Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Nick Jeong

Oleh Reza A.A Wattimena

Pesta demokrasi, atau pemilihan umum, terbesar sudah dekat. Seperti layaknya pesta, ia bukanlah yang utama. Justru demokrasi yang sebenarnya dilaksanakan di antara masa-masa pemilihan umum semacam ini. Inilah yang kiranya terlupakan.

Demokrasi adalah kontrak sosial Indonesia. Ia tak bisa diubah sembarangan ke arah sistem politik lain. Upaya melakukan perubahan hanya akan membawa konflik berkepanjangan, karena mengkhianati kontrak sosial yang mengikat ribuan suku, ras dan agama ke dalam satu ikatan politik. Jika ini terjadi, perpecahan adalah buahnya, dan Indonesia pun hanya akan menjadi kenangan. Lanjutkan membaca Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Iklan

Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

palace-of-wisdom

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang cerdas di jaman ini. Mereka penuh dengan informasi dan pengetahuan. Namun, kebijaksanaan tak mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan tersebut digunakan untuk menipu, korupsi dan merusak kebaikan bersama.[1]

Yang dibutuhan kemudian adalah nalar kebijaksanaan (Vernunft-Weisheit). Nalar kebijaksanaan lebih dari sekedar nalar keilmuan. Di jaman sekarang ini, nalar kebijaksaanaan menjadi panduan utama, supaya kecerdasan bisa mengabdi pada kebaikan bersama. Ini juga menjadi amat penting di tengah tantangan radikalisme dalam segala bentuknya, dan banjir informasi palsu yang melanda kehidupan kita. Sebagai ibu dari semua ilmu, filsafat adalah ujung tombak untuk membangun nalar kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi