Nilai-nilai Kehidupan Soetikno Tanoko (Avia Avian Paints)

http://www.kazuya-akimoto.com

Antara Bisnis dan Keluarga

Oleh: Reza A.A Wattimena

Wajahnya masih segar dan bercahaya. Walaupun usianya sudah menginjak 81 tahun. Ingatannya masih amat tajam. Beragam tanggal dari peristiwa penting dalam hidupnya tetap diingat. Suaranya masih tegas dan keras, mencerminkan wibawa seorang pemimpin yang tak lenyap ditelan waktu dan usia.

Ketika berbicara matanya selalu menatap lawan bicaranya. Cahaya jernih memancar dari kejernihan matanya. Biasanya itu merupakan tanda banyaknya pengalaman yang telah ia tempuh dalam hidupnya. Pengalaman itu membuat pribadinya matang, sekaligus bijaksana.

Kerut di wajahnya menandakan satu hal; pengalaman hidup yang panjang dan bermakna. Dari gerak geriknya kita bisa tahu, betapa ia adalah pribadi yang sigap dan rajin dalam bekerja. Beberapa kali ia berjumpa dengan karyawan yang telah lama bekerja padanya. Tepukan di pundak kepada mereka menjadi tanda, betapa ia menyayangi mereka sebagai seorang sahabat dan keluarga.

Itulah sosok Soetikno Tanoko pada usianya yang ke 81 (Usia China: 83). Senyumnya hangat. Kesan sebagai seorang ayah yang mengayomi keluarga amat kuat terasa, ketika kita berjumpa dengannya. Tak berlebihan jika saya mengatakan, kehadirannya membawa kehangatan tersendiri bagi orang sekitarnya.

Dengan sentuhan tangannya langsung, ia membesarkan Toko Cat 73 di Malang, bersama saudaranya, Suwandi Tanoko. Pada era 1960-1970an, juga bersama saudaranya, ia membawa toko itu menjadi Toko Cat nomor satu di Malang. Juga dengan sentuhan tangannya, ia mendorong Pabrik Cat Avia Avian menuju masa jaya, setelah sebelumnya hampir bangkrut. Juga bersama istrinya ia menciptakan keluarga yang bahagia.

Ia menyentuh dan mengubah hidup banyak orang.

Kejujuran

Jika ada satu nilai yang dipegang teguh oleh Soetikno Tanoko, nilai itu adalah kejujuran. Bisa dibilang seluruh hidupnya berputar mengelilingi nilai ini. Kepada istrinya ia memberikan seluruh hidupnya dengan tulus dan penuh kejujuran. Kepada anak-anaknya ia mengajarkan untuk selalu berpegang pada nilai kejujuran, apapun yang terjadi.

Soetikno –yang akrab dipanggil Pak Tik- menyatakan dengan tegas, bahwa orang jujur pasti banyak kawan. Kawanlah yang mengantar orang menjadi sukses. Kawan pulalah yang membuat hidup menjadi lebih indah. Kawan menjadi pendamping yang setia, ketika kita menghadapi kesulitan hidup.

Dengan kawan kita bisa bekerja sama. Kerja sama bisa mengembangkan modal, lalu memperbesar kemungkinan orang untuk menjadi sukses dalam usahanya. Maka sikap jujur harus menjadi pedoman hidup tiap orang. Itulah yang ingin diajarkan oleh Pak Tik kepada keluarganya, dan kepada para pembaca buku ini.

Menjaga Kepercayaan

Orang yang jujur pasti dipercaya oleh orang lain. Di dalam hidup kepercayaan dari orang lain amatlah penting. Percuma orang kaya dan sukses, tetapi tidak dipercaya orang. Kekayaan dan kesuksesannya hanya sementara, jika ia tidak dipercaya orang.

Maka Pak Tik mengajarkan kepada kita semua, agar menjaga kepercayaan orang lain. Jangan pernah mengkhianati kepercayaan, begitu pesannya. Ini amat penting bukan hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan secara umum. Keberhasilan orang dalam hidup amat ditentukan dari kemampuannya menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Membantu

Pak Tik pernah bercerita, bagaimana ia amat prihatin pada keadaan desanya. Ia melihat anak-anak sekolah belajar tanpa kursi dan meja yang memadai. Ia pun tergerak membantu semampunya. Tidak hanya jujur Pak Tik juga mudah tergerak hatinya untuk membantu orang lain.

Pernah juga ia melewati suatu desa. Jalannya kecil. Listrik tidak ada. Orang beraktivitas dengan menggunakan lilin seadanya, ketika malam hari tiba. Kasian mereka, begitu pikir Pak Tik.

Ia pun terdorong untuk membantu. Hatinya tak tega melihat penderitaan orang lain. Mungkin pengalaman hidup yang keras telah menempanya sedemikian rupa, sehingga ia memiliki hati yang begitu besar. Dengan pengalaman hidupnya ini, ia ingin mengingatkan kita, supaya tidak terlena, ketika sudah sukses.

