Tuhan sebelum Bahasa

Oleh Dhimas Anugrah

Apakah Tuhan hanyalah hasil kerja otak manusia, atau justru kondisi yang memungkinkan otak itu berpikir? Yuval Noah Harari adalah suara paling lantang dari sisi pertama pertanyaan itu. Dalam _Sapiens_ , ia menempatkan kemunculan agama dalam Revolusi Kognitif sekitar 70.000 tahun lalu, ketika manusia memperoleh kapasitas bahasa dan imajinasi untuk membentuk realitas yang melampaui pengalaman empiris, seraya menegaskan bahwa “legends, myths, gods and religions appeared for the first time with the Cognitive Revolution” (Harari, 2014, p. 24). Tuhan, dalam kerangka ini, hadir sebagai produk kemampuan manusia membayangkan dan meyakini yang tak terlihat.

Pandangan ini menemukan resonansi dalam pendekatan kognitif terhadap bahasa, sebagaimana ditegaskan oleh Steven Pinker bahwa bahasa bukan sekadar konstruksi budaya, melainkan “a distinct piece of the biological makeup of our brains” yang berkembang secara spontan dalam diri manusia (Pinker, 1995, p. 18). Kapasitas membentuk narasi tentang realitas yang tak hadir berakar pada struktur biologis manusia itu sendiri. Pertanyaannya pun bergeser: jika bahasa adalah perangkat biologis dan agama lahir bersamanya, apakah Tuhan sekadar hasil dari proses itu, atau justru kondisi yang memungkinkannya?

Harari memperkuat tesisnya melalui fungsi sosial agama. Keyakinan bersama memungkinkan kerja sama dalam skala besar di antara individu yang tidak saling mengenal, sebagaimana ia tulis bahwa “churches are rooted in common religious myths… two Catholics who have never met can nevertheless go together on crusade or pool funds to build a hospital” (Harari, 2014, p. 27). Narasi religius menyediakan sistem nilai, tujuan, dan legitimasi yang mengikat jutaan manusia dalam satu horizon tindakan kolektif. Agama, dalam pengertian ini, tampil sebagai ekspresi paling efektif dari kemampuan simbolik manusia yang memungkinkan koordinasi sosial berskala luas.

Pembacaan ini menemukan penegasan historisnya dalam karya Jared Diamond, yang menunjukkan bahwa kepercayaan supernatural telah hadir jauh sebelum agama dilembagakan, sebab “bands and tribes already had supernatural beliefs, just as do modern established religions” (Diamond, 1997, p. 278). Apa yang oleh Harari dibaca sebagai konstruksi imajinatif sekaligus berfungsi sosial, oleh Diamond tampak sebagai pola yang melintasi seluruh sejarah manusia, hadir lintas budaya dan lintas zaman.

Namun, penjelasan ini berhenti pada fungsi, tanpa menjangkau apa yang membuatnya mungkin sejak awal. Ia menunjukkan apa yang dilakukan kepercayaan, tapi belum menjelaskan sumber kapasitas untuk melampaui yang empiris. Neurosains menegaskan bahwa otak manusia membentuk pikiran, harapan, imajinasi, dan cara manusia memahami realitasnya (Society for Neuroscience, 2018, p. 2). Lebih jauh, riset mutakhir menunjukkan bahwa pikiran, emosi, persepsi, tindakan, dan memori muncul dari dinamika sirkuit saraf yang kompleks, yang secara aktif mengonstruksi makna dalam pengalaman manusia (BRAIN Initiative Working Group, 2014, p. 5). Dalam kerangka ini, kemampuan membayangkan yang tidak hadir secara langsung berakar pada struktur biologis yang memang terarah pada pembentukan makna.

Justru di titik ini pertanyaan yang lebih dalam mendesak masuk: jika bahasa dan imajinasi merupakan bagian dari struktur biologis manusia, dari mana datangnya kecenderungan universal untuk mengarahkan kemampuan tersebut pada realitas yang melampaui yang kasatmata?

Iman sebagai Imajinasi: Membaca Harari Sampai Batasnya

Bagi Harari, pertanyaan itu sudah terjawab sebelum diajukan. Ia menegaskan bahwa “the ability to speak about fictions is the most unique feature of Sapiens language” (Harari, 2014, p. 24), dan dari kapasitas inilah legenda, mitos, dewa, dan agama pertama kali muncul dalam Revolusi Kognitif. Keyakinan religius, dalam kerangka ini, berdiri sebagai bentuk kepercayaan yang sungguh-sungguh terhadap realitas yang dibayangkan, sebab “an imagined reality is not a lie” dan para penganutnya sungguh mempercayainya sebagai nyata (Harari, 2014, p. 32).

