Waras ala Zen

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di zaman yang gaduh, dan kurang waras. Semua orang ingin bicara. Sedikit orang mau mendengar. Lebih sedikit lagi yang sungguh memahami.

Kegaduhan ada di mana-mana. Politik memancing kemarahan. Ekonomi melahirkan kecemasan. Media sosial memperbesar semuanya.

Setiap hari, pikiran kita dihujani informasi. Sebagian penting. Sebagian tidak berguna. Sebagian besar segera kita lupakan.

Namun, dampaknya tetap tinggal. Tubuh menjadi tegang. Pikiran sulit diam. Hati kehilangan kejernihannya.

Kegaduhan dunia masuk ke dalam diri. Kita membawa telepon ke tempat tidur. Kita membaca berita sambil makan. Kita bahkan sulit pergi ke toilet tanpa layar.

Ini bukan perkara kecil. Perhatian adalah inti kehidupan manusia. Apa yang kita perhatikan membentuk dunia kita. Perhatian yang hancur melahirkan hidup yang terpecah.

Di sinilah Zen menjadi penting. Zen bukan pelarian dari dunia. Zen bukan obat penenang. Zen adalah latihan melihat kenyataan.

Apa yang sungguh terjadi sekarang? Ini pertanyaan dasarnya. Bukan apa yang kita pikirkan. Bukan apa yang kita takutkan.

Ketika marah, ada kemarahan. Ketika takut, ada ketakutan. Ketika hujan turun, ada hujan. Semuanya sederhana pada dirinya sendiri.

Masalah muncul setelahnya. Pikiran mulai bercerita. Cerita berkembang menjadi drama. Drama kemudian dianggap sebagai kenyataan.

Orang menghina kita. Peristiwa itu berlangsung beberapa detik. Namun, pikiran mengulangnya berhari-hari. Luka kecil berubah menjadi neraka.

Kita melakukan hal yang sama dengan masa depan. Sesuatu belum terjadi. Pikiran sudah membayangkan bencana. Tubuh kemudian bereaksi terhadap khayalan.

Zen memotong rantai tersebut. Ia kembali kepada kenyataan. Ia tidak menambah apa pun. Ia juga tidak mengurangi apa pun.

Dalam Zen Korea, ada ungkapan penting. Kita diajak masuk ke pikiran tidak tahu. Dalam bahasa Korea, ini disebut don’t know mind. Sikap ini sangat radikal.

Tidak tahu bukan kebodohan. Tidak tahu bukan kemalasan berpikir. Ia adalah keterbukaan terhadap kenyataan. Kita berhenti memaksakan konsep.

Manusia modern sulit melakukan ini. Ia ingin punya pendapat tentang semuanya. Semua hal harus segera dinilai. Semua kejadian harus segera diberi label.

Media sosial memperparah kecenderungan tersebut. Semua orang menjadi komentator. Semua orang merasa menjadi ahli. Semua orang merasa harus didengar.

Ego menyukai kepastian. Ia ingin selalu benar. Ia ingin diakui. Ia ingin dunia mengikuti pikirannya.

Ketika kenyataan berbeda, ego marah. Ketika dikritik, ego terluka. Ketika diabaikan, ego gelisah. Hidup lalu menjadi pertempuran tanpa akhir.

Zen menawarkan jalan lain. Berhenti sebentar. Tarik napas. Jangan sok tahu.

Rasakan tubuh sebagaimana adanya. Dengarkan suara di sekitar. Perhatikan pikiran yang muncul. Jangan langsung percaya kepadanya.

Ini latihan yang sederhana. Namun, dampaknya sangat dalam. Kita mulai mengenali sifat pikiran. Pikiran ternyata terus berubah.

Satu pikiran muncul. Lalu ia lenyap. Pikiran lain datang menggantikannya. Tidak ada yang benar-benar menetap.

Emosi juga seperti itu. Marah datang dan pergi. Takut datang dan pergi. Sedih pun datang dan pergi.

Kita menderita, ketika menggenggam semuanya. Kita berkata, ini adalah saya. Kita berkata, ini adalah hidup saya. Kita lalu terperangkap di dalamnya.

Zen mengajak kita melihat lebih jernih. Pikiran hanyalah pikiran. Emosi hanyalah emosi. Ia bukan keseluruhan diri kita.

Media sosial hidup dari kebalikannya. Ia ingin kita bereaksi. Kemarahan membuat kita terus melihat layar. Ketakutan membuat kita terus menggulir di dalam kegelisahan.

Perhatian lalu menjadi komoditas. Kesadaran manusia diperjualbelikan. Kegelisahan menghasilkan keuntungan. Kebingungan menjadi model bisnis.

