Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

jardin-zen-en-miniatura-1024x682Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 11 malam, Jumat 13 Mei 2022. Perut melilit. Sakitnya nyaris tak tertahankan. Saya pun terbangun.

Cuaca sejuk dan nikmat. Semuanya sempurna, kecuali perut yang berteriak. Perpaduan kopi, susu, arak, babi guling pedas dan bir memang mematikan. Saya sudah menduganya. Lanjutkan membaca Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

Zen dalam Satu Untai Puisi

Sol, Nuptials of Zen (Talon Abraxas) ~ flying dakiniOleh Reza A.A Wattimena

Puisi yang tepat akan menghantarkan kita ke gerbang pencerahan. Itu yang kiranya saya rasakan.

Tak heran, begitu banyak Zen Master yang menulis puisi. Mereka menyampaikan pesan-pesan pencerahan di dalam untaian puisi yang menggetarkan hati.

Zen adalah jalan tanpa jalan. Tidak ada teori.

Tidak ada rumusan. Yang ada hanyalah upaya untuk mengekspresikan inti dari segala yang ada, yakni kekosongan yang maha luas. Lanjutkan membaca Zen dalam Satu Untai Puisi

Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

9,149 Broom Sweep Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Setiap harinya, puluhan email masuk ke saya. Sebagian bertanya tentang filsafat. Sebagian lagi bertanya soal Zen dan meditasi. Beberapa bisa saya jawab. Namun, tak semuanya bisa tersentuh.

Soal filsafat sudah sering saya bahas, baik di website, buku maupun seminar. Soal meditasi sebenarnya juga sudah. Namun, saya merasa perlu untuk membahas soal ini secara sistematik dan sederhana. Lahirlah tulisan ini. Lanjutkan membaca Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

Tentang ini, Saya sangat Egois…

Surrealistic Paintings by Vladimir Kush
Vladimir Kush

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita pasti pernah mengalami perubahan suasana hati tiba-tiba. Kata-kata orang lain yang menyakitkan, misalnya, bisa memicu itu. Lalu, pikiran kacau. Emosi pun memuncak.

Saya juga pernah mengalami hal serupa terkait dengan cuaca. Tiba-tiba, cuaca berubah total. Hujan lebat mengguyur. Seluruh tubuh, termasuk dompet dan alat elektronik saya, basah sampai ke dalam. Suasana hati langsung rusak. Lanjutkan membaca Tentang ini, Saya sangat Egois…

Senada dengan Duka

Grappling with grief | Grief, Grieve, Tree drawing

Oleh Reza A.A Wattimena

10 tahun terakhir, hidup saya dipenuhi dengan kematian. Satu persatu, keluarga saya pergi meninggalkan tubuhnya. 2010, nenek saya meninggal. Saya dekat dengannya, karena ia tinggal bersama dan turut membesarkan saya.

Saat itu, saya belum mengenal Zen, ataupun latihan batin lainnya. Saya melihatnya sebagai sesuatu yang masuk akal, walaupun ada rasa kehilangan yang membuat dada sesak. Dia sudah tua dan sakit, lalu meninggal. Alam sedang bekerja. Lanjutkan membaca Senada dengan Duka

Tulisan ini,.. Mungkin Akan Menyelamatkan Hidup Anda

Surreal still life painting with horse. Vase with water. Animal. - All my  world inside Painting by Nastya Parfilo | Saatchi Art
Nastya Parfilo

Oleh Reza A.A Wattimena

Pikiran memang ajaib. Di tengah keindahan, ia bisa menghadirkan derita neraka, misalnya melalui kenangan masa lalu yang kelam. Di tengah pedihnya nestapa, ia bisa menghadirkan kegembiraan, misalnya dengan harapan ke depan yang lebih cerah. Segalanya, kiranya, dibentuk dari pikiran.

Dari hal kecil, pikiran bisa menghadirkan hal-hal besar yang tak sungguh ada. Dari hal besar, pikiran bisa mengerdilkannya. Satu cacat seolah bisa mengakhiri segalanya, karena pikiran yang bergerak berlebih. Hidup bisa berakhir, karena pikiran yang terus menyiksa batin. Lanjutkan membaca Tulisan ini,.. Mungkin Akan Menyelamatkan Hidup Anda

Makna Kehidupan

Tree of Life - Surrealism - The Global Art Company
Erik Brede

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah cukup lama, beberapa teman bertanya kepada saya. Ada yang melalui email, atau pertanyaan di media sosial. Apa makna hidup ini? Pertanyaan singkat, namun menuntut permenungan yang mendalam.

