Mengalami Tuhan, Melampaui Agama

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah tak terhitung lagi jumlah orang yang bertanya pada saya tentang Tuhan. Ada kerinduan sekaligus kebingungan terkait dengan tema ini. Di Indonesia, konsep Tuhan dijejalkan di kepala sejak kita masih kecil. Kita tak punya pilihan, selain menelan, atau justru muntah.

Saya ingin mengajukan pandangan yang lebih sehat tentang Tuhan, sekaligus mengajukan kritik pada agama-agama tradisional yang sudah ada di Indonesia.

Kesadaran

Ada sesuatu yang lebih tua daripada agama. Ia lebih tua daripada kitab suci. Ia lebih tua daripada filsafat dan ilmu pengetahuan. Sesuatu itu adalah kesadaran. Semua pembicaraan tentang kenyataan muncul di dalamnya.

Kita biasanya mulai terlalu jauh. Kita bertanya tentang penciptaan alam semesta. Kita bertanya tentang kehendak Tuhan. Kita bertengkar tentang agama yang paling benar. Kita lupa bertanya tentang dasar dari semua pertanyaan itu.

Apa yang sungguh nyata? Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun seluruh filsafat berdiri di atasnya. Jawabannya tidak harus dicari di tempat jauh. Kita dapat mulai dari pengalaman sekarang.

Kenyataan Paling Langsung

Tesis pertama sederhana. Kesadaran adalah kenyataan paling langsung. Dunia bisa diragukan. Ingatan juga bisa diragukan. Namun, adanya pengalaman tidak bisa disangkal.

Penyangkalan membutuhkan kesadaran. Keraguan juga membutuhkan kesadaran. Orang harus sadar untuk mengatakan, bahwa kesadaran tidak ada. Maka, kesadaran tidak membutuhkan pembuktian kedua. Ia membuktikan dirinya melalui kehadirannya sendiri.

Kita bahkan tidak perlu mulai dari “aku”. Kata itu sudah terlalu berat. Di dalamnya, ada sejarah, identitas, dan ingatan. Semuanya dapat berubah. Yang lebih dasar hanyalah adanya pengalaman.

Ada melihat. Ada mendengar. Ada merasa. Ada berpikir. Semua itu hadir sebagai kesadaran.

Kesadaran bukan benda di antara benda-benda. Tubuh dapat diamati. Pikiran juga dapat diamati. Emosi dapat diamati. Kesadaran adalah keterbukaan tempat semuanya hadir.

Bahkan, konsep tentang materi muncul di dalam kesadaran. Otak diketahui di dalam kesadaran. Ilmu saraf juga diketahui di dalam kesadaran. Materialisme pun merupakan teori yang muncul di dalam kesadaran. Maka, kesadaran selalu mendahului teori tentang dunia secara epistemologis.

Ini bukan argumen anti-sains. Sains tetap sangat penting. Namun, sains bekerja di dalam pengalaman sadar. Ia tidak pernah berdiri di luar kesadaran. Karena itu, kesadaran adalah dasar bagi setiap bentuk pengetahuan.

Di sini Epistemologi Pembebasan menemukan tempatnya. Manusia tidak hanya mengalami dunia. Ia juga menamai dunia. Nama lalu dianggap sebagai kenyataan. Di situlah jebakan dimulai.

Kita menciptakan kata “aku”. Lalu, kita melindunginya. Kita menciptakan kata “agama”. Lalu, kita membelanya. Kita menciptakan kata “bangsa”. Lalu, kita bersedia membunuh untuknya.

Konsep sebenarnya hanya alat. Ia membantu kehidupan. Ia membantu komunikasi. Namun, ia tidak pernah identik dengan kenyataan. Peta tidak pernah menjadi wilayah.

Epistemologi Pembebasan membongkar kesalahan ini. Pikiran dilihat sebagai pikiran. Konsep dilihat sebagai konsep. Identitas dilihat sebagai identitas. Semuanya digunakan tanpa diabsolutkan.

Di sini, kebebasan mulai muncul. Bukan kebebasan dari pikiran. Bukan pula kebebasan dari bahasa. Kebebasan adalah kemampuan memakai keduanya tanpa diperbudak olehnya. Pikiran kembali menjadi alat.

