Osho untuk Indonesia: Belajar Merdeka

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia tidak kekurangan agama. Rumah ibadah ada di mana-mana. Ceramah agama tersedia setiap saat. Simbol kesalehan memenuhi ruang publik. Namun, kedamaian batin justru terasa semakin langka.

Kita juga tidak kekurangan aturan. Sejak kecil, orang Indonesia diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh. Kita diajarkan sopan santun dan kepatuhan. Namun, kita jarang diajarkan untuk memahami gerak batin kita sendiri. Di titik inilah pemikiran Osho, pemikir India, menjadi menarik.

Osho tidak terutama berbicara tentang menjadi orang baik. Ia berbicara tentang menjadi manusia yang sadar. Baginya, kebaikan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi kepatuhan. Kesalehan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi kemunafikan. Manusia bisa terlihat baik di luar, tetapi penuh kebencian dan kebingungan di dalam.

Manusia yang Dibentuk

Sejak lahir, manusia dibentuk. Keluarga memberi nama. Agama memberi identitas. Sekolah memberi cara berpikir. Masyarakat memberi ukuran tentang sukses dan gagal.

Pembentukan semacam ini memang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Masalah muncul, ketika manusia tidak lagi mampu mengambil jarak dari semua pembentukan tersebut. Ia mengira, bahwa semua yang ditanamkan kepadanya adalah dirinya sendiri. Ia hidup dari suara orang lain. Ia tidak pernah sungguh mengenal suara batinnya sendiri.

Ini terasa kuat di Indonesia. Anak harus patuh kepada orang tua. Murid harus patuh kepada guru. Bawahan harus patuh kepada atasan. Umat harus patuh kepada pemimpin agama.

Kepatuhan memang kadang diperlukan. Namun, kepatuhan, tanpa kesadaran, berbahaya. Orang kehilangan kemampuan bertanya. Ia takut berbeda. Ia takut dikucilkan oleh kelompoknya.

Osho mengajak manusia melakukan pemberontakan batin. Bukan pemberontakan dengan kekerasan. Bukan pula kebencian terhadap tradisi. Pemberontakan berarti berani melihat dengan mata sendiri. Manusia harus berani mempertanyakan segala sesuatu yang selama ini dianggap pasti.

Apa yang sebenarnya saya pikirkan? Apa yang sungguh saya inginkan? Apa yang saya lakukan hanya karena takut ditolak? Apa yang selama ini saya anggap benar, hanya karena terus diulang? Pertanyaan seperti ini sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Pendidikan dan Mesin Kepatuhan

Hal yang sama berlaku dalam pendidikan. Sekolah masih sering menjadi tempat untuk mencari jawaban yang benar. Guru bertanya, dan murid menjawab. Nilai diberikan berdasarkan kesesuaian dengan jawaban yang sudah ditentukan. Akibatnya, rasa ingin tahu perlahan mati.

Murid takut salah. Ia belajar mengejar nilai. Ia tidak belajar berpikir. Ia juga tidak belajar hidup bersama ketidakpastian. Padahal, kehidupan hampir selalu bergerak di wilayah yang tidak pasti.

Ilmu pengetahuan lahir dari keraguan. Filsafat lahir dari pertanyaan. Kreativitas lahir dari keberanian memasuki wilayah yang belum diketahui. Manusia berkembang, ketika ia berani berkata, “Saya belum tahu.” Di sinilah pemikiran Osho menjadi penting.

Pengetahuan memang dibutuhkan. Pikiran juga diperlukan. Namun, pikiran hanyalah alat. Ketika pikiran menjadi penguasa, manusia kehilangan kebebasan. Ia terperangkap di dalam konsep-konsepnya sendiri.

Manusia lalu tidak lagi melihat kenyataan secara langsung. Ia hanya melihat pikirannya tentang kenyataan. Ia melihat orang lain melalui prasangka. Ia melihat dirinya melalui tuntutan masyarakat. Ia hidup di dalam kepala, bukan di dalam kehidupan.

Pendidikan, seharusnya, tidak hanya memenuhi kepala. Pendidikan juga harus membentuk kesadaran. Anak perlu belajar membaca buku, tetapi juga perlu belajar membaca dirinya sendiri. Ia perlu mengenali kemarahan, ketakutan, iri hati dan kesepiannya.

Tanpa itu, sekolah hanya menghasilkan mesin ekonomi. Orang sekolah, lalu bekerja. Orang bekerja untuk mencari uang. Uang dipakai untuk membeli barang. Kehidupan lalu berjalan mengikuti pola yang sudah tersedia.

Hidup untuk Membeli

Mesin ekonomi bekerja dengan pola sederhana. Orang sekolah. Orang bekerja. Orang mencari uang. Orang membeli barang. Sesudah itu, ia ingin membeli barang yang lebih mahal.

