Seminar: Etika dan Moral di dalam Dunia Digital

Eposter_Kelas Filsafat Mei 1Eposter_Kelas Filsafat Mei 2
Masih dalam tema besar “Manusia dan Dunia Digital”, kelas filsafat pada putaran kedua ini membahas bagaimana pemikiran Kant, pemikiran kaum Stoa, pemikiran Karl Marx, hingga Buddhisme dapat memecahkan soal etika di dunia digital. Daftar sekarang melalui https://tiket.salihara.org/event/etika-moral-dan-dunia-digital/ 

Zen itu Seperti Kamar Kosong

jptkA1Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa teman bercerita. Mereka sudah belajar Zen. Mereka juga sudah aktif Yoga. Namun, derita dan kecewa tetap berkunjung, seolah tak ada yang berubah.

Akhirnya, mereka lelah. Ada perasaan putus asa muncul. Hidup memang penderitaan, begitu kata seorang teman. Ucapan serupa keluar dari mulut Gautama, Sang Buddha, lebih dari 2400 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca Zen itu Seperti Kamar Kosong

Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

61GWCuVqElL._AC_SX425_Oleh Reza A.A Wattimena

Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.

Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

1647245301Oleh Reza A.A Wattimena

Tak bisa disangkal, Yesus adalah salah satu tokoh terpenting di dalam sejarah manusia. Ia menginjakkan kaki di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu. Namun, pengaruhnya terasa sampai detik ini. Figurnya telah menyentuh banyak orang selama ratusan tahun belakangan ini.

Di kala krisis, sosoknya menjadi simbol harapan. Umat Kristen, terutama, menjadikan Yesus sebagai sandaran utama hidupnya. Umat beragama lain, termasuk yang tidak beragama, kerap mengagumi keberanian dan teladan hidupnya. Yesus telah menjadi guru dari banyak orang. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

Langit Biru dan Pohon Hijau Pagi Ini

Statue Surreal Large Sun Rays Moon Fantasy Sun
Statue Surreal Large Sun Rays Moon Fantasy Sun

Oleh Reza A.A Wattimena

Bentuk adalah kekosongan. Kekosongan adalah Bentuk.

Tidak ada Bentuk. Tidak ada kekosongan.

Bentuk adalah Bentuk. Kekosongan adalah kekosongan.

Form is emptiness. Emptiness is form.

No form. No emptiness.

Form is form. Emptiness is emptiness.

Minggu 6 Maret 2022. Jakarta Timur pagi ini diisi dengan cuaca yang cerah, serta udara yang segar. Pohon hijau bergoyang tertepa angin. Langit biru diselipi awan putih yang terus menari. Lanjutkan membaca Langit Biru dan Pohon Hijau Pagi Ini

Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

WhatsApp Image 2022-02-22 at 08.01.59MENGKAJI PEMIKIRAN THICH NHAT HANH TENTANG SPIRITUALITAS DAN PERDAMAIAN DUNIA

Bersama Dr Reza Wattimena

Rabu, 23 Pebruari 2023

Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Link: s.id/Esoterika23

Thích Nhất Hạnh  (11 Oktober 1926 – 22 Januari 2022) adalah seorang biksu Buddhisme Zen, penulis, penyair, dan aktivis perdamaian dan HAM, yang berasal dari Vietnam. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Puluhan tahun ia telah bepergian secara internasional untuk memberikan retret dan berbicara tentang pentingnya membangun petdamaian dunia. Lanjutkan membaca Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

img_8606_virtual_divorce_marital_love_surreal_bw_floating_two_headsOleh Reza A.A Wattimena

2014, derita menerpa hidup saya. Tak tertahankan, karena mereka datang bergerombolan pada waktu yang sama. Semua keadaan tak sesuai rencana. Kematian tak terduga dari keluarga sungguh membuka mata.

2014 juga, perjalanan Dharma saya dimulai. Saya meninggalkan mitos dan takhayul dari cara berpikir lama. Dharma adalah jalan pembebasan yang sesuai dengan alam sebagaimana adanya. Sedikit demi sedikit, mata saya terbuka. Lanjutkan membaca Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

Zen untuk Deradikalisasi

4d4ae064710791.5adb43bfd4580Oleh Reza A.A Wattimena

Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.

Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka. Lanjutkan membaca Zen untuk Deradikalisasi

Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

5ac1a5cc173ad462474c68f84191de6e--science-illustration-weird-art

Oleh Reza A.A Wattimena

Percakapan di kafe sederhana itu memanas. Seorang teman minta dijelaskan, apa inti utama dari Zen. Saya menjawab: bunuh “tuhanmu”, “orang tuamu” lalu “dirimu” sendiri. Reaksinya bisa dimengerti: APA??!!

Reaksi anda pasti serupa, ketika membaca judul ini. Apakah Reza sudah gila? Apakah ia menyarakan orang untuk bertindak tak bermoral, dan melawan hukum? Beberapa penjelasan tentu diperlukan. Lanjutkan membaca Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

12121212 (1)Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, saya berbicara tentang Zen di acara publik. Ini sudah beberapa tahun terjadi. Ada yang di luar jaringan (offline), ada yang di dalam jaringan (online). Seorang teman pun berkomentar.

“Mengapa kamu tidak pernah mengutip teks-teks klasik? Mengapa tidak mengacu pada ortodoksi, terutama ortodoksi Dharma di dalam ajaran Vedanta, Hindu dan Buddhis?” Tidak sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban saya pun selalu sama. Lanjutkan membaca Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

face-man-migraine-aura-against-rainbow-shards-oil-surrealism-165763079Oleh Reza A.A Wattimena

“Kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa diubah

Menerima hal-hal yang tak bisa diubah

Kebijaksanaan untuk membedakan keduanya”

Suasana tempat makan itu ramai. Di sana, seorang teman berkomentar tentang buku saya: Urban Zen. “Memang mengapa jika hidup itu menderita? Mengapa harus panik?”, begitu tanyanya.

Memang, hidup harus terus bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk direnungkan. Hidup memang tak harus selalu bahagia. Derita adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Lanjutkan membaca P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

Distraksi Sebagai Derita

600px-Joos_de_Momper_the_Younger,_Anthropomorphic_Landscape_c.1600-1635Oleh Reza A.A Wattimena

2022 sudah tiba. Sebenarnya, itu hanyalah angka. Ia tak sungguh punya makna. Namun, karena kebiasaan manusia selama ribuan tahun yang bersifat global, maka ia memiliki pola tetap yang bermakna.

Tahun-tahun sebelumnya tak mudah. Pandemik mengancam nyawa dan kesehatan batin banyak orang. Krisis ekonomi menggiring milyaran orang ke dalam jurang kemiskinan. Yang lebih parah, kecemasan akan masa depan yang tak pasti terus menghantui dunia. Lanjutkan membaca Distraksi Sebagai Derita

Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Taylor Swift's Video for "Style" Is Totally Dreamy | InStyleOleh Reza A.A Wattimena

Tak biasanya, saya mendengar lagu-lagu baru. Namun, ini perkecualian. Taylor Swift, salah satu musisi perempuan terbaik di dunia saat ini, merekam dan menyebarkan ulang salah satu lagu lamanya. Judulnya All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (From the Vault).

Lagu itu unik. Durasinya 10 menit. Ini sungguh tak biasa untuk musik jaman sekarang. Itu juga salah satunya yang membuat saya tertarik. Anda juga bisa melihatnya dengan gratis di Youtube, termasuk film pendek yang dibuat atasnya. Lanjutkan membaca Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Jaundice. alex gross | Surrealism painting, Graphic design photo  manipulation, Pop surrealismOleh Reza A.A Wattimena

Kata pepatah, fitnah lebih jahat dari pembunuhan. Tampaknya, ungkapan itu memang benar. Jika dibunuh, orang kehilangan tubuhnya. Jika difitnah, tanpa tanggapan yang tepat, orang bisa kehilangan mata pencahariannya, harga dirinya dan bahkan juga hidupnya.

Saya sendiri sudah berulang kali difitnah. Karena iri atau salah paham, banyak kebohongan disebarkan tentang diri saya. Ada fitnah yang sungguh merusak, sampai mempengaruhi banyak sisi hidup saya. Namun, sebagian besar fitnah hanya gosip di belakang yang tak bermakna. Lanjutkan membaca Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Belajar untuk Menderita

WebSyters | Suffering in silence, Art, Fictional charactersOleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi juara. Kita diminta untuk melakukan yang terbaik di segala hal. Sistem sekolah mendukung hal itu. Sistem ekonomi kapitalisme Indonesia juga sejalan dengan itu.