Beberapa karyawan telah lama bekerja bersama Pak Tik, guna mengembangkan Pabrik Cat Avia Avian. Ketika hendak pensiun mereka minta tolong pada Pak Tik, supaya tetap diperbolehkan bekerja, dengan ketentuan khusus. Didorong oleh niat untuk membantu karyawan yang sudah seperti saudara, ia pun menyetujui permintaan itu.

Masih banyak orang lain yang perlu dibantu, dan kita punya kewajiban moral untuk membantu mereka, semampu kita. Itu pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Pak Tik.

Mengalah

Orang hidup tak bisa selalu menang. Ada waktunya ia harus mundur. Ada waktunya ia harus mengalah. Ingatlah bahwa mengalah tidak berarti kalah.

Maka tak perlu orang berkata-kata kasar, ketika ia kalah. Orang harus berhati-hati dengan mulutnya. Saya teringat pepatah lama, ketika menulis ini: mulutmu adalah harimaumu. Pak Tik belajar untuk sabar dan mengalah, ketika ia tidak berdaya menerima keadaan yang menimpanya.

Saya rasa Pak Tik ingin mengajarkan ini pada kita semua. Orang hidup juga perlu untuk belajar untuk mengalah. Orang hidup juga perlu belajar menerima kekalahan dengan lapang dada. Orang hidup perlu belajar sabar, ketika kekecewaan datang menimpa.

Ingatlah bahwa orang tidak bisa menang di semua hal dalam hidupnya.

Terus Belajar

Orang belajar tidak hanya di sekolah. Hidup ini sebenarnya adalah sekolah yang sesungguhnya. Guru sejati adalah pengalaman hidup yang direfleksikan. Mata pelajaran yang paling berharga adalah refleksi atas pengalaman hidup yang telah berlalu.

Memang Pak Tik tidak menjalani pendidikan tinggi. Bahkan Sekolah Dasar pun tak diselesaikannya. Namun itu sama sekali bukan penghalang baginya untuk terus belajar. Sejauh saya melihat beliau amat tekun mempelajari hal-hal baru dalam hidupnya. Ia haus akan pengetahuan hidup.

Pak Tik belajar bagaimana membangun kerja sama dengan orang lain. Ia juga belajar bagaimana meraih dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Tak heran sekarang ini, ia menjadi orang besar, bukan hanya dalam bisnis, tetapi terutama dalam kehidupan.

Pak Tik ingin mengajarkan pada kita, supaya terus belajar dalam hidup. Jangan hanya karena sekolah sudah selesai, lalu kita berhenti belajar. Sikap seperti itu akan membuat kita ketinggalan jaman, dan menjadi tidak relevan. Belajarlah sepanjang hidupmu, begitu pesan yang saya tangkap dari cerita perjalanan hidup Pak Tik.

Berpikir

Untuk bisa hidup dan sukses, orang perlu memakai pikirannya. Jangan menyerah dengan keadaan. Orang harus percaya dan yakin, bahwa jika ia rajin, maka ia bisa selamat dari situasi seburuk apapun.

Jangan hanya menyerah dalam bisnis, karena tidak ada modal. Orang harus berani menggunakan otaknya untuk berpikir keras, supaya bisa keluar dari kesulitan. Namun otaknya tidak boleh digunakan untuk berpikir menemukan cara-cara licik, supaya lolos dari masalah. Sebaliknya bagi Pak Tik, orang perlu tetap jujur dan rajin, bahkan ketika keadaan sedang amat sulit. Tidak ada alasan apapun untuk kelicikan maupun kebohongan, begitu pesan Pak Tik.

Saya kira pesan ini perlu kita serap dalam-dalam. Situasi sulit kadang menggoda kita untuk berbuat curang. Mendengar ini saya yakin, Pak Tik akan mengingatkan, supaya kita tetap jujur, dan memeras otak sedapat mungkin untuk keluar dari masalah, tanpa kelicikan sedikit pun. Saran ini yang perlu terus kita pegang erat dalam hidup.

Kesetiaan

Jika ada yang lebih penting dari kejujuran, itulah nilai kesetiaan. Pak Tik adalah pribadi yang amat setia, baik pada keluarga, maupun pada pekerjaannya. Ia selalu berusaha menepati janjinya. Tidak pernah terlintas di kepalanya untuk melanggar janji, guna mendapatkan keuntungan sesaat.

Cukup sekali melihat orang langsung tahu, betapa Pak Tik amat mencintai Bu Suryani, istrinya. Sejak muda mereka bersama mengarungi jatuh bangunnya kehidupan. Pak Tik bukan hanya seorang pengusaha yang berhasil, tetapi juga seorang suami dan ayah yang berhasil mengayomi keluarganya dengan bijaksana. Saya rasa inilah yang amat penting untuk kita pelajari darinya.

Jika Pak Tik berhutang, maka ia akan membayarnya, bahkan lebih dari hutangnya. Jika ia sudah berjanji, maka ia memiliki komitmen tinggi untuk memenuhinya. Ini semua terkait dengan komitmen hidupnya untuk selalu mengabdi pada nilai kejujuran, dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain.

