Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

SSAE Online Exhibit: Hillsborough County 2021 - Salvador Dalí MuseumOleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda ingin hidup di negara yang bebas korupsi? Apakah anda ingin tinggal di negara bebas dari radikalisme agama yang merusak? Apakah anda ingin tinggal di negara yang pemerintah dan organisasi swastanya bekerja dengan sempurna? Saya iya.

Jalannya hanya satu, yakni benahi pendidikan. Jangan memilih menteri yang tak kompeten. Jangan memilih pejabat pendidikan atas dasar kompromi politik busuk. Indonesia terus melakukan dua hal ini, sehingga pendidikan kita sama sekali tidak bermutu. Lanjutkan membaca Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

Belajar untuk Menderita

WebSyters | Suffering in silence, Art, Fictional charactersOleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi juara. Kita diminta untuk melakukan yang terbaik di segala hal. Sistem sekolah mendukung hal itu. Sistem ekonomi kapitalisme Indonesia juga sejalan dengan itu.

Namun, kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Kita tidak pernah diajarkan untuk menderita. Padahal, di dalam hidup, orang tak selalu bisa menang dan senang. Derita dan kekalahan kerap datang berkunjung, tanpa diundang. Lanjutkan membaca Belajar untuk Menderita

Kritik atas Nalar Religius

I am not going to Mars - Surreal paintings - Gyuri Lohmuller - Paintings &  Prints, Religion, Philosophy, & Astrology, Other Religion & Philosophy -  ArtPalOleh Reza A.A Wattimena

Tiga buku Immanuel Kant membentuk wajah Filsafat Eropa Modern. Judulnya adalah Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Rasio Murni– 1781), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis– 1788) dan Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Kemampuan Mempertimbangkan – 1790). Sampai detik ini, banyak orang masih membaca buku-buku tersebut. Di dunia akademik, pandangan Kant di dalam buku-buku itu masih menjadi tema penelitian yang terus relevan.

Kata Kritik bukanlah berarti ketidaksetujuan. Di dalam ketiga buku itu, kata kritik berarti penyelidikan yang menyeluruh. Kant memang ingin memeriksa tiga kemampuan dasar dari pikiran manusia, yakni soal pengetahuan, moralitas dan estetika. Untuk Indonesia, pola kritik serupa kiranya diperlukan untuk hidup beragama. Lanjutkan membaca Kritik atas Nalar Religius

Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Garuda Indonesia | Fine Art Print | ghinan's artist shopOleh Reza A.A Wattimena

Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dari sudut pandang ini, Pancasila adalah kesepakatan yang mengikat jutaan orang yang hidup di ribuan pulau untuk hidup bersama dalam satu payung politik yang disebut sebagai Indonesia. Pancasila menampung keberagaman suku, ras, agama dan beragam turunan identitas sosial lainnya. Ia memang dirancang untuk menampung perbedaan, dan mengarahkan itu semua pada satu tujuan, yakni keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Bangsa yang Tersesat

Namun, karena beragam sebab, bangsa kita tersesat. Pancasila tetap dipegang, namun hanya sila pertama yang terus menjadi perhatian. Sila pertama ini bahkan digunakan untuk bersikap tidak adil terhadap keberagaman agama yang ada. Ketidakadilan terhadap kelompok agama minoritas, dan penindasan yang berkepanjangan terhadap hak-hak perempuan, seolah dibenarkan oleh sila pertama ini. Lanjutkan membaca Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Tentang Relasi Manusia dan Alam

Mesangat - HomeOleh Johanes Supriyono, Antropolog

Pak Yus seorang pemancing ikan di Danau Mesangat. Ketika ditanya nama panjangnya, jawab singkat: Iyus. “Nama panjang-panjang pun yang diingat orang pasti yang pendek,” kelakarnya. Sehari-hari, jika tidak sedang tidak enak badan, ia pergi memancing. Itulah pekerjaannya.

Pagi hari, ia menajur. Puluhan kail berumpan ikan-ikan kecil atau katak kecil ia pasang di permukaan Danau Mesangat. Danau itu dipenuhi ikan-ikan toman (Channa micropeltes)—ikan toman dikenal sebagai predator buas. Danau itu juga adalah habitat bagi buaya badas kuning dan buaya sepit (Tomistoma schlegelii). Meski ada spesies ikan yang lain, target utama tajur Pak Yus adalah ikan toman. Lanjutkan membaca Tentang Relasi Manusia dan Alam

Kutukan Homo Corruptus

js4853's deviantART gallery | Surrealism painting, Surrealism, PaintingOleh Reza A.A Wattimena

2012, saya menulis buku dengan judul Filsafat Anti Korupsi: Membedah Hasrat Berkuasa, Pemburuan Kenikmatan dan Sisi Hewani Manusia di balik Korupsi. Buku itu unik. Ia tidak membahas korupsi dari sisi politik ekonomi semata, seperti buku-buku korupsi pada umumnya. Buku ini membahas korupsi dari sisi pelakunya, yakni manusia yang jiwanya sudah membusuk: homo corruptus.

