Dunia menjadi semakin rumit. Perang terus berlangsung. Korupsi merajalela. Agama menjadi alat kekuasaan. Teknologi berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan manusia tertinggal jauh di belakang.
Indonesia pun mengalami penyakit serupa. Para penguasa sibuk mempertahankan kekuasaan. Rakyat kecil berjuang untuk bertahan hidup. Fanatisme agama merusak akal sehat. Pendidikan semakin kehilangan arah pembebasannya.
Di tengah semua ini, manusia terus mencari kebahagiaan. Mereka mengejar uang. Mereka mengejar kekuasaan. Mereka mengejar pengakuan. Namun, semakin banyak yang diperoleh, semakin besar pula kegelisahan yang dirasakan.
Ada sesuatu yang keliru. Manusia mencari kebebasan di tempat yang salah. Mereka mencari kedamaian di dalam dunia yang terus berubah. Mereka menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tidak pernah bisa sungguh dikendalikan.
`Ribuan tahun tradisi kebijaksanaan India menawarkan jawaban yang berbeda. Salah satu ungkapannya yang paling radikal terdapat di dalam Astavakra Gita. Buku ini tidak menawarkan surga setelah kematian. Ia juga tidak menawarkan ritual untuk menyenangkan Tuhan.
Pesannya sederhana. Manusia sudah bebas sejak awal. Hanya saja, ia belum menyadarinya.
Kebijaksanaan Astavakra
Astavakra Gita merupakan salah satu teks penting dalam tradisi Advaita Vedanta. Kata Advaita berarti tidak dua. Kenyataan terdalam tidak terpecah menjadi subjek dan objek. Semua perbedaan muncul di dalam satu kesadaran yang sama.
Teks ini berbentuk percakapan antara pertapa Astavakra dan Raja Janaka. Astavakra adalah seorang bijak. Dalam legenda, tubuhnya memiliki delapan lekukan. Namun, keterbatasan fisik sama sekali tidak menghalangi kedalaman kebijaksanaannya.
Janaka adalah seorang raja. Ia memiliki kekayaan dan kekuasaan. Namun, ia tetap mencari sesuatu yang lebih mendasar. Ia ingin memahami pengetahuan sejati, ketidakterikatan dan pembebasan.
Pertanyaannya sangat manusiawi. Bagaimana manusia bisa sungguh bebas? Bagaimana ia bisa menemukan kedamaian? Bagaimana ia bisa terbebas dari penderitaan?
Jawaban Astavakra mengejutkan. Manusia tidak perlu menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak perlu mencapai keadaan istimewa. Ia hanya perlu mengenali hakikat dirinya yang sesungguhnya.
Pada bab pertama, Astavakra mengajak Janaka mengenali dirinya sebagai kesadaran yang menyaksikan segala sesuatu. Tubuh bukanlah keseluruhan dirinya. Pikiran juga bukan identitas terdalamnya. Semua pengalaman datang dan pergi di dalam kesadaran.
Di sinilah letak radikalitas ajaran ini. Pembebasan bukanlah sesuatu yang harus diciptakan. Pembebasan adalah sesuatu yang harus dikenali. Ia sudah hadir, sebelum segala usaha untuk mencapainya.
Namun, manusia terus mencari. Ia terus berlari. Ia membangun penjara baru melalui pencarian yang tidak pernah selesai. Inilah tragedi kehidupan manusia.
Ilusi Diri
Astavakra mengajak manusia mempertanyakan sesuatu yang paling mendasar. Siapakah aku sebenarnya? Biasanya, manusia menjawab dengan identitas. Saya orang Indonesia. Saya beragama tertentu. Saya seorang akademisi. Saya kaya, miskin, berpangkat ataupun tidak memiliki jabatan.
Semua jawaban itu bersifat sementara. Identitas kebangsaan dibentuk oleh sejarah. Jabatan bisa hilang. Kekayaan bisa lenyap. Tubuh pun terus berubah.
Pikiran tidak lebih stabil. Ia bergerak dari satu gagasan ke gagasan lainnya. Kemarahan datang dan pergi. Ketakutan muncul dan menghilang. Bahkan, keyakinan yang dianggap paling suci pun dapat berubah.
Jika semuanya berubah, apakah yang menyadari perubahan tersebut? Bagi Astavakra, jawabannya adalah kesadaran murni. Ia bukan pikiran. Ia bukan emosi. Ia bukan cerita tentang diri yang terus diulang setiap hari.
