Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Surreal-portraits-of-women-painted-by-an-Iranian-artist-5710dae922d86__880Oleh Reza A.A Wattimena

Seorang teman bercerita. Ia berjalan di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Ini tempat belanja klasik. Banyak barang yang menarik untuk dilihat.

Tiba-tiba terdengar suara pria. Hei, cewek, dari mana? Pertanyaan itu dibarengi dengan siulan yang terkesan kurang ajar. Teman saya kaget. Hari gini, masih ada orang “kampungan” yang suka menggoda perempuan di jalan? Lanjutkan membaca Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

DUNGU

unnamedOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, seorang pemuda hendak melihat mentari terbit. Katanya, setiap jam 3 pagi, ia sudah bangun, dan mempersiapkan diri. Matahari, baginya, adalah sumber kehidupan. Setiap hari, ia pun menantinya terbit.

Setelah bangun, ia mandi. Segera, ia memakai baju yang baru, supaya tampak sopan di hadapan sang sumber kehidupan. Ia pun menghadap Barat. Sabar menanti, ia terus berdiri, dan terus berharap. Lanjutkan membaca DUNGU

Diskusi: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

WhatsApp Image 2022-04-10 at 16.36.33*Caknurian Urban Sufism With Komaruddin Hidayat Part 47 :Yesus Lintas Peradaban*

Yesus adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam lintas peradaban.  Dalam tradisi Kristen, Yesus adalah Tuhan Juru Selamat.

Dalam tradisi Hindu dan Buddha, Yesus adalah Yoga Master yang mengajak umat manusia menempuh jalan pembebasan dari penderitaan.

Dalam tradisi Islam, Yesus adalah nabi yang membimbing manusia keluar dari jalan kegelapan. Lanjutkan membaca Diskusi: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

“Flexing” Religi

the-end-is-the-same-3368713323759Oleh Reza A.A Wattimena

Bayi itu menangis di pagi hari. Suara keras membangunkannya. Suara tidak datang dari dalam rumah, tapi dari luar. Ada orang berdoa sangat keras, memecah pagi dan merusak ketenangan hidup masyarakat sekitar.

Berdoa dan bernyanyi harus keras, bahkan sampai jarak 3 km, suara tetap terdengar. Begitu banyak orang terganggu. Katanya, ini untuk menyebarkan agama. Yang tercipta bukan cinta, tetapi benci yang membara. Ini flexing religi. Lanjutkan membaca “Flexing” Religi

Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

1647245301Oleh Reza A.A Wattimena

Tak bisa disangkal, Yesus adalah salah satu tokoh terpenting di dalam sejarah manusia. Ia menginjakkan kaki di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu. Namun, pengaruhnya terasa sampai detik ini. Figurnya telah menyentuh banyak orang selama ratusan tahun belakangan ini.

Di kala krisis, sosoknya menjadi simbol harapan. Umat Kristen, terutama, menjadikan Yesus sebagai sandaran utama hidupnya. Umat beragama lain, termasuk yang tidak beragama, kerap mengagumi keberanian dan teladan hidupnya. Yesus telah menjadi guru dari banyak orang. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

Zen untuk Deradikalisasi

4d4ae064710791.5adb43bfd4580Oleh Reza A.A Wattimena

Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.

Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka. Lanjutkan membaca Zen untuk Deradikalisasi

Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

0_1opthal5_465_801_int-1Oleh Reza A.A Wattimena

PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke 49 pada 10 Januari 2022 kemarin. Di dalam perayaan itu, Megawati Soekarno Putri, sebagai ketua umum, mengajukan beberapa kritik.

Salah satunya sungguh mengena di saya. Ia berkata, bahwa banyak Undang-undang di Indonesia tak sesuai dengan UUD. Secara langsung, ia menegur Puan Maharani, Ketua DPR RI, yang adalah putrinya sendiri. Lanjutkan membaca Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

Musuh Terbesar Semua Agama

Stupidity is Dead! Long Live Stupidity! A Rant - South Florida FilmmakerOleh Reza A.A Wattimena

Sampai ke pelosok desa, agama telah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. Agamanya pun beragam. Namun, hampir tak ada tempat yang bebas dari agama di Indonesia. Inilah keadaan kita di awal abad 21 ini.

Salah satu sebabnya adalah karena gagalnya pemerintah memberi rasa aman pada warganya. Sebaliknya, pemerintah justru menjadi penindas terhadap warganya sendiri. Para pelayan rakyat justru mencuri uang rakyat, guna memperkaya diri. Para penegak hukum justru mendiamkan, dan bahkan kerap menjadi pelaku pelanggaran hukum itu sendiri. Lanjutkan membaca Musuh Terbesar Semua Agama

Kritik atas Nalar Religius

I am not going to Mars - Surreal paintings - Gyuri Lohmuller - Paintings &  Prints, Religion, Philosophy, & Astrology, Other Religion & Philosophy -  ArtPalOleh Reza A.A Wattimena

Tiga buku Immanuel Kant membentuk wajah Filsafat Eropa Modern. Judulnya adalah Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Rasio Murni– 1781), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis– 1788) dan Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Kemampuan Mempertimbangkan – 1790). Sampai detik ini, banyak orang masih membaca buku-buku tersebut. Di dunia akademik, pandangan Kant di dalam buku-buku itu masih menjadi tema penelitian yang terus relevan.

