Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan

Adnams, Marion Elizabeth, 1898-1995; L'infante egaree
Adnams, Marion Elizabeth; L’infante egaree; Manchester Art Gallery; 

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti biasa, saya menyapu di pagi hari. Saya bangga, bahwa saya membersihkan rumah saya sendiri. Setiap hari, saya melakukannya. Kecuali, banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya harus beristirahat.

Tanpa sadar, pikiran saya melantur. Saya ingat beberapa peristiwa di masa lalu. Padahal, tangan saya sedang menyapu. Saya sadar, pikiran saya bergerak menjauh dari apa yang sedang saya kerjakan. Ini terjadi lumayan sering.

Di ruang tamu, saya teringat beberapa teman yang sering berkunjung. Apa kabar mereka? Pikiran saya melantur, sementara tangan saya tetap bekerja. Di kamar, saya teringat kedua orang tua saya. Ini adalah kamar mereka dahulu kala, ketika tubuh mereka masih bergerak di bumi.

Saya mengamati gerak pikiran saya tersebut. Lucunya, ketika diamati, pikiran saya berhenti. Saya lalu mengarahkan perhatian ke tangan yang sedang menyapu, dan kaki yang sedang bergerak. Saya mencoba terlibat sepenuhnya pada apa yang sedang saya kerjakan. Pikiran berhenti, dan batin pun terasa damai.

Hari itu, seharian, saya sepenuhnya terlibat pada apa yang saya lakukan. Badan dan pikiran sepenuhnya terlibat secara utuh. Ketika makan, saya makan dengan keterlibatan penuh. Ketika berjalan, mandi, tidur dan bekerja, saya melakukannya dengan keterlibatan yang utuh serta sungguh.

Saya sempatkan juga untuk duduk, sadar dan bernafas. Ketika duduk, saya sepenuhnya terlibat dengan tindakan duduk, dan dengan napas saya. Tak ada tujuan lain di luarnya. Tak ada kesaktian ataupun kesembuhan yang ingin dicapai.

Bentuk Keterlibatan

Ada tiga bentuk keterlibatan. Pertama adalah keterlibatan penuh pada saat ini. Apa yang terjadi saat ini? Ada suara, rasa, atau sesuatu di depan mata? Keterlibatan berarti menyatu dengan itu semua disini dan saat ini sepenuhnya.

Dua adalah keterlibatan penuh pada apa yang sedang dilakukan saat ini. Apa yang sedang anda lakukan? Kerjakan dengan keterlibatan yang utuh dan penuh. Ini harus menjadi latihan rutin, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup.

Ketiga adalah keterlibatan di masyarakat luas. Kita terlibat dengan apa yang kita bisa lakukan, yakni karya-karya kita. Keterlibatan, menurut Aristoteles, adalah kunci untuk mencapai hidup yang utuh dan bahagia, yakni hidup yang sempurna. Politik adalah seni untuk mewujudkan kebaikan bersama untuk semua. Kita memiliki kewajiban untuk terlibat di dalamnya, sesuai dengan kemampuan yang kita punya.

Hasilnya

Keterlibatan penuh akan menghasilkan batin satu arah (one pointed mind). Inilah batin yang sudah terlatih. Ia tidak bergerak dengan analisis ataupun berpikir berlebihan. Secara alami, kedamaian batin pun akan muncul.

Pikiran satu arah akan menghasilkan batin yang tak bergerak (unmoving mind). Kenikmatan tidak mengalihkannya. Penderitaan juga tak membuatnya goyah. Para pemikir Stoa menyebutnya sebagai Ataraxia. Musashi, Samurai dan Zen master Jepang, menyebutnya sebagai Mushin, atau tanpa batin (no mind).

Inilah hakekat dari pencerahan. Orang tidak lagi hidup dalam kebodohan. Dalam arti ini, orang bodoh adalah orang yang hidup dalam mimpi. Ia terayun antara masa lalu yang sudah lewat, dan masa depan yang tak akan pernah ada.

Dengan begini, kegiatan sehari-hari pun menjadi jalan pembebasan. Hidup seutuhnya menjadi jalan spiritual. Tidak ada lagi perbedaan antara hidup spiritual dan kegiatan sehari-hari yang terkesan remeh temeh. Bahkan tarikan nafas di detik ini menjadi saat pencerahan yang sungguh melegakan.

Dengan terlibat sungguh utuh dan penuh disini dan saat ini, pada semua yang sedang dilakukan, kita terhindar dari “batin monyet” (monkey mind). Inilah batin yang suka memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Segala hal kecil menjadi besar, karenanya. “Batin monyet” ini adalah biang keladi dari semua penderitaan manusia.

Dengan kejernihan dan kedamaian ini, kita bisa terlibat di tingkat yang lebih luas. Di dalam masyarakat, kita bisa menyumbangkan kemampuan kita untuk kebaikan bersama. Di dalam keluarga, kita bisa menjadi pencari jalan keluar dari semua tantangan yang ada. Kita tidak akan menjadi beban untuk orang lain, apalagi untuk negara.

Saya sedang mengetik. Saya juga sedang membaca. Saya terlibat penuh dan utuh dari saat ke saat ke dalam tindakan ini, sekarang ini. Apa keterlibatan anda di saat ini?

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Keterlibatan sebagai Jalan Pembebasan”

  1. Dalam tasawuf dikenal sebagai hadir.
    Kemampuan untuk hadir dalam setiap yang kita lakukan membutuhkan hati yang bersih agar kesadaran tetap kokoh dan tidak teralihkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.