Tawuran, Kerakusan Ontologis dan Republik yang Belum Merdeka

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada sesuatu yang sakit di Jakarta, dan tawuran adalah salah satu gejalanya yang paling telanjang. Anak-anak membawa celurit, saling menantang melalui media sosial, membentuk kelompok, lalu mencari lawan yang sesungguhnya sering kali tidak mereka kenal secara pribadi. Kita biasa menyebut semua ini sebagai kenakalan remaja, lalu menyerahkan masalah kepada polisi, sekolah dan orang tua. Cara berpikir semacam itu terlalu dangkal, karena kekerasan anak muda sesungguhnya tumbuh dari struktur sosial dan struktur kesadaran yang mencekik.

Teori Kerakusan Ontologis

Tawuran harus dibaca sebagai gejala dari apa yang saya sebut Teori Kerakusan Ontologis. Kerakusan ontologis bukan pertama-tama kerakusan terhadap uang, makanan ataupun benda, melainkan kerakusan untuk membuat diri terasa lebih nyata melalui sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia merasa dirinya kurang, kosong dan rapuh, lalu berusaha menambal kekosongan tersebut dengan identitas, kekuasaan, harta, agama, kelompok dan pengakuan sosial. Karena kekosongan itu tidak pernah sungguh disentuh pada akarnya, proses penambalan pun tidak pernah selesai.

Pada tingkat pertama, kerakusan ontologis berangkat dari rasa kurang pada keberadaan. Manusia tidak mampu tinggal dengan dirinya sendiri, karena dirinya sendiri terasa terlalu sunyi, terlalu biasa dan terlalu tidak penting. Maka, ia mencari tambahan ontologis, yakni sesuatu yang membuat dirinya terasa lebih besar daripada keberadaannya yang sebenarnya. Dari sinilah muncul kebutuhan untuk berkata, aku kaya, aku berkuasa, aku paling saleh, aku bagian dari sekolah ini, aku anggota kelompok ini, aku berasal dari suku ini, atau aku bagian dari bangsa yang lebih tinggi, daripada bangsa lain.

Pada tingkat kedua, tambahan ontologis tersebut berubah menjadi identifikasi. Orang tidak lagi sekadar memiliki uang, jabatan, agama ataupun kelompok, melainkan menjadikan semua itu sebagai dirinya sendiri. Kritik terhadap kelompok lalu terasa sebagai kritik terhadap dirinya. Penghinaan terhadap sekolah terasa sebagai penghinaan terhadap harga dirinya, dan kekalahan politik terasa sebagai kehancuran eksistensial. Pada titik ini, identitas berhenti menjadi alat untuk hidup, dan berubah menjadi penjara kesadaran.

Pada tingkat ketiga, kerakusan ontologis melahirkan perbandingan. Jika identitas menjadi dasar keberadaan, identitas itu membutuhkan ukuran, dan ukuran selalu membutuhkan pihak lain sebagai pembanding. Aku hanya bisa merasa besar, jika ada orang yang dianggap lebih kecil. Aku merasa suci, jika ada yang dicap sesat. Dan aku merasa kuat, jika ada pihak yang bisa dikalahkan. Dari sinilah lahir kebutuhan akan musuh.

Musuh memiliki fungsi penting dalam kerakusan ontologis. Musuh membuat identitas terasa jelas, padat dan nyata, karena keberadaan “mereka” menguatkan batas “kami”. Tanpa musuh, kelompok sering kali kehilangan alasan untuk merasa istimewa. Konflik justru dipelihara, demi mempertahankan rasa keberadaan bersama. Tawuran menjadi mudah dipahami dari sudut ini, karena kelompok anak muda membutuhkan lawan bukan hanya untuk menang, melainkan untuk merasa, bahwa kelompok mereka sungguh ada.

Pada tingkat keempat, kerakusan ontologis berubah menjadi penguasaan. Ketika identitas tidak lagi cukup memberikan rasa aman, manusia ingin mengendalikan dunia di sekitarnya melalui uang, jabatan, senjata, aturan, simbol agama ataupun kekerasan. Penguasaan menjadi usaha untuk menenangkan ketakutan batin yang sebenarnya tidak pernah selesai. Orang yang tidak mampu menguasai dirinya sendiri kemudian ingin menguasai orang lain.

