Dulu, saya tak suka berpergian, atau traveling. Begitu banyak yang mesti dipersiapkan. Begitu banyak energi, waktu dan uang yang terbuang, kadang dengan amat percuma. Saya lebih senang beraktivitas dengan teman dan keluarga dekat.
Sekitar 2015, hal tersebut berubah. Saya mendapat kesempatan untuk berkeliling Eropa. Saya pun mengambilnya. Selama kurang lebih 6 bulan, saya menjadi pengembara daratan Eropa, terutama Eropa Barat.
Saya melihat dunia baru. Ada warna budaya yang berbeda. Ada orang-orang dengan tampilan fisik yang berbeda. Mereka juga berbicara dengan bahasa-bahasa yang berbeda.
Terlebih, ada pandangan dunia (Weltancschauung) yang berbeda. Dunia bukanlah sesuatu yang obyektif. Setiap orang melihat dan mengalaminya dengan cara berbeda. Ini terkait langsung dengan pemahaman konseptual, keadaan psikologis, maupun aliran politik seseorang.
Namun, mengembara bisa membawa belenggu. Kenikmatan yang dihadirkan bisa menciptakan candu. Orang terpesona oleh dunia inderawi yang terus berubah. Ada kehausan yang lahir dari pemuasan inderawi tanpa henti semacam itu.
Mengembara lalu tak membawa kebijaksanaan. Sebaliknya, ia menghadirkan kedangkalan. Orang menikmati, tetapi tidak melalui proses refleksi. Pengembaraan hanya menjadi ajang pengumpul foto untuk dipamerkan di media sosial.
Ini bisa dihindari, jika orang sungguh belajar menjadi pengembara epistemik. Ia mengembara di dunia pemikiran. Ia menikmati membaca banyak buku. Ia menyentuh banyak aliran berpikir di dunia. Namun, ia tidak terjebak pada satu aliran apapun, apalagi meyakininya secara fanatik.
Namun, pengembara yang sesungguhnya bergerak melampaui dunia pemikiran. Ia mencari yang sejati, yang tak berubah di alam semesta yang begitu rapuh dan sementara ini. Ia tidak mencari keluar diri, apalagi terjebak pada kecanduan kenikmatan inderawi. Ia melihat ke dalam dirinya sendiri untuk menemukan yang sejati.
Ketika melihat ke dalam diri, ia tidak menemukan apapun. Tidak ada obyek yang kokoh. Tidak ada entitas yang sungguh nyata dan tak terbantahkan keberadaannya. Namun, ada sesuatu yang sadar dan hidup di dalamnya. Inilah yang disebut kesadaran murni.
Kesadaran murni adalah inti dari kehidupan. Ia adalah esensi dari batin manusia. Ia tidak memiliki bentuk yang solid. Ia sepenuhnya kosong, sadar dan tak memiliki batas.
Pengembara sejati adalah pencari keabadian. Ia merindukan pencerahan yang melenyapkan segala bentuk kebodohan dan penderitaan. Perjalanan lalu menjadi pencarian ke dalam diri untuk mengalami inti batin yang melampaui ruang dan waktu. Pengembaraan lalu menjadi pencerahan itu sendiri.
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