Ia terus ingat pada orang-orang yang pernah membantunya. Ia tak pernah lupa pada jasa baik orang lain. Ia selalu ingat untuk membalas jasa orang-orang yang telah membantunya. Inilah sifat yang perlu untuk kita teladani dari jalan hidup Soetikno Tanoko.

Kemauan yang Kuat

Orang hidup perlu kemauan yang kuat untuk bisa maju. Jika sudah punya kemauan kuat, walaupun tanpa modal yang cukup, orang bisa berusaha untuk maju. Ia pun bisa sukses pada akhirnya.

Itulah yang kiranya yang menjadi contoh hidup Pak Tik. Dengan modal kemauan yang kuat, ia merintis bisnisnya dari hampir tidak ada sama sekali, sampai sekarang. Bisa dibilang modal terbesarnya adalah dirinya sendiri, dan kepercayaan dari teman-temannya yang tak akan pernah ia khianati.

Berkali-kali Pak Tik bilang, “Jangan pernah ngakali orang!” Jangan pernah berpikir untuk membohongi orang lain. Jangan peras otakmu hanya untuk mencari cara menipu orang lain, demi memperoleh keuntungan yang sifatnya amat sementara. Justru sebaliknya ia selalu mengingatkan kita untuk banyak bantu orang, terutama orang-orang yang sebelumnya telah membantu kita.

Rendah Hati

Orang sukses biasanya jadi sombong. Mereka merasa lebih hebat dari orang-orang lainnya. Menjadi menjadi arogan. Mereka menjadi orang yang sok.

Namun ini tidak pernah terjadi pada Pak Tik. Sampai usia tuanya ketika Avia Avian telah menjadi salah satu merk cat terbesar di Indonesia, Pak Tik tetap rendah hati. Bahkan kesan saya beliau agak kurang percaya diri. Masa lalu yang sulit tampak membuatnya kurang percaya diri memperoleh penghargaan dari teman-teman dan keluarga yang amat menyayanginya.

Namun saya rasa ini justru menambahkan kualitas positif di dalam pribadi Pak Tik. Di dalam sikap rendah hatinya, ia justru tampak semakin agung dan bijaksana sebagai pribadi. Ia tidak lagi tampak sebagai seorang pengusaha besar semata, tetapi sebagai guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berharga.

Ia sadar bahwa pendidikannya tidak tinggi. Maka ia agak ragu, ketika ditawari gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari salah satu universitas tua di Surabaya (masih dalam proses). Ini adalah cerminan dari kedalaman pribadi Pak Tik. Ia tetap rendah hati, dan tidak pernah takabur di dalam keberhasilannya. Ini pelajaran yang amat berharga bagi kita semua.

Cermat

Untuk bisa maju orang perlu untuk bekerja efisien. Ia tidak boleh membuang barang-barang, walaupun barang itu tampak sederhana. Ia harus belajar menggunakan segala sesuatu yang ada seefisien mungkin. Itulah yang menjadi sifat dasar Pak Tik.

Ketika ia melihat barang-barang pabrik tergeletak sembarangan, ia selalu menegur karyawan yang bertanggung jawab atas barang-barang itu. Ini menunjukkan bahwa Pak Tik memiliki kepekaan dan kecermatan amat besar pada lingkungan sekitarnya, terutama tempat kerjanya. Kaleng-kaleng cat tidak boleh tergeletak sembarangan. Paku, mur, dan baut tidak boleh berceceran tanpa aturan.

Dalam bekerja kita tidak boleh seenaknya. Kita harus cermat melihat segala sesuatu yang ada, dan menggunakannya secara efisien. Kita tidak boleh membuang sesuatu, hanya karena sesuatu itu tampak tak berguna. Siapa tahu di masa depan, kita justru membutuhkan sesuatu yang sekarang ini kita buang begitu saja sebagai benda yang tidak ada gunanya.

Bisa dibilang kecermatan Pak Tik adalah salah satu sifat yang membuatnya menjadi orang sukses sekarang ini. Ia tak segan memarahi orang-orang yang seenaknya dalam menggunakan barang. Ia marah sekali jika ada orang sembrono dalam bekerja, sehingga membuang banyak hal secara percuma.

Mandiri

Pak Tik sudah bekerja sejak usia 13 tahun. Berbagai profesi telah dijalaninya. Pernah ia menjadi pemulung. Di puncak usianya ia menjadi pemilik salah satu pabrik cat terbesar di Indonesia.

Pernah juga ia ditawari kerja pada orang. Namun kemapanan bayaran bulanan yang tetap tidak berhasil menggodanya. Ia tetap tekun mengelola usaha yang telah ia rintis bersama istri dan saudaranya. Ia memilih menjadi orang yang mandiri, walaupun banyak ketidakpastian yang harus dihadapi.

Ia berani bekerja apapun demi keluarganya, asalkan jujur. Di dalam proses ia tetap berani berpikir sendiri, lepas dari halangan-halangan yang merintanginya. Ia memilih tak menggantungkan diri pada orang lain. Ia bekerja sama dengan keluarga, dan bersama keluarga pula ia mencapai keberhasilan.

