Zen untuk Deradikalisasi

4d4ae064710791.5adb43bfd4580Oleh Reza A.A Wattimena

Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.

Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka.

Biasanya, Surabaya selalu aman. Umat beragama hidup dalam kedamaian. Surabaya itu unik dan sangat majemuk. Namun, Mei 2018, seluruh Surabaya terbakar oleh tindakan teroris Islam kejam. “Teroris Jancuk!”, kata seorang teman.

Bangsa yang Terpecah

Fanatisme, radikalisme dan fundamentalisme agama sudah lama menjadi masalah di Indonesia. Dalam banyak kesempatan, pemerintah seolah membiarkan penyebarannya. Hasilnya, berbagai institusi negara, dari yang mengurus pendidikan sampai dengan pemerintah daerah, disusupi oleh pandangan radikal begitu dalam dan begitu cepat. Radikalisme agama yang melahirkan terorisme adalah musuh dalam selimut Republik Indonesia.

Di negara yang dipenuhi radikalisme agama, perempuan ditindas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pendidikan berubah menjadi cuci otak yang memperbodoh. Korupsi, kolusi dan nepotisme dilakukan dengan menggunakan agama sebagai pembenaran. Hidup bersama pun jauh dari ketenangan, karena diisi oleh kebisingan yang tiada henti.

Keutuhan Indonesia pun diujung tanduk. Jika pemerintah tak bisa bertindak tegas, dan justru hanyut ke dalam radikalisme agama, maka Indonesia akan pecah. Beberapa propinsi siap memberontak, dan memerdekakan diri. Pola serupa yang terus berulang di dalam sejarah.

Zen untuk Deradikalisasi

Proses deradikalisasi pun dibutuhkan. Para teroris harus dididik ulang. Selama ini, pendekatan nasionalis dan Pancasila yang diberikan. Ini tidak cukup.

Ini seperti menghantam pikiran dengan pikiran. Tak akan ada yang menang. Yang tercipta justru kebingungan. Seorang nasionalis juga bisa menjadi radikal, dan siap melakukan kekerasan demi hal yang ia percaya secara buta.

Cara lain tentu diperlukan. Saya ingin menawarkan Zen sebagai jalan yang berbeda. Zen adalah jalan pembebasan. Ia melepaskan manusia dari kebodohan yang melahirkan penderitaan. Caranya adalah dengan memahami jati diri yang asli dari manusia, dan seluruh alam semesta yang ada.

Sebelum Pikiran

Zen tidak terjebak pada kata dan konsep. Ia justru membebaskan manusia dari kata dan konsep. Jati diri manusia yang asli berada sebelum pikiran, kata dan konsep. Ia adalah pengalaman langsung yang bersifat utuh dan jernih.

Dengan Zen, orang belajar untuk melihat dunia apa adanya. Semua teori, kata dan konsep ditunda penerapannya. Orang menjadi sepenuhnya alami disini dan saat ini. Dunia sebelum pikiran, kata dan konsep ini bersifat luas, kosong dan hidup.

Hasilnya adalah ketenangan dan kejernihan batin. Orang berbuat jahat, karena kebodohan dan penderitaan yang ia alami. Hal serupa berlaku untuk para teroris. Ketika kebodohan dan penderitaan dilepas, maka alasan untuk melakukan kekerasan pun juga menghilang.

Identitas Seluas Semesta

Di ranah sebelum pikiran, tak ada aku dan tak ada kamu. Tak ada dunia, konsep, teori ataupun bangsa. Yang ada adalah ruang besar yang luas, tanpa sekat. Tak ada negara, bangsa, agama ataupun ideologi untuk dipercaya, serta dibela sampai mati.

Identitas sosial pun tertunda. Yang tersisa adalah identitas semesta. Aku, bersama segala yang ada, adalah satu dan sama, yakni sebagai warga semesta. Nafsu untuk menjadi radikal, fundamentalis dan teroris lenyap secara alami, tanpa jejak.

Ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Kita semua lahir sebagai mahluk semesta. Hanya masyarakat dan keluarga yang menempelkan identitas sosial, seperti agama, kepada kita. Itu tidak nyata, dan hanya merupakan tempelan luar semata yang tiada sungguh berarti.

Dengan Zen, orang bergerak dari kebodohan menuju pengetahuan. Ini bukanlah pengetahuan konseptual yang diperoleh dari buku, ataupun diskusi. Ini adalah pengetahuan sejati yang didapat dari pengalaman langsung akan dunia sebagaimana adanya. Ini adalah pengetahuan sejati yang membebaskan (path of liberation).

Bertindak Sesuai Keadaan

Dengan identitas seluas semesta, dan pengetahuan yang sejati di dalam genggaman, orang bisa bertindak tepat sesuai keadaan. Jika lelah, maka beristirahat. Jika lapar, maka makan. Jika haus, maka minum. Jika tak punya uang, maka bekerja untuk mendapat uang.

Jika ada orang susah, maka dibantu. Jika tidak bisa dibantu, ya sudah. Semua jelas dan jernih dari saat ke saat. Tak ada yang istimewa.

Zen bisa diajarkan dengan dua cara. Yang pertama adalah pemahaman yang tepat. Orang perlu dilepaskan dari konsep, kata dan bahasa yang selama ini menyiksa batinnya. Yang kedua, orang juga diajarkan beberapa metode laku, seperti meditasi dan Yoga, supaya bisa memiliki pengalaman langsung atas kenyataan sebagaimana adanya.

Zen bisa menjadi alat manjur untuk deradikalisasi. Tidak hanya itu, Zen juga bisa memberikan pengetahuan sejati yang membebaskan. Orang tidak lagi menderita, karena kebodohannya sendiri. Di masa yang serba rumit sekarang ini, Zen menawarkan setitik kejernihan yang diperlukan seluruh dunia.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Zen untuk Deradikalisasi”

  1. Sering terlintas di pikiran saya ketika mendengar orang melakukan kejahatan lalu masuk penjara. Mungkin di dalam penjara ada semacam program dimana para tahanan diajak untuk belajar tentang pikiran. Belajar untuk berada di saat ini dan di sini.
    Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hidup mereka dikendalikan oleh pikiran.

    Suka

  2. ingin saya utara kan, penjelasan diatas sangat sederhana, jitu , mudah di mengerti. tetapi bukan untuk masyarakat luas, sebab masyarakat luas begitu terikat dgn konzept, angan2, dan pengaruh2 lain , di samping kebodohan, cuek yang tak terbatas dan menghambat.
    bisa2 zen (chan, dyana) dianggap ilmu santet dari cina oleh masyarakat luas.
    jalan pertama : agama harus dipisah dari politik dan ekonomi.
    selama belum terpisah, tidak mungkin ada kemajuan di indonesia.
    salam hangat !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.