Rumah diperbesar. Mobil diganti. Telepon diperbarui. Liburan harus semakin jauh. Gaya hidup terus dinaikkan, tanpa pernah jelas di mana batasnya.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Osho bukan pemikir yang membenci dunia. Ia tidak mengajarkan kemiskinan sebagai kebajikan. Ia justru menolak spiritualitas yang memusuhi kehidupan. Masalahnya bukan pada benda, melainkan pada keterikatan.

Kita tidak lagi memiliki barang. Barang mulai memiliki kita. Harga diri bergantung pada kendaraan yang digunakan. Kebahagiaan bergantung pada barang yang dibeli. Identitas dibangun melalui konsumsi.

Media sosial memperkuat penyakit ini. Kehidupan orang lain terus terlihat lebih baik. Orang lain tampak lebih kaya, lebih menarik dan lebih bahagia. Kita lalu kehilangan kemampuan merasa cukup. Kita selalu merasa tertinggal.

Osho menawarkan jalan tengah. Nikmati kehidupan, tetapi jangan diperbudak olehnya. Punya uang, tetapi jangan menjadikan uang sebagai identitas. Punya benda, tetapi jangan mengukur harga diri dari benda. Hidup harus dinikmati tanpa kehilangan kebebasan.

Inilah semangat Zorba the Buddha. Zorba menikmati bumi. Buddha mengenal keheningan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Manusia bisa mencintai dunia, sekaligus tidak melekat padanya.

Indonesia membutuhkan manusia semacam ini. Ia mampu bekerja keras, tetapi tahu kapan berhenti. Ia mampu menikmati dunia, tetapi tidak kehilangan dirinya. Ia tahu arti keberhasilan, tetapi juga tahu arti cukup. Ia tidak harus terus mengejar.

Cinta yang Berubah Menjadi Penjara

Pemikiran Osho juga relevan untuk hubungan manusia. Kita sering mencampurkan cinta dengan kepemilikan. Pasangan harus selalu tersedia. Ia harus memberi kabar. Ia harus memenuhi harapan kita.

Kecemburuan bahkan sering dianggap sebagai bukti cinta. Padahal, kecemburuan lebih sering lahir dari ketakutan. Orang takut ditinggalkan. Orang takut sendiri. Ketakutan itu lalu diberi nama cinta.

Hubungan kemudian berubah menjadi penjara. Dua orang saling mengawasi. Dua orang saling menuntut. Dua orang saling membatasi. Keduanya kehilangan kebebasan atas nama kedekatan.

Hal yang sama terjadi dalam keluarga. Orang tua merasa memiliki anak. Karena merasa memiliki, mereka merasa berhak menentukan hampir semuanya. Pendidikan ditentukan, pekerjaan ditentukan, bahkan pasangan hidup ikut dinilai.

Semua dilakukan atas nama kasih sayang. Namun, cinta, tanpa kebebasan, mudah berubah menjadi penindasan. Anak lalu hidup untuk menyenangkan orang tuanya. Ia mungkin tampak berhasil, tetapi kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

Disini, Osho memberikan pelajaran penting. Anak bukan milik orang tua. Pasangan bukan milik kita. Manusia bukan benda yang bisa dimiliki. Cinta yang dewasa selalu memberi ruang.

Cinta tidak terus menggenggam. Ia memungkinkan orang lain tumbuh menjadi dirinya sendiri. Ia tidak menuntut keseragaman. Ia tidak menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk menguasai. Di dalam cinta yang sehat, kebebasan dan kedekatan berjalan bersama.

Tubuh dan Kemunafikan

Indonesia juga memiliki hubungan yang rumit dengan tubuh. Seksualitas sering dianggap tabu. Tubuh dianggap sesuatu yang harus dikendalikan. Hasrat sering diperlakukan sebagai sesuatu yang memalukan. Akibatnya, orang lebih sering menekan, daripada memahami.

Namun, tindak menekan tidak menghilangkan hasrat. Ia hanya menyembunyikannya. Sesuatu yang ditekan terus menerus biasanya kembali dalam bentuk lain. Kadang lebih gelap dan lebih destruktif.

Di sisi lain, masyarakat modern bergerak ke ekstrem sebaliknya. Tubuh menjadi komoditas. Seksualitas dijual. Hasrat terus dirangsang. Orang lalu diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai.

Osho menolak kedua ekstrem tersebut. Tubuh tidak perlu dibenci. Namun tubuh juga tidak perlu dipertuhankan. Tubuh perlu disadari.

Hasrat datang. Lihatlah. Kenikmatan datang. Nikmatilah dengan kesadaran. Jangan menekan, tetapi jangan pula menjadi budak.

Kesadaran menciptakan jarak. Dari jarak lahir kebebasan. Manusia tidak lagi diperintah secara buta oleh dorongan tubuhnya. Ia juga tidak perlu membenci tubuhnya sendiri.

Agama dan Keheningan

Osho menjadi paling provokatif, ketika berbicara tentang agama. Ia curiga terhadap agama yang berubah menjadi institusi kekuasaan. Pengalaman hidup berubah menjadi dogma. Misteri berubah menjadi aturan. Kesadaran berubah menjadi identitas kelompok.