Pertanyaan ini menjadi penting, ketika krisis menghantui. Ketidakpastian mengancam masa depan. Penyesalan atas masa lalu juga menikam dada. Pandemik menambah daftar hal-hal yang menakutkan di dalam hidup manusia. Lanjutkan membaca Makna Kehidupan

Dekonstruksi Yoga, Dekonstruksi Kehidupan

91M8VYAZkTLOleh Reza A.A Wattimena

April 2020, dunia didera oleh Pandemik. Virus kecil tidak hanya mengancam nyawa manusia, tetapi juga ekonomi dunia. Kemiskinan dan krisis ekonomi siap menghantam, setelah pandemik tiba. Dunia dilanda ketakutan mendalam.

April 2020, dunia hidup dalam era penyakit. Setiap detiknya, jutaan orang meninggal, karena penyakit yang disebabkan oleh tubuhnya sendiri. Virus tak perlu datang. Tak perlu bakteri berkunjung. Cukup kelainan fungsi organ, mulai dari jantung, kanker, diabetes sampai gagal ginjal, karena gaya hidup yang merusak, jutaan manusia menuju ajalnya. Lanjutkan membaca Dekonstruksi Yoga, Dekonstruksi Kehidupan

Dekonstruksi Kematian

510p9yHSQ+LOleh Reza A.A Wattimena

Berita kematian menggempur kita sekarang ini. Di berbagai belahan dunia, pandemik dan konflik membuat kita terjebak dalam kecemasan. Setiap hari, jumlah korban terus bertambah. Tanpa kejernihan dan sikap kritis, semua ini bisa membuat orang tenggelam dalam ketakutan yang justru membunuhnya.

Glenn Fredly, salah satu musisi terbaik di Indonesia, juga baru saja meninggal. Dia adalah tokoh yang menginspirasi begitu banyak musisi di Indonesia. Figurnya kuat dan penuh warna. Kematiannya membuat kita semakin takut dan cemas, terutama di tengah pandemik yang terus diberitakan secara tak seimbang oleh media maupun pemerintah. Lanjutkan membaca Dekonstruksi Kematian

Korupsi, Zen, Filsafat dan Kehidupan: Sebuah Percakapan Santai namun Ilmiah

Tema: Pendidikan Anti-Korupsi Berbasis Nilai- Nilai Pancasila

Fasilitator : Hendar Putranto, M. Hum.

Narasumber: Dr. der Phil. Reza A.A Wattimena

Hari, tanggal: Selasa, 12 Juni 2018 (14.00-14.50)

Lokasi: Booth Dairy Queen, Mall Kota Kasablanka

Sesi Pembuka oleh Hendar Putranto, M. Hum.

Oke, hari ini tanggal 12 Juni 2018, bertempat di Dairy Queen, Kota Kasablanka jam 13.55. Hendar Putranto sebagai ketua tim peneliti skema PKPT, sebagai ketua tim TPP (Tim Peneliti Pengusul) sedang bertemu dengan narasumber, salah satu narasumber ahli untuk pendalaman tema: Anti-Korupsi Berbasis Nilai-Nilai Pancasila. Beliau bernama Reza Wattimena, doktor filsafat lulusan dari Universitas Munchen[1] jurusan filsafat dan kapasitas beliau sebagai penulis buku Filsafat Anti-Korupsi yang diterbitkan Kanisius tahun 2012. Atas dasar itulah, maka Hendar mengontak Dr. Reza Wattimena untuk dijadikan narasumber terkait dengan pendalaman tema Anti-Korupsi Berbasis Nilai-Nilai Pancasila. Lanjutkan membaca Korupsi, Zen, Filsafat dan Kehidupan: Sebuah Percakapan Santai namun Ilmiah

Tentang Kesalahan-Kesalahan dalam Hidup

Tara Minshull

Oleh Reza A.Awattimena

Apakah ada kesalahan dalam hidup? Kita sering mengira, bahwa kita telah salah memilih. Kita tidak sungguh mempertimbangkan semua unsur di dalam keputusan kita. Ketika merasa rugi, kita lalu menyesal.