Realitas sebagai Perubahan

Tesis kedua lebih radikal. Semua fenomena berubah. Tidak ada pengalaman yang sungguh tetap. Tubuh berubah setiap saat. Pikiran pun terus bergerak.

Kita hidup seolah dunia terdiri dari benda-benda. Padahal, yang kita sebut benda adalah proses. Pohon adalah proses biologis. Tubuh juga merupakan proses. Bahkan, sebuah gunung terus berubah.

Bahasa menipu kita secara halus. Ia mengubah proses menjadi kata benda. Kita berkata “masyarakat”, “diri”, atau “kepribadian”. Semuanya tampak tetap. Padahal, semuanya sedang menjadi.

Ini berlaku terutama pada diri. Kita berkata, “Aku adalah ini.” Namun, tubuh berubah. Ingatan berubah. Kepribadian juga berubah.

Ketika diri dicari, tidak ditemukan inti yang tetap. Yang ada adalah jaringan proses. Tubuh, ingatan, emosi, bahasa, dan kebiasaan saling membentuk. Semuanya bergerak. Lalu pikiran memberi satu nama: aku.

Masalah muncul, ketika nama itu dianggap sebagai inti yang abadi. Ego ingin menjadi tetap. Ia ingin memiliki identitas yang pasti. Ia ingin bertahan. Maka, perubahan mulai dianggap ancaman.

Kita takut menua. Kita takut kehilangan. Kita takut ditinggalkan. Kita takut mati. Semua itu menunjukkan konflik dengan perubahan.

Padahal, perubahan bukan musuh kehidupan. Perubahan adalah kehidupan. Tanpa perubahan tidak ada kelahiran. Tidak ada pertumbuhan. Tidak ada pengalaman.

Tesis ini dapat dibawa lebih jauh. Kesadaran dan fenomena mungkin bukan dua hal. Pemisahan keduanya muncul dari bahasa. Kita membayangkan kesadaran sebagai wadah. Lalu fenomena dianggap isi.

Namun, pengalaman langsung tidak bekerja begitu. Suara tidak terpisah dari mendengar. Warna tidak terpisah dari melihat. Rasa sakit tidak terpisah dari mengalami sakit. Fenomena hadir sebagai pengalaman itu sendiri.

Maka, fenomena tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang masuk ke dalam kesadaran. Ia merupakan bentuk kesadaran pada saat tertentu. Pikiran adalah kesadaran dalam bentuk pikiran. Sensasi adalah kesadaran dalam bentuk sensasi. Dunia hadir sebagai pengalaman dunia.

Di sini tidak diperlukan kenyataan lain di belakang fenomena. Tidak ada tirai yang harus disingkap. Tidak ada dunia sejati yang tersembunyi. Fenomena adalah kenyataan yang sedang berlangsung. Inilah realitas dalam geraknya.

Kerakusan sebagai Pemberontakan terhadap Kenyataan

Di titik ini Teori Kerakusan Ontologis menjadi sangat penting. Kerakusan bukan pertama-tama persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan ontologis. Ia muncul dari cara manusia berhubungan dengan kenyataan. Ego menolak sifat cair kehidupan.

Kenyataan berubah. Ego ingin mempertahankan. Kenyataan terbuka. Ego ingin kepastian. Kenyataan tidak dapat dimiliki, tetapi ego ingin memilikinya.

Di sinilah terjadi pemberontakan ontologis. Ego berkata, bahwa kenyataan harus mengikuti kehendaknya. Yang bergerak harus dibuat tetap. Yang bebas harus dikuasai. Yang sementara harus dibuat permanen.

Dari sana lahir orientasi apropriatif. Dunia dilihat sebagai bahan untuk dimiliki. Manusia lain menjadi objek kepemilikan. Pengetahuan menjadi modal identitas. Bahkan, Tuhan dijadikan milik.

Kerakusan lalu tidak hanya berupa uang. Ia muncul dalam cinta. Ia muncul dalam politik. Ia muncul dalam pengetahuan. Ia juga muncul dalam spiritualitas.

Orang ingin memiliki pasangan. Orang ingin memiliki pengikut. Orang ingin memiliki kebenaran. Orang ingin memiliki pengalaman mistik. Semuanya memiliki struktur yang sama.