Itulah yang salah satu nilai yang bisa pelajari dari hidup Pak Tik. Kemandiriannya luar biasa. Ia pun konsisten dengan keputusan yang telah diambilnya. Tak terlihat penyesalan di matanya, karena ia tahu, ia telah memacu dirinya semaksimal mungkin untuk menghidupi keluarga yang amat ia cintai.

Tidak Mau Miskin

Setiap orang takut untuk miskin. Begitu pula Pak Tik. Ia mengakuinya. Jika orang itu miskin sekali, maka masyarakat sekitar akan menanggap ia tidak ada.

Ada beberapa cara untuk menghindari kemiskinan semacam itu. Pak Tik menyarankan agar kita jangan pernah melanggar kepercayaan orang lain. Salah satu penyebab kemiskinan adalah hilangnya kepercayaan dari orang lain. Jika orang sudah tidak percaya, maka mereka tidak akan mau bekerja sama dengan kita. Kita pun menjadi susah mengembangkan diri.

Juga Pak Tik menyarankan, agar orang tidak malas. Kemalasan adalah sumber terbesar dari kemiskinan. Sedapat mungkin orang harus berusaha, supaya ia tidak jatuh miskin. Ini dilakukan supaya ia dan keluarga bisa hidup. Ini juga dilakukan supaya ia dan keluarganya memiliki harga diri di mata masyarakat. Ini amat penting, menurut Pak Tik.

Tak Pernah Menyerah

Ketika PP 10 yang diberlakukan oleh pemerintah Sukarno keluar, Pak Tik harus berhenti kerja. Ia diminta kembali ke negeri asalnya, yakni China. Sebelum berangkat ia terlebih dahulu mengirim semua kekayaannya kesana. Namun situasi tidak berjalan mulus.

Kapal yang hendak mengantarnya ke China tak kunjung datang. Ia pun terpaksa hidup di Indonesia, mulai dari awal lagi, dari tidak punya apa-apa. Pada waktu itu ia diminta oleh pemerintah Sukarno untuk berusaha sendiri di Indonesia. Situasi amat sulit baginya waktu itu.

Namun Pak Tik tak pernah menyerah. Ia berusaha untuk tetap hidup, dan menghidupi keluarga yang amat dicintainya. Ia mau bekerja apa saja, demi memberikan penghidupan bagi keluarganya. Pak Tik mulai semuanya dari nol.

Istrinya mendampingi ia sepanjang kesulitan hidupnya pada masa itu. Mereka saling bekerja sama, supaya bisa hidup, dan membesarkan anak mereka. Sifat tangguh dan tanggung jawab amat tampak di dalam diri mereka berdua. Sesulit apapun keadaan mereka akan tetap bergandengan tangan, dan menghadapinya bersama.

Tidak Mau Mapan

Orang yang berhasil biasanya lalu jadi mapan. Di dalam kemapanannya ia merasa nyaman, dan merasa tidak perlu lagi berusaha. Buat apa usaha lagi, toh semuanya sudah ada kan? Pada saat itulah hidupnya berhenti.

Pak Tik tidak pernah merasa mapan. Ia tidak mau bekerja pada orang lain. Ia mau berusaha dengan modal sendiri.

Bahkan setelah Toko Cat 73 sukses, Pak Tik membeli Pabrik Cat Avia Avian yang pada waktu itu hampir bangkrut. Ia harus mulai dari nol lagi. Pak Tik menolak untuk mapan.

Sebenarnya bisa saja ia tetap mengelola Toko Cat 73, atau membuka toko lagi. Namun ia memilih bekerja sama untuk mengelola pabrik cat yang pada waktu itu sudah mau mati. Ia memilih jalan yang sulit dan penuh ketidakpastian, daripada hidup nyaman dan mapan.

Sifat ini rupanya menurun ke anak-anaknya. Mereka tidak mau mapan dengan warisan ayahnya. Mereka justru berusaha sendiri mengembangkan modal yang mereka punya. Inilah salah satu tanda keberhasilan Pak Tik mendidik anak-anaknya.

Hidup Sederhana

Sewaktu mulai berusaha Pak Tik hanya makan sekali sehari. Itu pun amat sederhana. Setelah usahanya mulai meningkat, ia baru makan dua kali sehari, tidak lebih. Bahkan ia makan nasi dengan lauk ikan asin sisa, yang sebelumnya hendak dibuang oleh pedagang ikan asin di pasar.

Sampai usia tuanya hidup Pak Tik tetap sederhana. Ia selalu berusaha untuk makan masakan istrinya tercinta. Lauknya pun amat bersahaja, yakni tahu, tempe, sup, dan kerupuk. Keberhasilan tidak membuat dirinya berfoya-foya.

Hidup sederhana adalah salah satu kunci kesuksesan. Orang tidak akan berkembang usahanya, kalau ia terus menghabiskan semua yang ia punya untuk bersenang-senang. Ia perlu membatasi kesenangan dirinya, dan memperoleh kenikmatan hidup melalui hal-hal sederhana. Inilah pelajaran hidup Pak Tik yang amat bermakna untuk kita semua.

