Tentang Emosi

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada rasa terbakar muncul, ketika sesuatu tak berjalan sesuai keinginan. Rencana yang gagal, akibat keadaan yang tak mengundang pilihan. Karir yang dipatahkan tekanan. Atau tubuh yang tak lagi berfungsi sesuai keinginan.

Hubungan yang rusak juga memicu rasa yang mencekik leher. Ada kekecewaan yang melindas dada. Di luar diri, di hadapan penderitaan jutaan lautan manusia, perasaan tak berdaya pun lahir. Kita terbakar dan tercekik di hadapan dunia yang tak pernah kita inginkan.

Itu adalah rasa emosi. Ia lahir dari relung terdalam diri kita. Ia memancar keluar, mengenai orang lain di sekitar. Ia bisa membangun dan merawat, tetapi juga bisa menghancurkan, tanpa jejak.

Emosi terpaut erat dengan keinginan. Keduanya adalah anak-anak dari pikiran. Ia berakar pada pengalaman yang telah lewat. Pola emosi dibentuk sebagai hasil dari pola asuh, pendidikan sekolah maupun hubungan dengan masyarakat secara lebih luas, termasuk yang terjadi di ruang digital.

Maka, keinginan, sejatinya, adalah sampah. Ia adalah ampas dari peristiwa yang telah lewat. Ia adalah jejak dari sesuatu yang tak pernah bisa sungguh dilupakan. Jika tak disadari, ia menjadi belenggu yang mencekik jiwa.

Satu pendekatan kiranya membantu. Ia disebut sebagai pendekatan tanpa dasar, atau groundlessness. Ia berakar pada pengalaman Pema Chodron, seorang master Tibetan Buddhis. Akarnya adalah keberserahan pada ruang kosong tak berbatas.

Bagi Chodron, pendekatan tanpa dasar adalah ciri dasar kenyataan yang penuh ketidakpastian. Segalanya begitu rapuh, dan terus berubah. Kita tidak bisa menolaknya, apalagi melawannya. Kita hanya perlu memeluk ketidakpastian tersebut dengan sepenuh hati, dan sepenuh jiwa.

Karena segalanya berubah dan rapuh, hidup pun seringkali “hancur”. Justru, kita harus akrab dengan kerapuhan tersebut. Kita harus memeluk kekacauan yang bernama kenyataan ini. Dengan melakukan ini, kesadaran, kebijaksanaan dan welas asih kita pun berkembang.

Setiap derita lahir dari penolakan. Ia lahir dari penolakan terhadap kenyataan yang terus berubah. Ini mirip dengan pandangan Camus, seorang filsuf Prancis, yang melihat absurditas hidup, dan tetap menjalaninya dengan penuh kebahagiaan. Chodron juga menambahkan, bahwa pengamatan tanpa penilaian haruslah diarahkan energi yang muncul dan lenyap, yang merupakan inti dari emosi.

Maka, ketika emosi yang membakar dan mencekik muncul, kita tak melawan. Kita tak menghindarinya. Kita tak mencari pelarian. Kita bersama emosi yang mencekik tersebut. Kita berserah padanya.

Kata yang digunakan adalah free fall, atau jatuh dengan bebas. Kita melempar diri kita ke dalam api membara emosi yang membakar dada. Kita menjadi rapuh di hadapan energi tersebut. Ketika menderita, menderitalah sepenuhnya, begitu kata pepatah Zen klasik.

Biasanya, kita menolak menderita. Penolakan ini bagaikan menyiram minyak ke api. Derita justru semakin mencekik jiwa. Bentuk penolakan beragam, mulai dari pengalihan isu sampai mencari pelarian dalam bentuk hal-hal yang dianggap suci oleh masyarakat.

Pelarian bisa beragam, mulai dari traveling, belanja sampai dengan berdoa. Sekilas, pelarian tersebut dianggap baik. Orang teralihkan dari emosi kuat yang menekan dadanya. Semua ini seolah semakin mendapatkan pandangan positif, ketika agama terpaut dengannya. Namun, ini semua hanya akan berujung pada penderitaan yang lebih besar, yang seolah tak mengenal akhir.

Kita mesti bersama emosi, dari awal sampai akhir. Tidak membuat cerita atasnya. Cukup berserah dan melompat dengannya, sampai ke jurang yang tak berdasar. Hanya dengan begitu, kita bisa menemukan sumber dari semua emosi dan pikiran yang muncul, yakni kesadaran murni yang kosong dan tak mengenal batas…

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.