Bar..bar…

RT.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Beberapa bulan belakangan, dunia dikepung berbagai serangan teroris. London, Kabul, Jakarta dan Marawi adalah beberapa tempat yang terus menjadi sasaran bom, maupun tindak kekerasan teroristik lainnya. Keadaan di Timur Tengah juga masih terus diliputi konflik dari berbagai pihak yang saling tumpang tindih. Di berbagai tempat, diskriminasi berdasarkan agama dan ras masih terus menjadi makanan sehari-hari.

Di dalam negeri, keadaan politik juga terus memanas. Vonis terhadap Ahok, salah satu Gubernur terbaik sepanjang sejarah Jakarta, mengoyak rasa ketidakadilan tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Berbagai kecaman datang di hadapan ketidakadilan yang dipertontonkan di depan publik ini. Keadaan diperparah dengan muaknya masyarakat terhadap tindak korupsi para elit politik, mulai dari dugaan korupsi ketua umum partai politik besar, sampai dengan dugaan korupsi salah satu tokoh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Lanjutkan membaca Bar..bar…

Terorisme dan Transendensi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sebagian Naskah Diskusi untuk Seminar “Beyond Terrorism: Understand The Past and Prepare for The Future” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 17 Mei 2017

Terorisme sudah setua peradaban manusia itu sendiri. Sekelompok orang melakukan tindak merusak, demi menyebar teror, dan memecah belah, guna mewujudkan kepentingan politik, ideologis maupun religius tertentu. Landasan berpikir mereka bersifat sempit dan tertutup. Dengan landasan ini, mereka menghancurkan perbedaan, dan menyebarkan ketakutan.

Ada beragam penelitian tentang akar dan cara menanggulangi terorisme. Namun, ada satu hal yang menjadi kunci dari semuanya, yakni kemampuan transendensi. Ini adalah kemampuan manusiawi untuk melihat dunia dengan kaca mata yang lebih luas dari kepentingan diri, keluarga ataupun kelompoknya. Pendek kata, transendensi adalah kemampuan manusia untuk melampaui kepentingan sempit diri dan kelompoknya, lalu melihat dari sudut pandang orang lain, serta kepentingan yang lebih besar. Transendensi terkait erat dengan kemampuan dasar manusia lainnya, yakni empati. Lanjutkan membaca Terorisme dan Transendensi

11/9

encuentos.com

Oleh Goenawan Mohamad

Sudah sepuluh tahun lewat. 11 September 2001. Tapi saya ingat: malam itu, sembilan jam setelah dua pesawat itu ditabrakkan ke Menara Kembar di New York dan seluruh dunia terguncang, saya berdiri di tepi Bleecker Street, Greenwich Village.

Saya bersama Komponis Tony Prabowo. Kami terdampar di New York. Berdua dalam perjalanan ke sebuah kota kecil di California untuk menyiapkan revisi opera kami Kali, kami tak bisa bergerak oleh kejadian 11 September itu: tak ada pesawat boleh terbang dari kota ini, masuk ke kota ini. Lanjutkan membaca 11/9

Inspirasi dari STF Driyarkara: Sinyal dari Dunia Bawah

Technorati Tags: ,,

Sinyal dari Dunia Bawah
Politik Arcanum di Era Keterbukaan

Oleh: F Budi Hardiman

Pengajar di STF Driyarkara, Jakarta

APA yang hilang dengan rontoknya imperium komunisme Eropa? Kapitalisme dan liberalisme bukan hanya kehilangan pembanding. Rancangan-rancangan agung tentang masyarakat dan sejarah juga perlahan kehilangan plausibilitasnya. Tapivacuum utopianisme dalam "masyarakat tanpa musuh" (U Beck) ini hanyalah efek di permukaan. Efek mendasar yang mungkin masih kurang disadari adalah kaburnya skema waktu yang selama ini diandaikan begitu saja. Dengan suatu rancangan, kita dipukau oleh fiksi tentang sekuensi momen-momen yang datang dan lewat. Ada awal, tahap-tahap, dan tujuan yang terkalkulasi. Fiksi itu perlahan sirna dengan berakhirnya rancangan. Dan, manakala kesahihannya ditarik dari keseharian politik global, proses-proses sosial menjadi lebih tak terduga, penuh kejutan dan improvisasi. Tampaknya pengalaman dunia sedang bergeser dari great designs ke events, dari keajekan sekuensi waktu ke denyut moods.

Dunia sedang terbenam dalam keseharian saat menara kembar WTC dirontokkan lewat aksi terorisme pada 11 September 2001. Indonesia sedang tertidur ketika bom menggelegar di Bali setahun satu hari setelahnya. Tak ada prabayang untuk peristiwa semi-apokaliptis itu. Dunia juga kehilangan pola dalam reaksinya. Tragedi itu merupakan "patahan" dari sekuensi momen-momen dalam keseharian kita. Namun, ada sesuatu yang instruktif dari prahara global ini. Melaluinya orang dapat "mengintip" situasi politik global dengan lebih transparan.

Politik arcanum (kata Latin yang berarti "rahasia") kaum teroris dan perang melawan terorisme meningkatkan intensitas panik massa. Jam dan kalender tetap ada, tetapi manakala ancaman kekerasan merata secara global, kecemasanlah (Angst) yang mengembalikan waktu pada makna aslinya sebagai "yang datang tak terduga". Waktu adalah kemungkinan untuk mati (Heidegger). Waktuku habis dengan kematianku. Dalam arti ini, teror tidak bergerak "dalam waktu", melainkan melekat pada waktu. Dia datang dalam kebungkaman dan ketakterdugaan seperti maut dan menghalau fiksi keseharian.