Homo Corruptus

Homo corruptus adalah mahluk yang koruptif. Nilainya sebagai manusia sudah membusuk. Yang ada di otaknya hanya mencuri, terutama mencuri dalam jumlah besar untuk memuaskan hasrat kerakusannya. Di Indonesia, homo corruptus memegang jabatan tinggi, mulai dari pejabat partai politik sampai dengan menteri penanggung jawab krisis. Lanjutkan membaca Kutukan Homo Corruptus

Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Madrid surrealism show offers escape from pandemic reality | Spain | The  GuardianOleh Reza A.A Wattimena

Hampir 20 tahun, saya mendalami filsafat secara sistematik. Dalam kaitannya dengan teologi dan agama, ada perdebatan-perdebatan abadi yang muncul dalam wacana filsafat. Saya berpendapat, bahwa perdebatan-perdebatan itu hampa. Semua itu muncul dari kesalahpahaman yang berakar pada agama-agama Timur Tengah.

Ada enam isu yang terus muncul. Pertama adalah isu tentang kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, juga antara iman dan ilmu. Agama dianggap berpijak pada kepercayaan murni. Sementara, ilmu berpijak pada akal budi murni. Hubungan keduanya rumit, seringkali penuh kekerasan, dan tak akan bisa terdamaikan sepenuhnya. Lanjutkan membaca Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Salvador Dali - Surreal - 101 Art GalleryOleh Reza A.A Wattimena

Sebagai sebuah jalan hidup yang lahir ribuan tahun silam, apakah Zen masih cocok untuk jaman sekarang? Inilah jaman penuh krisis yang datang bergantian. Orang hidup dalam kebingungan. Perubahan datang begitu cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian dan kecemasan besar bagi hidup banyak orang.

Zen lahir dari India, kemudian menyebar ke Cina, Jepang, Korea, Eropa, Amerika Utara dan seluruh dunia. Tak ada yang sungguh tahu, kapan Zen lahir. Ada yang merunutnya kembali ke Siddharta Gautama 2600 tahun silam. Namun, sejauh saya teliti, jauh sebelum Gautama lahir, Zen sudah berkembang subur di India. Lanjutkan membaca Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Mengapa Negeri Surga Khatulistiwa Terus Terjebak di Abad Kegelapan?

Dark Ages and Renaissance Art Masters – Dark Art and CraftOleh Reza A.A Wattimena

Negeri surga Khatulistiwa itu sungguh dicintai para dewa. Alamnya indah nan mempesona. Budayanya kaya dan berwarna. Surga dunia sudahlah hadir, dan tak perlu menunggu ajal tiba.

Negeri surga Khatulistiwa itu pernah menjadi pusat Dharma dunia. Hukum-hukum kebenaran dipelihara dan diwariskan kegenerasi berikutnya. Inilah hukum-hukum alam yang membebaskan dan membawa pencerahan. Namun, sayang, negeri surga tersebut kini tenggelam di dalam kegelapan. Lanjutkan membaca Mengapa Negeri Surga Khatulistiwa Terus Terjebak di Abad Kegelapan?

Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan

beingindonesian | Bepergian, Indonesia, DanauOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, hadirlah sebuah negeri indah di Khatulistiwa. Para dewa tersenyum, ketika negeri ini tercipta. Ribuan pulau terurai ditemani oleh sinar mentari yang tak ada habisnya. Jika sungguh ada surga, maka negeri ini adalah surga terindah yang pernah ada.