Kesadaran adalah ruang tempat semua pengalaman muncul. Ia tidak membutuhkan identitas tambahan. Ia tidak menjadi lebih besar, ketika dipuji. Ia juga tidak menjadi lebih kecil, ketika dihina.
Ini merupakan sebuah pandangan yang membebaskan. Ia bukan kesimpulan eksperimen ilmu saraf. Namun, ajakannya dapat diperiksa melalui pengalaman langsung. Kita bisa mengamati pikiran, tanpa harus selalu mempercayainya.
Pandangan ini memiliki kedekatan praktis dengan Zen dan Dzogchen. Ketiganya mengajak manusia mengenali pengalaman secara langsung. Namun, dasar filsafatnya tidak sepenuhnya sama. Advaita berbicara tentang Atman sebagai kesadaran sejati. Buddhisme justru mengkritik gagasan tentang diri yang kekal.
Perbedaan itu penting. Kita tidak perlu memaksakan semua tradisi menjadi satu. Yang menarik adalah akibat praktisnya. Ketika manusia berhenti melekat pada pikiran, penderitaan psikologis dapat berkurang. Ketika identitas tidak lagi dianggap mutlak, ruang kebebasan mulai terbuka. Manusia tidak lagi menjadi budak dari cerita tentang dirinya sendiri.
Kerakusan Ontologis
Di sinilah Astavakra Gita dapat dihubungkan dengan Teori Kerakusan Ontologis yang saya kembangkan. Kerakusan manusia tidak hanya berkaitan dengan uang. Ia juga tidak hanya berkaitan dengan makanan, ataupun kenikmatan seksual. Ada kerakusan yang lebih mendalam. Ia berakar pada kesalahpahaman manusia tentang keberadaannya sendiri.
Manusia merasa dirinya kurang. Ia merasa tidak lengkap. Ia merasa harus menjadi sesuatu yang lebih besar. Kekosongan tersebut lalu berusaha diisi dengan hal-hal dari luar.
Uang menjadi jawabannya. Jabatan menjadi pelariannya. Agama menjadi identitasnya. Kekuasaan menjadi alat untuk membuat dirinya merasa berarti. Namun, semua itu tidak pernah cukup.
Orang yang memiliki satu miliar ingin sepuluh miliar. Orang yang memiliki kekuasaan ingin kekuasaan yang lebih besar. Orang yang memperoleh pengakuan ingin dipuja lebih luas. Tidak ada titik akhir dari pencarian tersebut. Mengapa?
Karena masalahnya bukan terletak pada jumlah harta ataupun kekuasaan. Masalahnya terletak pada ilusi, bahwa diri manusia belum lengkap. Selama ilusi tersebut bertahan, kerakusan akan terus muncul.
Astavakra menawarkan pembalikan yang radikal. Manusia tidak perlu menambahkan apa pun untuk menjadi utuh. Dalam pandangan Advaita, hakikat terdalamnya sudah penuh. Ia sudah merupakan kesadaran yang bebas. Inilah akhir dari kerakusan ontologis.
Namun, pemahaman ini tidak berarti manusia harus berhenti bekerja. Ia tetap boleh mencari uang. Ia tetap boleh membangun organisasi. Ia tetap boleh terlibat di dalam politik.
Perbedaannya terletak pada keadaan batin. Tindakan tidak lagi lahir dari rasa kurang yang tak berujung. Tindakan lahir dari kejernihan dan kebutuhan nyata.
Manusia bekerja, tanpa diperbudak oleh pekerjaannya. Ia memiliki harta, tanpa menjadikan harta sebagai identitasnya. Ia memegang kekuasaan, tanpa kehilangan kemanusiaannya. Inilah kebebasan yang sesungguhnya.
Indonesia dan Penjara Kekuasaan
Indonesia membutuhkan kebijaksanaan semacam ini. Negara kita memiliki kekayaan alam yang besar. Kita memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Namun, persoalan mendasar dalam kehidupan bersama belum juga terselesaikan.
Korupsi menjadi salah satu gejalanya. Menurut Transparency International, Indeks, Persepsi Korupsi Indonesia untuk 2025 memperoleh skor 34 dari 100. Indonesia berada pada peringkat 109 dari 182 negara.
Angka ini menunjukkan masalah serius dalam tata kelola kekuasaan. Namun, persoalannya tidak berhenti pada kelemahan lembaga. Ada persoalan kesadaran yang jauh lebih mendalam.
