Indonesia Cemas: Dari Delusi, Arogansi sampai Kedangkalan Epistemik

Oleh Reza A.A Wattimena

Rakyat desa tidak hidup dari Dollar. Begitu pernyataan kepemimpinan nasional Indonesia. Sungguh pernyataan yang bodoh. Dunia global abad 21 adalah dunia yang saling terhubung. Setiap gejolak akan dirasakan seluruh dunia, tanpa kecuali, termasuk di pelosok desa yang dianggapnya tak tersentuh peradaban.

Bukan pertama kali, pernyataan bodoh disampaikan ke masyarakat. Ini sudah terjadi berkali-kali. Setiap pernyataan selalu mengundang amarah bangsa, bahkan komunitas internasional. Alhasil, fundamen ekonomi Indonesia, terutama dalam bentuk nilai tukar rupiah dan dinamika pasar saham, memberikan reaksi negatif, dan bergejolak menuju titik yang berbahaya.

Sektor real ekonomi nyata pun memberikan terdampak keras. Terjadi begitu banyak pemecatan buruh di berbagai sektor industri. Sebab utamanya adalah berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang boros, tetapi tak ada hasil nyata. Dengan kata lain, kebijakan politik ekonomi yang serampangan membuat seluruh bangsa ini dililit oleh kesulitan.

Kita pun memasuki masa kegelapan politik dan ekonomi. Kegelapan ini persis terkait dengan beragam kebijakan serampangan yang bersifat otoriter. Tentara dan polisi mengurus pangan, sementara pertahanan serta keamanan masyarakat terbengkalai. Setiap kali pidato disampaikan, seluruh dunia, tidak hanya Indonesia, tercekam kecemasan.

Lima hal kiranya bisa direnungkan. Pertama, kepemimpinan nasional kita terjebak di dalam delusi politik. Mereka terpaku dengan data statistik yang telah dimanipulasi, dan menganggap kinerja mereka sudah baik. Ini kesesatan berpikir yang amat berbahaya. Berbagai kebijakan lalu salah arah, dan sungguh menyengsarakan rakyat.

Delusi adalah ketercerabutan dari kenyataan. Orang lalu hidup dalam kenyataan yang ia buat sendiri. Ketika ini terjadi di ranah kepemimpinan nasional, bahayanya amat besar. Seluruh bangsa bisa hancur, sementara sang pemimpin terus merasa, bahwa ia telah bertindak baik.

Dua, delusi akan berbuah arogansi. Kedunguan akan berbuah kesombongan. Ini hukum alam yang terus berulang. Berulang kali, pemimpin politik ekonomi dunia jatuh ke dalam pola yang mematikan ini.

Pemimpin kita pun mengidap penyakit serupa. Kedunguan berbalut arogansi ditampilkannya di depan masyarakat luas. Seluruh dunia menertawakannya. Namun, karena hidup dalam delusi, ia tak menyadarinya, dan terus merasa dirinya hebat. Sungguh delusional…

Tiga, perpaduan delusi dan arogansi akan menghasilkan anak kandung yang tak kalah mengertikan, yakni sikap otoriter. Setiap kata adalah perintah. Setiap makian adalah hukuman. Siapa yang berani mengritik harus siap dihantam makian dangkal yang dungu, sampai disiram air keras.

Sudah begitu banyak masukan diberikan pada rezim sirkus ini. Namun, ia seolah tuli, dan merasa pintar sendiri. Ia membuat kebijakan semaunya sendiri, tanpa pertimbangan yang matang. Kata otoriter sungguh melukiskan cara berpikir maupun bertindaknya.

Empat, ada akar epistemik dari ini semua, yakni kedangkalan berpikir. Ia haus kekuasaan, dan melupakan tujuan dasar asali kekuasaan itu sendiri. Ia berpikir soal keuntungan maupun kenikmatannya sendiri, tanpa ada dasar yang mendalam untuk semua kebijakannya. Pikirannya dilumuri ambisi pribadi dan dendam, sehingga tercabut dari kenyataan, dan merusak.

Lima, akal budi hanyalah budak dari kehendak, dan juga tekanan sosial. Ia tidak bisa jernih, tanpa kesadaran yang meluas. Kebuntuan yang kita alami persis terjadi, karena kesadaran yang menyempit. Orang melihat dirinya hanya bagian kecil dari masyarakat dan alam yang lebih luas. Transformasi kesadaran ke arah yang lebih luas, terutama di tingkat kepemimpinan nasional, kiranya mendesak untuk dilakukan.

Di tengah kekacauan ini, fufufafa tetap berada di belakang. Ia bisa saja bengong, tanpa pengertian apapun. Atau, ia sedang merencanakan hal busuk, supaya bisa semakin berkuasa. Yang jelas, Indonesia semakin cemas…

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.