“Flexing” Religi

the-end-is-the-same-3368713323759Oleh Reza A.A Wattimena

Bayi itu menangis di pagi hari. Suara keras membangunkannya. Suara tidak datang dari dalam rumah, tapi dari luar. Ada orang berdoa sangat keras, memecah pagi dan merusak ketenangan hidup masyarakat sekitar.

Berdoa dan bernyanyi harus keras, bahkan sampai jarak 3 km, suara tetap terdengar. Begitu banyak orang terganggu. Katanya, ini untuk menyebarkan agama. Yang tercipta bukan cinta, tetapi benci yang membara. Ini flexing religi.

Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kain menutupinya. Di antara banyak orang, ia tampak berbeda sendiri. Bentuknya tak lagi seperti manusia, dan sama sekali tak indah. Ia merasa suci, karena mengenakan baju religi. Ini, juga, flexing religi.

Atas nama agama, ia membuat onar. Politik dikacaukan. Ekonomi dipermainkan. Merasa suci, ia menghakimi semua, tanpa ampun. Ini, juga, flexing religi.

Atas nama agama, ia meminta banyak hal. Seringkali, permintaanya tak masuk akal. Cara berpikir asing yang membusuk diterapkan di negeri. Cara berpikir kuno yang merusak diterapkan di abad 21 yang terglobalisasi. Ini adalah flexing religi dalam bentuknya yang paling dangkal.

Flexing adalah kata yang banyak digunakan sekarang ini. Artinya sederhana, yakni pamer. Flexing religi adalah orang yang terus memamerkan agamanya, sambil menindas perempuan, merugikan orang lain, menganggu lingkungan sekitar dan mengacaukan keadaan. Bersama dengan berbagai bentuk flexing lainnya, flexing religi sedang berkembang di Indonesia.

Sejatinya, tujuan flexing adalah pemasaran. Orang memamerkan apa yang ia punya, supaya orang tertarik membeli, atau mengikuti. Namun, flexing kerap berlebihan, terutama flexing religi. Yang tercipta bukan cinta untuk mengikuti, tetapi benci membara di dalam hati.

Mengapa?

Mengapa orang melakukan flexing religi? Ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, flexing religi adalah tanda hampa diri. Flexing adalah upaya pemasaran yang sudah terjepit keadaan, karena barang yang dijual memang tak bermutu.

Flexing religi adalah tanda hampa religi. Tak ada ajaran indah yang disebarkan. Tak ada ajaran mencerahkan yang dikumandangkan. Yang ada hanya ujaran hampa dibalut suara keras, dan niat pamer tanpa batas.

Dua, flexing religi adalah tanda miskin ilmu. Orang berilmu hidup kedamaian dan keheningan. Orang berilmu berdoa di dalam keindahan dan kesyahduan. Flexing religi jauh dari keheningan, kedamaian dan keindahan. Air beriak tanda tak dalam (yang banyak bersuara tak ada isinya), begitu kata peribahasa Indonesia.

Tiga, flexing religi adalah tanda tidak adanya empati. Empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Empati membuat orang tidak jatuh dalam sikap egois. Empati adalah buah dari kebijaksanaan dan ilmu yang tinggi. Para pelaku flexing religi sudah kehilangan empati, dan menjadi manusia-manusia dangkal yang doyan pamer.

Lalu Bagaimana?

Pertama, kita harus melakukan refleksi diri. Apakah kita pelaku flexing religi? Jika ya, kita harus belajar mengubah diri. Kita harus bersikap kritis pada agama yang kita anut.

Dua, kita perlu belajar lebih dalam tentang agama. Bahkan, kita perlu melampaui agama, dan menyentuh spiritualitas. Agama itu produk tangan manusia yang penuh dengan kepentingan-kepentingan tersembunyi. Sementara, spiritualitas adalah jalan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan.

Tiga, orang perlu belajar empati. Belajar agama dan ilmu pengetahuan memang perlu. Belajar filsafat juga sangat perlu. Namun, semua itu percuma, jika orang tak punya empati pada mahluk hidup lainnya.

Pada akhirnya, soal religi, kita tak perlu flexing. Cukup perdalam dan hayati agama yang kita anut. Atau, kita bisa langsung mendalami spiritualitas. Cukup kesederhanaan, kedalaman dan kebijaksanaan hidup kita yang membuat orang lain tertarik. Tak perlu berteriak-teriak, menindas perempuan dan membuat keadaan kacau.

Setuju?

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk ““Flexing” Religi”

  1. setuju banget dgn pemikiran diatas. menurut pengalaman saya, ada baik nya mempelajari / mendalami agama, tapi di cocokan dgn masa kini, jangan hanya percaya.
    pengetahuan dangkal menyebabkan pemikiran buta, hanya “blinde gehorsamkeit”.
    maaf , terkait dgn “pengetahuan dangkal” ingin saya utara kan, pandangan / dukungan politik “masyarakat umum”di indonesia tentang situasi di eropa timur-utara.
    di indo “asbun” membuat saya begitu sedih !!!
    auch eine art von koan .
    danke für die o.g. veröffentlichung .
    gruss aus der ferne.

    Suka

  2. “Di antara banyak orang, ia tampak berbeda sendiri” Frasa ini, terutama di Jawa Barat, mungkin juga di sebagian besar wilayah Jawa, saya rasa sudah berubah. Justru yang tidak tampil dengan outfit “flexing religi” yang sering tampak beda sendiri. Itu sih yang saya sering saksikan, Bung Reza.

    Saya selalu senang dengan sistematika dan pemilihan istilah mendalam dari tulisan Bung.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.