Tentang Penderitaan dari Kebahagiaan

8f50120188a6661a55c6828a1a873f4dOleh Reza A.A Wattimena

Selama 2021 dan 2022, saya banyak menetap di Bali. Saya jatuh cinta dengan alamnya. Saya juga sangat jatuh cinta dengan budayanya. Tidak seperti Jakarta, Pulau Jawa dan beberapa pulau lainnya di Indonesia yang tertindas oleh agama kematian, Bali sangat menghargai ajaran leluhur, merawatnya sepenuh hati dan mencapai keagungan yang dihormati seluruh dunia.

Namun, segalanya harus berlalu. Waktu yang indah pun di Bali pun harus berlalu. Saya harus kembali ke Jakarta. Persis setelah kembali ke Jakarta, saya jatuh ke dalam depresi ringan.

Saya harus kembali berhadapan dengan kacaunya Jakarta. Orang-orang rakus hidup berdampingan. Agama kematian beribadah dengan menciptakan polusi suara yang merusak kehidupan kota. Ini ditambah dengan tata kota yang sungguh berantakan, seolah tak ada seorang pun yang menatanya.

Setelah beberapa lama, saya tentunya beradaptasi. Bagaimanapun kacaunya, Jakarta adalah kampung halaman saya. Saya tumbuh besar di kota ini. Pengalaman indah di Bali harus berlalu, dan digantikan dengan pengalaman di Jakarta yang seperti neraka. Derita batin pun tak bisa dihindari.

Soal Rejeki

Ada masanya, pekerjaan saya begitu berhasil. Pengakuan diberikan atas karya-karya saya. Uang pun datang dari berbagai penjuru. Saya merasa menjadi orang paling sukses di seluruh dunia.

Beberapa buku diterbitkan oleh beberapa penerbit ternama. Saya diundang ke berbagai acara penting untuk menjadi narasumber. Namun, itu semua tidak berjalan lama. Segala yang indah pun harus berakhir.

Kebahagiaan adalah penderitaan, karena ia akan berakhir. Setelah berakhir, ada rasa hampa terasa di dada. Ada sepi yang muncul tanpa terduga. Ada kerinduan untuk kembali ke masa lalu yang dianggap penuh jaya.

Penderitaan dari Kebahagiaan

Semakin kita bahagia, semakin kita menderita. Semakin kita tertawa, semakin sedih tangis yang nantinya datang berkunjung. Inilah pola dari pikiran maupun kehidupan manusia. Semua emosi, baik itu emosi positif maupun negatif, selalu bermuara pada rasa tak puas, atau penderitaan.

Ada analogi yang menarik. Semakin tinggi orang terbang, semakin sakit, ketika ia terjatuh. Ini berlaku untuk keadaan batin kita. Semakin tinggi rasa senang dan gembira yang kita rasakan, semakin dalam derita yang nantinya akan datang. Setiap kebahagiaan akan berakhir pada ketidakpuasan.

Kebahagiaan juga menghasilkan kecanduan. Kita merindukan pengalaman yang menyenangkan. Padahal, masa lalu sudah berlalu, dan tak lagi bisa diulang. Merindukan apa yang indah, namun sudah berlalu, adalah sebentuk derita untuk cukup menyiksa jiwa.

Lagi pula, selera manusia berubah. Apa yang membuatnya bahagia di masa lalu ternyata membuatnya muak sekarang ini. Sumber rasa senang di masa lalu bisa menjadi sumber derita di masa kini. Segalanya sementara, termasuk selera manusia.

Ciri Dunia

Mengapa segala sesuatu, baik yang indah maupun yang menyiksa, akan berakhir? Jawabannya sederhana, yakni karena segala sesuatu tak memiliki inti yang abadi. Tak ada unsur yang permanen di dalam dunia materi, termasuk di dalam pikiran maupun emosi manusia. Segalanya mengalir setiap saat, tanpa pernah berhenti.

Tak heran, para penekun spiritual dunia berpendapat, bahwa dunia ini hanya ilusi. Semua hanyalah halusinasi. Tak ada yang sungguh nyata, karena semua berubah begitu cepat setiap saatnya. Di hadapan dunia yang terus berubah ini, melepas adalah sikap yang paling bijak untuk diambil.

Dunia ini tak layak untuk dikejar. Karir, cinta, nama besar dan uang adalah ilusi yang menipu kita semua. Karena mengejar itu semua, kita kehilangan waktu, pikiran dan tenaga untuk hal-hal yang sungguh penting. Pada satu titik, kita dijemput oleh kematian dengan penuh rasa sesal di dada.

Dunia ini juga tak layak untuk digenggam. Kita boleh membangun hubungan dengan orang lain. Kita boleh bekerja secara profesional. Namun, semua itu akan berlalu. Ketika kita mencengkram dan melekat padanya, kita akan terseret pada pada ilusi, dan mengalami penderitaan yang berat di dalam batin.

Kebenaran

Sesungguhnya, segala yang ada adalah jaringan tanpa batas. Kita terhubung tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan semua mahluk hidup di alam semesta. Kita terhubung dengan bintang-bintang dan planet yang berada nun jauh di galaksi yang berbeda. Tak ada perbedaan yang nyata di antara segala yang ada.

Tak ada “aku” yang mandiri, dan terpisah dari yang lain. Tak ada inti abadi yang memisahkan benda satu dan benda lainnya. Semua perbedaan hanyalah ciptaan pikiran yang penuh kebodohan. Itu bukanlah kebenaran dari kenyataan sebagaimana adanya.

Lalu, apakah kita semua ini satu kesatuan? Ini juga salah, karena satu adalah konsep ciptaan pikiran. Dalam hubungan dengan kenyataan, kita tidak satu, dan juga tidak dua. Pada titik ini, hening mungkin jawaban paling baik yang bisa diberikan.

Di dalam hening, derita dan bahagia dilampaui. Semua jenis emosi dan pikiran dilihat sebagai gerakan dari hening semata. Tidak ada inti yang abadi dan mandiri di dalamnya. Kehidupan bagaikan aliran hening yang tak ada henti.

Lepaskan pikiran. Lepaskan konsep. Kembali ke keadaan batin sebelum konsep dan sebelum pikiran. Disitu pembebasan berada. Ia berada dekat, bahkan terlalu dekat, sehingga kita melewatkannya.

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Tentang Penderitaan dari Kebahagiaan”

  1. setuju banget dengan tulisan diatas. mirip2 apa yg saya alami.
    setelah kita berusaha untuk hidup dari saat ke saat, kesadaran penuh.
    kita terima apa ada nya.
    sangat membantu pandangan thic nhat hahn : memeluk semua derita dan kenikmatan hidup.
    herz sutra, dayo kokushi, shin jin mei…..
    setiap saat disadari !
    saya yakin, anda bahkan memerlukan segala derita dan amarah, kebencian utk hidup dalam cinta kasih !!
    bisa di lacak di literatur jalan hidup pakar2 spiritual (deshimaru, kodo sawaki, seung shan, dan rekan2 dr seluruh penjuru dunia).
    tetap lah mati, hidup lagi diatas alas !!!!
    tidak ada dunia diluar kita.
    kita dunia dan alam.
    tergantung, bagaimana kita “merawat” alam dan hidup kita, itulah dunia, itu lah kenyataan !
    salam hangat !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.