Waras ala Tantra

Oleh Gede Agustapa, Yogi di Bali

Ketika sahabat saya, Dr. Phil. Reza A.A. Watimena, mengirimi saya tulisannya Waras ala Zen, setelah saya baca, saya mengirim pesan ke beliau, bahwa saya akan menulis Waras ala Tantra. Beliau meminta saya, agar segera menulisnya.

Zen dan Tantra tidak bertentangan sebab Zen dan Tantra sama-sama masuk dalam kategori Mahayana, sama-sama pendekatannya non-dual. Seperti yang dikatakan oleh Dzongsar Jamyang Kyetse Rinponce, bahwa Tantra adalah Mahayana dengan mesin turbo. Cara pandangnya sama, namun metode-metode Tantra dikatakan lebih kuat, dan lebih beraneka ragam. Tantra juga disebut Vajrayana yang artinya kendaraan petir atau kendaraan berlian. Petir (vajra/bajra) digunakan sebagai istilah sebab petir sangat cepat dan sangat kuat dalam memotong dan menghancurkan, dalam hal ini yang dihancurkan  adalah ego dan kekotoran batin.  Zen dan Tantra keduanya berdasarkan pada semangat Boddhicitta dan tekad Bodhisatwa.

Yang dimaksud Boddhicitta adalah pikiran yang beraspirasi untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan samsara. Bodhisattwa adalah praktisi yang bertekad untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan samsara. Kata samsara dalam Bahasa Indonesia adalah sengsara. Kata ini sebenarnya mengacu pada siklus kelahiran dan kematian yang berulang, dan di antara kelahiran dan kematian itu, ada banyak penderitaan dan ketidak puasan di sana.

Sebagaimana yang ditulis Reza tentang situasi belakangan ini “Kegaduhan ada di mana-mana. Politik memancing kemarahan. Ekonomi melahirkan kecemasan. Media sosial memperbesar semuanya”  kadang kala membuat kita terpancing, dan terjebak kemudian ikut penat dan gelisah. Jika tidak berhati-hati, menjaga kemurnian dan kejernihan cara pandang, maka kita dapat terseret dalam arus persepsi yang membawa lebih banyak penderitaan.

Sebagai pembuka dalam menawarkan cara pandang tantra untuk tetap waras di era kegaduhan ini, saya mengutip perkataan seorang petapa agung dari Tibet abad ke 16 bernama Jetsun Milarepa “persoalan di dunia ini akan berlangsung selamanya, jangan tunda berlatih meditasi (the affair of the world will go on forever, do not postpone the practice of meditation).

Persoalan, permasalahan, urusan di dunia ini tidak akan pernah selesai, tidak pernah ada ujungnya, baik itu urusan pribadi, persoalan di Masyarakat dan permasalahan bernegara akan selalu begitu, dan secara esensi itu-itu saja. Masalah kesekahan, masalah ketidaak adilan, masalah kebencian. Tidak pernah ada masalah baru. Kata-kata Jestun Milarepa ini bisa digunakan sebagai penghibur sekaligus pengingat, jika kita mulai agak terseret oleh kegaduhan.

 

Lalu apakah kita sebaiknya meditasi saja dan menjadi pasif terhadap persoalan dunia ini? Tentu tidak. Pasif bukan jalan Bodhisattwa juga bukan jalan Tantra. Milarepa pun, setelah menguatkan realisasinya, tidak pernah berhenti mengajar dan membimbing manusia yang menderita untuk terbebas dari penderitaan.

Lalu bagaimana sebaiknya menggunakan cara pandang tantra, agar tetap waras di era gaduh ini?

Tantra dikenal sebagai sebuah metode yang dapat merubah atau mentransformasi racun menjadi obat. Racun dalam konteks ini bukan hanya kemarahan, kebencian, keserakahan, ketakutan atau kecemburuan yang muncul di dalam diri kita. Kegaduhan yang terjadi di luar diri kita pun dapat menjadi racun, ketika kita membiarkannya masuk, menguasai pikiran, membangkitkan kebencian, dan membuat kita kehilangan kemurnian dan kejernihan.

Tantra tidak mengajarkan kita untuk melarikan diri dari racun tersebut. Kita juga tidak diminta untuk berpura-pura, bahwa racun itu tidak ada. Justru racun tersebut dilihat, dikenali dan digunakan sebagai jalan transformasi.

Ketika seseorang menghujat atau menghina kita di kehidupan nyata atau di sosial media  misalnya, kemarahan, ketidaksukaan atau bahkan kebencian mungkin muncul. Pada umumnya, kita hanya mempunyai dua pilihan: melampiaskannya atau menekannya. Tantra menawarkan jalan ketiga. Kemarahan itu dikenali dengan penuh kesadaran. Kita tidak menjadi kemarahan tersebut, tetapi juga tidak buru-buru menolaknya. Kita melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri kita, melihat energi di balik kemarahan itu dan melihat, bagaimana pikiran membentuk “aku” dan “dia”, “kawan” dan “lawan”.

Di sinilah cara pandang kekosongan menjadi penting. Kita melihat bahwa “aku”, “dia”, “musuh”, “penghinaan”, bahkan kemarahan yang sedang muncul, tidak memiliki inti diri yang berdiri sendiri. Semuanya muncul, karena sebab dan kondisi. Dengan melihatnya demikian, cengkeraman kemarahan mulai melonggar.

