Hampir lima dekade berselang antara keduanya, namun Mochtar Lubis dan Carl Sagan mengamati gejala yang sama dari dua benua berbeda. Dalam pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki, Lubis (1977) menempatkan takhayul sebagai salah satu sifat yang melekat pada manusia Indonesia, sesuatu yang tetap hidup hingga masa kini: benda-benda disembah, dukun ramai dikunjungi, dan dunia gaib terus hadir sebagai tontonan sehari-hari. Dari Amerika Serikat, Sagan (1995, 17) sampai pada kesimpulan serupa. Takhayul bertahan karena ia menjawab kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, ingin percaya bahwa nasib bisa dikendalikan. Lubis mencatat gejalanya, sementara Sagan menjelaskan mengapa gejala itu bisa bertahan begitu lama. Dibaca bersama, keduanya memberi gambaran yang lebih lengkap tentang mengapa takhayul begitu sulit ditinggalkan.
Di Indonesia, gambaran itu terasa sangat konkret. Pada 2021, sebuah kampung di Depok diguncang kabar babi ngepet yang disebarkan seorang figur religius demi ketenaran, dan warga yang iri terhadap tetangganya ikut memperkuat kepercayaan itu hingga viral (Marini, 2021). Takhayul pun hadir dalam wujud yang jauh lebih tenang. Memotong mie dianggap memotong usia; gula yang tersisa di dasar teh dibaca sebagai tanda ada yang diam-diam jatuh cinta (Utomo, 2018). Kepercayaan seperti ini melintas batas budaya, dari tradisi Tionghoa hingga kebiasaan di Inggris modern. Di sinilah kesimpulan Lubis dan Sagan menjadi menantang: jika takhayul berakar pada kebutuhan yang menunggu jawaban, solusi yang efektif harus menyentuh akar kebutuhan itu secara langsung.
Mengenal Takhayul
Dalam bahasa Arab, akar kata “takhayul” adalah “khayāl,” yang berarti bayangan atau imajinasi. Ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, maknanya menyempit dan bernada negatif: KBBI mendefinisikannya sebagai kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap sakti, padahal kenyataannya berbeda (KBBI, t.t.). Pergeseran makna itu menyimpan sesuatu yang penting. Pada mulanya, kata ini bicara tentang cara kerja pikiran yang gemar menciptakan bayangan dan mengisi kekosongan dengan sesuatu yang terasa masuk akal. Sagan (1995, 17) menangkap kecenderungan ini: otak manusia secara alami mencari pola, sebab, dan makna, bahkan di tempat yang kosong darinya. Takhayul, dengan demikian, adalah bukti bahwa manusia selalu berpikir.
Perlu dibedakan sejak awal antara tiga hal yang sering dicampuradukkan. Takhayul adalah kepercayaan irasional terhadap hubungan sebab-akibat yang lemah dasar empiris maupun teologisnya: mengetuk kayu mencegah nasib buruk, angka tertentu membawa sial (Shermer, 2002). Mitos, dalam pengertian akademis, adalah wacana simbolik yang menyimpan fungsi makna bagi suatu komunitas, cara manusia memahami asal-usul dan tujuan hidupnya (Bultmann, 1951). Kepercayaan religius yang sistematis memiliki struktur teologis, komunitas penafsir, dan tradisi kritik internal. Calvin menegaskan batas ini: “sensus divinitatis” adalah kesadaran bawaan akan Yang Ilahi, sementara takhayul adalah distorsinya (Calvin, 1960).
Mengapa takhayul lebih mudah bertahan dibanding sains? “Pseudosains” bebas dari kewajiban membuktikan diri kepada kenyataan, standar buktinya longgar, dan jauh lebih mudah dijelaskan kepada orang banyak (Sagan, 1995, 17). Pertanyaan yang lebih dalam tetap Sagan kejar: mengapa manusia membutuhkan takhayul sejak awal? Dalam “Cosmos,” ia menulis bahwa manusia dari segala zaman menempatkan simbol bintang di bendera mereka karena ingin merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar (1980, Bab 3). Takhayul adalah cara manusia menjawab pertanyaan paling tua: apakah hidup saya berarti?
