Lebaran di Kota yang Cemas: Tentang Memaafkan, Mudik, dan Hidup Tanpa Jaminan

Oleh : A. Rahadian, Pengasuh Forum Teologi Jumatan -PAC Menteng.

Malam takbiran di Jakarta selalu punya dua wajah.

Yang pertama adalah yang kita lihat: lampu-lampu kota yang tidak pernah benar-benar padam, jalanan yang penuh mobil dengan bagasi berisi kardus oleh-oleh, dan notifikasi diskon yang datang seperti doa yang dipaksa masuk lewat layar. Orang-orang membeli—bukan hanya baju baru, tapi juga perasaan bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Yang kedua lebih sunyi, tapi lebih jujur: kecemasan yang tidak diucapkan.

Kecemasan bahwa setelah ini, mungkin ada sesuatu yang retak.

Di kalender gereja Anglikan, pengampunan bukan sekadar etika sosial. Ia sakramental—bukan karena ia ajaib, tapi karena ia menyingkap sesuatu yang lebih dalam: manusia adalah makhluk yang selalu hidup dari rahmat yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Di ruang liturgi, kita mengaku dosa bukan karena Tuhan tidak tahu, tapi karena kita perlu tahu bahwa kita tidak seutuh yang kita kira. Dan dari situ, pengampunan bukan sekadar “memaafkan orang lain,” tapi menerima bahwa hidup ini sendiri adalah sesuatu yang terus-menerus diampuni.

Di Idul Fitri, bahasa itu berubah: mohon maaf lahir dan batin.
Tapi struktur batinnya mirip.

Ada pengakuan diam-diam: kita tidak bersih.
Ada harapan diam-diam: kita masih bisa pulang.

Namun Jakarta tidak pernah membiarkan sesuatu tetap sederhana.

Di kota ini, bahkan memaafkan pun kadang menjadi bagian dari performa sosial. Kita kirim pesan broadcast. Kita rapikan kata-kata. Kita bersih-bersih relasi seperti membersihkan rumah menjelang tamu datang.

Pertanyaannya bukan apakah itu salah.
Pertanyaannya: apa yang sebenarnya kita coba rapikan?

Mungkin bukan hanya relasi.
Mungkin kita sedang mencoba merapikan kecemasan.

Tahun ini, kecemasan itu punya latar yang lebih besar dari biasanya.

Di luar sana, perang dan konflik energi sedang mengganggu dunia. Eskalasi konflik Iran telah mendorong harga minyak naik dan mengganggu jalur pasokan global—sesuatu yang pelan-pelan merembes sampai ke dapur rumah tangga kita . Rupiah tertekan, inflasi mengintip, dan negara seperti Indonesia—yang masih bergantung pada impor energi—harus bersiap menghadapi tekanan fiskal dan daya beli masyarakat yang makin rapuh .

Di berita, semua ini terdengar makro.

Di Jakarta, ia berubah jadi mikro: harga naik sedikit, cicilan terasa lebih berat, dan masa depan terasa lebih pendek.

Bahkan mudik—ritus paling hangat dalam budaya kita—tahun ini dibayangi kegelisahan yang ganjil. Lebih dari separuh populasi bergerak pulang, tapi dengan kekhawatiran akan kenaikan harga energi dan potensi kelangkaan setelahnya .

Seolah-olah kita semua tahu, tapi sepakat untuk tidak membicarakannya terlalu keras:

setelah Lebaran, mungkin ada sesuatu yang lebih berat menunggu.

Di titik ini, konsumsi menjadi semacam liturgi tandingan.

Kita membeli baju baru, kue, tiket, oleh-oleh—bukan semata karena tradisi, tapi karena kita ingin menciptakan satu momen di mana semuanya terasa utuh. Sehari. Dua hari. Seminggu.

Seolah-olah dengan cukup banyak barang, kita bisa menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat.

Tapi waktu selalu bergerak.

Dan kecemasan, seperti utang, jarang benar-benar hilang. Ia hanya ditunda.

Maka memaafkan, dalam konteks ini, menjadi jauh lebih radikal daripada yang kita kira.

Bukan sekadar memaafkan kesalahan orang lain saat kumpul keluarga.
Tapi memaafkan hidup yang tidak pernah sepenuhnya stabil.

Memaafkan diri sendiri yang tidak selalu kuat.
Memaafkan keadaan yang tidak pernah sepenuhnya adil.
Memaafkan masa depan yang tidak pernah bisa dijamin.

Dalam tradisi Anglikan, ada satu intuisi yang diam-diam menguatkan: grace precedes us—rahmat mendahului kita. Bahkan sebelum kita beres, sebelum ekonomi stabil, sebelum hidup masuk akal, ada sesuatu yang sudah lebih dulu memeluk kita.

Dan mungkin itu satu-satunya hal yang tidak ikut berfluktuasi bersama harga minyak.

Jakarta akan kembali ramai setelah Lebaran.
Mall akan penuh lagi.
Tagihan akan datang.
Dan dunia mungkin tidak menjadi lebih ringan.

Tapi harapan, kalau mau jujur, tidak pernah bergantung pada stabilitas dunia.

Harapan lahir justru ketika kita berhenti menunggu dunia menjadi aman, dan mulai belajar hidup tanpa jaminan—tanpa harus membeli rasa aman itu dari luar.

Maka mungkin refleksi paling jujur di hari raya ini bukan:

“Semoga semuanya baik-baik saja.”

Tapi sesuatu yang lebih sunyi, lebih berani:

“Kalau pun tidak baik-baik saja,
aku tidak akan hidup dari ketakutan.
Aku akan hidup dari rahmat.”

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.