Sekolah Filsafat untuk Pejabat Publik dan Partai Politik

pexels-photo-758742Oleh Reza A.A Wattimena

Kita baru kenal. Namun, frekuensi sudah sama. Ada keprihatinan kepada keadaan bangsa ini. Krisis nalar dan nurani yang menjadi wabah di berbagai sendi hidup berbangsa.

Percakapan kami mengalir di siang itu. Kami prihatin dengan mutu pejabat publik yang amat rendah. Tidak hanya tak mampu berpikir logis, kritis dan rasional, mereka juga korup. Sumber utamanya adalah partai politik yang melestarikan kebodohan dan mental maling. Lanjutkan membaca Sekolah Filsafat untuk Pejabat Publik dan Partai Politik

Pertautan Antara Kematian, Kesadaran dan Pembebasan Seutuhnya

3813603-HSC00001-7Oleh Reza A.A Wattimena

“Za, si Adi sudah ga ada.” Begitu bunyi notifikasi Whatsapp saya di malam hari. Sahabat saya itu sudah berpulang. Dia yang banyak menemani saya, ketika saya menjalani perceraian beberapa tahun lalu.

Dua bulan lalu, ia menghubungi saya. Katanya, dia kangen, dan ingin berdiskusi dengan saya. Dia memang sangat menikmati diskusi filsafat. Banyak pencerahan dan kebijaksanaan yang didapat, begitu katanya. Lanjutkan membaca Pertautan Antara Kematian, Kesadaran dan Pembebasan Seutuhnya

Publikasi Terbaru: Mencari Tuhan di dalam Otak? Mengurai Prinsip-prinsip Dasar Neuroteologi

Landscape-Surrealism-Canvas-Painting-On-Wall-Art-Optical-Illusion-Posters-And-Prints-Home-Decor-Brain-Picture.jpg_640x640Oleh Reza A.A Wattimena

Tulisan ini mengurai prinsip-prinsip dasar di dalam neuroteologi. Awalnya akan dibahas soal pemahaman dasar dan sejarah singkat neuroteologi. Lalu akan dijelaskan secara detil prinsip dan konsep kunci di dalam neuroteologi. Kajian ini memang mendamaikan dua disiplin ilmu yang selama ini dianggap bertentangan. Teologi dengan dasar iman di dalam tradisi agama tertentu. Sementara, neurosains dengan pendekatan metode penelitian ilmiah yang melulu eksperimental, rasional dan empiris. Neuroteologi mencari titik seimbang diantara keduanya, lalu digunakan untuk memperoleh pemahaman lebih jauh soal pengalaman spiritual dan kehidupan beragama manusia.

Kata-kata Kunci: Neuroteologi, Neurosains, Teologi, Otak, Tuhan

Jurnal bisa diunduh disini:

Jurnal Reza, Otak dan Tuhan

Kisah Dua Zen Master

5709Oleh Reza A.A Wattimena

Namanya Soleh. Sejak saya kecil, ia sudah berjualan es krim. Setiap sore, sekitar jam 4.30, ia lewat depan rumah saya. Suara kentungan gong kecil yang selalu membuat anak-anak di sekitar rumah saya bergembira.

Yang kedua bernama Paiman. Ia berjualan soto mie. Sekitar jam 5 sore, ia juga lewat depan rumah saya. Dulu, ibu saya suka membeli soto mie darinya. Kini, sesekali, saya juga belanja darinya. Lanjutkan membaca Kisah Dua Zen Master

Haruskah Tunduk pada Tekanan Sosial?

3155607-HSC00002-7Oleh Reza A.A Wattimena

Berkendara di Jakarta memang serba salah. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, saya berhenti. Namun, banyak kendaraan di belakang saya terus membunyikan klakson, supaya saya berjalan. Jalanan memang lagi sepi.

Saya tetap berhenti, karena saya tidak mau ambil resiko melanggar lampu lalu lintas. Saya juga tak mau membahayakan diri saya dan orang lain. Namun, tekanan sosial lewat klakson dari belakang terus berbunyi, supaya saya melaju, dan melanggar lampu merah yang sedang menyala. Pernahkah anda mengalami hal serupa? Lanjutkan membaca Haruskah Tunduk pada Tekanan Sosial?

Jangan Takut Pada Awan

this is photo compilation
this is photo compilation

Oleh Reza A.A Wattimena

31 Desember 2022, jam 12 malam. Suara petasan melingkupi ruang dan waktu. Saya sedang berada di Ameth, Nusalaut. Pulau kecil di Ambon, sekitar 2,5 jam dengan Speedboat dari Kota Ambon, atau 6 jam dengan menggunakan kapal Feri.

Dada terasa sesak. Ada emosi kuat muncul di dada. Saya tak menamainya. Saya hanya menyadari dan mengamati emosi kuat tersebut. Lanjutkan membaca Jangan Takut Pada Awan

Filosofi Sederhana Tahun 2023

surreal-hope-peace-love-nature-young-girl-pets-whale-scene-humpback-animal-floats-air-deep-dark-woods-108198271Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar Budaya, Filsafat, dan Sains)

Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno penah mengatakan, bangsa Indonesia setiap hari digembleng oleh keadaan. “Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali. Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali,” ujarnya dengan lantang. Seperti pidato di atas, di tahun 2022 ini kita mungkin juga sudah babak belur dihantam krisis. Anda dan saya bisa saja hampir hancur lebur. Tapi, kini saatnya kita bangkit.

Tidak sedikit sahabat saya berkeluh kesah karena merasa penat menjalani 2022 yang berselimut tantangan. Dalam beberapa momen di tahun ini, kita seperti digembleng dalam cobaan yang tidak dapat dipastikan kapan berakhir. Namun, mengacu pada pidato Bung Karno tadi, kita disadarkan untuk menjadi individu yang tidak boleh kalah oleh keadaan di luar kendali kita. Situasi yang sulit itu justru menjadi kesempatan bagi Anda untuk bangkit. Sebab menurut Sang Penyambung Lidah Rakyat, hanya dengan jalan demikianlah kita bisa menjadi manusia yang benar-benar “berotot kawat balung wesi” (tulang besi). Lanjutkan membaca Filosofi Sederhana Tahun 2023

Cara Tercepat (dan Termudah?) Memajukan Indonesia

1000_F_89002249_Z645Kky0Z3JhhTbwMEqdSOfvY3Gc0HPQOleh Reza A.A Wattimena

Saya tertarik menanggapi tulisan seorang teman: ini linknya. Di Rumah Filsafat, ia menulis soal cara tercepat dan termudah untuk menghancurkan negara. Bentuk dan sebarkan kehadiran lembaga-lembaga intoleran yang ekstrem dan siap melakukan kekerasan. Negara tersebut akan hancur dari dalam.

Saya ingin membalik pertanyaannya, bagaimana cara tercepat (dan mungkin termudah?) untuk membangun negara, terutama Indonesia? Ada enam jalan yang bisa ditempuh. Saya sebut termudah, karena jika ini tidak dilakukan, Indonesia bisa pecah. Perang saudara akan menghapus Indonesia dari peta dunia. Lanjutkan membaca Cara Tercepat (dan Termudah?) Memajukan Indonesia

Cara Tercepat dan Terbaik untuk Menghancurkan Negara

surreal-illustrations-poland-igor-morski-31-570de301e53b8__880Oleh Eduardus Lemanto, Kandidat Doktoral di Department of Social Philosophy of People’s Friendship University of Russia, Moskwa

Ecrasez l’infame: Ganyang barang brengsek itu!” Itu kata Voltaire (Perancis, 1694-1778). Barang brengsek itu adalah fanatisme agama dan dogma-dogmanya. Sasaran umpatan Voltaire itu adalah pertikaian antara Protestan vs Katolik eranya. Voltaire muak atas pertikaian keduanya yang disebabkan oleh “cinta monyet dan cinta buta” antara politik dan agama di Perancis. Mengapa?

