Kemarahan adalah bagian dari hidup manusia. Ia datang cepat, bahkan sering tanpa undangan. Tubuh memanas, napas memburu, dan pikiran menjadi sempit. Dalam beberapa detik, dunia terasa berubah.
Kita mengalaminya di jalan raya. Seseorang memotong kendaraan kita, tanpa memberi tanda. Tangan langsung ingin menekan klakson panjang. Mulut pun mulai mengeluarkan kata-kata kasar.
Kita mengalaminya di rumah. Orang yang dekat dengan kita berkata sesuatu yang menyakitkan. Kalimat pendek bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Hubungan bertahun-tahun bahkan bisa rusak dalam beberapa menit.
Kita juga mengalaminya dalam pekerjaan. Pesan tidak dibalas, janji tidak ditepati, dan kerja keras tidak dihargai. Pikiran segera membuat kesimpulan. Orang lain lalu dianggap tidak peduli dan tidak bermutu.
Kemarahan sebenarnya tidak selalu buruk. Ia memberi tanda bahwa sesuatu sedang terjadi. Ada batas yang dilanggar, atau harapan yang gagal. Masalah muncul, ketika kemarahan langsung menguasai tindakan.
Ada tiga hal penting yang bisa dipahami tentang kemarahan. Yang pertama menyangkut hubungan manusia dengan kenyataan. Yang kedua menyangkut cara manusia mengetahui sesuatu. Yang ketiga menyangkut cara manusia bertindak.
Kemarahan pertama-tama lahir dari benturan antara kehendak dan kenyataan. Kita ingin sesuatu terjadi dengan cara tertentu. Kenyataan ternyata berjalan ke arah lain. Di situlah gesekan mulai muncul.
Kita ingin jalan raya tertib. Orang lain ternyata berkendara sembarangan. Kita ingin pasangan memahami kita. Ia ternyata memiliki cara berpikirnya sendiri.
Kita ingin pemerintah bekerja dengan baik. Korupsi justru terus terjadi. Kita ingin aparat menegakkan aturan. Pelanggaran dibiarkan di depan mata.
Semua contoh itu mempunyai struktur yang sama. Ada kehendak dan ada kenyataan. Keduanya tidak bertemu. Kemarahan kemudian muncul di antara keduanya.
Di sinilah Teori Kerakusan Ontologis menjadi penting. Kerakusan bukan hanya soal uang dan benda. Kerakusan juga merupakan dorongan untuk menggenggam kenyataan. Kita ingin hidup bergerak sesuai dengan keinginan kita.
Kita bahkan ingin mengatur manusia lain. Pasangan harus seperti ini. Anak harus seperti itu. Teman harus memahami kita dengan cara tertentu.
Namun kenyataan tidak bekerja seperti mesin. Manusia memiliki sejarah dan kebebasannya sendiri. Alam mempunyai hukum yang tidak peduli pada keinginan kita. Masa depan juga selalu menyimpan ketidakpastian.
Maka, kemarahan sering merupakan kegagalan dalam menggenggam kehidupan. Kita sudah membentuk gambaran tentang apa yang seharusnya terjadi. Kenyataan kemudian menghancurkan gambaran itu. Kita marah, karena kenyataan menolak tunduk.
Namun, ada lapisan kedua yang lebih dalam. Ketika marah, kita bukan hanya merasakan emosi. Cara kita melihat dunia juga berubah. Dunia menjadi lebih sempit.
Orang yang kita marahi tiba-tiba berubah menjadi satu kata. Ia bodoh, jahat, malas, atau tidak tahu diri. Seluruh hidupnya hilang dari pandangan. Kita hanya melihat kesalahan yang baru saja dibuatnya.
Di sinilah kemarahan menjadi persoalan pengetahuan. Kita merasa tahu terlalu banyak. Kita merasa tahu niat orang lain. Kita bahkan merasa tahu siapa yang sepenuhnya benar.
Padahal, kenyataan hampir selalu lebih rumit. Orang yang memotong kendaraan kita mungkin sedang panik. Teman yang tidak membalas pesan mungkin sedang mempunyai masalah. Pasangan yang berkata keras mungkin sedang kelelahan.
Kita tidak tahu sepenuhnya. Namun, pikiran tidak nyaman dengan ketidaktahuan. Ia segera mengisi ruang kosong dengan cerita. Cerita itu kemudian dianggap sebagai kenyataan.
Di sinilah prinsip don’t know di dalam Zen menjadi penting. Ia bukan ajakan untuk menjadi bodoh. Ia adalah keberanian untuk mengakui batas pengetahuan. Kita hanya mengetahui sebagian kecil dari kenyataan.
Kita bisa mulai dengan membedakan fakta, energi dan cerita. Fakta adalah apa yang sungguh terjadi. Energi adalah apa yang muncul di dalam tubuh. Cerita adalah tafsir yang kita tambahkan.
Seseorang tidak membalas pesan selama beberapa jam. Itulah fakta. Dada terasa sesak, dan tubuh mulai tegang. Itulah energi.
Lalu muncul pikiran, bahwa ia sengaja mengabaikan kita. Itu sudah cerita. Mungkin benar, tetapi mungkin juga salah. Masalah muncul, ketika cerita segera diperlakukan sebagai fakta.
Dari sinilah pertengkaran sering berkembang. Cerita menambah kemarahan. Kemarahan lalu memperkuat cerita. Lingkaran terus bergerak.
Kesadaran memutus lingkaran itu. Kita melihat panas di tubuh sebagai panas. Kita melihat pikiran sebagai pikiran. Kita melihat kemarahan sebagai pengalaman yang sedang datang dan pergi.
Di sini, kita menemukan sesuatu yang penting. Kemarahan bukan benda tetap. Ia adalah proses yang terus berubah. Jika tidak diberi bahan bakar, ia akan melemah.
Namun, memahami kemarahan tidak berarti menjadi pasif. Ada kemarahan yang lahir dari ketidakadilan nyata. Ada orang yang ditindas. Ada kekuasaan yang menyalahgunakan kewenangannya.
Ketika melihat korupsi, kita boleh marah. Ketika melihat kekerasan, kita boleh marah. Ketika hukum dipermainkan oleh orang kuat, kemarahan bisa sangat wajar. Justru ketidakpedulian bisa menjadi masalah yang lebih besar.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh marah. Pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan dengan kemarahan itu? Kemarahan mentah ingin segera membalas. Kemarahan jernih ingin memahami, dan bertindak tepat.
Kemarahan mentah berteriak. Kemarahan jernih mengumpulkan fakta. Kemarahan mentah mencari musuh. Kemarahan jernih mencari akar masalah.
Di sinilah kemarahan dapat menjadi energi etis. Ia menunjukkan, bahwa sesuatu memiliki nilai bagi kita. Ia memberi tenaga untuk berkata tidak. Ia juga memberi keberanian untuk melawan.
Namun, tindakan tidak membutuhkan kebencian. Kita bisa menghentikan seseorang, tanpa ingin menghancurkannya. Kita bisa mengkritik pemerintah, tanpa kehilangan kejernihan. Kita bisa menolak perlakuan buruk, tanpa merendahkan manusia lain.
Inilah kemarahan yang matang. Ia memiliki api, tetapi tidak menjadi kebakaran. Ia tegas, tetapi tidak buta. Ia bergerak, tetapi tidak kehilangan kesadaran.
Setelah tindakan dilakukan, kemarahan pun dilepaskan. Tidak perlu dibawa pulang. Tidak perlu diputar kembali setiap malam. Tidak perlu diubah menjadi identitas.
Kemarahan sebenarnya bisa menjadi guru. Ia menunjukkan, apa yang sedang kita genggam. Ia memperlihatkan cerita yang sedang kita percayai. Ia juga menunjukkan, apa yang sungguh kita anggap penting.
Maka, kemarahan tidak harus ditolak. Ia juga tidak perlu dipuja. Ia perlu dilihat dengan jernih. Dari kejernihan itu, tindakan yang tepat menjadi mungkin.
Hidup selalu bergerak di luar kendali kita. Manusia lain tidak akan selalu memenuhi harapan kita. Dunia juga tidak akan pernah sepenuhnya adil. Ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.
Kita bisa terus berperang melawan kenyataan. Kita juga bisa belajar bergerak bersama kenyataan. Menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti berhenti berbohong tentang apa yang sedang terjadi.
Dari sana, kita bisa bertindak. Kita menerima fakta, tetapi tidak harus menyetujui ketidakadilan. Kita merasakan kemarahan, tetapi tidak harus menjadi budaknya. Kita memiliki api, tetapi tidak perlu membenci.
Mungkin itulah seni menghadapi kemarahan. Terima kenyataan, lalu ragukan cerita. Rasakan energinya, lalu lakukan yang tepat. Setelah itu, lepaskan.