Di balik kerakusan terdapat pergulatan eksistensial. Manusia sadar, bahwa dirinya rapuh. Ia tahu, bahwa tubuh akan mati. Ia tahu, bahwa segala sesuatu bisa hilang. Maka, ia mencoba membangun benteng.

Uang menjadi benteng. Kekuasaan menjadi benteng. Status menjadi benteng. Agama pun menjadi benteng. Namun, tidak satu pun mampu menghentikan perubahan.

Karena itu, kerakusan pasti gagal. Ia mencoba melawan struktur realitas. Yang berubah tetap berubah. Yang hidup tetap bergerak. Kematian tetap datang.

Semakin kuat manusia menggenggam, semakin besar rasa takut kehilangan. Semakin banyak ia memiliki, semakin banyak pula yang bisa hilang. Kepemilikan lalu memperbesar kecemasan. Ego masuk ke dalam lingkaran. Ia semakin lapar.

Di sinilah terjadi keruntuhan pengalaman. Manusia tidak lagi mengalami dunia. Ia hanya menilainya berdasarkan kepemilikan. Ia tidak menikmati. Ia mengumpulkan.

Cinta berubah menjadi penguasaan. Pengetahuan berubah menjadi kesombongan. Agama berubah menjadi identitas. Meditasi berubah menjadi prestasi. Kehidupan akhirnya menjadi proyek ego.

Pembebasan berarti membalik arah itu. Bukan berarti tidak memiliki apa pun. Bukan berarti hidup pasif. Pembebasan berarti tidak menjadikan kepemilikan sebagai dasar keberadaan. Kita memakai, tanpa menggenggam.

Kita mencintai, tanpa menguasai. Kita bekerja, tanpa membangun identitas dari hasil. Kita mengetahui, tanpa menganggap pengetahuan mutlak. Kita hidup, sambil tahu bahwa semua akan berubah. Di sanalah kelonggaran dan kelegaan muncul.

Tuhan sebagai Keseluruhan Kenyataan Sadar

Tesis ketiga menyangkut Tuhan. Kata ini membawa beban sejarah yang besar. Ia dipakai untuk cinta. Ia juga dipakai untuk perang. Karena itu, maknanya perlu dibersihkan.

Tuhan tidak perlu dipahami sebagai pribadi kosmis. Ia tidak perlu ditempatkan di luar alam semesta. Jika Tuhan sungguh absolut, ia tidak mempunyai luar. Tidak ada tempat lain di mana sesuatu dapat berdiri. Jika ada, Tuhan tidak lagi absolut.

Maka, Tuhan bukan satu entitas. Ia bukan benda tertinggi. Ia bukan makhluk terbesar. Tuhan adalah nama bagi keseluruhan kenyataan. Tidak ada realitas di luar kenyataan itu.

Namun, kenyataan bukan benda mati. Ia hadir. Ia mengalami. Ia berubah. Maka, Tuhan dapat dipahami sebagai kenyataan sadar yang terus menjadi.

Dunia bukan sesuatu yang diciptakan dari luar. Dunia adalah ekspresi kenyataan yang sadar itu sendiri. Fenomena bukan sesuatu yang terpisah dari Tuhan. Fenomena adalah bentuk sementara yang sedang diambil oleh kenyataan. Pencipta dan ciptaan tidak harus dipisahkan.

Tuhan juga tidak berada “di dalam” manusia. Kata “di dalam” masih memakai logika ruang. Ia masih memisahkan dua hal. Tuhan dan manusia lalu dihubungkan kembali. Padahal, pemisahan itu sendiri belum tentu nyata.

Diri, dunia, dan Tuhan adalah konsep. Ketiganya membantu pikiran membedakan pengalaman. Namun, kenyataan tidak harus mengikuti pembagian itu. Kenyataan hanya hadir. Pembagian datang kemudian.

Manusia adalah salah satu cara kenyataan mengalami dirinya. Mata adalah kenyataan yang melihat. Telinga adalah kenyataan yang mendengar. Pikiran adalah kenyataan yang berpikir. Kesadaran reflektif adalah kenyataan yang mulai mengenali dirinya.

Transformasi Kesadaran

Di sinilah Teori Transformasi Kesadaran memperoleh dasar terdalam. Kesadaran tidak selalu melihat kenyataan dengan cara yang sama. Ia dapat menyempit. Ia juga dapat meluas. Perubahan cara melihat mengubah seluruh kehidupan.

