Puasa Digital

Male_Colorful_Silhouette_732x549-thumbnailOleh Reza A.A Wattimena

Di berbagai forum, saya berbicara tentang puasa digital. Awalnya, banyak orang terkejut dengan ide ini. Namun, setelah berdiskusi lebih dalam, titik terang pun timbul. Kita tidak hanya perlu melakukan puasa secara tradisional, tetapi juga puasa digital.

Secara umum, puasa adalah sebentuk mati raga. Orang menahan segala bentuk nafsu dalam jangka waktu tertentu. Ada yang puasa makan, minum, seks, merokok, bergosip dan sebagainya. Tujuannya adalah mencapai kebebasan dari dorongan nafsu di dalam diri, sekaligus kesehatan tubuh yang lebih baik.

Puasa digital adalah saat-saat bebas dari dunia digital. Orang meninggalkan gawai, komputer dan segala sesuatu yang menghubungkannya ke dunia digital. Tidak ada lagi browsing di media sosial, mesin pencari dan sebagainya. Untuk beberapa saat, demi keseimbangan batin dan kesehatan tubuhnya, orang memutus diri dari dunia digital.

Setelah keluar dari dunia digital, dunia tubuh sudah menanti. Ada keluarga dan sahabat yang perlu disapa. Ada dunia yang amat luas untuk ditelusuri, mulai dari laut biru, pohon hijau, gunung menjulang sampai perkotaan yang kompleks. Semua menanti untuk disentuh, dan dicintai.

Mengapa?

Lima hal kiranya penting untuk diperhatikan. Pertama, dunia digital telah menciptakan kecanduan untuk banyak orang. Kecanduan orang berarti orang seolah tak bisa hidup, tanpa hubungan ke dunia digital. Ilusi ini begitu kuat, dan menjadi sumber derita bagi banyak orang.

Dua, kecanduan akan membuat orang stress. Dalam jangka panjang, depresi akan muncul. Tanpa alasan, kesedihan akan terus muncul dalam jangka panjang. Hidup pun akan terasa tak bermakna, sehingga kematian tampak menjadi pilihan yang masuk akal.

Tiga, puasa digital akan menciptakan ruang tenang. Mata dan otak akan beristirahat. Secara keseluruhan, tubuh akan menemukan ruang untuk relaks. Proses penyembuhan bisa terjadi, baik di tingkat tubuh maupun batin.

Empat, puasa digital akan membuat hidup manusia lebih bermutu. Waktu bersama keluarga dan sahabat akan bertambah. Kebahagiaan batin akan muncul di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Ketika ajal menjemput, penyesalan pun akan jauh lebih kecil.

Lima, ruang tenang adalah kunci kreativitas. Puasa digital akan kunci untuk menciptakan ruang tenang semacam itu. Batin bersih dari segala konsep yang membuat diri cemas dan takut. Ide-ide baru pun lahir, serta menantang untuk diwujudkan menjadi kenyataan.

Bagaimana?

Ada dua kemungkinan puasa digital. Yang pertama adalah mengambil satu hari dalam seminggu untuk keluar dari dunia digital. Hari Sabtu atau Minggu bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Di berbagai tradisi spiritual, memang ada satu hari yang dijadikan ruang untuk tenang, dan menemukan keheningan di dalam diri.

Yang kedua adalah mengambil satu waktu khusus di dalam satu hari untuk puasa digital. Misalnya, setelah jam 7 malam, orang keluar sepenuhnya dari dunia digital. Tidak ada pesan ataupun surel yang dibalas. Semua harus menunggu keesokan harinya.

Di dunia yang begitu cepat dan tidak pasti, puasa digital adalah sebuah kebutuhan. Ruang tenang bukan lagi milik para pertapa, tetapi menjadi kebutuhan semua orang. Waktu kita hidup di dunia ini sebentar sekali. Apakah mau dihabiskan dengan menatap monitor gawai atau komputer sepanjang hari?

****

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

7 tanggapan untuk “Puasa Digital”

  1. setuju sekali.
    boleh kita banyak memakai dunia digital.
    dengan kebiasaan hidup spiritual, kita rela melepaskan dunia digital.
    seperti nya “giliran listrik mati”, kita jalan i sampai listrik mengalir kembali.
    salam hangat !!

    Suka

  2. Puasa Digital? Kayaknya aku tidak bisa melakukannya deh, karena teman-ku satu-satunya cuma komputer. Dunia sudah berubah, Era Digital inilah yang paling sesuai di Jaman yang Gila ini.

    Suka

  3. Kalo ga tahan puasa, minimal diet sosial media. Saya sudah 3 bulan tidak mengaktifkan instagram, efek dari 3 bulan itu apa? Efeknya males membukanya lagi. Facebook sudah lama saya tinggalkan. Tinggal twitter yang belum. Kenapa? Saya keseringan baca berita, cari2 link Zoom untuk belajar geratisan lewat twitter xixixixi. Eh, teringat kata Rocky “Bila waktumu berlebih, naik gununglah. Bila masih berlebih, masuk hutan”. Mungkin, dari situ puasa/diet bisa bisa berjalan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.