Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono

Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.

“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi.

Lalu, ia mulai memainkan jari-jari pada ponsel pintarnya. “Kasih es teh dulu, Mas,” serunya. Pesanannya datang beruntun. Aroma kerang rebus dan udang bakar yang harum menguar. Meja kecil itu menjadi sesak. Pemilik kedai memindahkan meja yang lain. Di depannya seafood tersaji. Juga sambal yang ia pesan. Bunyi kletak-kletak kulit kerang terdengar. Ia sisihkan cangkang-cangkang ke panci stainless yang sengaja disiapkan.

Temanku menikmati pesanannya. Saya menikmati udang bakar dan nasi hangat serta tumis kangkung. Tanpa sambal. Kami masing-masing terserap pada makanan itu. Atau, barangkali kami sudah terlampau lapar karena menunda makan malam sampai menjelang pukul sepuluh malam.

Suami-isteri pemilik warung tenda tampak gembira. Barangkali kami berdua adalah “tamu istimewa” pada malam ini. Gerimis telah membuat warungnya kurang pengunjung. Stok jualannya masih lumayan. Pesanan temanku dapat mengobati sebagian rasa kurang beruntungnya.

Dua porsi kerang sudah selesai. Keringat bercucuran. Berikutnya ia mencabik-cabik kepiting.  Bagi mata sebagian orang, cara teman saya makan tidak tergolong sopan atau ‘kurang ningrat’. Tapi, ia sangat menikmati. Barangkali boleh diserupakan dengan cheetah yang berhasil menangkap buruan setelah dua hari alpa. Bunyi yang ramai timbul dari cangkang kepiting yang menghantam panci stainless.

Gerimis menjadi sedikit lebih deras. Dan, sejoli yang bermotor singgah ke warung itu. Baju mereka basah. Tampaknya mereka datang dari tempat lain yang sudah diguyur hujan. Salah satu mengambil handuk kecil dari tasnya dan mulai mengelap wajah dan tangannya. Mereka memesan teh panas tanpa gula. Seorang memesan ikan goreng dan lalapan.

“Mas, ikan bakarnya bumbu kurang mantap  ini. Kita bagi dua, kah? Saya sudah tidak mampu ini,” kata temanku. Mulutnya menahan pedas. Ia menggulung-gulung tisu untuk menyeka keringatnya.

Lambungku sudah terisi cukup. Temanku mengaku bahwa ia sudah “lapar mata” dan tidak tahan terhadap godaan makanan asal laut. Makanan tidak habis. Ikan bakar itu sekadar kena sentuh dan cubit-cubit saja.

Makanan itu kami tinggalkan. Entah kemana nasib selanjutnya: ke tempat sampah, ke kandang ternak, atau menjadi pupuk. Seandainya nelayan yang menangkapnya mengerti, mungkin ia merasa sedih. Makanan yang ia upayakan dengan kerja keras—termasuk mengambil risiko digulung ombak—berakhir sebagai sampah.

Temanku maju ke Mas pemilik warung tenda dan meminta rincian belanjanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya yang ‘berisi’ itu. Lalu, pemilik warung mengulurkan uang kembalian Rp10.000.

“Sudah. Sudah. Ambil saja, Mas,” kata temanku yang melenggang masuk ke mobil yang ia sewa. Sopir sudah menunggu sambil terkantuk-kantuk. Teman itu memerintah sopir untuk mengarahkan mobil ke tempat ia menginap dan setelah itu sopir boleh pulang. Ia menyuruh sopir itu untuk datang pagi-pagi sambil menitipkan uang tips.

Esok hari, selepas semua kegiatan yang diagendakan, ia mengajakku kembali ke warung tenda. Ia ingin makan makanan-laut lagi.

“Itu seafood paling enak di sini, Mas. Saya sudah coba tempat-tempat lain. Tapi, itu yang paling enak.”

Ia tidak mau mencoba warung yang lain. Sepertinya menu warung tenda itu yang paling bisa memuaskan nafsunya. Setiap kali bercerita pengalaman kulinernya di tempat itu, kepiting saos tiram, kepiting lada hitam, dan udang bakar akan diulas berulang-ulang dengan penuh penekanan. Itulah pilihan yang “paling the best”.

Cuaca cerah kali ini. Ia mengajak teman sekolahnya yang berdinas di Yogya. Mereka sudah 13 tahun tidak berjumpa. Makan malam ini menjadi semacam perayaan reuni tak direncanakan. Ia mengambil kendali sebagai tuan-pesta. Ia memegang kertas menu yang dilaminating dan menyebutkan pesanannya.

Tidak sulit ditebak. Meja harus ditambah. Makanan melimpah. Di situ tiga jam lebih kami duduk untuk makan—diselingi mengisap rokok dan ngobrol serba-serbi dari sepanjang kenangan masa silam. Akhirnya, makanan pesanan itu tidak kami habiskan. Semua melampaui kapasitas lambung.

Ia membayar lebih banyak daripada hari sebelumnya. Tawaran temannya untuk ikut patungan ia tampik.

“Sudah. Ini masih ada,” katanya. Dengan ungkapan itu ia menunjukkan siapa dirinya.

***

Makanan tidak lagi sekadar sajian untuk mengisi perut, mencukupi nutrisi, atau menghalau rasa lapar. Tidak lain makanan menjadi simbol untuk mendeskripsikan diri atau menggolongkan diri sebagai ‘anggota kelas sosial yang mana’. Orang kaya tidak ‘sreg’ dengan makanan yang murah atau kurang berkelas sehingga membuat dirinya terlihat rendah. Makanan adalah representasi diri ke orang-orang.

“Tidak perlu susah hati. Yang penting saya bayar,” kata temanku.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.