Kelas Menengah Jakarta di Tepi Jurang yang Bersih, April 2026
Oleh A. Rahadian
Di sebuah kedai kopi kecil di gang belakang Setiabudi, diapit kontrakan tiga lantai dan gerobak jagung manis yang asapnya naik pelan di pagi hari, seorang perempuan berusia tiga puluhan duduk dengan laptop yang sudah menyala sejak tadi. Di sebelah kirinya, tukang es krim Walls mendorong gerobaknya pelan tanpa tergesa. Di sebelah kanan, tukang seblak baru menyalakan kompor. Kedai ini tidak punya nama yang terkenal, tidak punya interior yang difoto orang, tidak punya playlist yang dikurasi. Yang ada hanya meja kayu, kipas angin, WiFi yang lumayan, dan kopi susu seharga dua puluh ribu yang rasanya tidak perlu dipertanyakan.
Perempuan itu membuka tiga tab. Spreadsheet anggaran. Berita soal blokade Selat Hormuz yang kembali memanas. Lowongan kerja yang sudah ia buka sejak seminggu lalu tapi belum pernah ia klik tombol apply.
Kontraknya habis Juni.
Bosnya belum bicara apa-apa.
Di luar, Jakarta bergerak seperti biasa. Tukang seblak memasak. Es krim Walls dijejer ulang. Anak kos lewat dengan helm masih terpasang di kepala.
Inilah kecemasan April 2026: ia tidak berteriak. Ia duduk manis di sebelah kita, memesan kopi yang sama, dan tidak pernah pergi.
Perang yang Terasa di Struk Belanja
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran dalam operasi yang mereka beri nama Operation Epic Fury, sebuah nama yang terdengar seperti judul film aksi kelas B tapi konsekuensinya hadir di tempat-tempat yang sangat biasa: di SPBU, di harga plastik kemasan, di tagihan listrik yang naik diam-diam.¹ Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz. Harga minyak Brent melonjak dua puluh tujuh persen dalam dua pekan.² Rupiah sempat menyentuh Rp 17.000 per dolar.³ Avtur naik tujuh puluh dua persen dalam sebulan.⁴ Harga nafta, bahan baku plastik yang tujuh puluh persennya berasal dari Timur Tengah, melonjak empat puluh lima persen.⁵
Gencatan senjata rapuh disepakati 8 April. Lalu buyar lagi.⁶ Hari ini, negosiasi di Islamabad macet. AS bersiap memblokade pelabuhan Iran. Iran memperingatkan bahwa tidak ada keamanan bagi siapapun jika itu terjadi.⁷
Perang belum selesai.
Dan di gang belakang Setiabudi, kopi tetap dua puluh ribu.
Tapi harga ayam naik. Ongkos ojek naik. Seblak yang dulu dua belas ribu sekarang empat belas. Kenaikan ini tidak dramatis. Ia hadir seperti air yang merembes pelan melalui dinding: tidak langsung ambruk, tapi suatu hari temboknya lapuk juga.
Otak yang Tidak Bisa Beristirahat
Untuk memahami apa yang terjadi di dalam diri perempuan di kedai kopi itu, ada baiknya kita mampir sebentar ke laboratorium neurosains.
Lisa Feldman Barrett, neurosaintis dari Northeastern University, berargumen dalam Seven and a Half Lessons About the Brain (2020) bahwa otak manusia pada dasarnya bukan organ yang bereaksi terhadap dunia, melainkan organ yang terus-menerus memprediksi dunia.⁸ Otak bekerja seperti manajer anggaran energi tubuh: ia membuat proyeksi terus-menerus tentang apa yang akan terjadi berikutnya, agar bisa menyiapkan respons sebelum ancaman benar-benar tiba. Sistem ini efisien dalam kondisi normal. Tapi dalam kondisi ketidakpastian yang berkepanjangan, ketika prediksi terus-menerus meleset karena dunia tidak berjalan seperti yang diharapkan, otak masuk ke kondisi yang Barrett sebut sebagai prediction error yang berulang.⁹
Prediction error yang terus-menerus menguras energi. Ia muncul bukan sebagai rasa takut yang jelas, melainkan sebagai kelelahan difus, kegelisahan tanpa objek, sensasi bahwa sesuatu yang tidak bisa diberi nama sedang mengancam dari arah yang tidak bisa ditunjuk.