Kata Kritik bukanlah berarti ketidaksetujuan. Di dalam ketiga buku itu, kata kritik berarti penyelidikan yang menyeluruh. Kant memang ingin memeriksa tiga kemampuan dasar dari pikiran manusia, yakni soal pengetahuan, moralitas dan estetika. Untuk Indonesia, pola kritik serupa kiranya diperlukan untuk hidup beragama. Lanjutkan membaca Kritik atas Nalar Religius

Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Madrid surrealism show offers escape from pandemic reality | Spain | The  GuardianOleh Reza A.A Wattimena

Hampir 20 tahun, saya mendalami filsafat secara sistematik. Dalam kaitannya dengan teologi dan agama, ada perdebatan-perdebatan abadi yang muncul dalam wacana filsafat. Saya berpendapat, bahwa perdebatan-perdebatan itu hampa. Semua itu muncul dari kesalahpahaman yang berakar pada agama-agama Timur Tengah.

Ada enam isu yang terus muncul. Pertama adalah isu tentang kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, juga antara iman dan ilmu. Agama dianggap berpijak pada kepercayaan murni. Sementara, ilmu berpijak pada akal budi murni. Hubungan keduanya rumit, seringkali penuh kekerasan, dan tak akan bisa terdamaikan sepenuhnya. Lanjutkan membaca Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Seperti Embun Pagi Tersiram Mentari

HD wallpaper: man on green grass field artwork, people, ball, flowers,  surrealism | Wallpaper Flare

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita sudah salah asuh. Kita diajarkan untuk meraih sesuatu. Baru setelah itu, kita bisa bahagia. Kita diajarkan, bahkan dipaksa, untuk menjadi sesuatu yang palsu, supaya mendapat pengakuan dari keluarga.

Kita diajarkan untuk mendapatkan uang banyak. Katanya, dengan uang, kita menjadi bahagia. Kita dihormati oleh masyarakat luas. Kita mengharumkan nama keluarga. Lanjutkan membaca Seperti Embun Pagi Tersiram Mentari

Tanggapan terhadap Tanggapan Anugrah tentang Pandangan Saya Mengenai “Agama Kematian”

Berita Kolom Reza AA Wattimena Terbaru Hari ini - Kompas.comOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat

Tulisan tentang agama kematian bisa dilihat disini https://rumahfilsafat.com/2021/08/10/tak-semua-agama-baik-untuk-kehidupan/

Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam terhadap Dhimas Anugrah atas tulisannya. Beliau adalah sahabat dalam berpikir dan bergerak untuk pencerahan bangsa. Tulisan-tulisannya lembut, sekaligus reflektif. Gaya kami memang berbeda.

Dialektika pemikiran adalah kunci perkembangan budaya. Inilah yang kiranya penting untuk dilakukan. Perbedaan pendapat tak harus jadi musuh seumur hidup. Rumah Filsafat kiranya bisa menjadi ruang untuk tetap bersahabat, walaupun berbeda sudut pandang. Lanjutkan membaca Tanggapan terhadap Tanggapan Anugrah tentang Pandangan Saya Mengenai “Agama Kematian”

Menimbang Pandangan Wattimena tentang Agama Kematian

Dhimas Anugrah: Pendidikan Jadi Benteng Terakhir Kuatkan Ideologi Pancasila  | TIMES IndonesiaOleh Dhimas Anugrah, Pendiri CIRCLES Indonesia

“Tak semua agama baik untuk kehidupan,” demikian tesis artikel Reza Wattimena yang diterbitkan dengan judul sama di Rumah Filsafat 11 Agustus 2021 lalu. Judul artikelnya sendiri cukup provokatif, sekaligus menarik minat untuk melihatnya lebih dalam. Sebab, agama lazim dimengerti sebagai sistem yang mengatur tata keimanan kepada Sang Liyan dan relasi pergaulan antarmanusia serta lingkungannya. Singkatnya, agama itu baik bagi manusia dan alam. Kenneth Shouler dalam The Everything World’s Religions Book (2010) memperkirakan ada sekitar 4.200 agama di dunia. Dan, tidak kurang dari 6.4 milyar manusia di bumi ini teridentifikasi sebagai pemeluk salah satu agama. Lanjutkan membaca Menimbang Pandangan Wattimena tentang Agama Kematian

Bijaksana Beragama

The Goddess of Wisdom | This is an original oil surrealism f… | FlickrOleh Reza A.A Wattimena

Agama hadir untuk menghadirkan keteraturan di dunia yang kacau. Sebelum agama ada, manusia hidup dalam ketidakpastian. Banyak konflik yang mengorbankan hidup orang tak bersalah. Agama pun hadir menghadirkan tatanan dengan nilai-nilai kehidupannya.