Data lintas budaya memperkuat temuan ini. Di Aljazair, puluhan ribu peramal beroperasi dengan izin resmi pemerintah. Di Jerman, muncul kekhawatiran tentang “sinar bumi” berbahaya yang diklaim hanya bisa dideteksi oleh ahli “dowsing.” Di Jepang pascaperang, ratusan ribu peramal bermunculan dan mayoritas pelanggannya adalah perempuan muda berpendidikan (Sagan, 1995, 19). Di Australia, survei terhadap 1.243 warga Queensland menemukan lebih dari separuh pernah mengetuk kayu sebagai tindakan takhayul, dan hampir tiga perempat pernah menyilangkan jari (Bridgstock, Marais, dan Sturgess, 2011). Di Indonesia, penelitian terhadap 401 warga Jawa menunjukkan kepercayaan takhayul masih berada dalam kategori sedang, baik di desa maupun kota (Wulandari dan Muhammad, 2022).
Pandangan Sagan sendiri berkembang seiring waktu. Dalam “Cosmos,” ia menulis bahwa takhayul adalah semacam obat bagi mereka yang menghadapi wabah, kemiskinan, dan kekacauan hidup tanpa pegangan lain (Sagan, 1980, Bab 3). Dalam “The Demon-Haunted World,” nadanya berubah lebih keras: “pseudosains” menjawab kebutuhan emosional yang kuat, kebutuhan yang sering luput dari perhatian sains (1995, 17). Sagan yang muda memahami takhayul sebagai pelarian orang yang terluka, sementara Sagan yang tua mengkhawatirkan apa yang terjadi ketika pelarian itu dibiarkan tanpa batas. Keduanya benar.
Takhayul, dengan demikian, memerlukan lebih dari sekadar tambahan jam pelajaran sains. Lubis (1977) sudah melihat ini sejak lama: takhayul bertahan karena ia tertanam dalam kebudayaan dan mengakar dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang lebih jujur tentang kebutuhan apa yang selama ini dijawab oleh takhayul.
Mengapa Otak Manusia Mudah Memercayainya
Pertanyaan berikutnya lebih mendasar: mengapa otak manusia begitu mudah memercayai takhayul? Sagan mencatat bahwa manusia memiliki kebutuhan emosional yang dalam untuk merasa bahwa hidup masih bisa dipahami (1995, 29). Ketika kenyataan terasa di luar kendali, penjelasan yang memberi rasa aman jauh lebih menarik dibanding jawaban ilmiah yang lambat dan penuh ketidakpastian. Di titik itulah takhayul menemukan daya tariknya: ia memberi kesan bahwa dunia punya keteraturan dan nasib masih bisa dipengaruhi.
Michael Shermer memperdalam penjelasan ini dari sudut evolusi. Manusia berevolusi sebagai makhluk pencari hubungan antara peristiwa, dan kemampuan itu awalnya membantu bertahan hidup (2002, 7). Leluhur yang cepat membaca tanda bahaya lebih mungkin selamat. Tapi, kemampuan yang sama menghasilkan efek samping: manusia menjadi terlalu mudah menemukan makna dalam kebetulan. Shermer menunjukkan bahwa salah melihat pola yang tidak ada hanya membuang energi, sedangkan gagal mengenali ancaman nyata bisa berakibat fatal (2002, 7). Karena itu, otak manusia secara biologis lebih memilih salah melihat pola daripada gagal mengenalinya.
Dari mekanisme inilah takhayul berkembang. Suara angin di malam hari terasa seperti pertanda, angka tertentu diyakini membawa sial, dan kebetulan sederhana dibaca sebagai pesan tersembunyi. Pola ini bertahan hingga zaman modern: sebagian investor memilih tanggal tertentu untuk transaksi besar, atlet profesional mempertahankan ritual sebelum bertanding, dan jutaan orang berpendidikan masih membaca zodiak. Otak manusia lebih nyaman hidup dengan pola yang keliru daripada menghadapi kemungkinan bahwa hidup sering berlangsung secara acak.