Siap Berkorban

Sejak muda Pak Tik telah banyak berkorban untuk keluarga. Ia bekerja sejak usia 13 tahun, guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sewaktu PP 10 keluar, ia bersedia bekerja keras mengorbankan banyak hal demi mencukupi kebutuhan istri dan anaknya. Ia adalah sosok yang selalu siap berkorban demi orang-orang yang ia cintai.

Sewaktu ia mulai mengelola Pabrik Cat Avia Avian, ia selalu pergi dari Malang ke Surabaya jam 4 pagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Bahkan pada hari-hari tertentu, ia menginap di pabrik. Ia bersedia mengorbankan tenaga dan pikirannya, supaya bisa mengembangkan hidup diri dan orang-orang yang disayanginya.

Nilai rela berkorban ini yang semakin sulit ditemukan di masyarakat kita sekarang ini. Dengan teladan hidupnya Pak Tik ingin mengingatkan kita kembali, betapa pentingnya nilai rela berkorban di dalam hidup, yakni rela berkorban demi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang disayangi.

Arti Cinta

Bagi Pak Tik orang hidup itu harus punya cinta. Cinta itu diarahkan untuk keluarga, sahabat, dan saudara. Cinta itu berarti orang merasa senang bersama orang lain. Cinta juga berarti kita mampu memberi rasa senang pada orang lain.

Cinta yang terbesar tetaplah harus diarahkan pada keluarga. Cinta itu terwujud dalam kesetiaan. Tidak pernah Pak Tik berpikir untuk tidak setia, baik pada istri maupun keluarganya. Mereka sumber harapan dan kekuatan hidupnya.

Cinta tidak berarti memanjakan. Cinta yang sejati berusaha mendidik orang, supaya mereka lebih baik. Itulah yang dilakukan oleh Pak Tik, baik pada keluarga maupun karyawannya di pabrik. Ia sering menegur karyawannya, supaya bekerja lebih rajin dan rapi.

Ia tak segan marah, bila pekerjaan mereka berantakan. Namun ia tak pernah emosi. Ia selalu menegur untuk mendidik. Inilah bukti cintanya pada pabrik dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Bahkan beberapa karyawan lama sudah menganggap Pak Tik sebagai bapak yang mereka cintai.

Cinta juga berarti saling mendukung. Itulah yang ditemukan Pak Tik pada Bu Suryani, istri tercintanya. Mereka saling mendukung dalam hidup. Ketika sulit maupun senang, Pak Tik selalu menemukan Bu Suryani siap menemani di sampingnya.

Cinta juga berarti kerja sama. Ini dibuktikan Pak Tik dengan hidupnya. Bersama istrinya ia mendidik anak-anak, sehingga mereka menjadi pribadi yang baik. Bersama saudaranya ia bekerja sama mengembangkan bisnis, sampai berhasil. Kini bersama anak-anaknya, ia masih memikirkan masa depan Pabrik Cat Avia Avian. Cinta adalah kerja sama, begitu kata Pak Tik.

Kepemimpinan ala Pak Tik

Seumur hidupnya Pak Tik berperan sebagai pemimpin. Sewaktu muda ia sudah bekerja sebagai kepala keluarga, guna mencukupi kebutuhan mereka. Bersama Suwandi Tanoko, adiknya tercinta, Pak Tik memimpin Toko Cat 73 menuju masa jayanya. Dan tak dapat diragukan lagi, kepemimpinan Pak Tik, bersama anak-anaknya, membawa Avia Avian menjadi salah satu merk cat terbesar di Indonesia.

Apa resep kepemimpinan Pak Tik?

Pak Tik selalu menganggap rekan kerjanya sebagai saudaranya. Ini juga berlaku untuk para karyawannya di pabrik. Senyum hangat di wajah dan jabat tangan yang bersahabat adalah ciri Pak tik, ketika menyapa karyawannya. Jelas ia menyayangi mereka semua.

Ini juga berlaku untuk rekan-rekan bisnisnya. Ia menganggap mereka semua sebagai teman baik, bahkan saudara. Dengan cara ini ia memperoleh rasa hormat dari mereka. Ia menjadi pemimpin yang tegas, namun tetap dicintai oleh orang-orang sekitarnya.

Pak Tik memimpin dengan teladan. Ia bekerja di lapangan bersama anak buahnya. Ia tidak hanya asal perintah, namun ia sendiri pun mengerjakan apa yang ia perintahkan. Sampai usia 50-an, ia masih mengangkat besi bersama karyawannya di pabrik.

Semua proyek di pabrik dikerjakan sendiri bersama anak buahnya. Ia tidak pernah asal perintah. Ia mencampur cat bersama karyawannya. Ia bahkan menata sendiri desain pabriknya, sebelum dibangun. Pemimpin haruslah turun ke lapangan, begitu kata Pak Tik.

Seorang pemimpin juga adalah seorang guru. Pemimpin juga berupaya untuk mendidik. Itulah yang dilakukan oleh Pak Tik. Ia mengajarkan cara bekerja efisien kepada para karyawannya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, ia bahkan mengambil peran sebagai seorang ayah bagi para karyawannya. Ia mendidik mereka tidak hanya untuk bekerja, tetapi juga tentang nilai-nilai penting kehidupan manusia. Ia mengajarkan mereka untuk menghargai perempuan, sayang pada anak, dan rajin menabung.

