Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

61GWCuVqElL._AC_SX425_Oleh Reza A.A Wattimena

Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.

Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

Menjadi Anjing, atau Singa?

hybrid lion surrealism Image by ZuleimaOleh Reza A.A Wattimena

PPKM tidak selesai-selesai. September 2021, kebijakan yang menyiksa itu masih berlanjut. Rakyat tersiksa dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Sementara, para wakil rakyat di DPR dan para pemimpin politik hidup nyaman di rumah dinas mereka, dengan gaji pasti setiap bulan dari uang rakyat.

Itu kiranya yang menyiksa pikiran seorang kawan (dan saya juga). Di tengah hampanya kegiatan, pikirannya merantau ke masa lalu. Ia teringat perceraiannya yang berdarah-darah. Itu sudah terjadi belasan tahun lalu, namun terasa baru seperti kemarin terjadi. Lanjutkan membaca Menjadi Anjing, atau Singa?

CERIA di Hadapan Bencana

Born to be wild" by Joerg Peter Hamann, Landscapes: Sea/Ocean, Emotions: Joy,  Painting

Oleh Reza A.A Wattimena

Bencana bukanlah hal baru di dalam hidup manusia. Bencana juga bukan hal baru bagi bumi ini.

Sebenarnya, tidak ada yang disebut bencana. Itu hanyalah konsep yang dibuat oleh manusia.

Bumi hanya bergerak dan berubah. Ia hanya mengikuti hukum-hukum alam sebagaimana adanya. Lanjutkan membaca CERIA di Hadapan Bencana

Sekelumit Cerita Tentang Otak

25 Stunning Surreal Illustrations and Creative Photo Manipulation ...
Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Memahami kesadaran manusia, itulah yang mendorong saya masuk ke gerbang pintu penelitian tentang otak. Kesadaran tak bisa dilepaskan dari diri. Jati diri yang menentukan identitas manusia dalam hidupnya. Jati diri pula yang menentukan pola pembuatan keputusan, sekaligus perilakunya sehari-hari.

Panpsikisme, Jati Diri dan Otak

Dunia juga terkesima dengan panpsikisme. Inilah pandangan yang menyatakan dengan lugas, bahwa alam tak sepenuhnya materi. Yang material selalu berdampingan dengan yang spiritual. Ini mencakup seluruh alam semesta. Lanjutkan membaca Sekelumit Cerita Tentang Otak

Pikiran dan Pembebasan

Alessandro Tognin

Oleh Reza A.A Wattimena

Pikiran itu amat perkasa. Ia bisa membuat surga terasa seperti neraka, dan neraka terasa seperti surga. Begitulah kata John Milton. Pikiran bisa membuat rumah nyaman terasa seperti penyiksaan. Ia bisa membuat gubuk sederhana terasa seperti istana yang membahagiakan.

Para pemikir sepanjang sejarah sudah lama sadar, bahwa pikiran manusia yang membentuk dunia. Warna dan bentuk tidak ada di dalam kenyataan. Keduanya adalah ciptaan dari pikiran manusia. Jika anda mengira, bahwa apa yang anda lihat adalah nyata, maka anda sudah tertipu oleh pikiran anda sendiri. Lanjutkan membaca Pikiran dan Pembebasan

Tentang Iri Hati

Lisa Lach-Nielsen | ACRYLIC | Envy

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta  

Setiap orang pasti mengenali rasa iri. Entah mereka pernah mengalaminya, atau melihat orang yang saling iri hati satu sama lain. Mengapa orang merasa iri hati terhadap orang lain? Jawaban singkatnya, sebagaimana diuraikan oleh Antonio Cabrales, peneliti dari Universitas Madrid, adalah karena rasa iri hati sudah ada di dalam genetik manusia.

Rasa iri memiliki peranan besar di dalam perkembangan manusia sebagai spesies. Ia membantu manusia untuk memperoleh sumber daya yang memang terbatas dalam persaingan dengan manusia lain, ataupun spesies lain. Di dalam kelompok primitif, rasa iri memacu orang untuk memiliki lebih banyak harta benda, daripada orang-orang lainnya. Pemilik harta benda terbanyak lalu dianggap sebagai orang yang paling tepat untuk membangun keluarga yang unggul, sekaligus menjadi pemimpin kelompok. (Kupczik, 2014) Lanjutkan membaca Tentang Iri Hati

Kecerdasan Spiritual

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Mendengar kata kecerdasan spiritual, orang langsung teringat dengan agama, beserta segala ritual maupun aturannya. Pandangan ini salah besar.

