Berdamai dengan Diri Sendiri

Etsy

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di era teknologi canggih. Komunikasi, transportasi dan hidup sehari-hari menjadi begitu mudah dan murah. Bahkan, manusia kini mulai mencari jalan untuk menciptakan kehidupan dengan teknologi yang ada. Tak berlebihan jika dikatakan, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada, manusia kini menjadi „tuhan“ atas bumi.

Sayangnya, semua kemajuan itu tidak sejalan dengan kemajuan kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, manusia tidak lebih bahagia, walaupun hidup di dunia yang penuh dengan kemudahan. Sebaliknya, berbagai penelitian menunjukkan, tingkat depresi dan bunuh diri justru meningkat di abad 21 ini. Pertanyaannya, apa guna semua kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, jika manusia justru semakin menderita? Lanjutkan membaca Berdamai dengan Diri Sendiri

Bunuh Diri, Sebuah Refleksi

tetsuya_ishida_2
pinktentacle.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah hidup ini layak dijalani, atau tidak? Bolehkah saya membunuh diri saya sendiri, ketika semuanya menjadi tak layak dijalani? Ini adalah pertanyaan terpenting di dalam hidup setiap orang. Para pemikir dan ilmuwan terbelah, ketika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Keadaan Manusia

Menurut data yang diperoleh dari WHO, organisasi kesehatan dunia, sekitar satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jumlah korban bunuh diri lebih tinggi dari jumlah korban perang ataupun konflik-konflik lainnya. Setiap 40 detik, ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia ini. Setiap 3 detik, ada orang yang mencoba melakukan bunuh diri. (Westerhoff, 2009) Lanjutkan membaca Bunuh Diri, Sebuah Refleksi

Gilles Deleuze dalam Perspektif

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Gilles Deleuze, seorang filsuf yang bunuh diri pada awal November 1995 setelah menghabiskan beberapa tahun dalam siksaan sakit paru-paru, adalah seorang sosok filsuf yang menimbulkan banyak kontroversi, terutama di Perancis. Otomatis, publik Perancis pada waktu itu terdiam kaku mendengar berita tragis kematiannya.

Padahal, pemikiran Deleuze sungguh mengajarkan kita untuk menerima hidup apa adanya.[1] Ia mengajarkan supaya kita menjaga ‘kehendak untuk hidup’ di dalam diri kita. Katanya, “orang selalu menulis untuk menghadirkan sesuatu ke dalam kehidupan, untuk membebaskan kehidupan dari penjaranya.” (Deleuze, 1990). Sangat menyakitkan bahwa justru seorang filsuf, yang sangat menerima dan mencintai kehidupan, melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Lanjutkan membaca Gilles Deleuze dalam Perspektif