Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya.
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
Ada lima tahap kebahagiaan. Tahap ini bisa juga disebut sebagai tangga kebahagiaan. Setiap tahap di dalam tangga ini selalu bersesuaian dengan sifat-sifat dasariah manusia, yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya. Sebenarnya tangga kebahagiaan ini tidak selalu bisa dipandang secara vertikal, tetapi juga bisa secara horizontal. Artinya tidak ada jenis kebahagiaan yang lebih tinggi daripada jenis kebahagiaan lainnya. Saya akan bahas lebih jauh mengenai hal ini pada akhir tulisan. Lanjutkan membaca Bahagia (Level-level Kebahagiaan)
Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu
Oleh Reza A.A Wattimena
Keluarga
Setidaknya ada tujuh faktor yang bisa membuat Anda bahagia. Faktor pertama adalah family relationship. Keluarga adalah faktor utama pemberi kebahagiaan. Jika kebahagiaan dibayangkan sebagai sebuah bangunan, maka keluarga adalah fondasinya. Jika fondasinya kokoh maka Anda sudah mempunyai modal yang besar untuk bisa meraih kebahagiaan. Sebaliknya jika keluarga Anda berantakan, dan hubungan antar anggota keluarga diwarnai dengan konflik serta kebencian, maka Anda akan merasa tidak bahagia. Anda akan merasa pesimis terhadap dunia. Lanjutkan membaca Kebahagiaan: Tujuh Pilar
Parlemen yang terbaik sekalipun bisa seperti sebuah pabrik tahu. Ia berbau bacin.
Kita bayangkan pabrik tahu itu: dalam dapurnya beberapa onggok kedelai diinjak-injak dengan kaki telanjang (siapa tahu dengan tungkak yang berkudis), diinjak-injak agar lumat, kemudian dicampur dengan air yang kian lama kian mirip lendir. Tak mengherankan bila kata “tahu” berasal dari bahasa Cina, “toufu”, dan kata “fu” berarti “busuk”.
Tapi dari pabrik yang berbau busuk itu lahirlah beratus-ratus bentuk kubus yang kemudian menjadi tahu pong atau tahu sumedang. Dan kita menikmatinya.
“Maka ilmu pengetahuan haruslah berpihak dengan tegas, dan harus meninggalkan klaim netralitasnya. Ilmu pengetahuan haruslah berpijak dan berpihak untuk membela kepentingan orang-orang yang tertindas, seperti para korban ekonomi kapitalisme, kaum minoritas yang tertindas, maupun kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi. Namun apakah dengan begitu, ilmu pengetahuan kehilangan obyektivitasnya? Lanjutkan membaca Buku Filsafat Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Kontekstual
Karya-karya terbaik manusia mengangkat kita ke level yang lebih tinggi. Itulah yang saya rasakan, ketika menonton film “?” karya Hanung Bramantyo. Film itu mengangkat saya, dan orang-orang sekitar saya, ke level yang lebih tinggi. Setelah selesai menonton kami menjadi satu, lepas dari perbedaan latar belakang yang ada.
Film itu kompleks. Banyak emosi manusiawi tampil di dalamnya. Ada yang sedih, menakutkan, lucu, sampai yang menyentuh hati. Begitu banyak nilai terkandung di dalamnya untuk kita ambil, dan terapkan untuk mewujudkan hidup bersama yang semakin bijaksana. Lanjutkan membaca “?”
Ateisme adalah tema yang kontroversial. Orang yang mengaku dirinya ateis sering dicap tidak bermoral, dan jelmaan setan. Namun kenyataan berbicara berbeda. Ternyata ada orang yang menyatakan dirinya ateis hidup amat bermoral, dan memiliki etos kerja amat baik. Apa yang terjadi? Darimana ia memperoleh sumber nilai moralnya, jika bukan dari agama?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Edvin Mario Suryawan, ketika menjadi pembicara dalam diskusi System Thinking Ateisme, yang dilakukan di Fakultas Psikologi, UNIKA Widya Mandala Surabaya dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Pertanyaan ini lahir dari penelitian yang dilakukan oleh Edvin untuk skripsinya di Fakultas Psikologi. Diskusi berjalan dari pk. 09.15-11.30 pada Sabtu 9 April 2011. Lanjutkan membaca Ateisme dan Problematik di Belakangnya
Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu
Oleh Reza A.A Wattimena
Kebahagiaan yang sejati hanya dapat diraih, jika orang dapat bersikap seturut dengan sifat-sifat dasariahnya sebagai manusia. Setiap sifat dasariah manusia selalu mempunyai kebutuhan. Dalam arti ini kebahagiaan adalah pemenuhan kebutuhan dari sifat dasariah tersebut. Dengan kata lain Anda baru bisa merasa bahagia, jika semua kebutuhan dari sifat dasariah Anda sebagai manusia telah terpenuhi. Pertanyaannya lalu apakah ragam sifat dasariah manusia itu? Lanjutkan membaca Manusia
Siapa yang tak kagum dengan Marilyn Monroe? Seorang gadis cantik bernama kecil Norma Jeane Baker ini sekaligus seorang penyanyi, model, dan bintang film pada era 1950-an. Semua orang menyukainya. Semua orang iri padanya.