Sagan kemudian menunjukkan ironi besar peradaban modern: manusia hidup di dunia yang hampir seluruhnya ditopang sains dan teknologi, namun sebagian besar memahaminya dari luar saja (1995, 28). Dalam ruang seperti itu, penjelasan sederhana yang menawarkan rasa aman jauh lebih menarik dibanding proses berpikir ilmiah yang panjang. Shermer memperketat argumen ini: kecerdasan membuat seseorang justru lebih terampil membela keyakinan yang diperoleh bukan dari penalaran yang matang (2002, 281). Sains mengubah apa yang diketahui seseorang, tapi cara ia merasakan dan merespons dunia bisa tetap utuh.
Robert Sapolsky membuka lapisan yang lebih dalam. Dalam “Determined,” ia berargumen bahwa setiap perilaku manusia sudah dibentuk oleh rangkaian panjang sebab-akibat biologis dan lingkungan yang bekerja jauh sebelum seseorang sempat mengambil keputusan secara sadar (2023, 4). Kepercayaan takhayul pun mengikuti pola yang sama. Ketika seseorang menghindari angka tertentu atau mengetuk kayu sebelum ujian, ia merespons dengan cara yang sudah dibentuk oleh hormon stres dalam tubuhnya, pola asuh sejak kecil, dan budaya yang melingkupinya sejak lahir. Pendidikan bekerja pada tingkat kesadaran, sementara takhayul berakar pada lapisan yang jauh lebih dalam.
Sagan, Shermer, dan Sapolsky akhirnya bertemu di satu simpulan meski datang dari arah yang berbeda: manusia merasakan terlebih dulu, lalu mencari alasan untuk membenarkan apa yang sudah ia rasakan. Takhayul lahir dari cara otak manusia dibangun, dari cara manusia dibesarkan, dan dari ketakutan paling tua yang masih hidup di dalam dirinya, bahwa hidup ternyata jauh lebih acak dan sulit dipahami daripada yang ingin ia percaya.
Artikel ini berargumen bahwa takhayul adalah respons antropologis terhadap ketidakpastian eksistensial: pertemuan antara struktur biologis otak yang terus mencari pola, kebutuhan psikologis akan rasa aman, dan kerinduan transendental terhadap makna yang belum selalu terjangkau oleh sains.
Mayoritas pembahasan tentang takhayul berhenti pada pertanyaan “epistemologis,” yakni apakah manusia salah berpikir? Pertanyaan yang lebih dalam justru bersifat “antropologis”: mengapa manusia, di manapun dan di zaman apapun, membutuhkan pegangan simbolik untuk menghadapi ketidakpastian? Sagan, Shermer, dan Sapolsky masing-masing menjawab sebagian dari pertanyaan itu, sementara sebagian lainnya mengundang kita masuk lebih jauh ke lapisan yang oleh sains sendiri masih terus dijelajahi.
Takhayul sebagai Respons terhadap Ketidakpastian Eksistensial
Sebelum masuk ke pembacaan teologis atau filsafat keilahian, satu catatan metodologis perlu ditegaskan. John Calvin, Rudolf Bultmann, dan Karl Barth adalah pemikir dengan presuposisi yang berbeda, bahkan bertentangan. Calvin meletakkan wahyu ilahi sebagai satu-satunya koreksi yang sah atas distorsi manusia. Bultmann mendekonstruksi bahasa Kitab Suci untuk menemukan inti eksistensialnya. Barth menolak “natural theology” dan memandang setiap upaya manusia mengenal Allah dari bawah sebagai bentuk pemberontakan.