Inilah yang dialami kelas menengah Jakarta bukan sejak kemarin, tapi sejak bertahun-tahun: hidup dalam kondisi di mana prediksi terus gagal. Kontrak yang katanya akan diperpanjang, tidak. Karir yang katanya akan stabil, tidak. Dunia yang katanya akan lebih baik setelah pandemi, tidak sepenuhnya. Dan sekarang, perang di belahan bumi lain yang terasa sangat jauh tapi harganya muncul di struk belanja setiap minggu.
Otak yang lelah memprediksi akhirnya belajar satu hal: lebih baik tidak terlalu berharap. Dan dari sana, diam-diam, lahirlah sesuatu yang lebih berbahaya dari kesedihan biasa.
Kecemasan yang Tidak Punya Nama yang Tepat
Kierkegaard, dalam The Concept of Anxiety (1844), menulis bahwa kecemasan berbeda dari rasa takut dalam satu hal yang mendasar: rasa takut punya objek yang jelas, sementara kecemasan melayang bebas, menempel pada segala sesuatu dan tidak ada sesuatu sekaligus.¹⁰ Kita takut pada ular yang ada di depan kita. Tapi kita cemas terhadap kemungkinan bahwa ada ular, mungkin, di suatu tempat, di masa depan yang tidak bisa kita lihat.
Kecemasan April 2026 adalah kecemasan Kierkegaard yang datang bersamaan dari terlalu banyak arah: perang yang jauh tapi terasa dekat, kontrak kerja yang belum diperpanjang tapi belum juga diputus, inflasi yang belum resmi krisis tapi sudah mengubah pilihan di supermarket. Tidak ada satu momen dramatis. Tidak ada titik balik yang bisa ditunjuk. Hanya akumulasi ketidakjelasan yang menumpuk pelan-pelan seperti debu.
Filsuf kontemporer Samir Chopra, dalam Anxiety: A Philosophical Guide (Princeton University Press, 2024), memperluas argumen Kierkegaard dengan menambahkan dimensi sosial: kecemasan modern tidak hanya tentang kematian atau kebebasan dalam pengertian eksistensial klasik, tapi tentang kegagalan narasi.¹¹ Kita cemas ketika cerita yang kita pegang tentang diri kita, tentang karir kita, tentang masa depan yang kita bayangkan, tiba-tiba tidak bisa lagi dipercaya sebagai peta yang akurat.
Kelas menengah Jakarta tumbuh dengan satu narasi utama: kerja keras, pendidikan yang bagus, pilihan yang cerdas, akan menghasilkan kehidupan yang stabil dan bermakna. Narasi itu bukan bohong. Tapi ia tidak lengkap. Ia tidak pernah menyebut bahwa stabilitasnya bergantung pada Selat Hormuz yang terbuka, pada perusahaan yang tidak di-restructure, pada rupiah yang tidak melemah terlalu dalam, pada perang yang tidak terjadi di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Ketika narasi itu retak, yang retak bukan hanya rencana.
Yang retak adalah identitas.
Kelas yang Tidak Punya Kata untuk Kerentanannya Sendiri
Kelas menengah Jakarta adalah kelas yang paling sulit dikasihani, termasuk oleh dirinya sendiri.