Mengapa seseorang yang sudah kaya masih mencuri uang rakyat? Mengapa orang yang sudah berkuasa masih ingin menguasai lebih banyak? Mengapa jabatan publik begitu sering diperlakukan sebagai milik pribadi?
Teori Kerakusan Ontologis membantu menjelaskannya. Kekuasaan digunakan untuk menambal rasa kurang di dalam diri. Jabatan menjadi alat untuk membesarkan ego. Uang menjadi pengganti harga diri yang rapuh.
Astavakra justru mengajarkan hal sebaliknya. Manusia bukanlah jabatannya. Ia bukanlah kekayaannya. Ia juga bukanlah citra yang dibangun di hadapan masyarakat.
Kesadaran tidak membutuhkan istana. Ia tidak membutuhkan gelar. Ia tidak membutuhkan penghormatan dari orang lain.
Bayangkan seorang pejabat yang memahami hal ini. Ia tidak akan panik, ketika dikritik. Ia tidak perlu dipujah oleh bawahannya, atau oleh siapapun. Ia bisa meninggalkan jabatan, tanpa merasa kehilangan seluruh keberadaannya.
Tentu saja, pemahaman spiritual tidak menggantikan hukum. Korupsi tetap membutuhkan penegakan hukum yang tegas. Kekuasaan tetap membutuhkan pembatasan. Demokrasi tetap membutuhkan pengawasan publik.
Namun, perubahan lembaga tanpa perubahan kesadaran mudah kehilangan arah. Aturan bisa diubah. Kekuasaan bisa berganti tangan. Kerakusan yang sama tetap hidup di dalam wajah-wajah baru. Indonesia membutuhkan keduanya. Lembaga yang adil dan manusia yang sadar.
Agama dan Ilusi Keterpisahan
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Tempat ibadah tersebar di mana-mana. Upacara keagamaan dilakukan setiap hari. Simbol-simbol kesalehan memenuhi ruang publik.
Namun, kesalehan simbolik tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Orang bisa rajin beribadah, tetapi tetap membenci kelompok lain. Orang bisa menghafal kitab suci, tetapi tidak memiliki belas kasih. Orang bisa berbicara tentang Tuhan, tetapi kehilangan akal sehat.
Di dalam Teori Tipologi Agama yang saya kembangkan, agama dapat bergerak ke arah yang berbeda. Ia bisa menjadi sarana pembebasan. Namun, ia juga bisa menjadi alat penindasan dan pembodohan. Akar persoalannya terletak pada cara manusia memahami identitas.
Ketika agama dijadikan identitas mutlak, perbedaan terasa seperti ancaman. Kritik dianggap sebagai penghinaan. Orang lain dipandang sebagai musuh yang harus ditaklukkan.
Inilah kesadaran distingtif-dualistik. Dunia dibelah menjadi aku dan kamu. Kami dianggap suci. Mereka dianggap sesat.
Astavakra Gita bergerak melampaui pembelahan tersebut. Pada bab pertama, Astavakra menolak penyamaan hakikat diri dengan kasta dan kedudukan sosial. Kesadaran tidak dapat dikurung oleh kategori buatan manusia.
Pemahaman ini memiliki daya pembebasan yang besar. Identitas agama tetap boleh digunakan. Tradisi tetap boleh dihormati. Namun, tidak satu pun boleh menjadi alasan untuk menindas manusia lain.
Sikap ini bukanlah kebencian terhadap agama. Ini adalah kritik terhadap fanatisme dan penyalahgunaan agama.
Spiritualitas yang matang melahirkan keterbukaan. Ia tidak membutuhkan musuh untuk merasa benar. Ia tidak membutuhkan pemaksaan untuk mempertahankan keyakinannya. Di sinilah agama bisa kembali menjadi jalan kebijaksanaan.
Dunia yang Kehilangan Kesadaran
Keadaan dunia memperlihatkan akibat buruk dari ilusi keterpisahan. Perang berlangsung di berbagai wilayah. Ukraina menghadapi kehancuran, akibat invasi Rusia. Warga Palestina mengalami penderitaan berkepanjangan. Sudan dilanda konflik yang menghancurkan kehidupan jutaan manusia.
Menurut UNHCR, sekitar 117,8 juta orang mengalami pengungsian paksa pada akhir 2025. Angka tersebut memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, skalanya tetap menunjukkan penderitaan manusia yang sangat besar.
