



Oleh Reza A.A Wattimena
Beberapa teman bercerita. Mereka sudah belajar Zen. Mereka juga sudah aktif Yoga. Namun, derita dan kecewa tetap berkunjung, seolah tak ada yang berubah.
Akhirnya, mereka lelah. Ada perasaan putus asa muncul. Hidup memang penderitaan, begitu kata seorang teman. Ucapan serupa keluar dari mulut Gautama, Sang Buddha, lebih dari 2400 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca Zen itu Seperti Kamar Kosong
Oleh Reza A.A Wattimena
Di berbagai forum, saya berbicara tentang puasa digital. Awalnya, banyak orang terkejut dengan ide ini. Namun, setelah berdiskusi lebih dalam, titik terang pun timbul. Kita tidak hanya perlu melakukan puasa secara tradisional, tetapi juga puasa digital.
Secara umum, puasa adalah sebentuk mati raga. Orang menahan segala bentuk nafsu dalam jangka waktu tertentu. Ada yang puasa makan, minum, seks, merokok, bergosip dan sebagainya. Tujuannya adalah mencapai kebebasan dari dorongan nafsu di dalam diri, sekaligus kesehatan tubuh yang lebih baik. Lanjutkan membaca Puasa Digital
Oleh Johannes Supriyono
Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.
“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha
Oleh Reza A.A Wattimena
Bayi itu menangis di pagi hari. Suara keras membangunkannya. Suara tidak datang dari dalam rumah, tapi dari luar. Ada orang berdoa sangat keras, memecah pagi dan merusak ketenangan hidup masyarakat sekitar.
Berdoa dan bernyanyi harus keras, bahkan sampai jarak 3 km, suara tetap terdengar. Begitu banyak orang terganggu. Katanya, ini untuk menyebarkan agama. Yang tercipta bukan cinta, tetapi benci yang membara. Ini flexing religi. Lanjutkan membaca “Flexing” Religi
Oleh Reza A.A Wattimena
Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.
Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…
Tak bisa disangkal, Yesus adalah salah satu tokoh terpenting di dalam sejarah manusia. Ia menginjakkan kaki di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu. Namun, pengaruhnya terasa sampai detik ini. Figurnya telah menyentuh banyak orang selama ratusan tahun belakangan ini.
Di kala krisis, sosoknya menjadi simbol harapan. Umat Kristen, terutama, menjadikan Yesus sebagai sandaran utama hidupnya. Umat beragama lain, termasuk yang tidak beragama, kerap mengagumi keberanian dan teladan hidupnya. Yesus telah menjadi guru dari banyak orang. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam
Oleh Reza A.A Wattimena
Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang. Namun, sampai detik tulisan ini dibuat, kita masih saja membeli garam dari negara lain. Padahal, laut di Indonesia jauh lebih luas dari daratan yang ada. Ini salah satu kebodohan kita.
Garis pantai kita sepanjang 54.716 km. Dengan garis pantai seluas itu, dengan mudah bangsa kita membuat tambak garam yang amat besar. Hanya kehendak politik dan kompetensi yang dibutuhkan. Namun, setiap tahunnya, kita masih saja impor garam. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Bodoh?

Oleh Reza A.A Wattimena
Bentuk adalah kekosongan. Kekosongan adalah Bentuk.
Tidak ada Bentuk. Tidak ada kekosongan.
Bentuk adalah Bentuk. Kekosongan adalah kekosongan.
Form is emptiness. Emptiness is form.
No form. No emptiness.
Form is form. Emptiness is emptiness.
Minggu 6 Maret 2022. Jakarta Timur pagi ini diisi dengan cuaca yang cerah, serta udara yang segar. Pohon hijau bergoyang tertepa angin. Langit biru diselipi awan putih yang terus menari. Lanjutkan membaca Langit Biru dan Pohon Hijau Pagi Ini
Oleh Reza A.A Wattimena
Saya punya pengalaman seru sewaktu TK (Taman Kanak-kanak). Tak banyak sekolah pada masa saya kecil. Jadi, kami harus sekolah di tempat yang agak jauh. Lingkungan sosialnya pun beragam.
Dulu, TK saya ada kelompok-kelompok. Secara alamiah, anak-anak kecil berusia 4-5 tahun itu membangun kumpulan kelompok kecil. Guru mendiamkan saja, karena itu dianggap tak berbahaya. Namun, dinamika antar kelompok ini menarik. Lanjutkan membaca Taman Kanak-kanak Itu Bernama “Politik Global”
MENGKAJI PEMIKIRAN THICH NHAT HANH TENTANG SPIRITUALITAS DAN PERDAMAIAN DUNIA
Bersama Dr Reza Wattimena
Rabu, 23 Pebruari 2023
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Link: s.id/Esoterika23
Thích Nhất Hạnh (11 Oktober 1926 – 22 Januari 2022) adalah seorang biksu Buddhisme Zen, penulis, penyair, dan aktivis perdamaian dan HAM, yang berasal dari Vietnam. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Puluhan tahun ia telah bepergian secara internasional untuk memberikan retret dan berbicara tentang pentingnya membangun petdamaian dunia. Lanjutkan membaca Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia
Oleh Reza A.A Wattimena
2014, derita menerpa hidup saya. Tak tertahankan, karena mereka datang bergerombolan pada waktu yang sama. Semua keadaan tak sesuai rencana. Kematian tak terduga dari keluarga sungguh membuka mata.
2014 juga, perjalanan Dharma saya dimulai. Saya meninggalkan mitos dan takhayul dari cara berpikir lama. Dharma adalah jalan pembebasan yang sesuai dengan alam sebagaimana adanya. Sedikit demi sedikit, mata saya terbuka. Lanjutkan membaca Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna
Kajian yang selalu penting dan relevan
Info lebih lengkap disini:
https://ingatan.org/pendaftaran-siri-seminar-ikmas-2022-siri-kuliah-kajian-ingatan/

