
Oleh Reza A.A Wattimena
Minggu 10 Mei 2026, saya mengendarai motor melintasi Jakarta, dari Timur menuju Barat. Cuaca hangat, cenderung panas. Jalanan cukup lapang, sehingga berkendara menjadi terasa menyenangkan. Satu hal muncul di batin: pikiran yang terus menari di antara memori dan imajinasi.
Ada ingatan yang menyakitkan muncul. Kenangan yang menyiksa beberapa waktu sebelumnya ikut timbul. Ada kecemasan akan masa depan yang juga datang. Pertanyaan mencemaskan juga muncul di batin: mengapa bangsa ini selalu dipimpin orang busuk?
Ini kiranya merupakan pengalaman semua orang. Batin terjebak diantara memori dan imajinasi. Penyesalan atas masa lalu bergandengan dengan kecemasan atas masa depan. Tanpa pemahaman, hal ini akan menjadi derita yang tak tertahankan.
Gautama kiranya sudah mengingatkan kita, lebih dari 2500 tahun yang lalu. Batin dan pikiran yang tak terlatih adalah sumber derita terbesar. Kekayaan dan ketenaran tidak akan menyelamatkanmu. Pujian pun tidak bisa memberikan sepercik kebahagiaan, ketika pikiranmu menyisa dengan trauma dan kecemasan.
Buahnya adalah tubuh yang sakit. Gabor Mate, pemikir asal Kanada, berulang kali menegaskan, bahwa pikiran dan tubuh bukanlah dua hal yang terpisah. Derita batin akan terasa langsung di tubuh. Beragam penyakit kronis pun mungkin terjadi, termasuk turunnya daya tahan tubuh melawan beragam bakteri maupun virus yang menyerbu.
Heidegger tentang Berpikir
Maka dari itu, kita perlu memahami, apa arti berpikir. Saya mencoba merumuskan sebuah pandangan sederhana tentang berpikir. Sebelum itu, ada baiknya, kita melihat pandangan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, tentang berpikir. Dua buku kiranya menjadi acuan, yakni Was heiβt Denken? yang terbit pada 1954, dan Gelassenheit yang terbit pada 1959.
Heidegger melihat dua bentuk berpikir. Yang pertama adalah berpikir kalkulatif, atau rechendes Denken. Dengan pola ini, orang membuat rencana, menghitung dan mengejar hasil tertentu, seperti dalam bisnis. Berpikir pun menjadi alat untuk sesuatu, atau menjadi budak untuk tujuan tertentu.
Di era digital sekarang ini, orang hanya berpikir dengan pola tersebut. Orang menghitung keuntungan dari usahanya. Orang menyusun strategi untuk membuat hidupnya menjadi sukses. Namun, bagi Heidegger, pola berpikir kalkulatif bukanlah tindak berpikir yang sejati. Tidak ada pemahaman akan makna di dalamnya.
Jenis berpikir yang kedua disebutnya sebagai pemikiran meditatif, atau besinnliches Denken. Di titik ini, manusia bersikap terbuka pada dunia, sehingga makna bisa ditangkap. Pola pikir ini tidak mengejar hasil praktis. Ia merenungkan seluruh kenyataan dengan keterbukaan penuh.
Teori Heidegger tentang berpikir berada di dalam kritiknya yang lebih luas terhadap masyarakat modern. Baginya, dunia modern, termasuk dunia digital tempat kita hidup, dijajah oleh pola pikir kalkulatif. Segalanya ingin diperas, supaya manusia bisa merasakan kenikmatan yang tanpa batas. Dampaknya, manusia tercabut dari kenyataan yang tak terbatas, dan sibuk mencari keuntungan dengan menghancurkan alam.
Berpikir dan Kesadaran
Saya ingin menambahkan apa yang telah dimulai oleh Heidegger. Bagi saya, ada dua jenis berpikir. Yang pertama adalah berpikir ala monyet yang selalu melompat tanpa pola tetap. Ini adalah pikiran yang tidak memiliki tujuan yang jelas.
Orang hanya menari antara kenangan dan harapan. Orang dipenjara oleh imajinasi dan memori. Ia pun hidup dalam trauma dan kecemasan yang mencekik jiwa. Pola pikir ala monyet ini menjadi akar dari beragam penyakit yang menyerang batin maupun tubuh manusia.
Yang kedua adalah pola pikir strategis. Dengan pola ini, orang menggunakan akal budinya untuk menyelesaikan satu masalah tertentu, atau mengerjakan satu tugas tertentu. Pola pikir ini amat penting di dalam menciptakan kesuksesan di dalam hidup profesional. Beragam masalah, baik pribadi maupun sosial politik, kiranya bisa diselesaikan, jika pola pikir strategis ini dikembangkan dengan baik.
Kedua jenis berpikir ini berakar pada sesuatu yang lebih dalam, yakni kesadaran. Kesadaran sendiri, pada hakekatnya, bersifat kosong, terbuka dan tak terbatas. Namun, penghayatan akan kesadaran ini beragam pada diri setiap orang. Maka dari itu, saya mengembangkan teori transformasi kesadaran, dimana kesadaran bisa meluas menyentuh kekosongan yang tak terbatas itu sendiri.
Dengan kembali pada kesadaran yang tak terbatas, pikiran pun menjadi tajam. Ia bisa digunakan dengan baik untuk kepentingan strategis. Kreativitas berpikir berkembang pesat. Pola pikir ala monyet pun bisa berkurang dengan cepat, walaupun tak akan sungguh hilang.
Kesadaran semacam ini berada sebelum pikiran. Ia bisa sungguh dirasakan, ketika pikiran tidak lagi mendapatkan perhatian penuh. Sesungguhnya, pikiran, yang juga terus berubah, adalah hasil karya dari kesadaran ini. Ia muncul dan kemudian kembali ke dalam kesadaran yang kosong dan tak terbatas ini.
Sangat penting bagi kita untuk memahami soal tindak berpikir ini. Mutu hidup kita amat ditentukan olehnya. Dengan pola pikir strategis yang dibalut dengan kesadaran, kita bisa menyelesaikan beragam masalah teknis di dalam hidup dengan baik. Lalu, dengan kembali ke keadaan batin sebelum pikiran, dimana kesadaran bercokol, orang bisa melepaskan diri dari pikiran ala monyet yang menyiksa batin, dan menyentuh kedamaian yang sejati…
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