Ia terlalu mapan untuk merasa miskin, terlalu goyah untuk merasa aman. Ia hidup di zona abu-abu yang tidak punya nama resmi dalam bahasa keluhan Indonesia: terlalu kaya untuk dapat BLT, terlalu tidak kaya untuk tidak merasa was-was ketika kontrak tidak diperpanjang. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, hingga Maret 2026, sebanyak 8.389 orang sudah menjadi korban PHK.¹² Angka itu terdengar jauh, sampai salah satunya adalah teman kantor, atau kakak yang tiba-tiba mengirim pesan dengan nada yang terlalu santai untuk tidak menyimpan sesuatu.
Yang lebih menggelisahkan dari angka PHK adalah sesuatu yang tidak masuk statistik: kontrak yang tidak diperpanjang tanpa penjelasan, proyek yang di-hold tanpa kepastian, klien yang tidak membalas email. Di sektor kreatif, agensi, dan perusahaan rintisan, ketidakpastian ini bekerja dengan cara yang lebih halus dan lebih merusak. Tidak ada momen yang dramatis. Tidak ada tanggal yang jelas. Hanya ketidakjelasan yang diperpanjang, seperti gencatan senjata yang tidak pernah benar-benar damai.
LPEM Universitas Indonesia mencatat bahwa daya beli kelas menengah tergerus sejak konflik Iran memanas.¹³ Dana yang seharusnya untuk tabungan kini pergi ke kebutuhan pokok yang harganya naik. Ini terdengar seperti masalah anggaran. Padahal ia adalah masalah identitas: ketika kita tidak bisa lagi menabung untuk masa depan, masa depan itu sendiri terasa seperti konsep yang perlahan kabur.
Selera yang Tidak Ikut Krisis
Di sinilah sesuatu yang paling menarik sekaligus paling manusiawi terjadi.
Seleranya tidak ikut turun.
Kopi tetap dipesan meskipun harganya naik dua ribu. Makan siang di tempat yang agak bagus tetap dilakukan setidaknya dua kali seminggu. Skincare tidak dikurangi. Konser tetap dihadiri. Bukan karena tidak sadar tentang keadaan ekonomi, tapi justru karena sadar.
Psikologi perilaku menyebut ini lipstick effect: kecenderungan mempertahankan pengeluaran kecil yang memberi kesenangan di tengah ketidakpastian besar.¹⁴ Tapi di Jakarta, ia bekerja lebih dalam dari sekadar psikologi konsumen. Ia adalah pernyataan eksistensial. Cara seseorang mengatakan kepada dunia, dan kepada dirinya sendiri: aku belum jatuh. Aku masih bisa memilih. Aku masih ada.
Barrett akan membacanya sebagai upaya otak meregulasi allostasis: tubuh yang tertekan mencari input sensoris yang bisa diprediksi dan menyenangkan sebagai cara menstabilkan anggaran energinya.¹⁵ Kopi yang sama setiap pagi bukan sekadar ritual, ia adalah jangkar prediktif dalam hari yang penuh prediction error.
Dan di gang belakang Setiabudi, jangkar itu harganya dua puluh ribu.
Cukup terjangkau untuk dipertahankan.
Cukup nyata untuk dirasakan.
Yang Diam di Balik Semua yang Terlihat
Suatu sore, perempuan itu akhirnya menutup tab lowongan kerja. Bukan karena sudah melamar. Bukan karena sudah memutuskan tidak akan melamar. Hanya karena belum siap untuk salah satu dari keduanya.
Di luar, tukang jagung manis membakar jagungnya dengan sabar. Es krim Walls masih berjejer. Tukang seblak mulai ramai pembeli sore. Kehidupan bergerak dengan kecepatan yang tidak peduli pada kecemasan siapapun.
Dan mungkin di situlah sesuatu yang penting tersembunyi: di gang itu, di antara orang-orang yang tidak punya kontrak yang akan habis atau investasi yang terancam, kecemasan bekerja dengan cara yang berbeda. Lebih konkret, lebih langsung. Harga naik, penghasilan turun, selesai. Tidak ada ruang untuk kecemasan eksistensial tentang narasi yang retak, karena narasinya memang tidak pernah menjanjikan terlalu banyak.
