“Gua orang sini, mau apa lo?” begitu teriaknya. Ia memukul pintu mobil saya. Ini bermula dari kesalahpahaman kecil. Saya sendiri lupa, apa sebabnya. Yang teringat adalah hantaman pintu dan bentakan keras di telinga saya.
“Kita cari ring deh. Berantem sampe mati,” begitu kata pengendara motor yang melawan arah di Jakarta. Ia ditegur oleh pengguna sepeda yang jalurnya diambil. Entah mengapa, reaksinya begitu keras. Yang jelas, ada sesuatu yang menganggu hatinya. Orang bahagia tak akan pernah berniat menyakiti mahluk hidup.
Secara umum, ada sesuatu yang sedang berubah di Indonesia. Perubahan itu tidak selalu tampak dalam statistik. Ia terasa dalam cara orang berkendara, berbicara, berdebat, beragama, berpolitik, dan memperlakukan sesamanya. Orang mudah marah. Sedikit senggolan berubah menjadi perkelahian.
Perbedaan pandangan segera menjadi kebencian. Kritik dipahami sebagai penghinaan. Kekuasaan digunakan untuk menekan. Agama dipakai untuk menghakimi. Media sosial menjadi arena penghancuran martabat. Indonesia menjadi semakin beringas.
Keberingasan tidak selalu tampil dalam bentuk darah dan senjata. Ia juga hadir sebagai kata-kata kasar, fitnah, intimidasi, perundungan, kebisingan yang dipaksakan, korupsi, manipulasi hukum, serta ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain. Kebringasan adalah keadaan batin yang kehilangan jarak terhadap dorongannya sendiri. Orang merasa marah, lalu langsung memukul. Orang merasa tersinggung, lalu langsung menghina. Orang menginginkan sesuatu, lalu merasa berhak mengambilnya dengan segala cara.
Pidato Presiden Prabowo juga memperburuk keadaan. Kata-kata kasarnya tersebar luas di berbagai media, mulai dari bajingan sampai pengusiran orang-orang yang memberi kritik padanya. Jutaan orang membaca, dan menelannya begitu saja. Secara tak sadar, kebringasan pun ikut tersebar, dan membuat suasana hidup bersama menjadi kelam.
Di titik ini, masalah Indonesia bukan hanya masalah ekonomi, politik, atau hukum. Semua itu penting. Namun, di baliknya terdapat masalah yang lebih mendasar, yakni masalah kesadaran.
Kesadaran yang Menyempit
Di dalam Teori Transformasi Kesadaran, manusia tidak dipahami sebagai benda mati dengan identitas yang tetap. Manusia adalah gerak kesadaran. Cara manusia melihat menentukan cara ia merasa. Cara ia merasa menentukan cara ia bertindak. Tindakan yang dilakukan berulang kali kemudian menciptakan kebiasaan, lembaga, dan struktur sosial.
Masyarakat yang beringas lahir dari kesadaran yang menyempit. Dalam kesadaran sempit, orang hanya melihat kepentingannya sendiri. Ia tidak mampu melihat keseluruhan keadaan. Ia tidak mampu merasakan penderitaan orang lain. Ia hidup dalam kotak identitas: agama saya, kelompok saya, partai saya, suku saya, keluarga saya, dan keuntungan saya.
Segala sesuatu di luar kotak itu dianggap asing. Yang asing lalu dicurigai. Yang dicurigai mudah dibenci. Yang dibenci akhirnya dianggap layak dihancurkan.
Inilah akar psikologis sekaligus metafisis dari kekerasan. Kekerasan tidak bermula dari kepalan tangan. Ia bermula dari pikiran yang membelah kenyataan secara mutlak: saya melawan kamu, kami melawan mereka, yang suci melawan yang najis, yang benar melawan yang sesat.
Pembedaan tentu diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu membedakan benar dan salah, adil dan tidak adil, sehat dan merusak. Namun, ketika pembedaan berubah menjadi pemisahan mutlak, kebencian mulai tumbuh. Orang lupa, bahwa lawannya tetap manusia. Ia lupa, bahwa manusia yang dibencinya juga ingin bahagia dan tidak ingin menderita.
Keberingasan Struktural
Kesadaran sempit tidak hanya tinggal di kepala individu. Ia menjelma menjadi sistem. Korupsi, misalnya, adalah bentuk kebringasan. Seorang koruptor mungkin tidak menusuk siapa pun dengan pisau. Namun, uang yang dicurinya dapat mengurangi mutu rumah sakit, merusak pendidikan, memperburuk jalan, serta membuat masyarakat miskin kehilangan kesempatan hidup yang layak.
