Fenomenologi Umpatan dan Kesadaran yang Terkoyak

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua jam sekali, saya pasti dimaki, atau memaki. Lelah rasanya. Begitu cerita seorang supir ojol motor yang bekerja di Jakarta. Makian dan umpatan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Begitulah rasanya hidup di Jakarta. Lalu lintas sangat kacau. Penegak hukum yang tak peduli dan korup. Pemerintah yang sibuk korupsi, sementara (ibu) kotanya semakin menuju kehancuran.

Bagi banyak orang, pola ini amat merusak. Batin dan pikiran mereka diterkam derita yang mencekik. Mimpi mereka adalah keluar dari jakarta, dan menjalani hidup yang tenang. Namun, di negara yang salah atur, seperti Indonesia, ketimpangan sosial ekonomi antar daerah amatlah besar. Pindah tempat bisa berujung pada kemiskinan.

Kritik struktural tentu perlu diberikan. Pemerintah omon-omon tentu harus terus mendapat masukan dari rakyat, bahkan diturunkan, ketika sudah sungguh melenceng. Namun, penting juga untuk memiliki kebijaksanaan di dalam menjalani hidup keseharian. Mekanisme apa yang terjadi dibalik umpatan dan makian seseorang?

Fenomenologi Umpatan

Pendekatan fenomenologi amatlah unik. Ia melihat kenyataan yang terbuka kepada kesadaran. Tidak ada penilaian yang diberikan. Edmund Husserl, pemikir Jerman, menyebutnya sebagai upaya Zurück zu den Sachen Selbst, atau kembali kepada benda-benda itu sendiri.

Apa yang terjadi, ketika orang memaki? Mulut bergerak. Suara keluar dari mulut tersebut. Ada suara yang, menurut norma sosial tertentu, dianggap menghina dan kasar.

Mulut digerakan oleh otot yang ada di wajah. Ia mendapat perintah dari otak sebagai reaksi atas suatu keadaan. Siapa yang memerintahkan otak? Tak ada yang sungguh tahu pasti. Jawaban sederhananya: kehendak.

Di titik ini, kita berpindah dari biologi menuju filsafat. Kita bisa mengajukan argumen rasional, logis dan sistematis. Walaupun, ia tidak pernah bisa didukung oleh fakta nyata yang tak terbantahkan.

Penggerak kehendak adalah kesadaran. Namun, hakekat dari kesadaran itu bersifat kosong dan tak terbatas. Kesadaran yang mengeluarkan kehendak untuk mengumpat adalah kesadaran yang terkoyak. Ia adalah kesadaran yang tercekik oleh penderitaan.

Derita yang mencekik kesadaran membuatnya terbatas dan sempit. Ia dipenuhi trauma dan delusi. Ada kejadian pahit dari masa lalu yang menyiksanya sampai sekarang. Ada kesalahan cara berpikir mendasar tentang kenyataan yang membuatnya menjadi jahat terhadap mahluk hidup lain, dalam konteks ini adalah manusia.

Jadi, orang yang mengumpat bukanlah orang bebas. Ia dijajah oleh trauma dan delusi yang bercokol di kesadarannya. Dengan kata lain, pelaku makian dan umpatan adalah trauma serta delusi tersebut. Inilah yang kiranya sungguh perlu dipahami.

Menyiramkan Air

Gautama pernah mengajarkan hal serupa. Kejahatan tidak lahir kebebasan, melainkan dari penderitaan. Pelaku kejahatan bukanlah subyek diri yang bersifat tetap, persis karena subyek diri mutlak semacam itu tidaklah pernah ada. Pelaku kejahatan yang sebenarnya adalah kedunguan (Moha).

Di kenyataan relatif, pelaku makian dan umpatan tidak bisa dibenarkan. Ia menyakiti hati orang, dan mungkin, di beberapa tempat, melanggar hukum. Teguran dan hukuman yang pantas tentu perlu diberikan. Namun, pemahaman lebih dalam amat dibutuhkan disini.

Kesadaran yang terkoyak tidak bisa disembuhkan dengan kekerasan. Ini seperti menyiram bensin ke dalam api. Makian dan umpatan bisa berujung pada konflik yang berbuah kematian. Bagaikan api, ia mesti dipadamkan dengan air.

Kesadaran yang terkoyak membutuhkan welas asih dan kesabaran. Dua hal itu yang bisa sungguh menenangkan, dan kemudian menyembuhkannya. Ingatlah, bahwa makian dan umpatan tidak pernah lahir dari batin yang bebas serta bahagia. Sebaliknya, keduanya adalah anak haram dari kesadaran yang terkoyak oleh trauma dan delusi.

Ketika dimaki, kita mesti melihat keadaan sebagaimana adanya. Fenomenologi bisa membantu mencapai pemahaman yang tepat. Dharma Asia bisa membantu memberikan saran untuk tindakan yang bijak. Semoga ini bisa sedikit mengurangi penderitaan…

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.