Istana dan Korupsi

Struktur ini berlaku dari jalanan sampai istana. Anak muda menggunakan kelompok dan senjata untuk memperoleh rasa kuasa, sementara elite menggunakan jabatan, uang, jaringan dan lembaga untuk tujuan yang secara psikologis tidak selalu jauh berbeda. Bentuknya berbeda, kadar kerusakannya berbeda dan konsekuensi hukumnya tentu juga berbeda, tetapi struktur dasarnya sama, yakni memperbesar diri dengan menguasai sesuatu di luar diri. Inilah alasan kerakusan ontologis tidak boleh dipahami sebagai persoalan moral individual semata, melainkan sebagai penyakit sosial.

Korupsi adalah salah satu ekspresi paling sempurna dari kerakusan ontologis. Seorang koruptor sering kali tidak mencuri karena ia lapar dalam arti biologis, melainkan karena kekayaan menjadi simbol dari ukuran keberadaannya sendiri. Seratus juta tidak cukup, lalu satu miliar tidak cukup, sepuluh miliar tidak cukup, dan seratus miliar pun akhirnya tidak cukup, karena yang hendak dipuaskan bukan kebutuhan ekonomi, melainkan rasa kurang pada tingkat keberadaan. Kerakusan semacam ini secara struktural tidak memiliki titik akhir.

Di sinilah kita melihat hubungan antara tawuran dan korupsi. Remaja memperoleh rasa keberadaan dari geng, kemenangan dan keberanian menghadapi lawan, sedangkan elite memperoleh rasa keberadaan dari uang, kekuasaan dan kemampuan mengendalikan sistem. Keduanya sama-sama mencari kepadatan diri melalui sesuatu yang sebenarnya rapuh dan sementara. Republik menjadi sakit, ketika pola kerakusan semacam ini dianggap wajar di semua lapisan masyarakat.

Pendidikan seharusnya memutus lingkaran tersebut. Namun, pendidikan kita sering kali justru menambahkan lapisan identitas baru, tanpa menyentuh akar kerakusan ontologis. Anak diajarkan untuk menjadi nomor satu, memperoleh nilai tinggi, masuk sekolah terbaik, memiliki pekerjaan bergengsi dan mengalahkan pesaing, tetapi jarang diajak memahami siapa dirinya, ketika semua label itu dilepas. Pendidikan akhirnya tidak membebaskan manusia dari kerakusan ontologis, melainkan memberinya bentuk yang lebih rapi.

Agama Kematian

Lebih buruk lagi, pendidikan yang dicampur dengan fundamentalisme agama dapat memperkeras struktur tersebut. Saya menyebutnya agama kematian, yakni cara beragama yang lebih mencintai dogma daripada kehidupan, lebih menyukai hukuman daripada pembebasan, dan lebih sibuk menentukan siapa yang salah, daripada memahami penderitaan manusia. Agama semacam ini menawarkan identitas yang sangat kuat kepada manusia yang rapuh, sehingga ia merasa memperoleh kepastian ontologis melalui keyakinannya. Semakin rapuh dirinya, semakin keras ia mempertahankan simbol-simbol kesalehan, dan semakin mudah ia melihat perbedaan sebagai ancaman.

Agama kehidupan bergerak ke arah yang sebaliknya. Ia membuat manusia semakin ringan terhadap identitas, semakin terbuka terhadap kenyataan dan semakin mampu melihat penderitaan manusia tanpa terlebih dahulu menanyakan agama, suku ataupun kelompoknya. Agama kehidupan mengurangi kerakusan ontologis, karena ia mengajarkan, bahwa manusia tidak membutuhkan tambahan identitas untuk menjadi utuh. Sebaliknya, agama kematian memperbesar kerakusan tersebut dengan menjadikan Tuhan, kitab dan kelompok keagamaan sebagai miliki pribadi.

