaan, seturut dengan versinya masing-masing.

Walaupun begitu, kebahagiaan seringkali hanya merupakan sebentuk perasaan yang rapuh. Ia cepat datang, dan juga cepat pergi. Kebahagiaan lalu diselingi dengan saat-saat penderitaan. Hidup menjadi tidak seimbang dan melelahkan.

Banyak orang pun bertanya, bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan yang stabil? Bagaimana menciptakan kebahagiaan yang tak rapuh ditelan oleh perubahan? Saya sudah mempelajari berbagai cara untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, pada hemat saya, jalan ilmu pengetahuan modern adalah jalan yang paling cocok untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lanjutkan membaca Hakuna Matata

Jangan Mengejar Bayangan

Craig Cree Stone

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah anda tahu salah satu lagu dari Anggun C. Sasmi yang berjudul Bayang-bayang Ilusi? Begini bunyi liriknya, “Haruskah ku hidup dalam angan anggan. Meregu ribuan impian. Haruskah ku lari dan terus berlari. Kejar bayang-bayang ilusi. Bayangan ilusi. Hanya fantasi. Bayangan ilusi.”

Lagu ini pernah menjadi hits di Indonesia pada awal tahun 1990-an lalu. Saya tergoda untuk menanggapi pertanyaan di lagu tersebut. Haruskah kita hidup dalam angan-angan dan bayangan ilusi? Jawabannya jelas: tidak. Lanjutkan membaca Jangan Mengejar Bayangan

Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Pinterest | Bonito

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad informasi. Setiap detiknya, jutaan informasi baru timbul mengisi keseharian kita. Informasi begitu mudah didapat. Semua ini menjadi mungkin, karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang amat cepat.

Revolusi Industri Keempat

Kita juga hidup di jaman revolusi industri yang keempat. Sekedar informasi, revolusi industri pertama dipicu dengan penemuan mesin uap dan air untuk menggerakkan mesin produksi. Revolusi industri kedua dimulai dengan penggunaan energi listrik untuk mendorong mesin produksi. Revolusi industri ketiga didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di dalam proses produksi. Lanjutkan membaca Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Jake Baddeley

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Saya sedang membaca buku. Tiba-tiba, saya teringat, bahwa saya belum membayar tagihan listrik. Saya pun mengambil telepon seluler untuk mentransfer uang. Ternyata, banyak pesan di media sosial yang saya punya. Akhirnya, saya hanyut di dalam media sosial tersebut.

Ketika melihat sebuah foto di media sosial, saya teringat sebuah kejadian di masa lalu. Di dalam kejadian itu, saya bersama mantan kekasih saya. Kini, kami sudah berpisah. Saya pun bertanya-tanya tentang kabarnya.

Tiba-tiba, terdengar suara tukang nasi goreng lewat. Perut tiba-tiba terasa lapar, padahal saya sudah makan. Konsep nasi goreng kini memenuhi pikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya kan sedang diet?!

Apakah anda pernah mengalami hal tersebut? Pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa jarak dan tanpa sadar. Satu hal belum selesai, hal lain sudah berdatangan. Tenang saja, anda tak sendiri. Saya, dan milyaran orang lainnya, juga sering mengalaminya. Lanjutkan membaca Bagaikan Tidur Sambil Berjalan