Kapasitas itu kemudian bekerja dalam skala sosial yang luar biasa. Jutaan individu yang tidak saling mengenal mampu bekerja sama karena “large numbers of strangers can cooperate successfully by believing in common myths” (Harari, 2014, p. 27), bertumpu pada kesepakatan simbolik yang dihayati bersama. Sejak Revolusi Kognitif, manusia hidup dalam dua lapisan realitas: dunia objektif yang dapat diindra dan dunia imajiner yang mencakup “gods, nations and corporations” (Harari, 2014, p. 32). Ketegangan antara keduanya justru melahirkan kebutuhan manusia untuk terus menafsirkan, meneguhkan, dan mempertahankan realitas yang diyakininya.

Akar pola ini terbentang jauh ke belakang. Animisme, yang hadir dalam masyarakat pemburu-pengumpul paling awal, merupakan “a generic name for thousands of very different religions, cults and beliefs” (Harari, 2014, p. 51). Bahkan politeisme, dalam perkembangannya, tetap membuka ruang bagi pengakuan akan suatu prinsip tertinggi yang melampaui dewa-dewa tertentu (Harari, 2014, p. 168). Keragaman bentuk kepercayaan itu berakar pada satu struktur dasar: kecenderungan manusia mengorganisasi pengalaman melalui realitas yang melampaui yang kasatmata.

Batas analitis pembacaan ini tampak tepat di sini. Pertanyaan bagaimana kepercayaan bekerja terjawab dengan baik, sementara pertanyaan mengapa struktur kesadaran manusia secara konsisten terarah pada makna yang melampaui yang empiris tetap terbuka. Kemampuan menciptakan dan mempercayai narasi tumbuh dari lapisan terdalam diri manusia, jauh dari kekosongan. Jika imajinasi mampu menghasilkan realitas yang dihayati sebagai nyata, pertanyaan yang lebih mendasar bergeser: mengapa kesadaran manusia sejak awal terbuka terhadap horizon makna yang memungkinkan mitos itu lahir dan bertahan? Pembacaan ini menuntut pendalaman yang bergerak dari fungsi menuju struktur, dari bentuk menuju dasar ontologis pengalaman beriman. Pertanyaan itulah yang membawa kita pada Kelly James Clark, yang menawarkan kerangka berbeda untuk menilai keyakinan religius.

Tuhan dan Otak Manusia

Clark memulai dari satu pembedaan yang menentukan: penjelasan kausal tidak identik dengan pembenaran rasional. Ia menulis, “just because your belief is caused in some part by your age group… does not mean the belief is faulty” (Clark, 2019, p. 11). Pengetahuan tentang bagaimana suatu keyakinan terbentuk berdiri terpisah dari penilaian apakah keyakinan itu layak dipercaya. Setiap keyakinan memiliki sebab, termasuk keyakinan paling dasar tentang dunia dan diri, sehingga penjelasan kausal tidak pernah cukup untuk meruntuhkan status epistemiknya.

Ia kemudian mengarahkan perhatian pada cara kerja pikiran itu sendiri. Sains kognitif, tegasnya, bertugas mengungkap sebab-sebab di balik keyakinan, bukan menilai kebenarannya (Clark, 2019, p. 11). Kepercayaan religius berdiri sebagai bagian dari pola umum pembentukan keyakinan manusia, dan Clark menyatakannya secara langsung: “God-beliefs are the perfectly ordinary and natural products of perfectly ordinary brain processes” (Clark, 2019, p. 18). Neuroteologi memperkuat arah ini dengan menunjukkan bahwa fungsi-fungsi otak seperti persepsi holistik mendorong manusia memahami realitas sebagai suatu kesatuan, yang dalam refleksi religius diartikulasikan sebagai konsep keutuhan atau yang ilahi (Sayadmansour, 2014, p. 53). Kepercayaan religius hadir sebagai ekspresi wajar dari cara kerja otak yang memang terstruktur untuk mencari makna dan kesatuan.