Namun entah mengapa ia bunuh diri. Pada usia 36 tahun, ia meracuni dirinya sendiri. Ia mati ketika masa jayanya. Ia cacat di balik kesempurnaannya. Lanjutkan membaca Dunia yang Selalu Cacat
Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.
Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Lanjutkan membaca Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!
Parlemen sebagai habitat cendekia politik yang terlibat dengan penderitaan rakyat kini kian memudar.
Publik pun kian sulit merasakan tetes keringat kerja keras berbasis integritas, komitmen, dan kapabilitas sebagian besar wakil rakyat. Publik lebih kerap menjumpai politikus salon: rapi, wangi, modis, dan penuh gaya, tetapi steril dari keprihatinan sosial. Rencana pembangunan gedung 36 lantai yang akan menghamburkan Rp 1,1 triliun lebih hanyalah salah satu gaya berkuasa para politikus salon. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Gaya Politikus Salon
Wajahnya masih segar dan bercahaya. Walaupun usianya sudah menginjak 81 tahun. Ingatannya masih amat tajam. Beragam tanggal dari peristiwa penting dalam hidupnya tetap diingat. Suaranya masih tegas dan keras, mencerminkan wibawa seorang pemimpin yang tak lenyap ditelan waktu dan usia.
Ketika berbicara matanya selalu menatap lawan bicaranya. Cahaya jernih memancar dari kejernihan matanya. Biasanya itu merupakan tanda banyaknya pengalaman yang telah ia tempuh dalam hidupnya. Pengalaman itu membuat pribadinya matang, sekaligus bijaksana.
Kerut di wajahnya menandakan satu hal; pengalaman hidup yang panjang dan bermakna. Dari gerak geriknya kita bisa tahu, betapa ia adalah pribadi yang sigap dan rajin dalam bekerja. Beberapa kali ia berjumpa dengan karyawan yang telah lama bekerja padanya. Tepukan di pundak kepada mereka menjadi tanda, betapa ia menyayangi mereka sebagai seorang sahabat dan keluarga.
Itulah sosok Soetikno Tanoko pada usianya yang ke 81 (Usia China: 83). Senyumnya hangat. Kesan sebagai seorang ayah yang mengayomi keluarga amat kuat terasa, ketika kita berjumpa dengannya. Tak berlebihan jika saya mengatakan, kehadirannya membawa kehangatan tersendiri bagi orang sekitarnya.
Dengan sentuhan tangannya langsung, ia membesarkan Toko Cat 73 di Malang, bersama saudaranya, Suwandi Tanoko. Pada era 1960-1970an, juga bersama saudaranya, ia membawa toko itu menjadi Toko Cat nomor satu di Malang. Juga dengan sentuhan tangannya, ia mendorong Pabrik Cat Avia Avian menuju masa jaya, setelah sebelumnya hampir bangkrut. Juga bersama istrinya ia menciptakan keluarga yang bahagia.
Dahulu kala ada seorang pemikir besar bernama Plato yang hidup di Yunani sekitar 2600 tahun yang lalu. Ia berpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yang saling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semua hasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Memang pandangan ini jauh dapat ditelusuri di peradaban-peradaban kuno Mesopotamia maupun Hindu kuno, namun Platolah orang yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini dan berusaha menjawabnya secara sistematis.
Pada salah satu tulisannya, Plato menyebut salah seorang bernama Gorgias. Tentu saja ia lebih merupakan tokoh fiksi yang digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan orang-orang pada jamannya. Gorgias di dalam tulisan Plato berpendapat, bahwa kebahagiaan seseorang terletak di dalam kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan, apapun bentuknya.
Minggu lalu, setelah menonton Laskar Dagelan: From Republik Jogja with Love besutan Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor, saya menjadi lebih memahami kuatnya pendekatan kultural dalam sebuah pergerakan, termasuk untuk kontestasi politik.
Ke dalam, pendekatan itu tidak saja dapat mengukuhkan soliditas bersama, tetapi juga melahirkan jargon politik yang ampuh guna memompa alam bawah sadar dan identitas kesejarahan. Dalam kasus Yogyakarta, terakit kalimat sakral ”Yogya tetap istimewa, istimewa orangnya, istimewa negerinya”. Energi ini sulit dikempiskan oleh langkah politik konvensional, apalagi hanya oleh manuver politik prosedural. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Laskar Dagelan
April 2011 buletin Cogito Fakultas Filsafat ingin membedah kaitan antara Facebook dan Gerakan Massa. Ada tiga tulisan. Yang pertama adalah tulisan berjudul Facebook: Awal sebuah Revolusi karangan Aloysius Luis Kung, mahasiswa Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.