Kelas menengah menanggung beban yang ganjil: ia cukup beruntung untuk memiliki harapan, dan cukup tidak beruntung untuk melihat harapannya terancam terus-menerus tanpa pernah benar-benar hancur sekaligus. Itu bukan tragedi. Tapi ia bukan kenyamanan juga.
Ia adalah kondisi yang Yalom, psikiater eksistensial, sebut sebagai hidup di antara dua ketidakmungkinan: terlalu sadar untuk tidak cemas, terlalu sibuk untuk benar-benar merasakannya sampai selesai.¹⁶
Kecemasan yang paling berat bukan yang berteriak.
Ia yang duduk di sebelah kita di kedai kopi gang belakang Setiabudi, menyeruput kopi yang sama, mendengar suara gerobak jagung manis yang lewat, dan tidak pernah bicara tentang Juni.
Catatan Kaki
¹ Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Lihat: Wikipedia, “Perang Iran 2026,” diakses 14 April 2026; IESR, “Ketika Perang Sampai ke Meja Makan,” 4 Maret 2026, iesr.or.id.
² Lonjakan harga minyak Brent 27 persen dalam periode 27 Februari hingga 9 Maret 2026. LPEM UI, “Dampak Perang Iran-AS terhadap Perekonomian Indonesia,” Maret 2026, lpem.org.
³ Rupiah sempat menyentuh Rp 17.000 per dolar AS pada 9 Maret 2026. LPEM UI (2026), ibid.
⁴ Kenaikan harga avtur 72 persen sejak 1 April 2026. Beritaenam.com, “Update Perang Iran April 2026: Kronologi 40 Hari,” diakses April 2026.
⁵ Harga nafta naik hampir 45 persen, menyentuh 917 USD/ton per 1 April 2026. Kompas.com, “Dampak Perang Iran Kian Terasa di Indonesia, Kenapa Harga Plastik Naik Tinggi?” 6 April 2026.
⁶ Gencatan senjata 8 April 2026. CNBC Indonesia, “Update Perang AS-Iran: Gencatan Senjata Buyar, Selat Hormuz Diblokade,” 13 April 2026.
⁷ Situasi per 14 April 2026. CNBC Indonesia (2026), ibid; Kompas.com, “Serangan AS-Israel Bikin Iran Rugi Rp 4.626 Triliun,” 14 April 2026.
⁸ Lisa Feldman Barrett, Seven and a Half Lessons About the Brain (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2020).
⁹ Lisa Feldman Barrett & W. Kyle Simmons, “Interoceptive Predictions in the Brain,” Nature Reviews Neuroscience, Vol. 16, 2015, hlm. 419-429; Barrett, “The Theory of Constructed Emotion,” Social Cognitive and Affective Neuroscience, 2017, doi:10.1093/scan/nsw154.
¹⁰ Søren Kierkegaard, The Concept of Anxiety (1844; terjemahan Reidar Thomte, Princeton University Press, 1980).
¹¹ Samir Chopra, Anxiety: A Philosophical Guide (Princeton: Princeton University Press, 2024).
¹² Data PHK Maret 2026, Kementerian Ketenagakerjaan RI, sebagaimana dilaporkan Viva.co.id, 13 April 2026.
¹³ LPEM UI (2026), ibid. Lihat juga: LBS Urun Dana, “7 Dampak Perang Iran vs Amerika bagi Ekonomi Indonesia,” 2 Maret 2026, lbs.id.
¹⁴ Juliet Schor, The Overspent American (New York: Basic Books, 1998); Robert H. Frank, Falling Behind: How Rising Inequality Harms the Middle Class (Berkeley: University of California Press, 2007).
¹⁵ Barrett (2020), ibid; Barrett & Simmons (2015), ibid.
¹⁶ Irvin D. Yalom, Existential Psychotherapy (New York: Basic Books, 1980).
====
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