Namun, kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Kita tidak pernah diajarkan untuk menderita. Padahal, di dalam hidup, orang tak selalu bisa menang dan senang. Derita dan kekalahan kerap datang berkunjung, tanpa diundang. Lanjutkan membaca Belajar untuk Menderita

Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Madrid surrealism show offers escape from pandemic reality | Spain | The  GuardianOleh Reza A.A Wattimena

Hampir 20 tahun, saya mendalami filsafat secara sistematik. Dalam kaitannya dengan teologi dan agama, ada perdebatan-perdebatan abadi yang muncul dalam wacana filsafat. Saya berpendapat, bahwa perdebatan-perdebatan itu hampa. Semua itu muncul dari kesalahpahaman yang berakar pada agama-agama Timur Tengah.

Ada enam isu yang terus muncul. Pertama adalah isu tentang kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, juga antara iman dan ilmu. Agama dianggap berpijak pada kepercayaan murni. Sementara, ilmu berpijak pada akal budi murni. Hubungan keduanya rumit, seringkali penuh kekerasan, dan tak akan bisa terdamaikan sepenuhnya. Lanjutkan membaca Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Salvador Dali - Surreal - 101 Art GalleryOleh Reza A.A Wattimena

Sebagai sebuah jalan hidup yang lahir ribuan tahun silam, apakah Zen masih cocok untuk jaman sekarang? Inilah jaman penuh krisis yang datang bergantian. Orang hidup dalam kebingungan. Perubahan datang begitu cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian dan kecemasan besar bagi hidup banyak orang.

Zen lahir dari India, kemudian menyebar ke Cina, Jepang, Korea, Eropa, Amerika Utara dan seluruh dunia. Tak ada yang sungguh tahu, kapan Zen lahir. Ada yang merunutnya kembali ke Siddharta Gautama 2600 tahun silam. Namun, sejauh saya teliti, jauh sebelum Gautama lahir, Zen sudah berkembang subur di India. Lanjutkan membaca Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

HendarOleh Hendar Putranto, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia

Dalam gerak cepat pertumbuhan kota dan mobilitas akseleratif yang mewarnai dinamikanya, acapkali warga kota terengah-engah untuk mengimbangi. Saat motor dan mobil berhenti di perempatan lampu merah, atau di jalur antrian pom bensin, atau sekadar menunggu kedatangan moda transportasi publik, warga kota tetap menyibukkan dirinya dengan gawai sekadar meng-update berita, atau postingan viral di medsos mereka. Sebagian sosok urban mengambil peran sebagai commuter, yang terus meruangwaktu bolak-balik, tidak jarang dalam seruak sesak kemacetan di jalan tol (sebuah ironi!), manakala yang lainnya terjepit himpitan tubuh-tubuh keringatan di gerbong KRL Commuter Line atau TransJakarta. Serba semrawut, sumpek bertumpuk, dan riuh centang-perenang bukan pemandangan luar biasa di tengah dan pinggiran kota. Sesekali, selinap pikir dan selirih peluh tentang Ada dan Makna lamat-lamat menyapa: untuk apa ini semua? Senyampang tikungan kesadaran ini, Reza datang menawarkan suaka bernama Urban Zen. Ini bukan Fatamorgana, juga bukan Panacea, tapi “tawaran kejernihan untuk manusia modern.” Lanjutkan membaca Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

Dharma sebelum Drama

Blue Dharma Fine Art: The Evolution of Bill Bowers' "Convergence" - The  Laurel of AshevilleOleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang mau hidup bebas drama? Tentu saja, kita semua. Bagi pecinta drama Korea, pola drama-drama kehidupan sudah terpahami. Intinya sederhana, yakni ada kejadian yang tak sesuai dengan kehendak kita.

Cuaca tiba-tiba berubah. Hujan deras mengguyur, ketika sedang asyik bersepeda. Atau, tiba-tiba sakit, padahal sudah makan dan tidur cukup. Banyak hal diluar kendali kita. Lanjutkan membaca Dharma sebelum Drama