Yang kedua adalah tulisan berjudul Anarki karangan Kristoforus Sri Ratulayn, juga mahasiswa Fakultas Filsafat. Dan yang ketiga adalah tulisan mengenai pemikiran Karol J. Wojtyla yang ditulis oleh Adrian Adiredjo, Dosen di Fakultas Filsafat. Lanjutkan membaca Facebook dan Gerakan Massa
Rencana tak berjalan mulus. Beberapa peserta tampak kebingungan soal jadwal. Jadwal yang tertera di undangan dan brosur berbeda. Panitia pun tampak kebingungan.
Akhirnya diskusi Tubuh dan Pornografi dimulai pada pk. 10.00 tepat di Gedung A 303, Kampus Dinoyo UNIKA Widya Mandala Surabaya. David Jones berperan sebagai moderator, dan memberikan beberapa kata pengantar. Reza A.A Wattimena maju, dan memulai presentasinya. Diskusi Tubuh dan Pornografi yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pun dimulai pk. 10.05.[2] Lanjutkan membaca Filsafat, Tubuh, dan Pornografi
Ada ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine, ”Di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia”. Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukan sekadar membakar kertas; untuk mengatakannya dengan mengerikan, ini adalah upaya satu pihak menghapus total pihak-pihak yang dibencinya. Lanjutkan membaca Inspirasi dari Kompas: Bunuh Diri Kebudayaan
Di jalan raya kini kerap ditemui koin-koin rupiah dengan nilai nominal kecil: 50; 100; dan 200. Koin rupiah dengan nilai nominal tertinggi 1.000, masih bisa membeli kerupuk atau sepotong pisang goreng. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan koin sebagai ”mata uang logam”. Secara faktual di Indonesia koin adalah mata uang dengan nilai nominal dan nilai riil yang sifatnya recehan.
Menurut sebuah sumber, mata uang pertama di dunia berbentuk koin, muncul pada 700 SM di Pulau Aegina atau 650 SM di Lydia, keduanya di Yunani. Tentu saja koin pertama di dunia ini bukan uang recehan.
Koin-koin dengan nominal terkecil tak bisa dipakai untuk membeli apa-apa. Karena itu barangkali sebagian orang enggan menyimpannya di dompet dan membuangnya di jalan-jalan. Saya selalu memungutnya karena merasa terhina dan sedih melihat uang rupiah diperlakukan sebagai barang tak berguna.
Tiga tahun berturut-turut koin rupiah ternyata mencatat perjuangan yang cukup heroik. Ia tak hanya menjadi alat tukar, satuan pengukur nilai, alat investasi, tetapi juga lambang perjuangan. Ia tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbolik. Seorang rekan Facebook baru-baru ini mengingatkan koin ”sebagai lambang perlawanan”—dan menemukan aktualitasnya melalui ungkapan, melalui bahasa. Lanjutkan membaca Koin
Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya, 1 April 2011.
Kata ini bagaikan belut. Tidak ada makna pasti. Kata ini hidup dalam konteks. Cara mengucapkan sampai siapa yang dituju menentukan maknanya.
Sahabat dekat mengucapkan kata ini untuk menyapa. Musuh besar juga mengucapkan kata ini, ketika menyatakan rasa bencinya. Kata ini bukanlah kata sifat, atau kata kerja. Ia hanya kata. Ia adalah ekspresi.
Kata ini lahir dari “rahim” orang Surabaya. Kata ini secara singkat menggambarkan identitas orang Surabaya. Ia menggambarkan secara gamblang roh masyarakat pinggir pantai yang amat unik ini.
Seorang Filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah berpendapat, bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya. Lanjutkan membaca Jancuk
Kiev, Ukraina, kota yang amat dingin. Seorang nelayan pergi ke sungai untuk memancing. Namanya dirahasiakan oleh surat kabar setempat. Tak yang tahu pasti, siapa namanya.
Usianya 43 tahun. Ia mau memancing dan terlebih dahulu menyalakan kapalnya. Ia mengambil kabel lalu mencolokannya ke sumber listrik. Kakinya menginjak air. Ikan di dalam air itu mati. Terkejut, ia pun mengambil ikan gratis itu. Namun tak beberapa lama kemudian, nasibnya berubah. Ia mati… oleh sebab yang sama dengan ikan yang ia ambil.
Ternyata pagi itu ia hendak menangkap ikan, memasaknya, dan memakannya, guna mengenang kematian ibu mertua yang amat dikasihinya. Ironis. Lanjutkan membaca Kematian