Di balik angka-angka itu terdapat kehidupan nyata. Ada anak yang kehilangan rumah. Ada keluarga yang terpisah. Ada manusia yang tidak mengetahui apakah esok masih bisa makan. Mengapa semua ini terus terjadi?
Jawabannya tentu kompleks. Ada sejarah penjajahan. Ada perebutan sumber daya. Ada kepentingan ekonomi, ketakutan keamanan dan kegagalan diplomasi.
Namun, ada pula masalah yang lebih mendasar. Manusia menjadikan identitas kelompok sebagai kenyataan mutlak. Bangsa merasa lebih tinggi, daripada bangsa lain. Agama merasa memiliki kebenaran tunggal. Kekuasaan dianggap lebih penting daripada kehidupan manusia.
Astavakra menawarkan cara pandang yang berbeda. Pada tingkat terdalam, kesadaran tidak terpecah oleh batas-batas identitas. Keterpisahan yang dianggap mutlak kehilangan landasannya.
Dari sini, solidaritas universal dapat menemukan dasar filosofisnya. Penderitaan seorang anak Palestina tidak lebih rendah, daripada penderitaan seorang anak Israel. Kehidupan warga Ukraina tidak kurang berharga, daripada kehidupan warga Rusia. Semua manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Namun, kesetaraan martabat tidak berarti semua tindakan memiliki nilai moral yang sama. Agresi tetap harus disebut agresi. Kejahatan perang tetap harus diperiksa. Korban tetap membutuhkan perlindungan dan keadilan.
Kesadaran yang jernih tidak menghapus perbedaan antara pelaku dan korban pada tingkat hukum. Ia justru memungkinkan kita menilai tindakan, tanpa terperangkap dalam kebencian kolektif.
Inilah dasar bagi politik progresif inklusif. Politik yang berpihak pada kehidupan. Politik yang melampaui fanatisme identitas. Politik yang menggunakan akal sehat dan belas kasih secara bersamaan. Dunia sangat membutuhkannya.
Alam dan Keserakahan Manusia
Kerusakan alam merupakan wajah lain dari persoalan yang sama. Manusia merasa terpisah dari alam. Hutan dianggap hanya sebagai sumber keuntungan. Sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan. Hewan dipandang semata-mata sebagai benda yang boleh dieksploitasi.
Akibatnya semakin nyata. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan, bahwa periode 2015 sampai 2025 merupakan sebelas tahun terpanas, sejak pencatatan modern dimulai. Cuaca ekstrem mengganggu kehidupan jutaan manusia. Kerusakan alam terus memperbesar penderitaan hidup manusia.
Indonesia pun menghadapi persoalan serupa. Kebakaran hutan, kerusakan lingkungan dan banjir menunjukkan rapuhnya hubungan manusia dengan alam. Keadaan ini diperburuk, ketika kepentingan ekonomi jangka pendek mengalahkan pertimbangan kelestarian alam.
Dari sudut Teori Kerakusan Ontologis, eksploitasi alam merupakan usaha mengisi kekosongan diri melalui penguasaan dunia. Manusia ingin memiliki lebih banyak. Ia ingin menguasai lebih luas. Ia lupa, bahwa keberadaannya bergantung pada keseluruhan kehidupan.
Astavakra mengingatkan, bahwa kesadaran bukan benda yang terkurung di dalam identitas pribadi. Dalam pandangan nondualitas, pemisahan mutlak antara diri dan dunia dipertanyakan.
Pemahaman ini dapat menjadi inspirasi bagi etika natural empiris yang juga saya kembangkan. Alam tidak lagi dipahami semata-mata sebagai objek keuntungan. Ia menjadi bagian dari jaringan kehidupan yang patut dipelihara.
Kesadaran semacam ini harus diwujudkan dalam tindakan. Perlindungan hutan. Pengurangan pencemaran. Pengawasan perusahaan. Pengembangan energi yang lebih bersih. Tanpa tindakan nyata, filsafat, agama dan spiritualitas hanya menjadi hiasan kata-kata.
Bahaya Filsafat dan Spiritualitas yang Melarikan Diri
Namun, Astavakra Gita juga perlu dibaca secara kritis. Teks ini berbicara tentang kesadaran yang bebas dari tindakan dan penderitaan. Jika dipahami secara dangkal, ajarannya bisa menjadi alasan untuk tidak peduli terhadap dunia.