Kebijakan yang dibuat, tanpa mendengarkan rakyat, juga merupakan keberingasan. Hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas adalah kebringasan. Aparat yang menggunakan kekuasaan untuk mempermalukan warga adalah kebringasan. Perusahaan yang merusak lingkungan demi keuntungan sesaat juga sedang melakukan kekerasan terhadap kehidupan.
Kita terlalu sering memahami kekerasan secara dangkal. Selama tidak ada darah, kita mengira tidak ada korban. Padahal, penghinaan yang terus-menerus dapat menghancurkan jiwa. Ketimpangan ekstrem menghancurkan harapan. Kebisingan yang dipaksakan menghancurkan ketenangan. Ketidakpastian hukum menghancurkan rasa aman.
Keberingasan Indonesia adalah gabungan antara kemarahan individual dan ketidakadilan struktural. Keduanya saling memperkuat. Sistem yang tidak adil menciptakan manusia-manusia frustrasi. Manusia-manusia frustrasi lalu membangun sistem yang semakin kasar.
Lingkaran ini harus diputus pada dua tingkat sekaligus: perubahan struktur dan transformasi kesadaran.
Berhenti
Zen mengajarkan tindakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya revolusioner: berhenti.Berhenti bukan berarti pasif. Berhenti berarti tidak langsung mengikuti setiap dorongan pikiran dan emosi.
Ketika kemarahan muncul, orang tidak segera menjadi kemarahan itu. Ia mengamati. Ia bernapas. Ia memberi ruang. Di dalam ruang tersebut, kebebasan muncul.
Sebagian besar kebringasan terjadi, karena tidak adanya ruang antara rangsangan dan tindakan. Orang mendengar kata yang tidak disukai, lalu bereaksi. Orang membaca berita, lalu membenci. Orang mengalami kemacetan, lalu memaki. Kesadaran sepenuhnya dikuasai oleh keadaan.
Zen memotong rantai tersebut. Duduk dalam diam berarti belajar untuk melihat pikiran sebagai pikiran. Kemarahan adalah gerak energi dalam tubuh dan kesadaran. Ia bukan perintah mutlak yang harus ditaati. Kebencian adalah bentukan pikiran. Ia datang, tinggal sejenak, lalu pergi.
Masyarakat Indonesia membutuhkan kemampuan untuk berhenti. Sebelum membunyikan klakson secara brutal, berhenti. Sebelum menyebarkan berita yang belum diperiksa, berhenti. Sebelum menghina kelompok lain, berhenti. Sebelum menggunakan jabatan untuk merugikan orang lain, berhenti.
Tanpa kemampuan berhenti, demokrasi berubah menjadi kerumunan emosional. Agama berubah menjadi fanatisme. Kebebasan berbicara berubah menjadi kebebasan menghancurkan.
Pelajaran Dzogchen: Mengenali Kesadaran Dasar
Dzogchen (ajaran tertinggi aliran Nyingma di dalam tradisi Tibet) melangkah lebih dalam. Ia tidak hanya mengajak manusia mengamati pikiran, tetapi mengenali hakikat kesadaran itu sendiri. Di balik pikiran yang datang dan pergi, terdapat kejernihan yang terbuka. Kesadaran pada dasarnya luas, terang, dan tidak tercemar oleh isi yang muncul di dalamnya.
Kemarahan muncul di dalam kesadaran, tetapi kesadaran bukanlah kemarahan. Ketakutan muncul, tetapi kesadaran bukanlah ketakutan. Identitas agama, suku, bangsa, dan kelompok juga muncul di dalam kesadaran. Semuanya memiliki kegunaan praktis, tetapi tidak satu pun merupakan hakikat mutlak manusia.
Ketika orang tidak mengenali kesadaran dasarnya, ia melekat pada isi pikirannya. Ia percaya penuh pada cerita tentang dirinya. “Saya adalah kelompok ini.” “Kelompok saya paling benar.” “Orang itu mengancam keberadaan saya.” Cerita tersebut kemudian berubah menjadi ketakutan dan agresi.
Dzogchen mengajak manusia melihat, bahwa semua identitas bersifat sementara. Pikiran seperti awan. Emosi seperti gelombang. Kesadaran seperti langit yang tidak rusak oleh awan ataupun badai.
Dari pengenalan ini lahir ketenangan yang tidak dibuat-buat. Orang tidak lagi harus mempertahankan identitasnya secara brutal. Ia bisa terbuka terhadap kritik. Ia mampu mendengar. Ia tidak merasa musnah hanya karena pendapatnya ditolak.