Penyesalan adalah salah satu sumber utama penderitaan. Banyak orang tersiksa batinnya, karena penyesalan menggerogoti pikirannya. Sejuta pelarian pun dicarinya, mulai dari narkoba sampai bunuh diri. Bagaimana kita memahami kesalahan-kesalahan di dalam hidup? Lanjutkan membaca Tentang Kesalahan-Kesalahan dalam Hidup

Zen dalam Percakapan

Thomas Michel Contemporary Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Praktisi Zen, Tinggal di Jakarta

Tulisan ini berawal dari percakapan dengan seorang teman. Sebagai anak dari keluarga pengusaha, ia sebenarnya cukup beruntung. Ia bisa mendapatkan penghidupan yang layak, dan pendidikan yang bermutu tinggi. Setelah itu, ia pun diharapkan bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga.

Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi pekerja keras. Keluarganya berharap, supaya ia bisa menjadi fondasi keluarga, ketika orang tuanya tidak lagi mampu mengelola bisnis. Maka dari itu, ia pun diajar untuk menjadi manusia yang memiliki ambisi besar. Nilai-nilai persaingan, kerja keras dan fokus adalah nilai-nilai yang telah ia terima, sejak kecil. Lanjutkan membaca Zen dalam Percakapan

Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Ryohei Hase

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta 

Apa teknologi yang paling canggih di muka bumi ini? Sebagian orang akan bilang, pesawatlah teknologi tercanggih di dunia ini, apalagi pesawat luar angkasa. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, ada satu teknologi lagi yang lebih canggih dari pesawat luar angkasa. Jawabannya mungkin tak terduga, yakni tubuh manusia.

Tubuh, Pikiran dan Emosi

Tubuh manusia memiliki beragam mekanisme yang amat kompleks. Sistem pencernaan berjalan harmonis dengan sistem pernafasan, sekaligus sistem saraf. Semuanya saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Tubuh manusia juga mampu secara alami mengubah semua jenis makanan menjadi bagian dari dirinya. Lanjutkan membaca Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Ketika Tersesat

f150c4436370d2204660969b191a502d
pinterest.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam hidup, kita kerap kali merasa tersesat. Kita kehilangan pegangan hidup, karena masalah dan krisis datang bertubi-tubi, seolah tanpa henti. Ibaratnya keluar dari mulut harimau, dan masuk ke mulut singa. Tegangan hidup menghantam terus, tanpa memberi jeda.

Kita pun juga kerap kali merasa kehilangan arah. Kita tidak lagi punya tujuan hidup yang jelas. Pegangan hidup seolah rapuh, dan begitu mudah lepas. Kita tidak lagi menemukan makna dari apa yang sedang kita lakukan. Lanjutkan membaca Ketika Tersesat

Sekali Lagi: Tentang Pikiran Manusia

noupe.com
noupe.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang Penelitian PhD di Munich, Jerman

Sewaktu pertama kali datang ke kota Munich di Jerman 3 tahun yang lalu, saya tidak suka kota ini. Orang-orangnya tidak ramah. Mereka bergerak amat cepat, dan tidak peduli dengan orang lain. Suasananya menciptakan kesepian dan rasa tegang.

Namun, setelah tinggal disini beberapa lama, pendapat saya berubah. Orang-orang Munich tetap cuek dan berjalan amat cepat, tetapi itulah budaya dan kebiasaan mereka. Ini tidak baik, dan juga tidak buruk. Dalam banyak aspek, Munich adalah kota yang nyaman sebagai tempat tinggal, dan membangun keluarga.

Jadi, awalnya, saya berpikir A. Dan kemudian, saya berpikir B. Berikutnya, mungkin, saya akan berpikir C. Yang mana yang benar? Bagaimana memahami pikiran yang berubah-ubah ini?

Pikiran Manusia

Kota Munich tetap ada disini dan saat ini. Namun, kesan saya berubah. Pengalaman saya berubah. Kesan dan pengalaman saya pun mempengaruhi sikap hidup saya disini.