Orang miskin diminta menerima kemiskinannya. Korban kekerasan diminta melepaskan keterikatannya. Rakyat yang tertindas diminta mencari kedamaian batin tanpa mengubah struktur ketidakadilan.
Ini merupakan kekeliruan besar. Kebebasan batin tidak menghapus penderitaan material. Orang yang lapar tetap membutuhkan makanan. Orang yang sakit membutuhkan perawatan. Orang yang ditindas membutuhkan perlindungan hukum.
Data BPS menunjukkan, bahwa pada Maret 2026, masih terdapat sekitar 22,93 juta penduduk miskin di Indonesia. Jumlah ini memang menurun. Namun, kehidupan jutaan manusia tetap membutuhkan perhatian serius. Menyuruh mereka sekadar melepaskan ego adalah sikap yang tidak bertanggung jawab.
Kita perlu membedakan dua tingkat kenyataan. Pada tingkat pengalaman sehari-hari, ketidakadilan sungguh memiliki akibat. Kekerasan melukai tubuh. Kelaparan merusak kehidupan. Kemiskinan membatasi kebebasan manusia.
Pada tingkat refleksi nondualitas, manusia diajak mengenali kesadaran yang tidak sepenuhnya terikat pada perubahan pengalaman. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Seseorang dapat memiliki kedamaian batin, sekaligus memperjuangkan keadilan. Ia dapat memahami ketidakterikatan, sekaligus bekerja keras menghapus kemiskinan. Ia dapat melepaskan ego, tanpa melepaskan tanggung jawab.
Astavakra berbicara kepada seorang raja. Kenyataan ini penting. Kebijaksanaan tidak hanya ditujukan kepada pertapa yang meninggalkan masyarakat. Ia juga relevan bagi manusia yang memiliki tanggung jawab politik.
Pembebasan sejati tidak harus berarti meninggalkan dunia. Ia dapat berarti hidup sepenuhnya di tengah dunia, tanpa diperbudak olehnya.
Transformasi Kesadaran
Di dalam Teori Transformasi Kesadaran, saya memahami penderitaan manusia melalui bentuk dan tingkat kesadarannya. Manusia yang terperangkap dalam kesadaran distingtif-dualistik melihat dunia sebagai kumpulan objek yang terpisah. Ia membangun identitas yang kaku. Ia mudah merasa terancam. Rasa takut dan kemarahan pun menguasai tindakannya.
Sebaliknya, kesadaran yang lebih terbuka memungkinkan manusia mengalami kenyataan, tanpa terus-menerus membelahnya. Identitas tetap digunakan untuk kebutuhan praktis. Namun, identitas tidak lagi dipuja sebagai hakikat terakhir.
Astavakra Gita menawarkan bentuk yang sangat radikal dari pembebasan tersebut. Bahkan, keinginan untuk menjadi tercerahkan dapat berubah menjadi belenggu. Manusia menciptakan gambaran tentang pencerahan. Ia mengejar gambaran itu. Lalu, ia merasa gagal karena belum mencapainya.
Pencarian spiritual berubah menjadi kerakusan baru. Orang mengumpulkan pengalaman meditasi. Mereka mengejar gelar spiritual. Mereka ingin dianggap lebih sadar, daripada orang lain. Ego yang lama hanya mengganti pakaian.
Astavakra membongkar permainan tersebut. Jika hakikat diri sudah bebas, siapa yang harus menjadi bebas? Jika kesadaran sudah hadir, mengapa ia harus dicari sebagai benda di masa depan? Pertanyaan semacam ini mengguncang seluruh kebiasaan berpikir manusia.
Namun, kita perlu berhati-hati. Mengatakan bahwa kesadaran sudah bebas tidak otomatis membuat seseorang bebas dari kebiasaan buruk. Trauma, kecanduan dan pola kekerasan tetap dapat membutuhkan penanganan yang konkret.
Pemahaman filosofis harus dipertemukan dengan kehidupan nyata. Transformasi kesadaran bukan sekadar permainan konsep. Ia harus terlihat dalam perubahan cara hidup. Berkurangnya kebencian. Meningkatnya kejernihan. Tumbuhnya keberanian. Hadirnya belas kasih. Tanpa itu semua, pencerahan hanya menjadi kesombongan yang lebih halus.