Politik kita juga sering hidup di dalam struktur yang sama. Kekuasaan tidak dipahami sebagai amanah sementara untuk melayani kehidupan bersama, melainkan sebagai perluasan identitas pribadi dan kelompok. Kritik kemudian dianggap serangan, oposisi dianggap ancaman. Jabatan diperlakukan sebagai milik yang harus dipertahankan dengan segala cara. Ketika politik seperti ini menjadi tontonan sehari-hari, masyarakat belajar, bahwa kekuatan lebih penting daripada kejernihan.

Pidato Sesat

Di dalam konteks itulah retorika Prabowo tentang perlunya “sedikit-sedikit otoriter” dalam menghadapi korupsi layak dikritik secara serius. Memang, ucapan itu lahir dari kemarahan terhadap korupsi, dan tidak adil jika dilepaskan sepenuhnya dari konteks tersebut. Namun, bahasa kekuasaan selalu mempunyai dampak pedagogis, terutama di masyarakat yang institusi demokrasinya masih rapuh. Ketika pemaksaan mulai dibayangkan sebagai solusi, politik sedang bergerak ke arah logika yang sama dengan tawuran, yakni masalah diselesaikan melalui kekerasan, bukan melalui pendewasaan sistem.

Masalah terbesar dari otoritarianisme adalah bahwa ia sendiri merupakan bentuk kerakusan ontologis politik. Kekuasaan ingin menjadi lebih besar, karena merasa keterbatasan hukum, kritik publik dan prosedur demokratis menghalangi kemampuannya bertindak. Negara lalu tergoda untuk memperluas dirinya dengan mengurangi ruang warga. Kerakusan pribadi menjadi kerakusan institusional.

Ekonomi juga tidak bebas dari pola tersebut. Sistem ekonomi modern mendorong manusia untuk terus menginginkan lebih banyak, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk mempertahankan rasa bernilai. Rumah, kendaraan, merek, jabatan dan gaya hidup menjadi tanda keberadaan sosial. Ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan kebutuhan dari identitas, ekonomi berubah menjadi mesin produksi kerakusan ontologis.

Tawuran

Masalah ini menjadi berbahaya di kota seperti Jakarta. Biaya hidup tinggi, persaingan ketat, ruang publik terbatas dan rasa ketidakamanan ekonomi membuat banyak orang hidup dalam tekanan terus-menerus. Remaja dari lingkungan yang tidak memberi mereka rasa masa depan akan mencari sumber martabat di tempat lain. Geng menjadi bentuk kemiskinan ontologis yang diberi seragam.

Di sinilah tawuran tidak cukup dipahami melalui hukum. Polisi memang harus mencegah kekerasan, menyita senjata dan menangkap pelaku, tetapi tindakan tersebut hanya menyentuh tingkat gejala. Selama kebutuhan anak muda akan makna, martabat, komunitas dan masa depan tidak terpenuhi, bentuk kekerasan lain akan terus muncul. Kita bisa menyita seribu celurit, tetapi kita belum menyentuh tangan batin yang terus ingin menggenggamnya.

Kejernihan Ontologis

Teori Kerakusan Ontologis kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apa lawannya. Lawan kerakusan ontologis bukan kemiskinan, penyangkalan diri ataupun hidup tanpa ambisi, melainkan kejernihan ontologis. Kejernihan ontologis adalah kemampuan melihat, bahwa keberadaan manusia tidak menjadi lebih utuh, karena tambahan uang, jabatan, identitas, agama ataupun kemenangan atas orang lain. Ketika hal ini sungguh dipahami, orang masih dapat bekerja, memiliki uang, berpolitik dan beragama. Tetapi ia tidak lagi menjadikan semua itu sebagai dasar harga dirinya.

Pada titik inilah Teori Transformasi Kesadaran bertemu dengan Teori Kerakusan Ontologis. Transformasi kesadaran terjadi, ketika manusia mulai melihat, bahwa identitas hanyalah hal yang sementara. Pikiran bukan dirinya. Emosi bukan dirinya. Dan kebutuhan untuk terus menjadi “lebih” adalah gerakan psikologis yang dapat diamati. Ia tidak perlu memerangi kerakusan dengan kekerasan, karena kekerasan terhadap diri justru memperkuat struktur ego yang sama. Ia cukup melihatnya dengan jernih sampai mekanismenya kehilangan daya.

