Seorang pria hendak menyeberang sungai. Ia berbicara dengan tukang perahu yang akan membantunya. Mereka pun bersama-sama menyeberangi sungai terkait. Yang aneh, sampai di seberang, si pria tersebut turun ke daratan, lalu tetap membawa perahu yang ia tumpangi tersebut. Jalannya pun terasa sulit dan berat.
12 tahun, saya mendalami Zen dan Filsafat Asia. Begitu banyak yang saya pelajari. Begitu banyak yang juga dilepas, mulai dari kebingungan sampai dengan derita yang mencekik jiwa. Saya mendalami itu semua karena satu hal, yakni pengalaman penderitaan yang hampir memaksa saya bunuh diri.
Pengalaman penderitaan adalah pengalaman universal. Semua manusia mengalaminya. Derita kecil tidak memicu refleksi mendalam tentang kehidupan. Derita besar, terutama persentuhan dengan kematian, memaksa orang untuk berpikir lebih mendalam tentang hidup ini. Karl Jaspers, pemikir Jerman, menyebutnya sebagai Grenzerfahrung, atau pengalaman batas.
Dalam arti ini, Zen, dan seluruh Filsafat Asia, adalah obat untuk penderitaan. Bisa juga dikatakan, keduanya adalah jalan pembebasan. Ketika derita sudah lepas, maka Zen pun harus dilepas. Obat harus berhenti diminum, setelah penyakit sembuh. Perahu harus dilepas, setelah orang menyeberang ke seberang.
Jika ini tidak dilakukan, obat akan menjadi penyakit baru. Saya menyebut ini sebagai overdosis spiritualitas. Orang melekat erat pada meditasi dan jalan Dharma, atau jalan pembebasan. Keduanya lalu menjadi penyakit yang menghasilkan penderitaan baru.
Tiga hal kiranya penting untuk dilakukan. Pertama, orang perlu melepas konsep-konsep yang berputar di dalam pikirannya. Ia perlu sadar, bahwa pikiran bukanlah miliknya, melainkan sisa-sisa dari hasil hubungannya dengan dunia sosial. Konsep dari pikiran lalu digunakan seperlunya, tanpa dianggap sebagai kenyataan mutlak yang tak bisa dibantah.
Dua, orang perlu melepas keberadaan dunia, termasuk dunia luar dan dunia batin kita. Yang kita sebut sebagai dunia nyata adalah ciptaan dari struktur otak dan kesadaran kita sebagai manusia. Segala bentuk, warna dan bau, sesungguhnya, adalah ciptaan kita sendiri sebagai manusia. Menyadari ini, kita akan secara alami terlepas dari segala kelekatan yang muncul terhadap dunia luar, baik dalam bentuk ambisi, maupun kebencian terhadapnya.
Tiga, pada titik terakhir, kita pun mesti melepaskan semua ajaran pembebasan. Zen, Yoga, dan beragam jalan Dharma lainnya, harus dikembalikan ke tempat asalnya, yakni kekosongan tanpa batas. Kita mesti menjadi sepenuhnya bebas. Setelah semuanya dilepas, apa yang tersisa?
Yang tersisa adalah jeda. Ini merupakan patahan di antara pikiran. Ia sepenuhnya kosong, sekaligus sepenuhnya sadar. Ini merupakan keadaan asali manusia, sebelum pikiran dan seluruh kenyataan muncul. Beberapa tradisi menyebutnya sebagai Shiva, atau Buddha.
Kita pun menjadi tanpa dasar. Tak ada konsep Tuhan yang menjadi pegangan. Tak ada ajaran moral maupun filsafat yang memberi rasa aman. Kita bagaikan jatuh ke lubang hampa yang tidak memiliki akhir. Ada kesegaran dan kelegaan di sana…
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

