Demokrasi dan Intoleransi

Moki – Untitled 04

Oleh Reza A.A Wattimena

Masyarakat demokratis adalah masyarakat terbuka. Artinya, berbagai pemikiran dan paham berkembang di masyarakat tersebut. Kebebasan berpikir dan berpendapat menjadi tulang punggung dari masyarakat demokratis modern, seperti Indonesia. Pertanyaan kecil yang ingin dijawab di dalam tulisan ini adalah, apakah demokrasi boleh memberi ruang untuk kelompok-kelompok radikal yang memiliki paham intoleran dan tertutup?

Ada tiga pertimbangan yang perlu dipikirkan. Pertama, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Di dalam masyarakat majemuk yang besar jumlahnya, seperti Indonesia, rakyat diwakilkan oleh parlemen dan partai politik. Sistem semacam ini memang tidak ideal, karena memberi peluang bagi korupsi. Namun, sampai detik ini, belum ada jalan lain yang bisa diajukan. Lanjutkan membaca Demokrasi dan Intoleransi

Iklan

Di Hadapan Ketidakadilan

pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Di satu sisi, ada orang yang hidupnya baik, namun terjebak dalam kemiskinan. Beragam usahanya selalu gagal. Ia bekerja dengan jujur dan rajin. Sayangnya, bencana selalu menimpanya, sehingga ia kembali terjebak ke dalam lubang kemiskinan.

Di sisi lain, ada orang yang rakus dan licik. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan, bahkan dengan merugikan teman dan kerabatnya. Ironisnya, ia justru menjadi orang yang kaya dan berpengaruh di lingkungannya. Keberuntungan tampak selalu datang di pangkuannya. Lanjutkan membaca Di Hadapan Ketidakadilan