Indonesia yang plural hanya dapat hidup secara sehat, apabila warganya tidak mencengkeram identitas secara mutlak. Tanpa keluasan kesadaran, perbedaan akan selalu dilihat sebagai ancaman.
Pelajaran Mahamudra: Tidak Menggenggam
Mahamudra (aliran tertinggi di aliran Kagyu tradisi Tibet) menunjukkan, bahwa penderitaan lahir bukan semata-mata karena sesuatu terjadi, tetapi karena pikiran menggenggam pengalaman. Kita menggenggam kehormatan, status, citra diri, pendapat, jabatan, kekayaan, bahkan luka lama.
Karena menggenggam citra diri, kritik kecil terasa seperti serangan besar. Karena menggenggam kekuasaan, pejabat takut kehilangan posisi. Karena menggenggam keyakinan, orang merasa wajib menyingkirkan mereka yang berbeda. Karena menggenggam kekayaan, orang tidak pernah merasa cukup. Kebringasan adalah genggaman yang berubah menjadi serangan.
Mahamudra tidak mengajarkan ketidakpedulian. Ia mengajarkan keterlibatan, tanpa kemelekatan. Orang tetap bekerja, berpolitik, mencintai, dan memperjuangkan keadilan. Namun, ia tidak diperbudak oleh hasil. Ia tidak kehilangan kewarasan, ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Dari sikap tidak menggenggam lahir keberanian yang lembut. Orang mampu melawan ketidakadilan, tanpa menjadi penuh kebencian. Ia dapat tegas, tanpa kejam. Ia dapat kuat, tanpa merendahkan.
Transformasi Kesadaran sebagai Revolusi
Indonesia tidak kekurangan aturan. Indonesia kekurangan kejernihan. Kita memiliki banyak agama, tetapi miskin kedalaman batin. Kita memiliki banyak sekolah, tetapi belum sungguh belajar berpikir. Kita memiliki demokrasi, tetapi belum matang dalam mengelola perbedaan.
Transformasi kesadaran bukan pelarian dari politik. Sebaliknya, ia adalah dasar politik yang sehat. Kesadaran yang jernih akan melahirkan hukum yang adil, ekonomi yang manusiawi, pendidikan yang membebaskan, dan agama yang meneduhkan.
Namun, kejernihan tanpa perubahan struktur juga tidak cukup. Orang tidak bisa hanya bermeditasi, sambil membiarkan penindasan berlangsung. Kesadaran mendalam harus menjelma menjadi tindakan nyata, seperti menolak korupsi, melindungi yang lemah, merawat lingkungan, memperbaiki hukum, dan membangun ruang publik yang beradab.
Diam Zen harus menjadi tindakan yang tepat. Keluasan Dzogchen harus menjadi keterbukaan sosial. Ketidakmelekatan Mahamudra harus menjadi keberanian untuk melepaskan kekuasaan, keserakahan, dan fanatisme.
Indonesia tidak akan menjadi damai hanya dengan slogan. Kedamaian harus dilatih. Ia dimulai, ketika satu manusia berani berhenti sebelum memukul, berani melihat pikirannya sendiri, serta berani melepaskan genggaman pada identitas sempit. Pada saat itu, kebringasan kehilangan bahan bakarnya.
Kita lalu memahami, bahwa lawan yang sebenarnya bukanlah kelompok lain. Lawan yang sebenarnya adalah kebodohan di dalam kesadaran, yakni ketidakmampuan melihat kenyataan secara utuh. Dari kebodohan lahir ketakutan. Dari ketakutan lahir kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan.
Jalan keluarnya adalah kejernihan. Ketika kejernihan hadir, kita melihat, bahwa hidup ini rapuh. Semua orang sedang berjuang menghadapi ketakutan, kehilangan, penyakit, usia tua, dan kematian. Tidak ada alasan untuk menambah penderitaan yang sudah begitu besar.
Indonesia yang beradab hanya mungkin lahir dari manusia yang sadar. Manusia semacam itu tidak lemah. Ia justru sangat kuat, karena tidak lagi dikendalikan oleh kebencian dan ketakutan.
Ia melihat dengan jernih. Ia bertindak dengan tegas. Namun, hatinya tetap luas.
Seluas langit yang memeluk segala bentuk awan. Seluas samudera yang nyaman dengan jutaan ombak raksasa…
Keterangan Tulisan:
(Bekerja Sama dengan Kecerdasan Buatan untuk Penajaman Argumen)
Buku Teori Transformasi Kesadaran Unlimited bisa diunduh disini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/