Clark melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa banyak keyakinan manusia tumbuh langsung dari kapasitas kognitif yang bekerja secara spontan, jauh dari inferensi panjang. Ia menulis, “we have cognitive faculties that allow us to know many things” (Clark, 2019, p. 20). Kapasitas ini bekerja tanpa pembuktian bertahap, sebagaimana keyakinan akan keberadaan dunia luar atau kesadaran orang lain diterima sebagai titik berangkat yang sah. Neuroteologi menambahkan bahwa kemampuan otak menangkap relasi sebab-akibat secara alami mendorong manusia mencari penyebab utama dari segala sesuatu, yang dalam tradisi teologis dirumuskan sebagai sumber pertama atau dasar realitas (Sayadmansour, 2014, p. 54). Kepercayaan kepada Tuhan, dengan demikian, merupakan respons langsung dari struktur kesadaran manusia yang memang terarah pada makna yang melampaui dirinya.

Koreksi terhadap Harari kini menjadi tak terelakkan. Penolakan terhadap semua keyakinan yang memiliki sebab kognitif akan meruntuhkan seluruh bangunan pengetahuan manusia bersama agama, sebab setiap keyakinan, termasuk yang paling ilmiah sekalipun, memiliki akar kognitifnya sendiri. Penerimaan terhadap sebagian keyakinan meski memiliki sebab menggeser persoalan dari asal-usul menuju kelayakan epistemik. Kepercayaan kepada Tuhan layak dipahami sebagai bagian dari struktur keyakinan yang terbentuk secara wajar dan dapat dipercaya. Reduksi agama menjadi produk imajinasi kehilangan daya tepat di sini: ia mencampuradukkan penjelasan tentang bagaimana manusia percaya dengan penilaian tentang apakah yang dipercayainya itu benar.

Tuhan, Ilusi, dan Batas Neurosains

Harari tidak tinggal diam di hadapan koreksi semacam itu. Ia menyatakan bahwa “there are no gods in the universe… outside the common imagination of human beings” (Harari, 2014, p. 27). Tuhan, dalam kerangka ini, berdiri sejajar dengan konstruksi sosial lain, sebab “any large-scale human cooperation… is rooted in common myths that exist only in peoples collective imagination” (Harari, 2014, p. 25). Agama direduksi menjadi mekanisme simbolik yang menopang kehidupan sosial, dengan rujukan yang berhenti pada manusia itu sendiri.

Reduksi ini bergerak jauh melampaui deskripsi. Harari menempatkan manusia sebagai pusat yang secara aktif mengambil alih fungsi yang sebelumnya dilekatkan pada yang ilahi. Ia menulis bahwa manusia hidup dalam “a dual reality… the imagined reality of gods, nations and corporations” (Harari, 2014, p. 28), di mana realitas semacam itu memperoleh daya hanya sejauh dipercaya. Dalam _Homo Deus_ , bahkan kematian digeser dari misteri metafisis menjadi persoalan teknis, sebab “humans always die due to some technical glitch” (Harari, 2016, p. 28). Seluruh dimensi yang sebelumnya dianggap transenden kini ditarik ke dalam wilayah kendali manusia.

Reduksi Harari melangkah melampaui apa yang secara sah dapat disimpulkan dari neurosains. Uffe Schjoedt menunjukkan bahwa neurosains agama pada dasarnya menyelidiki proses neural yang mendasari perilaku religius sebagai gejala budaya yang kompleks, sambil mengingatkan bahwa bidang ini kerap dibebani harapan berlebihan dan spekulasi yang melampaui daya jangkaunya (Schjoedt, 2009, pp. 310–311). Penjelasan tentang bagaimana keyakinan religius bekerja di dalam otak berdiri terpisah dari pertanyaan apakah yang diyakini itu sungguh memiliki rujukan di luar subyek. Penjelasan fungsional dan penilaian ontologis menuntut pembedaan yang tegas.

Schjoedt memperkuat batas itu dengan menolak reduksi pengalaman religius ke dalam satu mekanisme tunggal. Ia menegaskan bahwa “religious behaviour encompasses widely different thoughts and practices” dan karena itu tidak dapat dijelaskan oleh satu sistem neural yang seragam (Schjoedt, 2009, p. 334). Penelitian neurosains agama, tegasnya, seharusnya tidak “develop new controversial claims on brain processes unique to religious experience,” melainkan bertumpu pada fungsi kognitif umum yang telah mapan (Schjoedt, 2009, p. 335). Pengalaman religius berakar pada cara kerja normal pikiran manusia, dan neurosains tidak memiliki perangkat untuk memutuskan apakah yang diimani itu memiliki rujukan di luar manusia itu sendiri.

