Revolusi Moral ala Zen

What is Surrealism in art and cinema? | Clipchamp GlossaryOleh Reza A.A Wattimena

Saya diundang menjadi pembicara di Webinar pada Agustus 2021 lalu. Rekan pembicara saya adalah seorang guru besar dari salah satu universitas negeri di Bandung. Ia doyan sekali berbicara soal moral. Baginya, peserta didik itu harus bermoral, yakni patuh pada orang tua, rajin beribadah, patuh pada agama dan tidak boleh berpakaian bebas.

Dalam hati saya, itu bukan moral. Itu perbudakan. Itu penjajahan. Itu penindasan. Saya menawarkan wacana tandingan. Kita tidak butuh moral dangkal semacam itu. Yang kita butuhkan adalah pemikiran kritis, kreatif dan keberanian menantang pola pikir lama yang sudah membusuk. Lanjutkan membaca Revolusi Moral ala Zen

Kebijaksanaan yang Menyembuhkan

Steven Kenny; Deer's Wisdom: Gentleness in word, thought/touch, Ability to  listen, Grace/appreciation for balance, Understanding wha… | Art, Surreal  art, Surrealism

Gambar dari Steven Kenny

Oleh Reza A.A Wattimena

Satu lagi teman dekat saya mendapatkan diagnosis positif COVID 19. Ini adalah satu berita di antara berbagai berita serupa yang kerap mendatangi saya beberapa bulan belakangan. Tak ada gejala yang membahayakan. Hanya badan terasa lemas, dan nafsu makan menurun.

Memang, sakit adalah bagian dari kehidupan. Orang hidup pasti akan mengalami sakit. Dapatlah dikatakan, bahwa sakit justru merupakan saatnya beristirahat. Orang diputus dari kegiatannya sehari, dan beristirahat untuk memulihkan diri. Lanjutkan membaca Kebijaksanaan yang Menyembuhkan

Kebijaksanaan dari “Kegilaan”, Belajar dari Rumi  

Notorious Painting by Jack Clifford | Saatchi Art
Jack Clifford

Oleh Reza A.A Wattimena

Rumi, salah satu tokoh di dalam tradisi Sufi Islam, tak habis-habisnya memberikan inspirasi pada saya. Ia pernah menulis: “Larilah dari apa yang nyaman. Lupakan kenyamanan. Hiduplah di tempat kamu takut untuk hidup. Hancurkan reputasimu. Jadilah pribadi yang kontroversial. Saya telah mencoba hidup dengan perencanaan yang bijak. Mulai sekarang, saya akan menjadi gila.”

Suara Rumi bergema keras di jaman kita. Jaman dimana orang hidup mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Jaman dimana orang menjilat kiri kanan untuk menjaga dan meningkatkan reputasinya. Jaman dimana orang cari aman, hidup sebagai pengecut dan tunduk pada penindasan akal sehat. Lanjutkan membaca Kebijaksanaan dari “Kegilaan”, Belajar dari Rumi  

Kebijaksanaan di Atas Dua Roda

Biker Heaven | Sunset painting, Digital painting, Painting
Danielle Petrosino

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya suka sekali bersepeda. Banyak petualangan menarik di atas dua roda.

Tanjakan di gang seolah menjadi gunung tinggi yang terjal. Rumput di taman seolah menjadi hutan belantara yang berbahaya.

Bersepeda merangsang imajinasi. Ini membuat hidup jadi berwarna.

Penggemar sepeda juga tampak meningkat sekarang ini. Di Sabtu dan Minggu, Jakarta dipenuhi dengan pengendara sepeda di berbagai penjuru. Lanjutkan membaca Kebijaksanaan di Atas Dua Roda

Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

palace-of-wisdom

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang cerdas di jaman ini. Mereka penuh dengan informasi dan pengetahuan. Namun, kebijaksanaan tak mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan tersebut digunakan untuk menipu, korupsi dan merusak kebaikan bersama.[1]

Yang dibutuhan kemudian adalah nalar kebijaksanaan (Vernunft-Weisheit). Nalar kebijaksanaan lebih dari sekedar nalar keilmuan. Di jaman sekarang ini, nalar kebijaksaanaan menjadi panduan utama, supaya kecerdasan bisa mengabdi pada kebaikan bersama. Ini juga menjadi amat penting di tengah tantangan radikalisme dalam segala bentuknya, dan banjir informasi palsu yang melanda kehidupan kita. Sebagai ibu dari semua ilmu, filsafat adalah ujung tombak untuk membangun nalar kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Pinterest | Bonito

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di abad informasi. Setiap detiknya, jutaan informasi baru timbul mengisi keseharian kita. Informasi begitu mudah didapat. Semua ini menjadi mungkin, karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang amat cepat.

