Kritisisme Kedangkalan

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tak menikmati keindahan sekuntum bunga? Warnanya indah. Baunya harum. Bunga kerap menjadi simbol cinta dan keindahan yang membahagiakan hati manusia.

Namun, bunga tak datang dari langit. Ia datang dari tanah dengan berbagai macam campuran yang ada. Jika anda ingin bunga, maka anda harus bekerja dengan tanah, dan segala campurannya, seperti pupuk, air dan sebagainya. Anda harus berani mengotori tangan anda. Lanjutkan membaca Kritisisme Kedangkalan

Demokrasi dan Intoleransi

Moki – Untitled 04

Oleh Reza A.A Wattimena

Masyarakat demokratis adalah masyarakat terbuka. Artinya, berbagai pemikiran dan paham berkembang di masyarakat tersebut. Kebebasan berpikir dan berpendapat menjadi tulang punggung dari masyarakat demokratis modern, seperti Indonesia. Pertanyaan kecil yang ingin dijawab di dalam tulisan ini adalah, apakah demokrasi boleh memberi ruang untuk kelompok-kelompok radikal yang memiliki paham intoleran dan tertutup?

Ada tiga pertimbangan yang perlu dipikirkan. Pertama, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Di dalam masyarakat majemuk yang besar jumlahnya, seperti Indonesia, rakyat diwakilkan oleh parlemen dan partai politik. Sistem semacam ini memang tidak ideal, karena memberi peluang bagi korupsi. Namun, sampai detik ini, belum ada jalan lain yang bisa diajukan. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Intoleransi

Artikel Kompas: Kebuntuan Tak Harus Berbuah Amarah

Dimuat di Harian Kompas pada 14 Juli 2018

Oleh Reza A.A Wattimena, Peneliti, Tinggal di Jakarta

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada cita-cita yang patah di tengah jalan. Inilah sumber dari segala penderitaan manusia. Ketika harapan bertentangan dengan kenyataan, beragam emosi merusak pun berdatangan, mulai dari takut, cemas, sampai dengan amarah.

Buku Age of Anger: A History of the Present secara khusus ingin menyentuh tema ini. Peradaban lahir untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran di dunia. Ribuan pemikir dan tokoh sejarah bergerak bersama ke arah tersebut. Namun, sekali lagi, kenyataan menyelinap masuk dan melukai harapan yang ada. Lanjutkan membaca Artikel Kompas: Kebuntuan Tak Harus Berbuah Amarah