Setelah jam 11 malam, seluruh dunia berhenti. Orang melepas diri dari dunia elektronik. Ada yang terbaring beristirahat, setelah seharian bekerja. Ada yang terdiam membisu menikmati heningnya malam.
Jeda menjadi biasa. Keheningan menjadi sahabat yang setia menemani. Ada buku, dan mungkin musik, yang bisa mengisi sunyi. Di dalam rangkaian kata dan nada yang mempesona, orang menghidupi hening, menikmati mimpi dan mempersiapkan keesokan hari.
Itulah yang terjadi, sewaktu saya kecil. Jeda dan sunyi adalah bagian keseharian. Kesempatan untuk diam pun selalu tersedia. Rasa bosan menjadi sesuatu yang siap menjemput di ujung pintu.
Ada kesempatan untuk bersikap reflektif. Hari yang berlalu bisa ditelaah. Kesalahan yang dibuat bisa dibaca. Rencana ke depan dibuat dalam kejernihan yang lahir dari hening.
Jeda adalah rumah bagi kedalaman. Hening adalah rahim bagi ide-ide baru. Waktu luang mendorong orang membaca buku, atau mencari asupan gizi bermutu untuk batin dan pikiran. Kini, dunia tak mengenal jeda, dan hening dianggap sebagai barang langka.
Jeda pun lenyap. Ia ditelan kesibukan dunia digital yang tak kunjung henti. Alih-alih tenggelam dalam hening dan jeda batin, orang menari di lautan tayangan media sosial yang, seringkali, merusak. Lautan itulah yang melahirkan kedunguan massal di seluruh dunia.
Semua menjadi 24 jam. Tak ada jeda dan hening yang memberi kesegaran. Tak ada bosan yang merupakan rahim subur bagi kreativitas. Di 2026 ini, kita tidak lagi bisa menutup hari.
Perhatian kita menjadi pendek. Sulit bagi manusia abad 21 untuk bertekun pada satu hal, dan tenggelam di dalamnya. Orang melompat dari satu hal ke hal lainnya. Ketika perhatian menjadi pendek, pikiran pun menjadi dangkal.
Kemampuan analisis menurun. Kedunguan meluap, ketika emosi digunakan untuk memahami kenyataan. Di dalam bidang ekonomi, hutang dianggap sebagai jalan keluar dari semua masalah. Di dalam politik, pemimpin-pemimpin dungu pun terpilih.
Orang lebih menghargai pidato kosong, daripada argumentasi yang mendalam. Orang lebih menghargai uang cepat, daripada kesejahteraan yang berkesinambungan. Di Indonesia, dan di berbagai negara, kita melihat bangkitnya rezim-rezim dungu. Perang dunia, dengan senjata pemusnah massalnya, pun amat mungkin terjadi.
Kita, dalam banyak segi, terjebak di masa kegelapan. Hadirnya kecerdasan buatan merusak seni di berbagai bidang. Kini, komputer dan gadget jauh lebih cerdas dari manusia. Indonesia, yang terjadi di depan mata saya, semakin mirip negara gurun yang diselimuti kemunafikan.
Ini semua terjadi, karena kita lupa menutup hari. Kita tenggelam dalam keriuhan yang menipu. Kita tak lagi bisa memeluk bosan, karena terus dirangsang oleh berbagai tayangan di media sosial yang, seolah, tak pernah berhenti. Di 2026 ini, bersama dengan seluruh dunia, saya rindu menutup hari,…

