Sepak Bola dan Hidup Kita

tapeto.com
tapeto.com

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Dunia tampaknya memang jatuh cinta terhadap sepak bola. Beragam orang dari beragam suku dan agama di berbagai belahan dunia memainkannya dengan antusias. Bagi beberapa orang, terutama di Amerika Selatan, tidak ada hari, tanpa sepak bola. Ketika mereka mulai berhenti bermain, di hari itu juga, mereka mati.

Ungkapan ini sama sekali tidak berlebihan. Di kota-kota di Meksiko, Brazil, Kolombia dan negara-negara lainnya, seperti Ghana, Ethiopia dan Jerman, sepak bola sudah menjadi bagian penting dari hidup masyarakat. Sepak bola menjadi pusat dari hidup mereka. Ada beberapa Fans yang melihat sepak bola sebagai agama yang lebih masuk akal dan menyenangkan, dibandingkan dengan agama-agama yang sudah ada sebelumnya.

Kultur dan Masyarakat

Nils Havemann di dalam kuliahnya dengan judul die gesellschaftliche Bedeutung des Fußballs in Deutschland menegaskan, bahwa sepak bola adalah sebuah kultur. Dalam arti ini, kultur berarti cara hidup. Sepak bola sudah begitu berkembang dan berurat akar sebagai bagian dari cara hidup banyak orang di awal abad 21 ini. Ia bagaikan udara yang dihirup banyak orang; tak terasa, namun memiliki arti yang amat penting. Lanjutkan membaca Sepak Bola dan Hidup Kita

Kebahagiaan: Tujuh Pilar

http://www.metapub.com

Diolah dari kuliah terbuka yang diberikan Komaruddin Hidayat di UIN, Jakarta pada 2008 lalu

Oleh Reza A.A Wattimena

Keluarga

Setidaknya ada tujuh faktor yang bisa membuat Anda bahagia. Faktor pertama adalah family relationship. Keluarga adalah faktor utama pemberi kebahagiaan. Jika kebahagiaan dibayangkan sebagai sebuah bangunan, maka keluarga adalah fondasinya. Jika fondasinya kokoh maka Anda sudah mempunyai modal yang besar untuk bisa meraih kebahagiaan. Sebaliknya jika keluarga Anda berantakan, dan hubungan antar anggota keluarga diwarnai dengan konflik serta kebencian, maka Anda akan merasa tidak bahagia. Anda akan merasa pesimis terhadap dunia. Lanjutkan membaca Kebahagiaan: Tujuh Pilar