Medan perdebatan bergeser di titik ini. Persoalannya tumbuh dari pertanyaan apakah manusia memakai imajinasi ketika berbicara tentang Tuhan, menuju pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana memahami imajinasi itu sendiri. Seluruh kehidupan intelektual manusia bekerja melalui representasi, simbol, dan konstruksi makna, dan tidak setiap representasi berakhir pada ilusi. Kepercayaan kepada Tuhan dapat dipahami sebagai tindakan kesadaran yang merespons makna yang mendahuluinya, jauh dari sekadar memproduksinya. Otak memediasi, bahasa mengartikulasikan, dan budaya membentuk ekspresi, sementara keterlibatan itu tetap membuka kemungkinan bahwa yang ditanggapi memang nyata. Penjelasan tentang proses tidak pernah cukup untuk menutup pertanyaan tentang kebenaran, dan justru membuka ruang bagi penyelidikan yang lebih dalam tentang struktur kesadaran manusia itu sendiri.

Pertanyaan tentang Tuhan, dengan demikian, telah bergeser dari ranah sains menuju ranah yang lebih mendasar: cara manusia memahami dirinya sendiri.

Simpulan

Perdebatan tentang agama menemukan titik krusialnya pada cara memahami manusia itu sendiri, jauh dari sekadar konflik antara sains dan iman. Harari membuka dimensi saintifik dari kepercayaan religius dengan kerangka yang koheren: bahasa, imajinasi, dan narasi bekerja bersama membentuk kohesi sosial berskala besar. Justru karena kekuatan analisis itu, batasnya semakin terlihat. Pembacaan yang berfokus pada fungsi dan konstruksi sosial mampu menjelaskan bagaimana kepercayaan bekerja, sementara pertanyaan mengapa kepercayaan itu muncul secara konsisten melampaui konteks historis dan kultural tertentu tetap terbuka.

Neurosains dan filsafat kognitif memperluas horizon analisis itu dengan menunjukkan bahwa otak manusia membentuk orientasi terhadap makna, tujuan, dan keterarahan yang lebih luas, melampaui sekadar pemrosesan informasi. Orientasi ini bekerja pada lapisan yang mendahului penafsiran, di mana manusia telah menanggapi realitas sebelum ia mengonseptualisasikannya. Kepercayaan religius, dengan demikian, merupakan bagian dari dinamika kesadaran yang lebih mendasar, yang melampaui fungsi sosial dan konstruksi naratif semata.

Pertanyaan tentang Tuhan menuntut lebih dari penjelasan tentang bagaimana manusia membayangkan dan mempercayai. Kesadaran manusia memiliki keterbukaan terhadap makna yang melampaui dirinya, dan kepercayaan kepada Tuhan berdiri sebagai ekspresi dari struktur kesadaran yang memungkinkan manusia memahami, mengarahkan, dan memberi makna pada kehidupannya. Apa yang tampak sebagai konstruksi pada tingkat analisis fungsional dapat, pada tingkat yang lebih dalam, menunjuk pada relasi yang lebih fundamental antara manusia dan realitas yang melampaui dirinya. Tuhan tidak lahir dari imajinasi manusia, melainkan menjadi horizon makna yang sejak awal memungkinkan manusia untuk membayangkan, memahami, dan mengarahkan dirinya.

Referensi:

* BRAIN Initiative Working Group. 2014. _BRAIN 2025: A Scientific Vision. Report to the Advisory Committee to the Director, NIH_ . 5 June.

* Clark, Kelly James. 2019. _God and the Brain: The Rationality of Belief_ . Grand Rapids, MI: Eerdmans.

* Diamond, Jared. 1997. _Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies._ New York: W.W. Norton & Company.

* Harari, Yuval Noah. 2014. _Sapiens: A Brief History of Humankind._  London: Harvill Secker.

* ———. 2016. _Homo Deus: A Brief History of Tomorrow_ . London: Harvill Secker.

* Pinker, Steven. 1995. _The Language Instinct: How the Mind Creates Language._  New York: HarperPerennial.

* Sayadmansour, Alireza. 2014. “Neurotheology: The Relationship between Brain and Religion.” _Iranian Journal of Neurology_  13, no. 1: 52–55.

* Schjoedt, Uffe. 2009. “The Religious Brain: A General Introduction to the Experimental Neuroscience of Religion.” _Method and Theory in the Study of Religion_  21, no. 3: 310–339.

* Society for Neuroscience. 2018. _Brain Facts: A Primer on the Brain and Nervous System._  Washington, DC: Society for Neuroscience.

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.