Pak Tik pernah memarahi karyawan, karena bercanda keterlaluan dengan lawan jenis. Ia menegurnya dengan keras. Pak Tik ingin agar karyawannya belajar menghargai perempuan.

Bagi Pak Tik seorang pemimpin haruslah sederhana. Ia tidak boleh terlalu mewah hidupnya. Kesederhanaan akan mengundang hormat dari orang lain. Kesederhanaan adalah salah satu ciri utama kepemimpinan yang sejati.

Pemimpin juga harus reflektif. Artinya pemimpin perlu melihat dirinya sendiri, sebelum ia membuat keputusan yang terkait dengan orang lain. Ia perlu mempertimbangkan semua aspek.

Di kalangan karyawannya Pak Tik terkenal sebagai pemimpin yang amat rajin dan displin. Namun itu hanya satu sisi. Sebenarnya Pak Tik orangnya tidak tegaan. Beberapa kali ia tidak jadi memecat karyawan, karena tidak tega. Pak Tik banyak berpikir secara mendalam, ketika memimpin karyawannya.

Di titik ini kita bisa mengambil suatu nilai. Seorang pemimpin harus selalu siap memberikan kesempatan kedua. Ia tidak boleh menilai hanya semata pada kesan pertama. Seorang pemimpin juga tidak bisa mengeluarkan seseorang, karena kesalahan pertama yang ia buat. Ingatlah bahwa seorang pemimpin juga adalah seorang guru. Ia punya tanggung jawab untuk mendidik orang-orang yang ia pimpin.

Di usia senjanya Pak Tik mundur dari jabatan pimpinan, dan menyerahkan pabrik pada anak-anaknya. Inilah salah satu kualitas pimpinan yang amat penting, yakni tahu kapan harus mundur. Tidak selamanya orang bisa memimpin secara aktif. Pemimpin yang baik tahu kapan harus mundur, dan mengalihkan jabatan ke orang yang lebih mampu.

Pak Tik sadar betul akan hal ini, dan ia melakukannya dengan amat baik.

Mengayomi Keluarga

Pak Tik tidak hanya seorang pengusaha. Ia adalah seorang ayah. Ia pun punya beberapa pandangan menarik tentang keluarga.

Baginya sebuah keluarga haruslah mandiri. Mereka harus tinggal sendiri, lepas dari orang tua. Ini diperlukan supaya mereka lebih bisa merdeka.

Jika tinggal bersama orang tua, seringkali terjadi konflik. Orang tua suka terlalu banyak mengatur. Sementara keluarga anak tidak suka diatur. Mereka ingin menentukan jalan mereka sendiri. Mereka perlu ruang.

Maka jelaslah mereka harus keluar dari rumah. Mereka perlu punya rumah sendiri. Supaya mereka bisa menentukan jalan yang terbaik untuk mereka sendiri, dan mendidik anak-anak sesuai dengan apa yang mereka anggap penting.

Dalam keluarga pasti ada konflik. Menurut Pak Tik ini terjadi, karena setiap orang punya ide yang berbeda. Akibatnya mereka konflik. Misalnya dalam hal uang.

Pak Tik memegang prinsip, bahwa orang tua tidak boleh minta uang ke anaknya. Anak perlu punya tabungan, supaya bisa menghidupi keluarganya. Maka orang tua harus belajar menabung sejak muda, sehingga bisa mencukupi dirinya sendiri, dan tidak tergantung pada anak di kemudian hari.

Dalam banyak kasus orang tua meminta uang ke anaknya. Padahal anaknya juga sedang memerlukan uang. Konflik pun tak dapat dihindari. Hal-hal semacam inilah yang perlu dicegah.

Orang tua bagi Pak Tik tidak boleh memaksakan kehendak pada anaknya. Orang tua harus sadar, bahwa anak punya pikiran sendiri. Anak bertumbuh menjadi dewasa. Dan pada saat itu, mereka perlu diberi ruang untuk membuat keputusan mereka sendiri.

Pendidikan Anak-anak

Anak tidak pernah boleh dimanja, demikian kata Pak Tik dengan tegas. Tidak boleh segala permintaan mereka dituruti. Orang tua harus berani bersikap tegas pada anaknya, sambil mengajarkan nilai-nilai dasar kehidupan yang benar.

Di sisi lain bagi Pak Tik, anak harus diajarkan untuk bekerja sejak mereka kecil. Mereka harus dididik untuk sadar, bahwa cari uang itu sulit. Mereka harus dibiasakan untuk bertanggung jawab sedari mereka kecil. Dengan pola pendidikan semacam ini, mereka akan jadi orang yang punya karakter baik, dan bisa jadi orang sukses di kemudian hari.

Orang tua juga tidak boleh menerapkan standar ganda. Misalnya si ayah bersikap tegas. Namun di belakang ibu malah memanjakan. Ini tidak baik untuk perkembangan karakter anak, demikian kata pak Tik. Ayah dan ibu harus satu suara dalam mendidik anak.