Revolusi Industri Keempat

Kita juga hidup di jaman revolusi industri yang keempat. Sekedar informasi, revolusi industri pertama dipicu dengan penemuan mesin uap dan air untuk menggerakkan mesin produksi. Revolusi industri kedua dimulai dengan penggunaan energi listrik untuk mendorong mesin produksi. Revolusi industri ketiga didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di dalam proses produksi. Lanjutkan membaca Informasi, Pengetahuan dan Kebijaksanaan di Masa Revolusi Industri Keempat

Memahami Hukum-hukum Kehidupan

9b8b883b951611d659a263c66e1dd7b8
pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tidak kesal, ketika menyaksikan pengendara yang begitu ceroboh di jalan raya, dan sama sekali tidak peduli pada peraturan lalu lintas? Siapa yang tidak marah, ketika menyaksikan para penegak hukum di Indonesia justru menjadi pelaku pelanggaran hukum, dan tidak ada seorang pun yang berani menindaknya?

Padahal, banyak peraturan dibuat untuk menata hidup manusia, supaya damai dan aman. Ketika peraturan tersebut dilanggar, yang menderita bukan hanya si pelanggar, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Kegagalan untuk mematuhi prinsip-prinsip hidup bersama berakar pada ketidaktahuan, atau tiadanya perspektif. Ketika orang gagal menjalankan prinsip-prinsip hidup bersama, maka konflik akan menjadi buahnya.

Pentingnya Perspektif

Pemahaman akan perspektif melibatkan tiga hal. Pertama, orang memahami hukum sebab akibat yang bekerja di dalam kenyataan. Lanjutkan membaca Memahami Hukum-hukum Kehidupan

Menjadi Manusia Reflektif

htb1dmcwjxxxxxa8xfxxq6xxfxxxw
aliexpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang” (www.rumahfilsafat.com)

Kutipan ini kiranya perlu untuk kita resapi bersama: „Hidup yang tidak direfleksikan (diperiksa) tidaklah layak dijalani.“ Begitu kata Sokrates, pemikir asal Yunani, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Hidup yang tidak direfleksikan berarti hidup seperti robot yang otomatis dan tanpa makna.

Di Indonesia, ketika mendengar kata “refleksi”, orang langsung berpikir tentang pijat refleksi. Ini berarti memijat titik-titik tertentu di telapak kaki, supaya orang bisa merasa lebih segar. Bukan refleksi semacam itu yang dimaksud disini. Refleksi, dalam arti sesungguhnya, adalah belajar dari apa yang sudah dilalui sebelumnya. Lanjutkan membaca Menjadi Manusia Reflektif

Sintesis

4
themovingarts.com

Kaitan antara Politik, Organisasi, Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan Hidup

Oleh Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di bidang Filsafat Sosial-Politik, Pengembangan Organisasi dan Kepemimpinan, Filsafat Ilmu Pengetahuan serta Filsafat Timur, Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Empat tema ini (Politik, Organisasi, Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan Hidup) merupakan tema-tema hidup saya. Selama 14 tahun ini (2002-2016), saya melakukan penelitian, berdiskusi, refleksi dan menulis untuk memahami keempat tema ini, serta keterkaitannya satu sama lain. Penelitian ilmiah yang saya lakukan juga dibarengi dengan pengalaman bekerja sekaligus memimpin di beberapa organisasi. Secuil refleksi ini kiranya bisa memberikan sedikit penjelasan.

Keempat tema ini, yakni politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, adalah tema universal di dalam hidup manusia. Semua unsur kehidupan memilikinya, mulai dari hubungan dengan kekasih sampai dengan hubungan antar negara ataupun organisasi internasional. Dengan kata lain, tidak ada satupun dimensi kehidupan manusia yang luput dari politik, organisasi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Maka, pemahaman atasnya mutlak diperlukan. Lanjutkan membaca Sintesis

Mendidik Dendam

zbeksinsk10
wordpress..com

Oleh Reza A.A Wattimena

Semua konflik di dunia ini terjadi, karena orang mengira, bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan. Mereka mengira, bahwa ini adalah jalan keluar satu-satunya. Jika kekerasan tak dibalas dengan kekerasan, ada perasaan tidak puas di dalam diri. Bahkan, pola semacam ini sudah menjadi begitu otomatis, sehingga orang tidak lagi menyadarinya.

Bom harus dibalas dengan bom. Pukulan harus dibalas dengan pukulan. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Nyawa ganti nyawa. Lanjutkan membaca Mendidik Dendam