Oleh Reza A.A Wattimena
Sore itu, saya berjalan di trotoar Jalan Casablanca, Jakarta. Seperti biasa, Jakarta macet dan kacau. Saya hanya berjalan, dan tak menggunakan kendaraan apapun. Itu pun, ternyata, sulit.
Banyak orang berdagang di trotoar. Banyak supir ojol (ojek online) yang parkir sembarangan di trotoar. Naik kendaraan sulit, dan berjalan di trotoar juga sulit. Saya mesti bagaimana? Lanjutkan membaca Berpikir Distingtif
Oleh Reza A.A Wattimena
Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.
Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka. Lanjutkan membaca Zen untuk Deradikalisasi
Oleh Reza A.A Wattimena
Cukup berkata “buka!”, supaya toilet itu membuka alasnya. Tak perlu tangan untuk membukanya. Hanya kata, dan suara. Algoritma dari toilet cerdas (smart toilet) tersebut akan langsung menangkapnya, dan menjalankan operasi yang diinginkan.
Sambil menunggu kotoran dari perut dan saluran kencing keluar, toilet cerdas itu akan menganjurkan beberapa hiburan. Ada berita hari ini. Ada laporan cuaca. Ada musik, supaya kegiatan buang air menjadi menyenangkan. Lanjutkan membaca Dari Buang Kotoran Secara Cerdas, Vagina Publik sampai Rekomendasi Gaya Bercinta

Oleh Reza A.A Wattimena
Percakapan di kafe sederhana itu memanas. Seorang teman minta dijelaskan, apa inti utama dari Zen. Saya menjawab: bunuh “tuhanmu”, “orang tuamu” lalu “dirimu” sendiri. Reaksinya bisa dimengerti: APA??!!
Reaksi anda pasti serupa, ketika membaca judul ini. Apakah Reza sudah gila? Apakah ia menyarakan orang untuk bertindak tak bermoral, dan melawan hukum? Beberapa penjelasan tentu diperlukan. Lanjutkan membaca Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri
Oleh Reza A.A Wattimena
Dalam salah satu wawancaranya dengan BBC, kantor berita nasional Inggris, pada 2020 lalu, Presiden Jokowi menyinggung soal demokrasi. Baginya, demokrasi adalah keterbukaan pada ketidaksetujuan. Banyak orang yang mengritik kebijakannya, terutama terkait dengan penegakan HAM, dan kelestarian lingkungan. Itu sah, dan merupakan bagian dari demokrasi, begitu kata Jokowi.
Jawaban ini salah total. Demokrasi bukan hanya soal memperbolehkan ketidaksetujuan, lalu mengabaikannya. Ini namanya pemerintahan tuli. Sebaliknya, demokrasi tidak boleh tuli. Kritik diberikan ruang, didengarkan lalu dipelajari, apakah isinya bisa dan harus diterapkan, atau tidak. Lanjutkan membaca Keadaan Demokrasi Kita
Oleh Reza A.A Wattimena
Beberapa kali, saya berbicara tentang Zen di acara publik. Ini sudah beberapa tahun terjadi. Ada yang di luar jaringan (offline), ada yang di dalam jaringan (online). Seorang teman pun berkomentar.
“Mengapa kamu tidak pernah mengutip teks-teks klasik? Mengapa tidak mengacu pada ortodoksi, terutama ortodoksi Dharma di dalam ajaran Vedanta, Hindu dan Buddhis?” Tidak sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban saya pun selalu sama. Lanjutkan membaca Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

Revolusi digital mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan kita, baik secara positif maupun negatif, sehingga kita juga hidup di dalamnya. Kita beradaptasi, memanfaatkannya dan terkadang terjebak di dalamnya. Sebenarnya bagaimana filsafat menanggapi perubahan ini?
Tema besar Kelas Filsafat tahun ini adalah bagaimana melihat fenomena dunia digital yang kita alami hari ini dari sudut filsafat dengan mengacu pada bidang antropologi, etika dan epistemologi.
Pada putaran pertama, dalam empat pertemuan, Reza A.A Wattimena membahas bagaimana eksistensi pikiran manusia ketika berhadapan dengan “kemayaan realitas” dalam dunia digital. Bagaimana filsafat Zen sampai pemikiran Nietzsche dapat menanggapi fenomena dunia digital?

Antropologi: Manusia dan Dunia Digital
Pengampu: Reza A.A. Wattimena
Setiap Sabtu, 05, 12, 19, 26 Februari 2022, 13:00 WIB
Tiket: Rp 300.000 (promo) | Rp400.000 (normal)
Zoom Webinar
Tunggu apalagi? Yuk perluas wawasanmu dengan belajar filsafat! Daftar sekarang di tiket.salihara.org