Makna Kehidupan

Tree of Life - Surrealism - The Global Art Company
Erik Brede

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah cukup lama, beberapa teman bertanya kepada saya. Ada yang melalui email, atau pertanyaan di media sosial. Apa makna hidup ini? Pertanyaan singkat, namun menuntut permenungan yang mendalam.

Pertanyaan ini menjadi penting, ketika krisis menghantui. Ketidakpastian mengancam masa depan. Penyesalan atas masa lalu juga menikam dada. Pandemik menambah daftar hal-hal yang menakutkan di dalam hidup manusia. Lanjutkan membaca Makna Kehidupan

Sahabat sebagai “Rumah”

imgion.com
imgion.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Gadis itu bernama Sabina (bukan nama sebenarnya). Ia tinggal di Jerman. Wajahnya cantik. Ia sangat ramah dan rajin membantu ayahnya. Ayahnya berasal dari Indonesia, dan ibunya orang Jerman. Kini, Sabina sedang melanjutkan studi antropologi di universitas di kota tempat tinggalnya.

Seperti pengalaman banyak anak keturunan campur lainnya, ia seolah hidup di dua dunia. Ia merasa dekat dengan budaya Jerman, karena ia lahir di negara itu. Namun, ia juga merasa perlu untuk memahami budaya Indonesia yang dimiliki ayahnya. Kegelisahan kultural atas pertanyaan “siapa saya?” juga menjadi kegelisahan pribadinya.

Ia mencoba memahami pengalaman dirinya dengan menulis skripsi tentang pengalaman hidup anak yang orang tuanya berasal dari kultur yang berbeda. Namun, Sabina tidak sendirian. Semakin hari, semakin banyak orang yang berasal dari keluarga dengan orang tua yang memiliki budaya berbeda. Semakin banyak yang mengalami kegelisahan pribadi, dan kemudian bertanya, “siapa saya”? Lanjutkan membaca Sahabat sebagai “Rumah”

Krisis Makna

http://www.anugrah.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa anda pergi kantor setiap pagi? Atau mengapa anda buka toko anda setiap pagi? Mengapa anda rela terjebak macet, dan tetap pergi bekerja? Mengapa anda pergi ke sekolah, atau ke kampus?

Mayoritas orang bekerja untuk mendapat uang, sehingga bisa hidup, dan menghidupi keluarganya. Kerja tidak memiliki makna pada dirinya sendiri, melainkan di luarnya, yakni uang, dan keluarga. Ada juga yang pergi ke kantor, karena sistemnya mengatakan begitu. Orang harus bekerja, dan itulah sistemnya. Itulah aturan yang tengah berlaku di masyarakat.

Orang-orang modern melakukan aktivitasnya bukan karena aktivitas itu bermakna, tetapi karena dipaksa oleh sistem yang ada di luarnya, karena kewajiban, atau karena “terpaksa” bertahan hidup. Kata “makna” sendiri pun semakin asing di pikiran orang-orang modern yang sudah terpesona dengan yang praktis, aplikatif, dan teknis.

Ketika orang tidak menemukan makna di dalam hidupnya, ia akan mengalami kekeringan hidup. Kebosanan dan kejenuhan menjadi gejala sehari-hari manusia modern. Jika sudah begitu, stress, depresi, dan berbagai bentuk “ketidakbahagiaan” lainnya sudah menunggu di depan mata. Manusia modern terjebak di dalam sistem dan birokrasi yang ia ciptakan sendiri, dan kehilangan makna yang menjadi tujuan hidupnya. Lanjutkan membaca Krisis Makna