Darimana datangnya kesan dan pengalaman? Jawabannya jelas, yakni dari pikiran. Dari mana asal pikiran manusia? Ini pertanyaan menarik yang mendorong para ilmuwan dari berbagai bidang untuk melakukan penelitian. Lanjutkan membaca Sekali Lagi: Tentang Pikiran Manusia

Apa yang Sesungguhnya Ada

silvieandmaryl.com
silvieandmaryl.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat di Unika Widya Mandala Surabaya

Sejak awal keberadaannya, manusia ingin memahami dunianya. Ia juga ingin memahami dirinya sendiri. Dorongan ini bersifat alamiah. Ia akan selalu ada, selama manusia masih hidup.

Memahami dunia berarti mengamati dunia apa adanya. Mengamati dunia apa adanya berarti mengamati dunia di dalam perubahannya. Segala sesuatu terus berubah, tanpa henti. Kita tak akan pernah menginjakkan kaki di sungai yang sama, begitu kata Herakleitos, filsuf Yunani Kuno.

Apa yang kita lihat sekarang bukanlah yang kita lihat sebelumnya. Setiap tujuh tahun, tubuh manusia berganti sepenuhnya. Ia menjadi manusia yang sama sekali baru. Yang sama dari manusia itu dengan manusia sebelumnya hanyalah namanya.

Apa yang kita anggap tetap dan akan memuaskan kita pada akhirnya akan berubah, dan lenyap dari muka bumi ini. Apa yang kita perolah akan berubah, dan akan lenyap. Apa yang kita pegang erat-erat juga akan berubah. Apa yang kita perjuangkan dengan seluruh hidup kita akan hilang ditelan angin.

Memahami kenyataan di dalam perubahannya berarti juga memahami alam di dalam keterhubungannya. Segala hal saling terhubung satu sama lain. Hukum-hukum fisika yang bekerja, ketika kita mengangkat tangan kita, sama dengan hukum-hukum fisika yang menggerakan meteor di ruang angkasa nan jauh disana. Perbedaan hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran kita yang terbatas. Lanjutkan membaca Apa yang Sesungguhnya Ada

Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan

http://1.bp.blogspot.com/

Penafsiran Ulang atas Pemikiran Friedrich Nietzsche

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

         Dunia politik di Indonesia diwarnai kemunafikan. Para politisi mengumbar janji pada masa pemilu, guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah menduduki kursi kekuasaan, mereka lupa, dan menelantarkan rakyatnya. Tak hanya itu ketika menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat, demi memperkaya diri mereka sendiri, atau menutup pengeluaran mereka, ketika pemilu. Seringkali uang hasil korupsi dibagi ke teman-teman dekat, bahkan ke institusi agama, untuk mencuci tangan. Jika sudah begitu mereka lalu mendapatkan dukungan moral dan politik dari teman-teman yang “kecipratan” uang, dan bahkan dukungan moral-religius dari institusi agama. Bukan rahasia lagi inilah pemandangan sehari-hari situasi politik di Indonesia. Kekuasaan diselubungi kemunafikan yang bermuara pada penghancuran kehidupan rakyat jelata. Lanjutkan membaca Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan

Gilles Deleuze dalam Perspektif

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Gilles Deleuze, seorang filsuf yang bunuh diri pada awal November 1995 setelah menghabiskan beberapa tahun dalam siksaan sakit paru-paru, adalah seorang sosok filsuf yang menimbulkan banyak kontroversi, terutama di Perancis. Otomatis, publik Perancis pada waktu itu terdiam kaku mendengar berita tragis kematiannya.

Padahal, pemikiran Deleuze sungguh mengajarkan kita untuk menerima hidup apa adanya.[1] Ia mengajarkan supaya kita menjaga ‘kehendak untuk hidup’ di dalam diri kita. Katanya, “orang selalu menulis untuk menghadirkan sesuatu ke dalam kehidupan, untuk membebaskan kehidupan dari penjaranya.” (Deleuze, 1990). Sangat menyakitkan bahwa justru seorang filsuf, yang sangat menerima dan mencintai kehidupan, melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Lanjutkan membaca Gilles Deleuze dalam Perspektif