Pada tahap distingtif, perbedaan menjadi pusat. Aku berbeda dari kamu. Kelompokku berbeda dari kelompokmu. Manusia berbeda dari alam. Perbedaan diperlukan, tetapi mudah berubah menjadi keterpisahan.

Ketika keterpisahan diabsolutkan, ego menjadi pusat. Dunia kemudian dibagi menjadi kawan dan lawan. Kepentinganku dianggap paling penting. Yang lain menjadi ancaman. Kekerasan pun mudah muncul.

Kesadaran dapat bergerak lebih jauh. Ia menjadi lebih imersif. Kehidupan tidak lagi dilihat hanya sebagai objek. Manusia mulai mengalami keterlibatannya di dalam dunia. Batas ego menjadi lebih lunak.

Kesadaran kemudian dapat menjadi holistik-kosmik. Manusia melihat jaringan yang lebih luas. Tidak ada kehidupan yang sungguh berdiri sendiri. Tubuh bergantung pada bumi. Diri bergantung pada dunia.

Pada tingkat meditatif, konsep kehilangan cengkeramannya. Pikiran tetap muncul. Namun ia tidak lagi dipercaya sepenuhnya. Identitas menjadi transparan. Kesadaran menjadi lebih terbuka, dan siap bertindak, sesuai dengan keadaan nyata di depan mata.

Pada titik terdalam, subjek dan objek kehilangan kekakuannya. Tidak ada lagi pengamat yang berdiri di luar kehidupan. Yang ada hanyalah kehidupan yang mengalami dirinya. Di sinilah kekosongan bertemu kejernihan. Diri menjadi ringan.

Transformasi kesadaran bukan pencapaian ego. Ia justru pelemahan ego. Tidak ada manusia istimewa yang harus dibangun. Tidak ada identitas spiritual baru yang perlu dipamerkan. Yang terjadi adalah pembongkaran.

Kritik Pada Agama: Tuhan sebagai Objek

Dari sini kritik terhadap agama tradisional muncul. Kritik pertama adalah objektifikasi Tuhan. Tuhan ditempatkan di luar dunia. Ia dipikirkan seperti manusia yang sangat besar. Ia lalu mengawasi kehidupan.

Struktur sosial manusia diproyeksikan ke alam semesta. Kita mengenal raja. Maka, Tuhan menjadi Raja. Kita mengenal hakim. Maka, Tuhan menjadi Hakim.

Kita mengenal hukuman. Maka, Tuhan juga menghukum. Kita mengenal rasa tersinggung. Maka, Tuhan pun dianggap tersinggung. Antropomorfisme kemudian menjadi teologi.

Masalahnya bukan hanya intelektual. Gambaran Tuhan seperti itu menciptakan hubungan kekuasaan. Manusia menjadi bawahan. Agama menjadi perantara. Institusi memperoleh otoritas.

Jika Tuhan adalah realitas itu sendiri, struktur ini runtuh. Tidak ada jarak ontologis antara dunia dan Tuhan. Tidak ada institusi yang memiliki monopoli atas kenyataan. Tidak ada kelompok yang lebih dekat secara ontologis. Spiritualitas kembali menjadi pengalaman langsung.

Kritik Agama Kedua: Penilaian Dijadikan Kehendak Tuhan

Kritik kedua lebih berbahaya. Manusia mempunyai penilaian. Ini wajar. Kehidupan membutuhkan pembedaan. Namun, penilaian manusia kemudian dianggap sebagai kehendak Tuhan.

Budaya tertentu dianggap suci. Kebiasaan tertentu dianggap mutlak. Aturan historis tertentu dianggap kekal. Kepentingan manusia diberi legitimasi ilahi. Tuhan akhirnya menjadi pengeras suara kelompok.

Di sinilah agama dapat berubah menjadi Kerakusan Ontologis. Manusia tidak hanya ingin memiliki harta. Ia ingin memiliki kebenaran mutlak. Ia ingin memiliki Tuhan. Ia ingin memastikan, bahwa Tuhan berada di pihaknya.

Maka, muncul ungkapan “Tuhan kami”. Lalu muncul “agama kami”. Setelah itu muncul “kebenaran kami”. Yang Mutlak telah dimasukkan ke dalam pagar identitas. Inilah apropriasi religius, atau kerakusan agamis.