Ini sangat relevan bagi Indonesia. Kita banyak berbicara tentang Tuhan. Namun, kita jarang diam. Kita banyak membicarakan surga, tetapi kehidupan sehari-hari tetap dipenuhi kemarahan.

Kita berbicara tentang cinta kasih. Namun, media sosial penuh penghinaan. Kita berbicara tentang kesucian. Namun, korupsi dan kebohongan tetap dianggap biasa. Ada jurang besar antara simbol dan kenyataan.

Masalahnya mungkin bukan kekurangan agama. Masalahnya adalah kekurangan kesadaran. Orang memiliki banyak keyakinan, tetapi tidak mengenal pikirannya sendiri. Orang mengenal kitab suci, tetapi tidak mengenal gerak ketakutannya.

Meditasi, menurut Osho, menawarkan sesuatu yang berbeda. Tidak ada yang harus dipercaya. Tidak ada identitas yang harus dipertahankan. Tidak ada lawan yang harus dikalahkan. Manusia hanya diminta melihat.

Duduklah. Bernapaslah. Lihat apa yang sedang terjadi di dalam diri. Untuk beberapa saat, berhentilah menjadi siapa pun. Tidak perlu menjadi orang suci, orang pintar ataupun orang penting.

Di dalam keheningan itu, manusia mungkin melihat sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan. Ia melihat, bahwa pikirannya terus bergerak. Ia melihat, bahwa emosinya datang dan pergi. Ia juga melihat, bahwa dirinya lebih luas, daripada seluruh isi pikirannya.

Jangan Menjadi Pengikut Osho

Di sini ada sebuah paradoks. Osho berbicara tentang kebebasan. Namun, manusia memiliki kecenderungan untuk menciptakan guru. Guru kemudian disembah. Ajaran lalu berubah menjadi dogma baru.

Karena itu, cara terbaik membaca Osho justru bukan menjadi pengikut Osho. Gunakan pikirannya sebagai alat. Uji di dalam pengalaman. Ambil yang berguna, dan tinggalkan yang tidak.

Jangan mengganti satu dogma dengan dogma baru. Jangan meninggalkan satu penjara hanya untuk masuk ke penjara lain. Bahkan, ajaran tentang kebebasan bisa berubah menjadi penjara, ketika dipercayai secara buta. Kesadaran tidak pernah membutuhkan fanatisme.

Kebebasan tidak bisa diberikan oleh guru. Guru hanya bisa menunjuk. Manusia sendiri yang harus melihat. Ia sendiri yang harus berjalan. Pada akhirnya, ia sendiri yang harus bertanggung jawab atas hidupnya.

Manusia Indonesia yang Sadar

Mungkin inilah relevansi terbesar Osho bagi Indonesia. Kita terlalu sibuk membentuk manusia yang patuh. Kita ingin anak yang baik, murid yang baik, warga yang baik dan umat yang baik. Namun, kita jarang berbicara tentang manusia yang sadar.

Padahal, manusia yang sadar tidak mudah dimanipulasi. Ia tidak mudah diprovokasi. Ia tidak gampang membenci, hanya karena orang lain berbeda. Ia mampu mengambil jarak dari ketakutan kelompoknya.

Ia mampu melihat pikirannya sebelum bertindak. Ia mengenali ketakutannya sebelum menyalahkan orang lain. Ia memahami kemarahannya sebelum melukai. Ia tidak hidup semata-mata dari reaksi.

Manusia semacam ini tidak harus meninggalkan agama. Ia tidak harus meninggalkan dunia. Ia tidak harus hidup di gunung. Ia bisa tetap bekerja, berkeluarga dan menjalani kehidupan biasa.

Ia bisa menikmati uang, makanan, musik dan perjalanan. Namun, ia tidak diperbudak semuanya. Ia hidup di dunia, tetapi dunia tidak sepenuhnya menguasai batinnya. Ia mampu menikmati tanpa menggenggam.

Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang keras. Kita tidak membutuhkan lebih banyak kesalehan di permukaan. Kita juga tidak membutuhkan lebih banyak orang yang merasa dirinya paling benar. Kita membutuhkan manusia yang mampu berhenti dan melihat.

Manusia perlu belajar diam. Ia perlu belajar mengamati. Ia perlu belajar sadar. Dari kesadaran muncul jarak terhadap pikiran dan emosi.

Dari jarak muncul kebebasan. Dari kebebasan lahir kemampuan untuk mencintai, tanpa memiliki. Dari kebebasan pula lahir keberanian untuk hidup, tanpa terus menerus mengikuti tekanan masyarakat. Di situlah perubahan yang sesungguhnya mungkin dimulai.

Perubahan itu tidak selalu dimulai dari luar. Ia tidak selalu dimulai dari undang-undang, lembaga ataupun revolusi besar. Ia bisa dimulai, ketika satu manusia berhenti hidup seperti mesin. Ia mulai melihat dirinya sendiri dengan sadar dan jernih.

Satu percikan api kesadaran yang bisa membakar seluruh semesta itu sendiri…

================================

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.