Jika anak salah dan tidak bisa diajarkan, maka bagi Pak Tik, tindak memukul diperbolehkan, asal dalam batas yang wajar. Namun ini juga tidak boleh terlalu sering. Yang penting adalah anak diajarkan untuk bekerja dan bertanggung jawab, sejak mereka kecil. Anak dibiasakan menjadi manusia pekerja yang memiliki rasa tanggung jawab.

Kebersamaan

Di dalam keluarga kebersamaan adalah sesuatu yang amat penting. Keluarga harus meluangkan waktu minimal sekali dalam sehari untuk saling bertukar cerita. Tempat paling baik adalah di meja makan. Komunikasi dan perjumpaan amat menentukan keharmonisan suatu keluarga.

Namun kita juga harus realistis. Konflik dalam keluarga akan selalu ada. Tinggal bagaimana kita mengaturnya, supaya tidak membesar, dan akhirnya memecah keluarga.

Ketika konflik terjadi salah seorang harus mengalah. Lalu jika keadaan sudah agak dingin, baru masalah yang sebenarnya dibicarakan dengan kepala dingin. Di dalam keluarga orang harus belajar untuk saling mengalah, supaya keluarga itu tetap dapat mempertahankan harmoninya.

Di dalam kebersamaan kita juga harus berbagi, kata Pak Tik. Keluarga itu saling berbagi. Kalau tidak mau saling berbagi, itu bukan keluarga namanya. Mengalah dan berbagi, itulah dua tips Pak Tik dalam mengayomi keluaga, dan mendidik anak-anaknya. Tips yang jelas amat berguna untuk kita semua.

Tuhan dan Agama

Pak Tik tidak banyak bicara soal ini. Ia tidak terlalu percaya dengan para pemuka agama yang seringkali menutupi kerakusan mereka dengan “kesucian” agama. Yang penting bagi Pak Tik adalah kita harus menghargai orang lain, siapapun dan apapun latar belakangnya.

Sewaktu muda ia pernah hidup susah di kaki Gunung Kawi. Ia pun juga terlibat pada ritual pemujaan disana. Namun ketika ditanyai alasan Pak Tik sebenarnya amat sederhana, yakni karena harga makanan di sana murah, jadi ia bisa mencukupi makanan keluarganya.

Sejatinya Pak Tik adalah penganut Kong Hu Cu. Memang aliran ini lebih mengutamakan nilai-nilai luhur kehidupan, daripada pemujaan pada Tuhan. Aliran ini tidak mengajarkan manusia untuk meraih surga setelah kematian, namun berusaha untuk hidup baik selama ia ada di dunia. Dan memang nilai-nilai luhur ini amat tercermin dalam hidup Pak Tik.

Etos Kerja

Pak Tik selalu berkata, cintailah pekerjaanmu, apapun itu. Maka pekerjaan juga harus dianggap sebagai keluarga. Orang perlu mencintai dan merawatnya.

Tak heran etos kerjanya amat baik. Bisnis dan keluarga adalah dua hal yang amat ia cintai dalam hidupnya. Keduanya ia rawat dengan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Dengan mencintai pekerjaannya orang akan bisa menumbuhkan intuisi dalam dirinya. Ia bisa tahu jika ada yang salah, bahkan sebelum yang salah itu terlihat oleh mata. Intuisi semacam ini lahir dari cinta. Mirip seperti seorang ibu yang bisa merasakan, bahwa anaknya sakit, bahkan ketika anak itu tidak memberitahunya.

Di dalam bekerja kita harus adil. Inilah kualitas seorang pimpinan sejati. Sikap adil ini haruslah dimiliki oleh setiap pekerja, entah ia sungguh pimpinan, atau karyawan.

Bentuk nyata sikap adil adalah sikap tidak diskriminatif. Artinya orang tidak boleh membedakan-bedakan berdasarkan ras, agama, ataupun status sosial ekonomi. Setiap orang harus dihargai dan diperlakukan seutuhnya sebagai manusia.

Maka menurut Pak Tik, orang perlu bekerja dengan adil dan tidak diskriminatif. Ini semua harus dilakukan secara konsisten. Orang tak bisa sekali-sekali adil, dan pada kesempatan lainnya berlaku tidak adil. Keadilan pada orang lain adalah salah satu tips Pak Tik untuk bisa sukses memimpin pabrik dan keluarganya.

Tips Awet Muda

Sampai usianya yang ke 81, Pak Tik tetap tampak awet muda. Suaranya keras. Pikirannya masih tajam. Jarang orang sekarang bisa seperti ini. Apa tipsnya?

Setiap pagi Pak Tik melakukan gerak badan. Tangannya diputar ke belakang dan ke depan. Ia melakukannya sebanyak 2000 putaran setiap harinya. Ia pun membuat catatan, supaya bisa menghitung dengan cermat.

Gerak badan memperkuat fisik. Mencatat dan menghitung memperkuat pikiran. Keduanya diperlukan supaya orang tetap memiliki pikiran yang tajam.

Di sisi lain Pak Tik juga masih amat memikirkan keluarganya. Walaupun sudah pensiun ia tidak lalai. Ia tetap berperan besar di dalam menjaga harmoni dan kesatuan keluarga.