Tulisan ini meminjam masing-masing untuk satu fungsi antropologis yang spesifik: menjelaskan mengapa manusia secara struktural membutuhkan pegangan simbolik untuk menghadapi ketidakpastian. Yang diutamakan adalah pertanyaan apakah bersama-sama mereka membantu melihat sesuatu yang luput dari satu perspektif saja. Pula, artikel ini bergerak dari keyakinan bahwa kerinduan manusia terhadap Yang Transenden melampaui gejala psikologis yang bisa direduksi ke dalam neurologi atau evolusi. Mengikuti Calvin yang berakar pada Santo Agustinus, esai ini mengandaikan bahwa “sensus divinitatis” adalah kenyataan antropologis yang sesungguhnya: manusia diciptakan dengan kapasitas mengenal Yang Ilahi, dan takhayul adalah distorsi dari kapasitas itu.
Sagan, Shermer, dan Sapolsky telah memetakan mekanisme takhayul dengan presisi: bagaimana otak mencari pola, bagaimana evolusi membentuk kecenderungan itu, dan bagaimana konteks biologis bekerja jauh di bawah kesadaran. Tapi, ada lapisan yang tetap terbuka setelah semua penjelasan itu selesai, yaitu mengapa rasa aman psikologis terasa seperti kebutuhan yang begitu mendesak dan fundamental. Di sinilah pendekatan teologis menawarkan pelengkap yang organik: ia menelusuri akar dari kegelisahan yang mendorong takhayul, lapisan yang oleh sains sendiri diakui ada tapi belum sepenuhnya terjangkau.
Calvin membaca gejala ini melalui konsep “sensus divinitatis,” yaitu kesadaran dasar akan Yang Ilahi yang tertanam dalam diri setiap manusia sejak lahir (1960, 43). Dorongan mencari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri adalah bagian dari struktur batin manusia. Calvin juga menjelaskan bahwa kesadaran ini bisa terdistorsi oleh ketakutan dan keinginan manusia sendiri (1960, 43). Dalam “Institutes” I.4, ia menulis bahwa manusia cenderung membentuk gambaran ilahi menurut kecemasan dan keinginannya sendiri. Takhayul, dalam kerangka ini, adalah cermin dari manusia yang ingin merasa bahwa kekuatan besar di luar dirinya masih bisa dikendalikan, didekati, dan dinegosiasikan.
Bultmann memperdalam pembacaan ini dari sisi yang berbeda. Menurutnya, manusia selalu berusaha memahami dirinya dan dunia melalui horizon makna yang melampaui kenyataan yang bisa dilihat dan diukur. Mitos dan simbol religius menyimpan fungsi yang jauh lebih dalam dari sekadar cerita lama: keduanya mengungkapkan keyakinan bahwa asal-usul dan tujuan dunia berada di luar dunia itu sendiri (1951, 4). Dalam kerangka ini, takhayul adalah cara manusia membaca dunia sebagai ruang yang penuh tanda dan makna tersembunyi. Di balik kebetulan, penderitaan, atau nasib buruk, manusia ingin percaya bahwa ada sesuatu yang masih bisa dijelaskan dan dipengaruhi.
Barth mempertajam pembacaan ini lebih jauh. Dalam komentarnya atas Roma 1:18–19, Barth menjelaskan bahwa manusia cenderung membangun “allah” menurut ukuran kecemasannya sendiri, sosok yang terasa aman, bisa dipahami, dan dapat diajak berdamai. Barth menyebut hasil dari proses itu sebagai “No-God,” yaitu ilah yang sebenarnya adalah proyeksi dari keinginan manusia sendiri (1933, 44–45). Paradoksnya, semakin manusia berusaha menjinakkan Yang Transenden agar terasa lebih mudah dipahami, semakin jauh ia dari apa yang sebenarnya ia cari. Barth juga melihat bahwa ketidakamanan hidup terbuka di hadapan manusia seperti sebuah buku teks yang terus-menerus mengingatkan betapa rapuhnya keberadaannya (1933, 46). Dalam situasi seperti itulah takhayul menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: ilusi bahwa hidup masih bisa dinegosiasikan melalui ritual, pertanda, atau simbol yang tepat.