Fundamentalisme memiliki struktur ini. Ia tidak tahan pada ketidakpastian. Ia tidak tahan pada keterbukaan. Karena itu, ia membutuhkan jawaban absolut. Ketakutan ontologis disamarkan sebagai keyakinan.

Etika Natural Empiris menawarkan jalan berbeda. Etika tidak dimulai dari klaim metafisik. Ia dimulai dari kenyataan kehidupan. Ada penderitaan. Ada kebahagiaan.

Kita lalu bertanya secara konkret. Apakah tindakan ini merusak? Apakah ia memperbesar penderitaan? Apakah ia memperluas kebebasan? Apakah ia meningkatkan kualitas kehidupan?

Etika seperti ini tidak membutuhkan ancaman. Neraka tidak diperlukan sebagai alat disiplin. Surga juga tidak diperlukan sebagai hadiah. Belas kasih lahir dari kejernihan. Kita peduli, karena kita melihat keterhubungan.

Kritik Agama Ketiga: Pengalaman Dibekukan Menjadi Dogma

Kritik ketiga menyentuh sejarah agama. Hampir semua agama lahir dari pengalaman. Ada manusia yang mengalami sesuatu yang dalam. Ia mengalami keheningan. Ia mengalami kesatuan.

Pengalaman kemudian diceritakan. Cerita menjadi tradisi. Tradisi menjadi doktrin. Doktrin menjadi institusi. Institusi lalu mempertahankan dirinya sendiri.

Pada titik itu terjadi pembalikan. Sarana menjadi tujuan. Kitab, yang seharusnya menunjuk kenyataan, menjadi kenyataan itu sendiri. Ritual menjadi identitas. Institusi menjadi pusat.

Pengalaman yang cair lalu membeku. Realitas yang hidup menjadi dogma. Pertanyaan dianggap ancaman. Keraguan dianggap dosa. Kepatuhan menjadi kebajikan tertinggi.

Di sinilah Tipologi Agama menjadi penting. Ada agama kehidupan. Ada pula agama kematian. Agama kehidupan membuka manusia. Agama kematian menutupnya.

Agama kehidupan memperbesar kebebasan. Ia membuat manusia berani bertanya. Ia memperdalam kecerdasan. Ia memperluas cinta. Ia tidak takut pada kenyataan.

Agama kematian membutuhkan ketakutan. Ia membutuhkan kepatuhan. Ia membutuhkan musuh. Ia mempersempit manusia. Ia membuat identitas semakin keras.

Agama kehidupan tahu, bahwa simbol hanyalah simbol. Kitab adalah peta. Guru adalah penunjuk. Ritual adalah metode. Tidak satu pun boleh menggantikan kenyataan.

Dari Metafisika menuju Kehidupan Bersama

Semua ini bukan spekulasi abstrak. Cara manusia memahami kenyataan menentukan cara ia hidup. Ego yang merasa terpisah akan menghasilkan kehidupan yang terpisah. Ia mudah takut. Ia mudah menjadi rakus.

Kerakusan pribadi kemudian masuk ke institusi. Institusi menjadi rakus. Perusahaan menjadi rakus. Negara menjadi rakus. Agama pun dapat menjadi rakus.

Di sini Politik Progresif Inklusif mendapat dasar kokoh. Politik bukan hanya soal kekuasaan. Ia adalah cara mengelola hubungan dalam jaringan kehidupan. Karena itu, kebaikan bersama harus menjadi pusat. Tidak ada manusia yang hidup sendiri.

Politik eksklusif lahir dari ego kolektif. Kelompok sendiri dianggap pusat. Kelompok lain dianggap ancaman. Nasionalisme mudah berubah menjadi permusuhan. Agama juga mudah berubah menjadi identitas politik.

Politik inklusif tidak menghapus perbedaan. Ia justru menghormatinya. Namun, perbedaan tidak dibuat mutlak. Lawan politik bukan musuh ontologis. Orang lain tetap bagian dari kehidupan bersama.

Transformasi sosial, karena itu, membutuhkan transformasi kesadaran. Hukum saja tidak cukup. Sistem juga tidak cukup. Struktur batin manusia harus berubah. Tanpa itu, pola lama hanya memakai wajah baru.

