Dunia yang Selalu Cacat

i280.photobucket.com

OLEH: REZA A.A WATTIMENA

Siapa yang tak kagum dengan Marilyn Monroe? Seorang gadis cantik bernama kecil Norma Jeane Baker ini sekaligus seorang penyanyi, model, dan bintang film pada era 1950-an. Semua orang menyukainya. Semua orang iri padanya.

Namun entah mengapa ia bunuh diri. Pada usia 36 tahun, ia meracuni dirinya sendiri. Ia mati ketika masa jayanya. Ia cacat di balik kesempurnaannya.

Siapa juga yang tak kenal Heath Ledger? Tokoh yang memainkan peran Joker dalam film The Dark Knight (Batman) ini terkenal sebagai aktor jenius. Peran-peran sulit dimainkannya dengan sempurna. Semua orang kagum dan menyukainya.

Namun ia ditemukan tewas di sebuah apartemen, setelah meminum enam obat dalam waktu bersamaan. Ia meninggal pada saat mata dunia tertuju pada keberhasilan karirnya. Ia juga cacat di dalam kesempurnaannya.

Tak ada yang sempurna di dunia ini. Ketika ada sesuatu yang tampak sempurna, bersiaplah, pasti akan ada cacat yang melukainya. Entah mengapa, tetapi itulah yang selalu terjadi. Takdir atau kebetulan? Tak ada yang tahu pasti.

Sempurna

Kesempurnaan adalah suatu situasi, di mana segala yang ada berjalan sesuai rencana. Bagaikan mimpi semua harapan terpenuhi, tanpa terkecuali. Target diperoleh. Surga tampak tak terlalu jauh di atas sana, melainkan sudah ada di bumi ini.

Tubuh sehat. Karir gemilang. Keluarga bahagia. Relasi dengan sahabat memberikan semangat dan inspirasi. Itulah situasi kesempurnaan yang ingin kita kejar bersama.

Semua rencana terpenuhi bahkan lebih dari yang diharapkan. Seolah alam ini tunduk pada kehendak dan keinginan kita. Seolah Tuhan selalu hadir menyetujui semua yang kita harapkan. Namun jangan salah; ini adalah ilusi. Too good to be true, kata orang Amerika.

Cacat

Di balik keluarga bahagia, selalu ada konflik yang terpendam. Di dalam tubuh yang sehat, selalu ada penyakit yang menyelinap untuk menunggu tampil. Di balik karir yang gemilang, selalu ada kemungkinan kehancuran yang menunggu untuk menjadi nyata. Di balik setiap rencana, bahkan yang paling sempurna sekalipun, selalu ada kemungkinan untuk gagal, dan bahkan terbalik sama sekali dari apa yang diharapkan.

Itulah dunia kita. Saya menyebutnya: “dunia yang selalu cacat.” Dunia yang tak pernah sempurna. Dunia di mana kesempurnaan adalah ilusi yang abadi.

Ya, dunia kita adalah dunia yang selalu cacat. Dunia yang tak cukup besar hati untuk memberikan kesempurnaan pada penghuninya. Dunia yang selalu iri dengan kesempurnaan. Dunia yang menyimpan cemburu dan dendam pada mereka yang berhasil mengakalinya, dan mencapai kegemilangan hidup, walaupun hanya sesaat.

Mengapa?

Kata orang hanya Tuhanlah yang sempurna. Manusia tidak boleh sempurna dalam hidupnya. Kesempurnaan adalah hak milik eksklusif Tuhan. Kepada mereka saya hanya berkata, tuhan macam apa itu?

Tuhan macam apa yang iri pada manusia? Jika ada saya yakin, itu pasti bukan Tuhan, melainkan ilusi saja yang dibuat oleh orang-orang tertentu untuk melestarikan kebodohan masyarakat. Tuhan yang dipakai untuk membenarkan kepentingan tak jujur dari pihak-pihak yang mengaku luhur.

Lalu mengapa dunia ini selalu cacat? Tak ada yang tahu pasti, kecuali merasa sok tahu. Seperti kata Heidegger kita terlempar ke dalam dunia. Kita tidak memilih untuk ada di dalamnya.

Kita tidak memilih keluarga kita. Kita tidak memilih nama kita. Bahkan kita tidak memilih alat kelamin kita. Kita terlempar ke dalamnya.

Kita ada di dunia. Kita ada bersama orang lain. Kita mendunia. Kita menjadi mainan dari dunia yang selalu iri pada kesempurnaan. Kita menjadi warga dari dunia yang selalu cacat.

Jadi mengapa dunia ini selalu cacat? Jawabannya tetap sama: tak ada yang tahu pasti. Kita bisa menerima atau meninggalkan dunia ini. Kita bisa jalan terus dengan cacat, atau bunuh diri di dalam kesempurnaan yang kita impikan.

Itu pilihan. Itu keputusan. Tapi satu yang pasti: you can’t have it all. Welcome. And goodbye…

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

One thought on “Dunia yang Selalu Cacat”

  1. Cacat dan kesempurnaan adalah konstruk yang dibangun manusia. Sepertinya, mereka muncul dari ‘ketidakrelaan’ manusia untuk menerima bahwa ketika ada sisi yang lebih, maka ada sisi lain yang kurang. Ketika ada yang diterima, maka ada yang harus diberikan.

    Kita mungkin lupa bahwa peradaban yang terbentuk dalam proses mencari kebenaran lebih berharga daripada kebenaran sempurna itu sendiri. Kita mungkin lupa bahwa indahnya perbedaan yang kita temui saat berusaha menjadi satu itulah yang merekatkan kita satu sama lain, daripada persatuan sempurna itu sendiri. Kita lupa bahwa dalam ketidaksempurnaan itulah, kita saling mengisi dan memaknai satu sama lain, dan menjadi lebih dekat dengan kesempurnaan.

    Tampaknya, impian dan nafsu akan kesempurnaan membuat kita jadi kerdil 🙂

    Many thanks for this post, my dear friend! We should always be reflective on this.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s