Ada yang bilang, cara gampang meluluhlantakkan negara besar plural tak perlu dengan rudal-rudal raksasa atau senjata pemusnah massal. Cukuplah dengan membunuh ideologi negaranya. Ia pasti hancur berkeping-keping. Jalannya? Semailah sebanyak mungkin ideologi eksklusif-religius. Lebih lengkap lagi jika politiknya menunggangi ideologi eksklusif-religius itu. Sederetan perilaku beringas pasti segera muncul. Lanjutkan membaca Cara Tercepat dan Terbaik untuk Menghancurkan Negara

Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan

Adnams, Marion Elizabeth, 1898-1995; L'infante egaree
Adnams, Marion Elizabeth; L’infante egaree; Manchester Art Gallery; 

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti biasa, saya menyapu di pagi hari. Saya bangga, bahwa saya membersihkan rumah saya sendiri. Setiap hari, saya melakukannya. Kecuali, banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya harus beristirahat.

Tanpa sadar, pikiran saya melantur. Saya ingat beberapa peristiwa di masa lalu. Padahal, tangan saya sedang menyapu. Saya sadar, pikiran saya bergerak menjauh dari apa yang sedang saya kerjakan. Ini terjadi lumayan sering. Lanjutkan membaca Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan

Intelijen Global dan Kaum Pecandu Surga

d981753c3bcbdaae50e6273da578602e--yakuza-mafiaOleh Eduardus Lemanto, Kandidat Doktoral di Department of Social Philosophy of People’s Friendship University of Russia, Moskwa

Hati-Hati Agenda Inteligen Dunia Jelang PILPRES 2024! Peringatan ini dilontarkan A.M. Hendropriyono di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (5/7/2022). Peringatan itu datang tepat waktu, kendati ini bukan soal baru. Guru Besar Intelijen ini hanya mau membuka mata dan ingatan kita lagi dan lagi pada para pembongkar operasi intelijen dunia. David Wise & Thomas Ross dalam THE INVISIBLE GOVERNMENT. John Perkins dalam CONFESSIONS OF AN ECONOMIC HIT MAN. Noam Chomsky dalam WHO RULES THE WORLD? dan THE WASHINGTON CONNECTION AND THE THIRD WORLD FASCISM. Masih banyak lainnya. Siapa mereka? Mereka penggeledah operasi-operasi, saya menyebutnya, Geng Amerikanis (GA).

Sejak Perang Dingin GA adalah kekuatan di balik konflik-konflik sosio-politik, ekonomi dan kultural di negara-negara berkembang dan dunia ketiga. GA, geng politik-ekonomi. Mereka terbentuk dari geng lokal dan geng global. Operasi mereka di daratan Afrika, Timur Tengah (Palestina, Iraq, Afghanistan, Siria, dan lainnya), Amerika Latin dan Asia, termasuk Indonesia, telah menjadi fakta sejarah. Lanjutkan membaca Intelijen Global dan Kaum Pecandu Surga

Tentang Pesona dari Kedunguan

52222641b9983210bda305c130bb8093

Oleh Reza A.A Wattimena

Siang itu, saya berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Ada antrian panjang di sebuah restoran. Saya pun penasaran, dan mulai mencari info. Ternyata, itu adalah toko roti yang berasal dari negara lain, dan baru saja membuka toko di pusat perbelanjaan yang saya kunjungi.

Apakah roti tersebut sungguh enak, sehingga layak ditunggu dalam antrian yang lama, panjang dan menyiksa? Bagaimana dengan protokol kesehatan? Apakah itu masih berlaku? Setelah beberapa bulan, dan antrian sudah berhenti, saya mencoba roti tersebut. Lanjutkan membaca Tentang Pesona dari Kedunguan

Manusia Tiga Rangkap

eb760c93317108af36b4476bdbc36dbcOleh Dhimas Anugrah

Masalah utama jiwa manusia menurut Soren Aabye Kierkegaard adalah kebosanan, kecemasan, dan keputusasaan ( boredom, anxiety, and despair). Filsuf Denmark itu menghabiskan sebagian besar tulisannya untuk mendiagnosis ketiga penyakit ini. Anda pernah bosan? Saya pernah.

Ya, memang orang bisa bosan ketika tidak distimulus hal-hal yang menarik perhatiannya. Lanjutkan membaca Manusia Tiga Rangkap