Zen adalah pemberontakan terhadap keadaan ini. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan kebencian. Melainkan dengan kesadaran.

Duduklah selama beberapa menit. Tidak perlu mencari pengalaman khusus. Rasakan napas masuk dan keluar. Biarkan semuanya sebagaimana adanya.

Kegelisahan mungkin muncul. Lihat saja. Kebosanan mungkin muncul. Lihat saja.

Keinginan membuka telepon juga muncul. Jangan langsung mengikutinya. Perhatikan dorongan tersebut. Lihat bagaimana ia menghilang.

Di sini kebebasan mulai tumbuh. Tidak semua pikiran harus dipercaya. Tidak semua emosi harus dituruti. Tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Ada ruang sebelum tindakan. Ruang itu sangat kecil. Namun, di sanalah kebebasan berada. Kesadaran membuka ruang tersebut.

Zen tidak membuat dunia menjadi tenang. Politikus tetap bisa berbohong. Ekonomi tetap naik turun. Manusia tetap melakukan kebodohan.

Namun, hubungan kita dengan semua itu berubah. Kita tidak harus ikut gaduh. Kita tidak harus ikut membenci. Kita tidak harus kehilangan kejernihan.

Ini bukan sikap pasif. Justru sebaliknya. Pikiran yang jernih mampu bertindak tepat. Ia tidak dikuasai reaksi.

Kita tetap bisa melawan ketidakadilan. Kita tetap bisa mengkritik kekuasaan. Kita tetap bisa berkata tidak. Namun, kita tidak perlu menyimpan denndam membara.

Tindakan menjadi lebih bersih. Tidak ada kebutuhan ekstrem untuk menghancurkan lawan. Tidak ada kebutuhan untuk menang sendiri. Yang dicari adalah ketepatan.

Zen adalah seni hidup sederhana. Makan, ketika makan. Berjalan, ketika berjalan. Bekerja, ketika bekerja.

Kesederhanaan ini semakin langka. Dunia terus menawarkan tambahan. Lebih banyak barang. Lebih banyak pengakuan.

Kita didorong untuk terus merasa kurang. Rumah kurang besar. Uang kurang banyak. Hidup orang lain tampak lebih indah.

Dari sini kerakusan lahir. Kita ingin terus menambah. Kita takut kehilangan. Kita tidak pernah merasa cukup.

Zen bergerak ke arah sebaliknya. Ia berkata, berhenti. Lihat apa yang sudah ada. Barangkali semuanya sudah cukup, dan sudah sempurna sebagaimana adanya.

Secangkir teh bisa cukup. Satu tarikan napas bisa cukup. Langit sore bisa cukup. Percakapan sederhana juga bisa cukup.

Ini bukan romantisasi kemiskinan. Ini bukan penolakan terhadap kemajuan. Ini adalah pembebasan dari kerakusan batin. Kita memakai dunia, tanpa diperbudak olehnya.

Hidup tidak pernah sempurna. Masalah selalu datang. Orang yang kita cintai akan berubah. Tubuh pun akan menua.

Kematian juga pasti datang. Zen tidak menyangkal kenyataan itu. Ia justru menatapnya langsung. Karena itu, hidup menjadi berharga.

Kita tidak perlu menunggu semua masalah selesai. Hari itu tidak akan pernah datang. Satu masalah selesai. Masalah lain muncul.

Kebebasan harus ditemukan sekarang. Bukan setelah keadaan ideal tercipta. Bukan setelah dunia menjadi tenang. Bukan setelah semua orang memahami kita.

Di tengah kegaduhan zaman, berhenti adalah tindakan radikal. Letakkan telepon sejenak. Tarik napas perlahan. Lihatlah sekitar.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu membuktikan apa-apa. Tidak perlu memenangkan perdebatan. Tidak perlu terus terlihat.

Untuk beberapa saat, jangan tahu. Jangan menilai. Jangan menambah cerita. Hanya lihat.

Mobil tetap lewat. Orang tetap berbicara. Hujan tetap turun. Dunia terus bergerak.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut gaduh. Ia hadir sebelum pikiran muncul. Ia tetap ada ketika pikiran lenyap. Zen menunjuk ke arah itu.

Kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Ia bukan milik organisasi religi. Ia bukan milik para guru. Ia hadir di sini.

Sekarang juga.

====

Keterangan Tulisan:

(Bekerja Sama dengan Kecerdasan Buatan untuk Penajaman Argumen)

Buku Jantung Hati Zen bisa dicek disini:  https://rumahfilsafat.com/2024/12/13/buku-terbaru-jantung-hati-zen/

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.