Kecerdasan spiritual tidak ada hubungannya dengan agama, termasuk dengan segala ritual maupun aturan-aturannya. Yang seringkali terjadi, jika tidak ditafsirkan secara bijak, agama justru bisa menghambat kecerdasan spiritual seseorang, terutama dengan ritual serta aturannya yang sudah ketinggalan jaman.

Kecerdasan Spiritual

Konsep kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) dirumuskan secara sistematis oleh Robert Emmons di dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and the Psychology of Ultimate Concern. Tulisan ini diterbitkan di dalam sebuah jurnal ilmliah yang bernama International Journal for the Psychology of Religion.

Konsep ini berkembang dari penelitian Howard Gardner tentang kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Ia menekankan, bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak jenis, dan masing-masing harus dilihat secara unik, walaupun saling terhubung satu sama lain. Lanjutkan membaca Kecerdasan Spiritual

Hakuna Matata

Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap orang pasti ingin bahagia. Mereka ingin hidup mewah, ketika berusia muda, kaya raya, ketika berusia tua, dan masuk surga, ketika waktu kematian tiba. Paham tentang kebahagiaan pun beragam, mulai dari kebahagiaan material sampai dengan kebahagiaan spiritual. Agama dan budaya di berbagai tempat juga menawarkan beragam jalan menuju kebahagiaan, seturut dengan versinya masing-masing.

Walaupun begitu, kebahagiaan seringkali hanya merupakan sebentuk perasaan yang rapuh. Ia cepat datang, dan juga cepat pergi. Kebahagiaan lalu diselingi dengan saat-saat penderitaan. Hidup menjadi tidak seimbang dan melelahkan.

Banyak orang pun bertanya, bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan yang stabil? Bagaimana menciptakan kebahagiaan yang tak rapuh ditelan oleh perubahan? Saya sudah mempelajari berbagai cara untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, pada hemat saya, jalan ilmu pengetahuan modern adalah jalan yang paling cocok untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lanjutkan membaca Hakuna Matata

Jangan Mengejar Bayangan

Craig Cree Stone

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah anda tahu salah satu lagu dari Anggun C. Sasmi yang berjudul Bayang-bayang Ilusi? Begini bunyi liriknya, “Haruskah ku hidup dalam angan anggan. Meregu ribuan impian. Haruskah ku lari dan terus berlari. Kejar bayang-bayang ilusi. Bayangan ilusi. Hanya fantasi. Bayangan ilusi.”

Lagu ini pernah menjadi hits di Indonesia pada awal tahun 1990-an lalu. Saya tergoda untuk menanggapi pertanyaan di lagu tersebut. Haruskah kita hidup dalam angan-angan dan bayangan ilusi? Jawabannya jelas: tidak. Lanjutkan membaca Jangan Mengejar Bayangan

Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Pinterest | Bonito

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad informasi. Setiap detiknya, jutaan informasi baru timbul mengisi keseharian kita. Informasi begitu mudah didapat. Semua ini menjadi mungkin, karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang amat cepat.

Revolusi Industri Keempat

Kita juga hidup di jaman revolusi industri yang keempat. Sekedar informasi, revolusi industri pertama dipicu dengan penemuan mesin uap dan air untuk menggerakkan mesin produksi. Revolusi industri kedua dimulai dengan penggunaan energi listrik untuk mendorong mesin produksi. Revolusi industri ketiga didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di dalam proses produksi. Lanjutkan membaca Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Jake Baddeley

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Saya sedang membaca buku. Tiba-tiba, saya teringat, bahwa saya belum membayar tagihan listrik. Saya pun mengambil telepon seluler untuk mentransfer uang. Ternyata, banyak pesan di media sosial yang saya punya. Akhirnya, saya hanyut di dalam media sosial tersebut.

Ketika melihat sebuah foto di media sosial, saya teringat sebuah kejadian di masa lalu. Di dalam kejadian itu, saya bersama mantan kekasih saya. Kini, kami sudah berpisah. Saya pun bertanya-tanya tentang kabarnya.

