Kekayaan Pengalaman Galungan Bali

a6a0e1a74dd90d6ba258b237a381212b

Oleh Reza A.A Wattimena

8 Juni 2022, saya bangun sekitar jam 6 pagi. Saya tinggal di Monkey Forest, Ubud, Bali. Seperti biasa, saya duduk di tempat tidur. Saya merasakan napas, dan keberadaan seluruh tubuh saya. Inilah jalan Zen untuk memulai hari.

Saya mencuci muka, lalu minum segelas air. Semua dilakukan dengan kesadaran penuh. Setelah itu, saya membuka jendela. Langit berwarna kelabu keemasan. Ada sesuatu yang berbeda. Seluruh kamar saya dipenuh wangi dupa yang sangat kuat.

Wangi yang mendamaikan hati. Saya merasa seperti di surga. Ada kebahagiaan dan kedamaian terasa di dada. Ada senyum kecil tampil di wajah saya. Bali memang istimewa.

Saya berjalan keluar untuk mencari sarapan. Wangi dupa sangat terasa di udara Ubud. Beberapa persembahan (Mebanten/Sesajen) sudah terlihat di seluruh jalan. Yang juga menarik, pada hari ini, semua orang mengenakan pakaian adat Bali. Hari ini adalah hari Galungan.

Bali berpesta hari ini. Semua prianya tampak tampan dan berwibawa. Semua wanitanya tampak anggun mempesona. Bali menjadi berwarna-warni, dan wangi di setiap jengkalnya. Sebagai tamu, saya merasa berada di surga, sekaligus iri bercampur kagum dengan keanggunan budaya Bali ini.

Galungan

Galungan berarti bertarung, dan juga menang. Di dalam lontar Purana Bali Swipa, hari raya Galungan pertama kali dirayakan pada 882 Masehi. Ia dirayakan setiap hari Rabu. Galungan memiliki makna filosofis sekaligus praktis yang mendalam.

Galungan adalah hari raya kemenangan. Dharma menang melawan Adharma. Dalam arti ini, Dharma adalah kebaikan. Sementara, Adharma adalah kejahatan. Di dalam kemenangan ini, Bali pun mengucap syukur pada sang pencipta dan penjaga semesta.

Lontar Sunarigama memberikan penjelasan lebih jauh. “Rabu Kliwon bernama Galungan,” begitu tertulis, “arahkan bersatunya rohani, supaya mendapatkan pandangan terang, guna melenyapkan segala kekacauan pikiran.”

Galungan mengajarkan, bahwa kejahatan muncul selalu dari pikiran. Pikiran yang gelap akan membawa kebencian dan kerusakan. Inilah Adharma. Sementara, pikiran yang damai dan terang adalah kebenaran. Inilah inti dari Dharma. Galungan terjadi, ketika pikiran yang damai dan terang mengalahkan pikiran yang gelap, serta penuh dengan kebencian.

Pikiran yang damai akan membawa tindakan yang damai. Hubungan antara manusia, alam dan dunia sosial pun akan berjalan penuh harmoni. Sementara, pikiran yang gelap akan membawa tindakan yang juga gelap, yakni penuh kebencian dan kemarahan. Manusia pun akan saling membunuh. Ia juga akan menghancurkan alam yang menopang hidupnya.

Galungan Zen

Pikiran damai, ketika ia sepenuhnya berjangkar pada kenyataan disini dan saat ini. Pikiran terang, ketika ia memahami sepenuhnya, bahwa segalanya adalah sementara. Secara alami, pikiran akan melepas cengkramannya pada dunia. Kebencian dan kegelapan pun akan lenyap, ketika pikiran berhenti mencengkram dunia.

Kebetulan, pada hari raya Galungan, sepupu saya sedang berkunjung di Ubud. Sejak pagi hari, setelah sarapan, kami berkeliling Ubud, tanpa arah yang jelas. Saya menikmati sungguh wangi dan warna-warna Bali di hari Galungan tersebut. Bersama sepupu saya, kami mengendarai motor memasuk desa-desa yang sebelumnya tak pernah saya kunjungi.

Setelah sekitar 2 jam berkendara, kami beristirahat di sebuah kafe kecil pinggir sawah. Kami pun menghabiskan waktu di sana. Ada suara orang Rusia yang sedang rapat di meja sebelah. Ada warna hijau padi mengepung kami di segala penjuru. Tak lama kemudian, beberapa pasangan pemuda dan pemudi Bali datang, sambil mengenakan pakaian adat mereka.

Cuaca mulai terasa panas. Kami berpindah ke tempat yang lebih banyak pohon. Jaraknya sekitar 30 menit. Seluruh Ubud memang sedang berpesta saat ini.

Di tempat berikutnya, pohon menjulang mengelilingi kami. Di kejauhan, ada sungai mengalir. Terlihat pula gunung dan bukit menjulang di depan mata kami. Angin kencang berhembus dibarengi cahaya mentari yang menembus pepohonan.

Saat demi saat, semua pengalaman tampil ke kesadaran saya. Semuanya saya sadari sepenuhnya. Zen memang sederhana. Ia tak banyak teori, atau konsep di dalam bahasa asing yang memecah kepala.

Zen berarti berada sepenuhnya dengan pengalamanmu disini dan saat ini. Semua pengalaman memiliki warnanya masing-masing. Semuanya muncul, lalu lenyap. Semuanya sementara, karena tak ada inti yang abadi di segala yang ada.

Merayakan Galungan di Bali memang kaya dengan rasa dan makna. Tak ada tempat lain di bumi ini yang mampu melakukannya, sebagaimana Bali melakukannya. Bali tidak hanya menjadi permata Indonesia, tetapi juga dunia. Sekarang, waktu istirahat sudah tiba.

Mata sudah lelah. Tubuh terasa berat. Tempat tidur sudah memanggil. Selamat beristirahat.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.