Kegelisahan serupa juga terbaca dari dalam tradisi pemikiran Jawa sendiri. Franz Magnis-Suseno, SJ., dalam “Etika Jawa,” menunjukkan bahwa pandangan dunia Jawa memahami keselamatan manusia (“slamet”) sebagai sesuatu yang bergantung pada kemampuan menempatkan diri secara harmonis dalam kesatuan antara masyarakat, alam, dan alam adikodrati (1984, 84). Realitas yang sesungguhnya terbuka melalui “rasa,” kemampuan merasakan secara halus yang menentukan apakah seseorang mampu menemukan tempatnya dalam kosmos (1984, 156). Di atas “rasa” itu berdiri “kawruh,” pengetahuan tentang asal-usul dan tujuan segala yang ada, yang dalam mistik Jawa disebut “sangkan-paran” (1984, 117). Takhayul, dalam pembacaan ini, adalah respons yang muncul ketika kerinduan manusia terhadap “kawruh” mengambil jalan pintas simbolis yang menawarkan jawaban tanpa menuntut kerja batin yang sesungguhnya. Tradisi Jawa, dengan demikian, sampai pada diagnosis yang serupa dengan Calvin dan Barth, meski menggunakan bahasa dan kerangka yang sepenuhnya berbeda: takhayul tumbuh ketika kerinduan terhadap makna mengambil jalan pintas.
Dibaca bersama, Calvin, Bultmann, dan Barth sedang membaca luka antropologis yang sama dari sudut yang berbeda. Calvin melihat kerinduan terhadap Yang Transenden yang terdistorsi oleh ketakutan. Bultmann melihat kebutuhan manusia terhadap makna yang melampaui kenyataan empiris. Barth melihat kecenderungan manusia menjinakkan Yang Transenden agar terasa aman dan terkendali. Takhayul, dalam kerangka sintesis ini, adalah distorsi spiritual dari kerinduan manusia terhadap keteraturan dan makna yang lebih dalam dari dirinya sendiri. Sampai kerinduan itu terjawab dengan jujur, manusia akan terus mencari jawabannya di tempat yang paling mudah dijangkau.
Yang paling menarik dari seluruh perjalanan intelektual ini adalah pertemuan diam-diam antara sains dan teologi. Sagan, Shermer, dan Sapolsky bergerak dari neurologi, evolusi, dan biologi. Calvin, Bultmann, dan Barth bergerak dari teologi dan eksistensialisme. Keduanya sampai pada pengakuan yang sama: manusia membawa kerinduan mendalam terhadap keteraturan dan makna yang bertahan di hadapan rasionalitas modern. Sains menyebutnya kebutuhan emosional yang menunggu jawaban. Teologi menyebutnya distorsi dari kerinduan transendental. Kata-katanya berbeda, tapi yang sedang mereka baca adalah manusia yang sama: rapuh, takut, dan terus mencari pegangan di tengah hidup yang selalu menyimpan celah ketidakpastian. Takhayul hidup tepat di ruang yang ditinggalkan oleh jawaban-jawaban yang masih terbuka itu.
Kegelisahan terhadap takhayul juga sudah lama dikenali dalam tradisi religius. Paulus, dalam surat pastoralnya, memperingatkan jemaah agar menjauhi “mitos dan cerita yang tidak masuk akal” (1 Tim. 4:7), sebuah pengamatan yang terasa sangat relevan di tengah budaya viral dan algoritma digital hari ini.
Penutup: Takhayul di Era Digital dan Budaya Viral
Jika dulu takhayul hidup melalui cerita lisan dan ritual adat yang diwariskan dari mulut ke mulut, hari ini ia bergerak melalui algoritma. Video tentang angka sial bisa menyebar ke jutaan layar dalam hitungan jam. Ramalan zodiak hadir setiap pagi di aplikasi ponsel. Konten mistis bercampur dengan hiburan, motivasi, bahkan saran keuangan. Takhayul kini diproduksi setiap hari, dikonsumsi oleh semua usia, dan dibagikan ulang oleh orang-orang berpendidikan.