Tiba-tiba, terdengar suara tukang nasi goreng lewat. Perut tiba-tiba terasa lapar, padahal saya sudah makan. Konsep nasi goreng kini memenuhi pikiran saya. Tapi tunggu dulu, saya kan sedang diet?!

Apakah anda pernah mengalami hal tersebut? Pikiran melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa jarak dan tanpa sadar. Satu hal belum selesai, hal lain sudah berdatangan. Tenang saja, anda tak sendiri. Saya, dan milyaran orang lainnya, juga sering mengalaminya. Lanjutkan membaca Bagaikan Tidur Sambil Berjalan

Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Ryohei Hase

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta 

Apa teknologi yang paling canggih di muka bumi ini? Sebagian orang akan bilang, pesawatlah teknologi tercanggih di dunia ini, apalagi pesawat luar angkasa. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, ada satu teknologi lagi yang lebih canggih dari pesawat luar angkasa. Jawabannya mungkin tak terduga, yakni tubuh manusia.

Tubuh, Pikiran dan Emosi

Tubuh manusia memiliki beragam mekanisme yang amat kompleks. Sistem pencernaan berjalan harmonis dengan sistem pernafasan, sekaligus sistem saraf. Semuanya saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Tubuh manusia juga mampu secara alami mengubah semua jenis makanan menjadi bagian dari dirinya. Lanjutkan membaca Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Melampaui “Manusia”

reason
wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

            Mengapa saya menulis kata “manusia” dengan tanda kutip? Ini untuk menerangkan, bahwa “manusia” sebagai sebuah realitas tidaklah pernah ada. Ia dianggap ada sebagai bagian dari kesepakatan sosial untuk keperluan hidup sehari-hari, seperti misalnya berkomunikasi. Namun, sebagai sebuah kenyataan yang utuh dan kokoh, ia tidak pernah ada. Ia adalah ilusi, yakni seolah ada, namun sebenarnya tak ada.

“Manusia”

Di balik kata “manusia”, ada sebuah tradisi pemikiran yang telah berkembang lama, terutama di Eropa dan Timur Tengah. Manusia dilihat sebagai mahluk yang istimewa, lebih daripada mahluk hidup lainnya, sehingga punya hak untuk menguasai bumi. Tentu saja, yang merumuskan pandangan tersebut juga “manusia”. Ada konflik kepentingan di dalamnya yang harus terus ditanggapi secara kritis.[1]   Lanjutkan membaca Melampaui “Manusia”

Otak, Neuroplastisitas dan Hidup Kita

pic.pilpix.com
pic.pilpix.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Doktoral di Munich, Jerman 

Kita hidup di dunia yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Ketika keinginan dan harapan kita rontok di depan mata, kita mengalami krisis hidup. Ketika krisis berulang kali terjadi, kita pun lalu merasa putus asa. Kita mengira, bahwa hidup ini tidak bermakna, dan tidak layak untuk dijalani.

Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, hidup adalah kemungkinan tanpa batas. Orang bisa melakukan apapun, selama ia memiliki komitmen untuk bekerja dan berpikir, guna mewujudkan harapan serta keinginannya. Salah satu kemampuan penting untuk mencapai cara berpikir ini sudah selalu terletak di otak kita sendiri. Rasa putus asa dan patah arang sebenarnya tidak perlu terjadi. Lanjutkan membaca Otak, Neuroplastisitas dan Hidup Kita

Apa Yang Terpenting?

spiritualnow.com
spiritualnow.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Munich, Jerman

September 2015, industri mobil dunia terguncang oleh skandal. Volkswagen, salah satu produsen terbesar mobil dunia asal Jerman, melanggar ketentuan terkait dengan jumlah emisi mobil-mobil hasil produksinya. Harga saham Volkswagen menurun drastis. Pemecatan besar-besaran serta denda milyaran Euro pun sudah menunggu di depan mata.

Banyak analisis diajukan atas masalah ini. Intinya adalah, Volkswagen telah menipu pemerintah dan masyarakat terkait dengan jumlah polusi yang dihasilkan oleh mobil-mobilnya. Ia tidak hanya melanggar hukum dan menodai kepercayaan masyarakat, tetapi juga merusak alam. Pola pelanggaran semacam ini sudah terjadi begitu sering di dunia. Perusahaan-perusahaan multinasional mengabaikan semua hal, demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Lanjutkan membaca Apa Yang Terpenting?