Agama Sesudah Agama

Apakah agama harus dibuang? Tidak. Itu kesimpulan yang terlalu sederhana. Agama masih dapat menjadi alat. Namun, ia harus sadar akan keterbatasannya.

Ritual dapat berguna. Kitab dapat membantu. Guru dapat menunjukkan arah. Komunitas dapat menopang manusia. Semuanya mempunyai fungsi.

Namun, agama yang sehat harus mampu melampaui dirinya sendiri. Ia tidak boleh menjadi identitas terakhir. Ia tidak boleh memenjarakan manusia. Ia harus menunjukkan kenyataan. Setelah itu, ia harus mampu mundur.

Agama mirip rakit. Rakit berguna untuk menyeberang. Tidak ada masalah dengan rakit. Masalah muncul, ketika rakit dipanggul, setelah tiba di seberang. Lebih buruk lagi ketika manusia berkelahi soal rakit.

Konsep Tuhan juga sebuah rakit. Ia bisa membuka kesadaran. Ia juga bisa menutup kesadaran. Semuanya bergantung pada cara konsep itu digunakan. Tuhan yang dimiliki ego berubah menjadi berhala.

Pada titik terdalam, bahkan kata Tuhan dapat dilepas. Kata hanyalah kata. Yang tersisa adalah kenyataan. Ia hadir. Ia tidak membutuhkan nama.

Pulang

Pada akhirnya, tiga tesis itu sederhana. Kesadaran adalah kenyataan paling langsung. Kesadaran hadir sebagai perubahan. Fenomena adalah bentuk perubahan itu. Tuhan adalah nama bagi keseluruhan kenyataan tersebut.

Tiga kritik terhadap agama juga sederhana. Tuhan tidak boleh dijadikan objek. Penilaian manusia tidak boleh dijadikan hukum kosmis. Pengalaman tidak boleh dibekukan menjadi dogma. Ketiganya adalah bentuk kekeliruan.

Epistemologi Pembebasan membongkar kekeliruan konsep. Teori Kerakusan Ontologis membongkar keinginan untuk memiliki. Transformasi Kesadaran membongkar keterpisahan. Etika Natural Empiris memberi arah tindakan. Tipologi Agama membantu menilai bentuk kehidupan religius.

Semua teori itu bertemu pada satu titik. Manusia menderita karena salah melihat. Yang bergerak dianggap tetap. Yang terbuka ingin ditutup. Yang bebas ingin dimiliki.

Dari kesalahan melihat lahir ketakutan. Dari ketakutan lahir kerakusan. Dari kerakusan lahir kekerasan. Kekerasan lalu melahirkan penderitaan baru. Lingkaran itu terus bergerak.

Pembebasan dimulai, ketika manusia berhenti memaksa kenyataan. Perubahan dilihat sebagai perubahan. Pikiran dilihat sebagai pikiran. Ego dilihat sebagai proses. Tuhan tidak lagi dijadikan objek.

Tidak ada lagi kebutuhan untuk menggenggam Yang Mutlak. Tidak ada lagi kebutuhan untuk memenangkan Tuhan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menjadikan agama sebagai benteng. Kehidupan dapat dibiarkan menjadi kehidupan. Kesadaran dapat kembali terbuka.

Pada titik itu, spiritualitas menjadi sangat sederhana. Tidak perlu pergi ke tempat lain. Tidak perlu menjadi pribadi khusus. Tidak perlu mengumpulkan pengalaman suci. Tidak perlu memenangkan perdebatan tentang Tuhan.

Kenyataan sudah hadir. Kesadaran sudah menyala. Fenomena terus bergerak. Tidak ada yang perlu dibekukan. Yang dibutuhkan hanyalah kejernihan.

Dari kejernihan muncul kebebasan. Dari kebebasan muncul keberanian. Dari keberanian muncul kasih. Dari kasih muncul kehidupan yang lebih luas. Mungkin itulah wajah Tuhan yang paling nyata.

Ia hidup dan sungguh dialami disini dan saat ini…

Keterangan Tulisan:

(Bekerja Sama dengan Kecerdasan Buatan untuk Pengumpulan Data dan Penajaman Argumen)

Buku Teori Transformasi Kesadaran Unlimited bisa diunduh disini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/

Buku Teori Kerakusan Ontologis akan segera terbit

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.