Yang membuat era digital berbeda adalah cara kerjanya. Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan perhatian, dan perhatian manusia paling mudah ditangkap oleh konten yang menyentuh rasa takut, harapan, atau rasa penasaran. Takhayul bekerja persis di ketiga titik itu. Konten bertema pertanda buruk, ramalan masa depan, atau ritual keberuntungan secara alami lebih mudah menjadi viral dibanding artikel ilmiah yang panjang dan penuh syarat. Algoritma, tanpa sadar, telah menjadi mesin penguat kecemasan yang terus menyuburkan apa yang layak dikritisi.
Takhayul di era digital juga hadir dalam wujud yang jauh lebih modern dan sulit dikenali: kepercayaan viral yang beredar tanpa verifikasi, fanatisme politik yang memperlakukan pemimpin seperti juru selamat, keyakinan bahwa data atau teknologi akan memberi manusia rasa aman mutlak, dan kultus algoritma yang diam-diam dipercaya lebih tahu tentang hidup seseorang daripada dirinya sendiri. Ia hidup di dalam budaya digital, di antara orang-orang berpendidikan, dan sering kali tepat di dalam genggaman kita sendiri.
Shermer sudah memperingatkan bahwa orang cerdas justru lebih terampil membela keyakinan yang lahir dari kepercayaan, bukan dari penalaran matang (2002, 281). Di dunia digital, kemampuan itu mendapat bahan bakar yang terus mengalir. Seseorang bisa membaca puluhan artikel dalam satu hari, tapi hanya menyimpan yang memperkuat apa yang sudah ia percaya. Ruang gema terbentuk karena algoritma kapitalistik dan neurologi manusia bertemu di titik yang paling rentan: kebutuhan untuk merasa bahwa dunia masih bisa dipahami dan dikendalikan. Yang berubah bukan sifat manusianya, melainkan infrastruktur penyebarannya.
Di sinilah persoalan terdalamnya terletak, dan di sinilah artikel ini mencoba menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda dari pembahasan yang sudah ada. Sebagian besar diskusi tentang takhayul bergerak di salah satu dari dua jalur: jalur ilmiah yang menjelaskan mekanisme kognitif dan evolusioner, atau jalur teologis yang membaca takhayul sebagai distorsi spiritual. Tulisan ini mencoba menempatkan keduanya dalam satu percakapan, bukan untuk memaksakan konsensus di antara perspektif yang memang berbeda, melainkan untuk menunjukkan bahwa keduanya sedang membaca luka antropologis yang sama dari arah yang berbeda. Sagan, Shermer, dan Sapolsky memetakan cara otak manusia bekerja, sementara Calvin, Bultmann, Barth, dan Romo Magnis menyelami mengapa kegelisahan itu terasa begitu dalam dan begitu tua. Tradisi Jawa, melalui konsep “kawruh” dan “sangkan-paran,” memperkaya percakapan ini dengan bahasa yang tumbuh dari dalam, bukan diimpor dari luar. Sintesis ini, sepanjang yang penulis ketahui, jarang atau bahkan mungkin belum dilakukan secara eksplisit dalam literatur tentang takhayul di konteks Indonesia.
Karena itu, takhayul adalah gejala yang lahir dari pertemuan antara otak yang terus mencari pola, kecemasan terhadap ketidakpastian hidup, dan kerinduan terhadap makna yang belum selalu bisa dijawab oleh sains. Memahami ini bukan berarti membenarkan takhayul. Justru sebaliknya: hanya dengan memahami mengapa ia bertahan, kita bisa mulai menjawab pertanyaan yang lebih penting, yakni kebutuhan apa yang selama ini ia jawab, dan apakah ada cara yang lebih jujur untuk menjawab kebutuhan itu. Setidaknya ada tiga arah yang layak dipertimbangkan. Pertama, sains yang mengakui kecemasan manusia sebagai titik awal percakapan, bukan kelemahan yang harus dikoreksi. Kedua, spiritualitas yang berani menemani manusia menghadapi ketidakpastian tanpa menjanjikan kendali yang palsu. Ketiga, pendidikan yang mengajarkan cara hidup dengan pertanyaan yang belum terjawab tanpa panik. Ketiganya bukan solusi, melainkan orientasi.