Filsafat Politik sebagai Filsafat Kesadaran

dailygives.com
dailygives.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti PhD di Munich, Jerman, Dosen di Unika Widya Mandala, Surabaya

Setelah sekitar 15 tahun mendalami filsafat politik, saya semakin sadar, bahwa filsafat politik, pada hakekatnya, adalah filsafat kesadaran. Esensi dari filsafat politik adalah filsafat kesadaran. Dua konsep ini, yakni filsafat politik dan filsafat kesadaran, tentu perlu dijelaskan terlebih dahulu. Mari kita mulai dengan arti dasar dari filsafat.

Filsafat adalah pemahaman tentang kenyataan yang diperoleh secara logis, kritis, rasional, ontologis dan sistematis. Kenyataan berarti adalah segala yang ada, mulai dari jiwa manusia, politik, ekonomi, budaya, seni sampai dengan kesadaran. Logis berarti filsafat menggunakan penalaran akal budi manusia. Filsafat bukanlah mistik yang melepaskan diri dari penalaran akal budi. Lanjutkan membaca Filsafat Politik sebagai Filsafat Kesadaran

Filsafat sebagai Terapi Depresi

speckycdn.sdm.netdna-cdn.com
speckycdn.sdm.netdna-cdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Banyak orang hidup dalam depresi sekarang ini. Tuntutan pekerjaan, masalah rumah tangga serta beragam tantangan hidup lainnya mendorong orang masuk ke dalam depresi. Dalam arti ini, depresi dapat dilihat sebagai keadaan emosional yang dipenuhi kesedihan dan kekecewaan dalam jangka waktu lebih dari dua bulan. Ada beragam teori tentang ini. Namun, dua bulan hidup dalam keadaan batin yang menyakitkan, pada hemat saya, sudah menandakan, bahwa orang masuk ke dalam depresi.

Depresi membuat orang tak bisa menikmati hidup. Segalanya terlihat salah. Hal-hal kecil seringkali memancing beragam emosi negatif di dalam diri. Keadaan ini berlangsung cukup lama, dan seringkali disertai dengan gejala senang berlebihan, yang kemudian dilanjutkan pula dengan kesedihan berlebihan.

Depresi biasanya dipicu oleh rangkaian peristiwa menyedihan dan menyakitkan, seperti kehilangan anggota keluarga, kegagalan di dalam karir atau sekolah, sakit berkepanjangan atau perceraian. Keadaan ini membuat tubuh dan pikiran seseorang tertekan, jauh melampaui batas yang mampu ditanggungnya. Pikirannya kacau, karena selalu bergerak ke masa lalu yang penuh penyesalan, dan masa depan yang penuh kecemasan. Tubuhnya pun melemah, karena dalam keadaan seperti ini, orang tak mampu beristirahat dengan cukup, dan nafsu makan serta minum pun menurun.

Terapi Depresi

Ada beragam terapi yang ditawarkan. Namun, pada hemat saya, banyak hanya merupakan omong kosong. Orang diminta untuk menghabiskan waktu dan uang hanya untuk menjalani terapi yang dipenuhi janji palsu belaka. Akan tetapi, ada satu alternatif yang mungkin belum banyak dicoba orang, namun memiliki kemungkinan besar untuk berhasil, yakni filsafat sebagai terapi.

Tidak semua jenis filsafat bisa berfungsi sebagai terapi. Banyak pemikiran filsafat yang justru menjadi sumber depresi. Abstraksi berlebihan justru menumpulkan kepekaan orang pada kenyataan hidup. Jenis filsafat ini sungguh harus ditanggapi secara kritis. Lanjutkan membaca Filsafat sebagai Terapi Depresi

Sebelum Pertanyaan

designingsound.org
designingsound.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Kita sering bertanya dalam hati, darimana kita berasal? Apakah Tuhan yang menciptakan kita? Ataukah, sebelumnya kita tinggal di suatu tempat, lalu kemudian masuk ke rahim ibu kita, dan kemudian lahir di dunia ini? Setiap orang, minimal sekali dalam hidupnya, pasti pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita juga sering bertanya, apa tujuan hidup ini? Apa makna dari segala apa yang saya alami dan lakukan setiap harinya? Adakah makna sesungguhnya? Di tengah kesibukan kita bekerja dan belajar setiap harinya, pertanyaan-pertanyaan ini merindu untuk dijawab di dalam batin kita.