Tetapi Tantra tidak berhenti pada kekosongan. Jika semuanya hanya dikosongkan, kita bisa jatuh pada sikap tidak peduli dan apatis. Karena itu, ada cara pandang dan metode yang kedua, yaitu melihat segala sesuatu sebagai manifestasi atau perwujudan yang beraneka ragam tak berhingga jumlahnya dari Hamparan Ruang Kesejatian yang sama. Orang yang sedang marah tetap ada. Orang yang menghina dan mencemooh tetap ada. Penderitaan yang ditimbulkan oleh tindakan mereka juga nyata dan perlu dihadapi. Di sinilah Bodhicitta menjadi sangat penting.

Alih-alih hanya melihat orang yang membuat kegaduhan sebagai musuh, kita mencoba melihatnya sebagai makhluk yang sedang menderita, yang terus menerus mengumpulkan berbagai benih penderitaan untuk kehidupan mereka yang akan datang. Mereka sedang dikuasai oleh ketidaktahuan akan hukum sebab akibat yang saling bergantungan, sedang dikuasai oleh kemarahan, ketakutan, kebencian, keserakahan, kebingungan atau luka batinnya sendiri. Perilakunya mungkin salah, dan bahkan perlu dihentikan. Tetapi, orangnya tetap merupakan makhluk yang ingin terbebas dari penderitaan, dan juga ingin berbahagia,  sama seperti kita, akan tetapi mereka menempuh cara yang salah.

Di tantra, ada sebuah metode lainnya, yaitu praktisi diminta memandang semua makhluk sebagaimana seorang ibu yang bijaksana dan penuh welas asih yang merawat putra tunggalnya yang sedang sakit. Seorang ibu yang bijaksana dan penuh kasih sayang tidak akan mengatakan, bahwa semua yang dilakukan anaknya benar. Jika anaknya melakukan kesalahan, ia akan menghentikannya. Jika anaknya menyakiti orang lain, ia akan berusaha mencegahnya. Tetapi ia tidak serta-merta mengubah anaknya menjadi seorang yang harus dibenci. Ia melihat, bahwa anaknya sedang tersesat, dan berharap anaknya menemukan jalan keluar dari penderitaannya. Demikian pula Bodhicitta mengajak kita melihat semua makhluk dengan cara seperti itu.

Tentu, sudah sepatutnya kita menolak ketidakadilan, tapi dengan tanpa membenci orang yang melakukannya. Kita harus menghentikan tindakan yang merugikan, tanpa berharap orang tersebut semakin menderita atau celaka. Kita perlu mengatakan “tidak”, tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh yang harus dihancurkan. Sebab bagaimana pun, kebencian dan permusuhan pada akhirnya akan membuat diri kita sendiri menderita terlebih dulu sebelum mengenai orang lain.  Pada titik ini, sesuatu yang ajaib terjadi. Racun kemarahan mulai berubah menjadi obat.

Kemarahan, yang semula mendorong kita untuk menyerang, dapat berubah menjadi keberanian untuk menghentikan ketidakadilan. Kebencian dapat berubah menjadi keinginan, agar penderitaan tidak terus berlanjut. Bahkan, kegaduhan, yang semula membuat kita kehilangan kewarasan, dapat menjadi pengingat untuk memperkokoh kemurnian, kejernihan dan Bodhicitta.

Jadi, yang ditransformasikan bukan hanya objek di luar diri kita, tapi juga cara kita berhubungan dengan segala fenomena yang ada.

Kita tidak lagi bertanya, “Bagaimana supaya dunia berhenti gaduh?” Ingat kata-kata Milarepa, bahwa persoalan di dunia ini akan berlangsung selamanya. Kita mulai bertanya: “Bagaimana saya tetap murni dan jernih di tengah kegaduhan ini?” Dan lebih jauh lagi: “Bagaimana kegaduhan ini dapat menjadi jalan bagi saya untuk mengembangkan dan menyempurnakan kebijaksanaan dan kasih sayang?” Inilah yang menurut saya menjadi salah satu makna waras ala Tantra; mengubah racun mematikan menjadi obat yang menyehatkan dan menguatkan.

Waras bukan berarti tidak marah. Waras bukan berarti tidak peduli. Waras juga bukan berarti selalu tenang dan tersenyum, ketika melihat ketidakadilan. Waras adalah kemampuan untuk melihat dengan jernih, tanpa kehilangan kemurnian dan welas asih. Kita tidak ikut terbakar oleh api kegaduhan, tetapi kita juga tidak meninggalkan mereka yang sedang terbakar di dalamnya. Kita berusaha memadamkan api, tanpa ikut menjadi api. Di situlah kekuatan Tantra sebagai sebuah metode transformasi yang kuat dan cepat.

Sekali lagi, sebagai penutup dan pengingat; Lihat semua makhluk dengan cara pandang yang sama, sebagaimana seorang ibu merawat putra tunggalnya yang sakit.  Dengan begitu, apa yang pada awalnya menjadi racun bagi batin justru dapat digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan obat yang memperkuat dan menyempurnakan kebijaksanaan dan kasih sayang.

 

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.