Pendidikan yang membebaskan harus mengajarkan kemampuan ini sejak dini. Anak perlu belajar membaca, berhitung dan memahami ilmu pengetahuan. Tetapi ia juga perlu belajar mengamati kemarahan, kecemburuan, rasa takut, dorongan mencari pengakuan dan kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok. Inilah Epistemologi Pembebasan, yakni pengetahuan yang tidak hanya menambahkan informasi, melainkan membebaskan manusia dari ilusi-ilusi yang membuatnya mudah dimanipulasi. Pendidikan semacam ini jauh lebih radikal daripada sekadar mengganti kurikulum.

Politik pun harus diubah dari politik identitas menuju Politik Progresif Inklusif. Politik tidak boleh hanya mengatur distribusi uang dan jabatan, tetapi harus menciptakan kondisi, supaya warga tidak dipaksa mencari martabat melalui kekerasan, fanatisme dan konsumsi tanpa batas. Ruang publik, seni, olahraga, perpustakaan, pekerjaan yang bermartabat, layanan kesehatan mental dan pendidikan kritis adalah bagian dari strategi anti-tawuran yang sesungguhnya. Negara yang sehat tidak hanya menghukum kekerasan, tetapi juga mengurangi kondisi ontologis yang melahirkannya.

Dari sudut Etika Natural Empiris, semua ini harus dinilai dari dampaknya terhadap kehidupan konkret. Tidak penting seberapa religius sebuah kebijakan terlihat, seberapa nasionalistis sebuah pidato terdengar, ataupun seberapa besar angka pertumbuhan yang dipamerkan, jika manusia justru hidup semakin takut, terpecah dan kehilangan masa depan. Kebaikan politik harus diukur dari kemampuannya memperluas kehidupan, kebebasan, kesehatan, pengetahuan dan martabat manusia. Di luar itu, semua slogan hanya menjadi kosmetik kekuasaan.

Karena itu, tawuran sesungguhnya memberi kita cermin yang kejam. Anak yang membawa celurit memperlihatkan bentuk kasar dari pola yang juga hidup dalam ekonomi, agama, politik dan budaya kita. Ia ingin menjadi seseorang dengan cara mengalahkan orang lain, sementara masyarakat dewasa sering melakukan hal yang sama dengan cara yang lebih canggih. Kita mengecam anak-anak, tetapi enggan melihat struktur kesadaran yang kita wariskan kepada mereka.

Bangsa yang sungguh merdeka bukanlah bangsa yang sekadar memiliki bendera, presiden dan lagu kebangsaan. Bangsa sungguh merdeka, ketika manusianya tidak lagi diperbudak oleh kebutuhan untuk terus memperbesar ego melalui uang, kelompok, agama, jabatan dan kekuasaan. Selama kerakusan ontologis masih menjadi mesin tersembunyi dari politik, ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial, kemerdekaan kita masih bersifat administratif. Republik mungkin sudah berdiri, tetapi manusia di dalamnya belum sepenuhnya bebas.

Tawuran, dengan demikian, bukan masalah pinggiran. Ia adalah gejala dari sebuah bangsa yang belum selesai dengan dirinya sendiri, karena kerakusan, ketakutan dan identitas masih menjadi dasar dari terlalu banyak tindakan kita. Celurit hanyalah bentuk paling kasar dari kebutuhan manusia untuk merasa lebih besar dengan membuat orang lain lebih kecil. Jika kita sungguh ingin menghentikan tawuran, yang harus diubah bukan hanya jalanan Jakarta, melainkan cara bangsa ini memahami dirinya sendiri.

 

Keterangan Tulisan:

(Bekerja Sama dengan Kecerdasan Buatan untuk Penajaman Argumen)

Buku Teori Transformasi Kesadaran Unlimited bisa diunduh disini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/

Buku Teori Kerakusan Ontologis akan segera terbit

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.