Agama adalah organisasi buatan manusia. Ia adalah komunitas orang-orang yang berbeda, namun memutuskan untuk menyatu bersama. Yang dihadirkan bukan hanya tatanan sosial, tetapi juga kedamaian batin. Agama memanusiakan manusia. Lanjutkan membaca Bijaksana Beragama

Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah

Surrealism. God's Eye, Moon And Clouds. Suit And Branches Of A Tree. Stock  Photo, Picture And Royalty Free Image. Image 116653852.Oleh Reza A.A Wattimena

Sejatinya, tujuan kita hidup adalah untuk mengalami Tuhan. Karena dengan ini, kita menemukan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan semacam ini tidak berubah-ubah. Ia tidak terganggu oleh perubahan keadaan dunia.

Sadar atau tidak, kita merindukan Tuhan. Tuhan itu seperti rumah sejati kita. Kita betah, ketika memasukinya. Kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Lanjutkan membaca Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah

Batas-batas Kebebasan

On Loan: The sublime chaos of Egypt's unknown surrealist collective, Art et  LibertéOleh Reza A.A Wattimena

Di Jakarta, supir angkot adalah penguasa jalan. Mereka berhenti sembarangan. Mereka berbelok semaunya. Ditegur, mereka cuek, bahkan cenderung lebih galak. Alasannya: kami cari uang, jangan ganggu kami!

Lima tahun belakangan, ada gejala cukup baru, yakni motor melawan arah di jalan raya. Biasanya, mereka malas untuk memutar, walaupun dekat. Ini sangat berbahaya, dan banyak menimbulkan kecelakaan. Jika ditegur, mereka juga cuek, bahkan berani melawan. Alasannya: kami cari uang, jangan ganggu kami! Lanjutkan membaca Batas-batas Kebebasan

Lebih dari Sekedar Agama

980 Surreal Zen Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan, apakah Mas Reza seorang Buddhis? Apakah Zen yang mas dalami adalah sebuah agama? Saya sendiri lahir dari tradisi Gereja Katolik Roma yang kaya dengan tradisi dan filsafat yang sarat rasionalitas. Kini, saya menjadi seorang praktisi Zen di dalam keseharian.

Apakah ajaran Buddha, terutama Zen, adalah sebuah agama? Jawaban saya sederhana, Zen, dan ajaran Buddha secara umum, itu lebih dari sekedar agama. Agama adalah institusi yang berpijak pada kepercayaan tertentu. Ia mengikat (religare) manusia dengan seperangkat aturan yang baku. Tujuan agama adalah menciptakan keteraturan (A-Gama: tanpa kekacauan) di dalam hidup bersama.   Lanjutkan membaca Lebih dari Sekedar Agama

Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?

Surrealism—Art That Captures Your Imagination and Psyche · artd4Oleh Reza A.A Wattimena

Manusia adalah mahluk yang mampu bernalar. Ini semua terjadi, berkat evolusi jutaan tahun yang mengembangkan struktur otaknya. Bagian otak terbaru, yakni Prefrontal Cortex, hadir untuk memberikan kemampun bernalar bagi manusia. Dengan ini, manusia mampu melakukan analisis keadaan, mempertimbangkan secara rasional dan membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan kemampuan ini pula, manusia mampu bertahan hidup. Fisik manusia lemah dibandingkan dengan mahluk lain. Alam cenderung kejam pada yang lemah. Namun, dengan daya nalarnya, dan kemampuannya bekerja sama, manusia mampu bertahan hidup di tengah ganasnya alam. Lanjutkan membaca Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?

Tak Semua Agama Baik untuk Kehidupan

Jacob wrestling with the Angel": contemporary, Christian mythology,  biblical theme, abstract religious painting, abstract surrealism, Judaism,  famous Old testament scene, acrylic painting #9139, 2010 | Kazuya Akimoto  Art MuseumOleh Reza A.A Wattimena

Tak semua agama baik untuk kehidupan. Sama seperti tak semua makanan baik untuk dimakan. Ada banyak agama di dunia. Namun, tak semuanya cocok untuk perkembangan kehidupan.

Semakin saya mendalami agama-agama dunia, semakin saya melihat adanya dua macam agama. Yang pertama adalah agama kematian. Yang kedua adalah agama kehidupan. Agama kematian merusak kehidupan. Agama kehidupan melestarikan kehidupan. Sesederhana itu. Lanjutkan membaca Tak Semua Agama Baik untuk Kehidupan

Publikasi Terbaru: Ubud dalam Pelukan Sintesis Jati Diri

Umat Hindu sedang melakukan upacara keagamaan di salah satu pura di Ubud, Bali.

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya pertama kali menyentuh Ubud, Bali pada 2018 lalu. Wangi dupa mengisi jalan raya. Warna warni adat dan agama memperkaya udara. Saya seperti di surga. Di Ubud, yang modern dan yang tradisional berpadu satu. Toko-toko modern dan restoran internasional berjamuran di sana. Pura-pura suci Bali dan adat asli Ubud juga hadir dalam keagungannya. Yang modern dan yang tradisional hidup bersama, saling memperkaya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ubud dalam Pelukan Sintesis Jati Diri”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/18/205454765/ubud-dalam-pelukan-sintesis-jati-diri?page=all#page2.

Editor : Wisnu Nugroho

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L