Peradaban modern berhasil menciptakan teknologi yang melampaui imajinasi generasi sebelumnya. Tapi, ia belum berhasil mengatasi ketakutan paling tua manusia terhadap ketidakpastian. Otak yang hari ini menggulir layar ponsel mencari ramalan zodiak adalah otak yang sama, secara biologis dan eksistensial, dengan leluhur yang ribuan tahun lalu membaca nasib dari bintang dan tulang binatang. Yang berbeda hanya mediumnya. Di titik itulah takhayul terus menemukan rumahnya, bahkan di tengah masyarakat yang mengaku paling rasional. Pertanyaan terdalam manusia tentang makna, keteraturan, dan harapan belum pernah benar-benar terjawab oleh kemajuan itu sendiri. Selama pertanyaan itu masih hidup, takhayul akan terus menemukan cara untuk bertahan.
Rujukan
– Barth, Karl. 1933. “The Epistle to the Romans.” Translated by Edwyn C. Hoskyns. London: Oxford University Press.
– Bridgstock, Martin, Ida Marais, dan Keith Sturgess. 2011. “The Structure of Superstitious Action: A Further Analysis of Fresh Evidence.” “Personality and Individual Differences” 51 (3): 419–424.
– Bultmann, Rudolf. 1951. “Kerygma and Myth: A Theological Debate.” Edited by Hans Werner Bartsch. London: SPCK.
– Calvin, John. 1960. “Institutes of the Christian Religion.” Edited by John T. McNeill. Translated by Ford Lewis Battles. 2 vols. Philadelphia: Westminster Press.
– Kamus Besar Bahasa Indonesia. t.t. “Takhayul.” Diakses 15 Mei 2026. https://kbbi.web.id/takhayul.
– Lubis, Mochtar. 1977. “Pidato Kebudayaan Mochtar Lubis Menguak Enam Sifat Manusia Indonesia.” Pidato Kebudayaan, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977. Diakses 15 Mei 2026. https://nationalgeographic.grid.id/read/13306246/pidato-kebudayaan-mochtar-lubis-menguak-enam-sifat-manusia-indonesia.
– Magnis-Suseno, Franz. 1984. “Etika Jawa.” Jakarta: Gramedia.
– Marini, Putri. 2021. “Dunia Hiburan: Lahan Subur Berkembangnya Takhayul.” “The Columnist,” 3 Mei. Diakses 15 Mei 2026. https://thecolumnist.id/artikel/dunia-hiburan-lahan-subur-berkembangnya-takhayul-1644.
– Sagan, Carl. 1980. “Cosmos.” New York: Random House.
– Sagan, Carl. 1995. “The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark.” London: Headline Book Publishing.
– Sapolsky, Robert M. 2023. “Determined: A Science of Life without Free Will.” New York: Penguin Press.
– Shermer, Michael. 2002. “Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time.” New York: Owl Books.
– Utomo, Happy Ferdian Syah. 2018. “Ada Pengagum Rahasia: 7 Kisah Takhayul Paling Populer pada Makanan.” “Liputan6.com,” 25 September. Diakses 15 Mei 2026. https://www.liputan6.com/global/read/3652269/ada-pengagum-rahasia-7-kisah-takhayul-paling-populer-pada-makanan.
– Wulandari, Mega, dan A. H. Muhammad. 2022. “Superstitious Belief Ditinjau dari Variasi Tempat Tinggal (Desa dan Kota).” “Journal of Social and Industrial Psychology” 11 (2): 111–122.
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