Alamnya begitu kaya. Ini mengundang iri dari seluruh dunia. Apapun yang ditabur begitu mudah tumbuh. Tanpa perawatan dari manusia, semua tercipta begitu indah, dan begitu nyata. Lanjutkan membaca Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan

Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

HendarOleh Hendar Putranto, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia

Dalam gerak cepat pertumbuhan kota dan mobilitas akseleratif yang mewarnai dinamikanya, acapkali warga kota terengah-engah untuk mengimbangi. Saat motor dan mobil berhenti di perempatan lampu merah, atau di jalur antrian pom bensin, atau sekadar menunggu kedatangan moda transportasi publik, warga kota tetap menyibukkan dirinya dengan gawai sekadar meng-update berita, atau postingan viral di medsos mereka. Sebagian sosok urban mengambil peran sebagai commuter, yang terus meruangwaktu bolak-balik, tidak jarang dalam seruak sesak kemacetan di jalan tol (sebuah ironi!), manakala yang lainnya terjepit himpitan tubuh-tubuh keringatan di gerbong KRL Commuter Line atau TransJakarta. Serba semrawut, sumpek bertumpuk, dan riuh centang-perenang bukan pemandangan luar biasa di tengah dan pinggiran kota. Sesekali, selinap pikir dan selirih peluh tentang Ada dan Makna lamat-lamat menyapa: untuk apa ini semua? Senyampang tikungan kesadaran ini, Reza datang menawarkan suaka bernama Urban Zen. Ini bukan Fatamorgana, juga bukan Panacea, tapi “tawaran kejernihan untuk manusia modern.” Lanjutkan membaca Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

Dharma sebelum Drama

Blue Dharma Fine Art: The Evolution of Bill Bowers' "Convergence" - The  Laurel of AshevilleOleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang mau hidup bebas drama? Tentu saja, kita semua. Bagi pecinta drama Korea, pola drama-drama kehidupan sudah terpahami. Intinya sederhana, yakni ada kejadian yang tak sesuai dengan kehendak kita.

Cuaca tiba-tiba berubah. Hujan deras mengguyur, ketika sedang asyik bersepeda. Atau, tiba-tiba sakit, padahal sudah makan dan tidur cukup. Banyak hal diluar kendali kita. Lanjutkan membaca Dharma sebelum Drama

Revolusi atas Revolusi Digital

Jual Aku Klik maka Aku Ada - Manusia dalam Revolusi Digital - Kab. Sleman -  Gemah Ripah Sukses Jaya | TokopediaOleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di masa revolusi digital. Di masa ini, perbedaan antara dunia maya di gawai dan dunia nyata sehari-hari menipis, bahkan lenyap sama sekali. Tak jarang, orang bekerja dan menjalin hubungan sepenuhnya di dunia digital. Ia hanya berhenti untuk makan, atau untuk ke toilet.

Apa dampak dari revolusi digital ini bagi hidup manusia secara keseluruhan? Inilah pertanyaan dasar dari Fransisco Budi Hardiman di dalam bukunya yang berjudul Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital. Buku ini diterbitkan pada 2021 oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta. Dengau pisau filsafati yang tajam, Budi Hardiman memasuki relung-relung batin manusia di masa revolusi digital, dan menyediakan panduan hidup yang dibutuhkan.    Lanjutkan membaca Revolusi atas Revolusi Digital

Seperti Embun Pagi Tersiram Mentari

HD wallpaper: man on green grass field artwork, people, ball, flowers,  surrealism | Wallpaper Flare

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita sudah salah asuh. Kita diajarkan untuk meraih sesuatu. Baru setelah itu, kita bisa bahagia. Kita diajarkan, bahkan dipaksa, untuk menjadi sesuatu yang palsu, supaya mendapat pengakuan dari keluarga.

Kita diajarkan untuk mendapatkan uang banyak. Katanya, dengan uang, kita menjadi bahagia. Kita dihormati oleh masyarakat luas. Kita mengharumkan nama keluarga. Lanjutkan membaca Seperti Embun Pagi Tersiram Mentari

Tanggapan terhadap Tanggapan Anugrah tentang Pandangan Saya Mengenai “Agama Kematian”

Berita Kolom Reza AA Wattimena Terbaru Hari ini - Kompas.comOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat

Tulisan tentang agama kematian bisa dilihat disini https://rumahfilsafat.com/2021/08/10/tak-semua-agama-baik-untuk-kehidupan/

Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam terhadap Dhimas Anugrah atas tulisannya. Beliau adalah sahabat dalam berpikir dan bergerak untuk pencerahan bangsa. Tulisan-tulisannya lembut, sekaligus reflektif. Gaya kami memang berbeda.