Kita juga seringkali mengalami masalah dan tantangan di dalam hidup kita. Di dalam batin, kita ingin keluar dari masalah tersebut. Kita ingin hidup bahagia. Akan tetapi, bagaimana caranya? Mungkinkah kita mencapai kebahagiaan?

Masalah dan tantangan tersebut juga seringkali membuat kita cemas. Kita lalu berpikir, jika keadaan begini terus, lalu bagaimana dengan masa depan? Masalah dan tantangan juga sering membuat kita cemas atas masa depan orang-orang yang kita sayangi. Kecemasan tersebut lalu juga sering menghantui pikiran kita, sehingga kita merasa lelah, baik secara fisik maupun batin.

Kita juga banyak melihat orang-orang sekitar kita sakit. Kita pun mungkin juga sedang sakit saat ini. Ketika sakit itu semakin berat, wajar jika kita bertanya, apa yang terjadi ya, setelah kematian? Adakah surga, atau neraka, atau sesuatu, setelah kita mati?

Semua pertanyaan ini menggiring kita pada satu pertanyaan mendasar, adakah tuhan yang menjadi tuan atas hidup kita? Apakah semua ini sudah ada yang mengatur? Apakah kita berasal dan akan kembali kepada tuhan nantinya? Ataukah, seperti di dalam tradisi Hindu, ada banyak Dewa yang akan mempengaruhi kehidupan dan kematian kita? Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari kita, yang menata semuanya? Lanjutkan membaca Sebelum Pertanyaan

Menuju “Saat Ini”

mshcdn.com
mshcdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman.

Eckhart Tolle menulis buku berjudul Jetzt, die Kraft der Gegenwart pada 2010 lalu. Tolle mengajak kita untuk kembali ke “saat ini”, yakni sepenuhnya berada pada momen, dimana kita ada sekarang. Di dalam “saat ini”, kita akan menemukan kebahagiaan, kebenaran, cinta, kedamaian, Tuhan, kebebasan. Di “saat ini”, kita akan menemukan semua tujuan hidup kita. Ketika orang meninggalkan “saat ini”, maka ia masuk kembali ke dalam lingkaran penderitaan, kecemasan dan ketakutan dalam hidupnya.

Jika kita berpikir secara jernih, kita akan sadar, bahwa yang ada hanyalah saat ini. Tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan. Masa lalu hanya merupakan kenangan. Masa depan hanya merupakan harapan. Keduanya tidak nyata.

Masa lalu memberikan identitas pada diri kita. Masa depan memberikan janji tentang hidup yang lebih baik. Namun, jika dipikirkan secara jernih dan mendalam, keduanya tidak ada. Keduanya adalah ilusi.

Banyak orang mengira, bahwa waktu adalah uang. Mereka juga mengira, bahwa waktu adalah hal yang amat berharga. Namun, sejatinya, waktu adalah ilusi. Ia tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Lanjutkan membaca Menuju “Saat Ini”

Filsafat tentang Kesehatan

inquisitr.com
inquisitr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika merayakan hari lahir, banyak orang mendoakan, supaya kita selalu sehat. Kita pun mendoakan hal yang sama, ketika orang lain merayakan hari lahirnya. Di titik ini, kita bisa melihat, bagaimana kesehatan menjadi nilai yang penting dalam hidup manusia. Hal ini bisa diamati di berbagai peradaban, tidak hanya di Indonesia.

Kesehatan lalu disamakan dengan kebahagiaan. Orang tidak bisa bahagia, jika ia tidak sehat. Untuk menjadi sehat, orang juga perlu untuk menata pikiran dan pola hidupnya dengan pikiran-pikiran yang baik, yakni dengan kebahagiaan. Ada kaitan yang bersifat timbal balik dan amat erat antara kesehatan dan kebahagiaan.

Dipersempit

Namun, kita juga hidup di dalam masyarakat yang mempersempit arti kesehatan. Sadar atau tidak, kita hanya melihat kesehatan dalam arti kesehatan fisik semata. Banyak orang sibuk berolah raga dan makan makanan yang bergizi, supaya sehat. Yang banyak terjadi kemudian adalah, orang bisa berpenampilan ganteng, bertubuh indah, dan kelihatan keren, walaupun hidupnya sedih dan merana. Ini sebenarnya sama sekali tidak sehat. Lanjutkan membaca Filsafat tentang Kesehatan