Hidup Bebas di Tengah Kekacauan
Lalu, bagaimana menerapkan kebijaksanaan Astavakra dalam kehidupan sehari-hari? Mulailah dengan menyadari pengalaman yang sedang berlangsung. Ketika marah, kenali kemarahan sebagai sesuatu yang muncul. Ketika takut, sadari rasa takut tersebut. Ketika pikiran bergerak, perhatikan gerakannya.
Tidak perlu segera menghakimi. Tidak perlu pula memaksakan ketenangan. Kesadaran sudah hadir, sebelum usaha untuk mengubah pengalaman.
Perhatikan satu hal sederhana. Pikiran berubah, tetapi kemampuan untuk menyadari perubahan itu tetap dapat dikenali. Inilah pintu masuk menuju pemahaman Astavakra.
Selanjutnya, gunakan identitas secara wajar. Jadilah warga negara yang bertanggung jawab. Jalankan pekerjaan dengan baik. Hormati tradisi yang bermakna. Namun, jangan menjadikan semuanya sebagai penjara batin.
Kritik politik tidak perlu berubah menjadi kebencian. Perbedaan agama tidak perlu menjadi permusuhan. Persaingan ekonomi tidak harus menghancurkan martabat manusia.
Kejernihan batin juga harus melahirkan keberanian. Ketika melihat korupsi, lawan dengan cara yang sah. Ketika melihat diskriminasi, bela korban. Ketika melihat kerusakan alam, lakukan tindakan yang diperlukan. Tidak ada pertentangan antara kesadaran dan tindakan.
Yang perlu dilepaskan bukanlah kepedulian terhadap dunia. Yang perlu dilepaskan adalah kemelekatan ego pada hasil, citra dan pengakuan. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Namun, jangan menjadikan keberhasilan sebagai ukuran nilai diri. Berjuanglah untuk keadilan. Namun, jangan membiarkan kebencian merusak perjuangan.
Di tengah dunia yang gaduh, manusia membutuhkan ruang untuk diam. Bukan diam karena takut. Bukan diam karena menyerah. Melainkan diam yang lahir dari kejernihan. Dari keheningan tersebut, tindakan yang tepat dapat muncul.
Kebebasan yang Sudah Ada
Astavakra Gita mengajarkan sesuatu yang sederhana sekaligus mengguncang. Manusia tidak perlu menjadi orang lain untuk menemukan kedamaian. Ia tidak perlu mengumpulkan lebih banyak identitas. Ia tidak perlu menunggu keadaan dunia menjadi sempurna.
Pada tingkat terdalam, kebebasan tidak dapat diberikan oleh penguasa. Ia tidak bisa dibeli dengan uang. Ia juga tidak dapat dimonopoli oleh lembaga agama.
Kebebasan adalah pengenalan terhadap hakikat kesadaran itu sendiri.
Namun, pengenalan tersebut bukan alasan untuk menutup mata terhadap penderitaan. Justru ketika ego kehilangan kekuasaannya, manusia dapat melihat dunia dengan lebih jernih. Ia tidak lagi terlalu sibuk mempertahankan identitasnya sendiri.
Ia memiliki ruang untuk memahami penderitaan orang lain. Indonesia membutuhkan manusia semacam ini. Dunia pun membutuhkannya. Manusia yang berpikir kritis, tetapi tidak dipenuhi kebencian. Manusia yang berani bertindak, tetapi tidak diperbudak kerakusan.
Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita tidak kekurangan orang beragama. Kita juga tidak kekurangan orang yang ingin berkuasa. Kita kekurangan manusia yang sungguh mengenal dirinya.
Di tengah politik yang bising, agama yang terjebak fanatisme dan ekonomi yang terus mendorong kerakusan, Astavakra menawarkan sebuah pengingat. Berhentilah mencari keutuhan diri di tempat yang salah. Lihatlah pikiran. Kenalilah kesadaran. Lepaskan ilusi keterpisahan. Lalu, kembalilah ke dunia.
Bekerjalah. Sadar dalam sakit dan derita. Berjuanglah untuk keadilan. Rawatlah kehidupan. Tanpa kerakusan. Tanpa kehilangan kejernihan.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang merasa suci. Dunia membutuhkan manusia yang sadar. Dan kesadaran selalu dimulai di sini. Sekarang.
Keterangan tulisan:
Buku Teori Transformasi Kesadaran Unlimited bisa diunduh disini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/
Buku Teori Kerakusan Ontologis akan segera terbit
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