Dialektika pemikiran adalah kunci perkembangan budaya. Inilah yang kiranya penting untuk dilakukan. Perbedaan pendapat tak harus jadi musuh seumur hidup. Rumah Filsafat kiranya bisa menjadi ruang untuk tetap bersahabat, walaupun berbeda sudut pandang. Lanjutkan membaca Tanggapan terhadap Tanggapan Anugrah tentang Pandangan Saya Mengenai “Agama Kematian”

Menuju Religiusitas yang Sejati

Menyoal Keberagaman, Merayakan Perbedaan dalam bingkai Kebangsaan - Media  Kritis Anak BangsaOleh Hendar Putranto, Alumni STF Driyarkara, Dosen di Universitas Multimedia Nusantara, Kandidat Doktoral Universitas Indonesia

Dalam bukunya Psychoanalisis & Religion[1], seorang psikolog terkemuka sekaligus filsuf sosial abad ke-20 bernama Erich Fromm mengatakan bahwa yang menjadi persoalan pelik pada zaman ini adalah kekacauan dan kebingungan spiritual yang menjurus pada keadaan kegilaan tertentu, semacam schizophrenia. Dalam situasi kekacauan dan kebingungan ruhaniah ini, kontak diri dengan realitas batin sudah lenyap dan pikiran diceraikan dari perasaan. Kita mengajari anak-anak kita tentang kebahagiaan hidup dan prinsip-prinsip keutamaan, tetapi mereka dijejali oleh beraneka macam imaji kekerasan dan omong kosong (juga hoax!) yang bertaburan di media cetak, radio dan televisi. Tidak heran jika orang bertanya-tanya, apakah segala macam kebingungan ini dapat dicarikan solusinya? Ada sebagian ahli yang mengatakan agar kita kembali ke ajaran agama tradisional[2] (Cox & Thomson-DeVeaux, 2019) yang dapat menjadi pegangan yang pasti sekaligus penjamin rasa aman di tengah badai kebingungan ini. Namun, apakah benar demikian? Lanjutkan membaca Menuju Religiusitas yang Sejati

Menimbang Pandangan Wattimena tentang Agama Kematian

Dhimas Anugrah: Pendidikan Jadi Benteng Terakhir Kuatkan Ideologi Pancasila  | TIMES IndonesiaOleh Dhimas Anugrah, Pendiri CIRCLES Indonesia

“Tak semua agama baik untuk kehidupan,” demikian tesis artikel Reza Wattimena yang diterbitkan dengan judul sama di Rumah Filsafat 11 Agustus 2021 lalu. Judul artikelnya sendiri cukup provokatif, sekaligus menarik minat untuk melihatnya lebih dalam. Sebab, agama lazim dimengerti sebagai sistem yang mengatur tata keimanan kepada Sang Liyan dan relasi pergaulan antarmanusia serta lingkungannya. Singkatnya, agama itu baik bagi manusia dan alam. Kenneth Shouler dalam The Everything World’s Religions Book (2010) memperkirakan ada sekitar 4.200 agama di dunia. Dan, tidak kurang dari 6.4 milyar manusia di bumi ini teridentifikasi sebagai pemeluk salah satu agama. Lanjutkan membaca Menimbang Pandangan Wattimena tentang Agama Kematian

Revolusi Moral ala Zen

What is Surrealism in art and cinema? | Clipchamp GlossaryOleh Reza A.A Wattimena

Saya diundang menjadi pembicara di Webinar pada Agustus 2021 lalu. Rekan pembicara saya adalah seorang guru besar dari salah satu universitas negeri di Bandung. Ia doyan sekali berbicara soal moral. Baginya, peserta didik itu harus bermoral, yakni patuh pada orang tua, rajin beribadah, patuh pada agama dan tidak boleh berpakaian bebas.

Dalam hati saya, itu bukan moral. Itu perbudakan. Itu penjajahan. Itu penindasan. Saya menawarkan wacana tandingan. Kita tidak butuh moral dangkal semacam itu. Yang kita butuhkan adalah pemikiran kritis, kreatif dan keberanian menantang pola pikir lama yang sudah membusuk. Lanjutkan membaca Revolusi Moral ala Zen

Bijaksana Beragama

The Goddess of Wisdom | This is an original oil surrealism f… | FlickrOleh Reza A.A Wattimena

Agama hadir untuk menghadirkan keteraturan di dunia yang kacau. Sebelum agama ada, manusia hidup dalam ketidakpastian. Banyak konflik yang mengorbankan hidup orang tak bersalah. Agama pun hadir menghadirkan tatanan dengan nilai-nilai kehidupannya.

Agama adalah organisasi buatan manusia. Ia adalah komunitas orang-orang yang berbeda, namun memutuskan untuk menyatu bersama. Yang dihadirkan bukan hanya tatanan sosial, tetapi juga kedamaian batin. Agama memanusiakan manusia. Lanjutkan membaca Bijaksana Beragama