Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Universalisme dan Radikalisme Agama

KOSMOPOLITANISME SEBAGAI JALAN KELUAR ATAS TEGANGAN ABADI ANTARA NEOKOLONIALISME, RADIKALISME AGAMA, DAN MULTIKULTURALISME

Diterbitkan di

JURNAL LEDALERO, Vol. 17, No. 7, Juni 2018

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini hendak mengajukan jalan keluar teoritis untuk perdebatan universalisme dan partikularisme. Perdebatan ini berkembang menjadi tegangan antara neokolonialisme, multikulturalisme dan radikalisme agama di abad 21. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual kritis dengan terlebih dahulu memberikan definisi tentang universalisme, partikularisme, multikulturalisme dan radikalisme agama, serta masuk pada jalan keluar yang diajukan, yakni kosmopolitanisme. Sebagai sebuah pendekatan, kosmpolitanisme juga memiliki dampak luas di berbagai bidang. Dampak ini juga akan menjadi bagian dari tulisan.    Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Universalisme dan Radikalisme Agama

Iklan

Kepemimpinan yang “Tak Pernah Lupa”

Oleh Reza A.A Wattimena

Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Di berbagai sektor kehidupan sangat sulit dijumpai seorang pimpinan yang bisa sungguh mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai kegemilangan secara manusiawi. Yang banyak ditemukan adalah pemimpin yang permisif. Mereka mencari popularitas dengan bersikap ramah dan baik, namun tidak memiliki ketegasan untuk membuat keputusan. Akibatnya organisasi menjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan ketidakpastian menghantui aktivitas organisasi tersebut. Dalam hal ini negara dan masyarakat bisa dipandang sebagai sebuah organisasi yang, juga, mengalami krisis kepemimpinan. Lanjutkan membaca Kepemimpinan yang “Tak Pernah Lupa”

Tak Lupa

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

             Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Di berbagai sektor kehidupan sangat sulit dijumpai seorang pimpinan yang bisa sungguh mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai kegemilangan secara manusiawi. Yang banyak ditemukan adalah pemimpin yang permisif. Mereka mencari popularitas dengan bersikap ramah dan baik, namun tidak memiliki ketegasan untuk membuat keputusan. Akibatnya organisasi menjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan ketidakpastian menghantui aktivitas organisasi tersebut. Dalam hal ini negara dan masyarakat bisa dipandang sebagai sebuah organisasi yang, juga, mengalami krisis kepemimpinan. Lanjutkan membaca Tak Lupa

Mengapa Kita Bersatu?

Kompas 3 Juni 2011

blogspot.com

Oleh Radhar Panca Dahana

Sungguh sebenarnya kita sudah menipu: menipu dunia, menipu diri sendiri, dan menipu sejarah kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia dan masyarakat modern, bahkan posmodern, dan bahwa kita adalah masyarakat demokratis yang ditandai oleh manusia-manusia yang egaliter, progresif, mundial, dan menghargai minoritas. Sesungguhnya itu hanyalah sebuah tipu.

Sebagaimana para elite dan pemimpinnya yang getol menggunakan biaya rakyat untuk melakukan upaya pencitraan diri, kita pun sesungguhnya aktor-aktor murahan yang sibuk dengan pencitraan bahwa kita adalah masyarakat yang sama maju dan modernnya dengan bangsa-bangsa ”hebat” lainnya. Dalam realitasnya, kita tetap tenggelam dalam kemenduaan atau semacam skizofrenia kultural, di mana diri yang kita citrakan itu bertempur atau berebut tampil dengan diri kita yang tradisional, primordial, mistik, dan klenik. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Bersatu?

“?”

a7.sphotos.ak.fbcdn.net

 

Diskusi Screening Film

FISIP Universitas Airlangga, Surabaya,

12 April 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Karya-karya terbaik manusia mengangkat kita ke level yang lebih tinggi. Itulah yang saya rasakan, ketika menonton film “?” karya Hanung Bramantyo. Film itu mengangkat saya, dan orang-orang sekitar saya, ke level yang lebih tinggi. Setelah selesai menonton kami menjadi satu, lepas dari perbedaan latar belakang yang ada.

Film itu kompleks. Banyak emosi manusiawi tampil di dalamnya. Ada yang sedih, menakutkan, lucu, sampai yang menyentuh hati. Begitu banyak nilai terkandung di dalamnya untuk kita ambil, dan terapkan untuk mewujudkan hidup bersama yang semakin bijaksana. Lanjutkan membaca “?”