Dua hal ini membuat Pak Tik awet muda. Bahkan ia masih bisa mengingat persis hari-hari penting dalam hidupnya. Semua ini bisa terjadi, karena ia rajin berolahraga, baik fisik maupun pikiran. Ini juga bisa terjadi, karena ia masih memikirkan keluarganya sebagai buktinya cintanya.

Pergaulan yang Luas

Berkali-kali Pak Tik mengakui, bahwa ia berhutang budi amat besar pada Pak Tasir, orang Madura yang meminjamkan setengah kilo gram emas padanya untuk modal usaha. Sampai sekarang Pak Tik masih mengenang jasa Pak Tasir dengan penuh rasa haru dan syukur.

Padahal pada masa itu, banyak orang tidak percaya, bahwa Pak Tik bisa memperoleh pinjaman dari Pak Tasir. Mereka berdua dari ras yang berbeda. Mana mungkin bisa saling menolong? Demikian pendapat orang pada masa itu, sekitar tahun 1960-an.

Namun kedua orang hebat ini bisa berjumpa, dan saling membantu. Mereka mematahkan pendapat umum. Dua orang dari dua budaya yang berbeda ternyata bisa saling membantu. Cinta dan persahabatan itu lintas suku, ras, maupun agama. Inilah nilai penting dari pengalaman hidup Pak Tik dengan Pak Tasir.

Pak Tik berani bergaul dengan orang-orang yang berasal dari luar kelompoknya. Ini menandakan sikap terbuka. Ini menandakan kebijaksanaan hidup. Kita pun perlu membuka diri pada pergaulan seluas mungkin, jika ingin mencapai kesuksesan serta kebahagiaan dalam hidup.

Pabrik dikelola oleh Profesional

Jika ada satu hal yang belum terwujud di dalam hidup Pak Tik, itu adalah mimpinya untuk menjadikan Avia Avian sebagai pabrik yang murni dikelola profesional. Anak-anaknya cukup berperan sebagai komisaris yang memeriksa pembukuan, dan tidak perlu menjadi eksekutif. Mereka juga tidak perlu setiap hari datang ke pabrik.

Jika dikelola oleh profesional, maka pabrik akan lebih bisa bertahan lama. Antara anggota keluarga pun tidak akan langsung bertengkar, jika ada perbedaan pendapat. Lebih dari itu Pak Tik ingin anak-anaknya belajar untuk mengalah. Ia ingin anak-anaknya bekerja dengan tenang, tanpa konflik keluarga.

Bila Avia Avian dijadikan perusahaan umum (go public), maka saham jangan dipermainkan. Saham tetap saja dipegang, jika tidak ada sesuatu yang mendesak. Sambil itu mereka bisa beraktivitas dengan tenang. Jangan melakukan transaksi saham yang berlebihan.

Punya Yayasan Sosial

Jauh di dalam hatinya, Pak Tik ingin mendirikan yayasan sosial untuk membantu orang. Namun ia juga masih ragu, siapa yang akan menjaga keberlangsungan yayasan ini? Keluarganya sibuk dengan urusan pabrik dan perusahaan lainnya. Ia tak mau yayasan ini hanya akan hidup sebentar.

Sampai detik tulisan ini dibuat, Pak Tik masih mencari cara, supaya yayasan sosial yang ia dirikan bisa berjalan lancar, dan bertahan lama. Ia butuh orang yang siap bekerja total untuk mengembangkan dan mempertahankan yayasan tersebut. Siapakah yang siap mewujudkan harapan Pak Tik yang belum terwujud ini? Ini menjadi pertanyaan untuk kita semua.

Juga Manusia

Bagaimanapun Pak Tik bukanlah malaikat. Ia masih manusia yang juga punya kekurangan. Beberapa orang terdekatnya berkata, bahwa Pak Tik amat keras. Beliau sering tidak sabar menunggu pekerjaan yang belum selesai.

Tuntutan Pak Tik dalam bekerja seringkali amat tinggi. Beberapa orang kesulitan mengikuti keinginannya. Mereka pun frustasi menghadapi standar kerja Pak Tik yang memang amat tinggi.

Namun jauh di dalam hatinya, niat Pak Tik sebenarnya baik. Ia ingin mendidik orang supaya bekerja dengan sepenuh hati. Ia tidak suka orang bekerja setengah hati. Ia tidak suka orang bekerja asal-asalan.

Keluarga dan sahabat-sahabatnya melihat hal itu. Mereka pun tetap sayang dengan Pak Tik, walaupun ia memang terkenal amat rajin, keras, dan displin. Mereka juga tahu bahwa hati Pak Tik sebenarnya amat baik.

Setiap berpisah Pak Tik selalu menepuk pundak. Ia selalu melakukan itu pada saya, ketika kami berpisah. Terlihat keramahan dan perhatian dari pancaran matanya. Senyum menghias wajahnya yang tua dan bijaksana. Kami pun berpisah untuk nanti berjumpa lagi.***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 tanggapan untuk “Nilai-nilai Kehidupan Soetikno Tanoko (Avia Avian Paints)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s